Tuesday, April 9, 2013

Bahagia? (Sebuah Cerpen untuk yang bahagia)


Panas hari ini cukup mengucurkan peluh yang tak terbendung. Di salah satu desa yang berada di daerah puncak, tetap saja paceklik mendera dan matahari dengan sombongnya tak mau tahu. Hari makin terasa ganas dan pedas.
Tak jauh dari tanah lapang, ada rumah semi permanen, tampak sibuk beberapa orang yang terlihat gelisah di luar kamar. Di dalam kamar terlentang perempuan paruh baya. Bersimbah peluh menahan sakit. Kali ini terik mentari menambah pori-pori kulit makin menganga lebar, seiring mulut yang ternganga memekik kesakitan. Keajaiban sedang tercipta. Sebuah kelahiran. Wajar saja bagi kita manusia, tapi ini adalah keajaiban yang sudah biasa tapi sangat luar biasa.
Dari gua suci melongok kepala bayi. Merah dan gundul. Satu teriakan dan tangis sekaligus memecah siang yang membara. Keajaiban telah tercipta untuk yang ke lima kalinya di rumah ini. Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar, terlafadz sudah dari bibir beberapa orang di dalam dan di luar kamar.
"Bayinya tampan" Ujar bidan yang menolong persalinan sambil tersenyum.
Laki-laki yang paruh baya itu juga membalas senyuman, "Terima kasih banyak Ses, entah saya harus bilang apa."
Perempuan yang menjadi ibu untuk ke lima kalinya ini masih memincingkan mata. Mungkin sakit masih membelit raganya. Peluh masih terus mengucur. Ia baru saja melepaskan energi yang begitu banyak. Tapi tak lama seumbar senyum terpoles melengkung indah di wajahnya. Senyum yang sangat tulus. Bahkan Tuhan mungkin sedang membalas senyumnya saat ini.
Bidan itu bergegas memandikan bayinya. Tak berapa lama disusul ayah si bayi yang sudah siap melafadzkan adzan di telinga bayi mungilnya. Seusai kumandang adzan, manusia baru ini terlebeli sudah dengan agama, dan tujuh belas tahun lagi, sebuah KTP akan lebih meringkus keagamaan tersebut. Islam tentunya.
"Tadi pas kepala bayi turun masuk ruang panggul. Tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris akan menimbulkan rasa mengejan. Dia merasa seperti mau buang air besar, untung responnya bagus. Jadi saya cepat-cepat kesini tadi. Ini persalinan ke limanya. Jadi dia sudah sangat berpengalaman" Jelas Bidan pada Madni, ayah si bayi.
"Iya Ses Rita, tadi sudah sampai pembukaan 3 cm. Dengan segera saya mengabari Ses Rita" Lanjut Madni.
"Biarkan Ening istirahat dulu, capeknya minta ampun. Meski saya belum pernah merasakannya. Disaat menolong pasien, rasanya energiku juga ikut terkuras habis." Kata Ses Rita prihatin. Ia memang masih single. Bidan cantik yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai-sampai urusan percintaan terlupakan. Mungkin ia lebih mencintai pasien-pasiennya.
"Sudah disiapkan namanya Pak Madni?" Tanya Ses Rita sambil menyuguhkan bayi mungil itu ke arah Madni.
"Hari Matanova." Spontan Madni mengucapkannya dengan mata berbinar menatap bayi di pangkuannya.
Dengan sedikit menebak Ses Rita berkata "Mmmh... Ada hubungannya dengan panas hari ini yah."
"Saya kira begitu Ses." Madni tersenyum puas lalu menciumi dahi bayi itu.
"Kau akan menambah hangatnya keluarga kita." Jelas saja Madni sangat senang, karena ini anak laki-lakinya yang pertama. Untuk seorang anak yang ditunggu-tunggu, memang sangat janggal jika jauh-jauh hari belum menyiapkan sebuah nama.
Hampir sore, Ening masih menghidu amis darah. bau obat pun meruap menebal di kamar. Bayi itu terlelap. Tak berdosa.
Lenguhan melepas di ujung bibirnya, dan panggilan terdengar disusul langkah kaki.
"Ada apa Ning." Tanya Madni sambil duduk setara tatap di samping Istrinya.
"Kau beri nama Hari anak kita?"
"Kau tak suka?"
"Aku suka hari, dan seperti hari ini, aku selalu suka aroma mulutmu, mendekatlah dan ucapkan nama panjangnya." Diikuti gerak mata memanggil.
Hembusan nafas, yang dibaui, dan kali ini helaan, lalu tutur yang tegas, "Hari Matanova."
Perempuan itu mencium udara, lalu menciumi daging kenyal. Mereka saling berpagut. Paruh baya yang bahagia.
Sebulan kemudian...
Kecemasan melumeri raut-raut datar. Kali ini bukan kelahiran yang ditunggu-tunggui. Tapi sesuatu yang menakutkan. Yang datangnya entah dari gua apa. Tapi ia dari kegelapan. Kematian.
Bintang itu meredup, demam seketika merengut cahyanya. Tangisan kali ini murni kesedihan, tak ada kebahagiaan di sana. Sedih yang tegak. Tak miring. Dan menikam.
Hari Matanova membiru. Matahari mati.
"Mungkin Tuhan sedikit bosan dengan lelaki, karena itu Ia membunuhnya, sama halnya ketika Ia membuang Adam ke dunia." Ucapan itu bergetar, bukan dari bibir Hawa, tapi dari bibir Adam.
"Belum sembuh lukaku, dan sekarang bukan tambah dirobek, tapi dibikin menjadi lumpur, lumpur luka, yang bahkan cacing tak terlihat pun enggan menyelam di lukaku." Terisak-isak kali ini suara itu dari Hawa.
Bergetar, "Kau lihat dagingnya yang kenyal, kini siap ditunggui tanah yang meretakkan tulang belulangnya yang hampir belum tulang." Adam mencabik-cabik bajunya.
Adam dan Hawa itu, Ayah dan Ibu dari Matahari. Menangis menjadi-jadi. Tapi kenapa. Bukankah mereka berdua sudah memiliki empat orang anak perempuan lainnya. Putri-putri bulan.
Matahari adalah cahya yang ditunggu-tunggu untuk menyiangi kelelahan mereka. Di paruh baya, tak mudah untuk bisa melahirkan 'Matahari'. Satu-satunya matahari.
"Mungkin Tuhan menghukum kita, karena ingin kita yang keterlaluan. Ingin yang menjadikan kita terlalu boros dengan cahaya. Padahal empat cahya bulan sudah cukup." Madni menangis.
"Tuhan tak adil!" Ening menegang. Hening. Kemudian mati. Darah putihnya naik memucati raga mayatnya. Dua kematian menikam kemarin yang bahagia.
Madni memeloti dua mayat itu. Rumah riuh gaduh. Tangis sana-sini menabrak dinding-dinding dan pintu-pintu. Rumah yang kemarin ceria dibenamkan seketika oleh malaria. Merengut mata yang sembab kemudian meminum air mata asin.
"Tuhan, aku bahagia..." Adam itu memeluk bulan. Ada nada yang sedikit sumbang dan tegas di sana. Sumbang yang mengaitkan antara kerelaan dan keputusasaan. Dan tegas yang melekaskan keikhlasan.
Sebuah keluarga senja yang baru dihinggapi pagi. Lalu hitam seketika menggelapkan semuanya. Tapi di tengah sangkaan terselip kata itu... Bahagia?
Kalian tahu bulanku, apa yang membuat ayah bahagia?
Matahari tak sempat bercakap, tak sempat tahu apa lafadz yang ayah kumandangkan di telinganya. Tapi kalian... kalian harus tahu bahwa dunia ini memang sesingkat adzan. Seperti bisikan di telinga adikmu. Kalian juga harus tahu, adikmu tersenyum kala itu.
Madni menciumi dahi Istrinya, kemudian bayi mungilnya yang tak lagi menggigil. Diapit empat bulan. Mereka tersenyum. Menangis. Merelakan. Mengikhlaskan. Lalu bahagia?
Powered by Telkomsel BlackBerry®