Sunday, March 31, 2013

Cinta

Mari kita mengeja kata itu, lalu melafadzkannya dengan sedikit nakal atau menelanjanginya dengan suci. Kita tahu tanpa cinta hidup hanyalah sebuah kamar pengap penuh debu. Sesekali melirik di bilik kamar itu saja, sudah membuat paru-paru kita dijalari sedemikan banyak bakteri kehidupan. Tapi coba kita bawa perkakas pembersih, lalu bersihkan kamar itu, kita warnai dindingnya dengan coretan kanvas keindahan. Kita keruk semua debu dan membuka lebar-lebar jendela pengetahuan kita. Maka seketika kamar itu akan dipenuhi oleh cinta. Udara kehidupan yang sebenar-benarnya pun terhirup lega.
Tapi tak pernah semudah itu. Bahasa mudah dilumat, dan dimuntahkan begitu saja. Namun disaat dikotomi hitam-putih yang tak pernah lepas dari universalitas warna ikut serta tanpa bisa ditepis. Kita seringkali terjebak. Bahkan lebih parah jika itu menjadi landasan kita menilai segala sesuatu. Hitam dan putih, baik-buruk, bahkan soal awal dan akhir eksistensi kita di hidup dan mati---tak lepas dari dua kubu itu yang saling membelit.
Tangan kita gemetar ketika sedang menyetuh titik vital dalam hidup. Apalagi soal lapar dan kenyang. Ada si baik yang sedang kekenyangan, dan si jahat yang meringkuk kelaparan. Keadaan itu jarang sekali kita pikirkan. Kita sebenarnya seringkali menemui orang-orang baik yang sedang kekenyangan tanpa kita sadari. Dan bukan tidak mungkin pula ada orang-orang jahat yang masih kelaparan karena semalam gagal maling. Dan entah kali ini cinta memihak siapa.
Lalu kita terbentur lagi di dinding kamar. Meringis karena sakit itu kita yang merasa. Tapi di luar pintu sana ada si pengintip yang tertawa, dan kita pun makin salah tingkah. Kita menjadi objek dari subjektifitas si penilai yang berubah menjadi penghakim diri kita. Kita dihakimi dengan sebuah ketawa. Kita merasa terawasi dari lubang kunci pintu kamar. Jean Paul Sartre menganalogikannya sebegitu cerdas soal itu.
Jika kita posisikan Tuhan seperti itu. Maka dosa akan terasa seperti beban yang sesekali akan ditimpahkan kepada kita. Kecintaan tak pelak jadi sebuah otoritas yang menjadi sebuah keharusan. Kita harus berbuat baik, bukan lagi kita berbuat baik. Pahala akan kita maknai serupa kado yang nantinya kita terima disaat telah berbuat baik. Tuhan menjadi si pemberi beban dan si pemberi hadiah. Kita tinggal di dalam kamar elektrik yang sudah diatur bagaimana seharusnya kita bertindak. Kita dihukumi dan dihadiahi sebuah kamar mewah bertombol on-off. Dan selalu takut dengan Sang Pengontrol. Maka kita bukan lagi manusia, tapi seonggok besi yang dijejali berjuta kabel yang diringkus satu tombol merah---sebagai pengeksekusi nyawa.
Cinta apa yang bisa kita maknai di kamar ini. Kita memilih beberapa perkakas tanpa kita sadari telah menjadi perkakas itu sendiri. Lalu untuk apa kita membersihkan sebuah kamar pengap, jika tak dimulai dari membersihkan diri sendiri. Membersihkan debu-debu dikotomi dalam kehidupan kita. Tak lagi takut dengan sebuah penghukuman atau girang akan iming-imingan hadiah. Dan untuk itu, cinta menjadi sebuah bungkusan. Ciptakan saja sebuah kecintaan yang bahkan Tuhan sendiri tak perlu mengutus makhluk elektrik untuk menanyai kita nanti. Kunci rapat-rapat kamar kita, dan jangan pernah tanggalkan kuncinya. Agar mereka tak menemukan sedikitpun celah untuk mengintip kita lagi. Kita sedang membuat cinta---sendiri.
Powered by Telkomsel BlackBerry®