Friday, April 5, 2013

Cinta Tanah Liat (Sebuah Cerpen untuk Tania)

Masih sangat pagi untuk bisa membuatku terbangun. Mata yang masih sembab ditinggal jejak tangisan semalam. Cahaya mentari pagi yang mengiris tirai jendela kamar menembus terang. Mataku tambah sakit karena cahaya yang menyilaukan. Bayangan wajahnya berkelebat kembali. Seumbar senyum yang entah kenapa aku bisa merindunya. Bahkan membuatku menangis menjadi-jadi. Sampai ibu sebegitu mengertinya dan tak berani komentar berlebihan. Anak ini sedang tumbuh, mungkin begitu kata ibu membatin. Hanya ejekan yang sesekali dilemparnya dan berharap bisa membuat mulutku menganga tertawa. Tapi tak berhasil. Aku masih tetap galau.

Ponselku di mana? Tanganku menelusup ke bawah bantal, lalu menemukannya terselip di sana. Pesan masuk tak ada. Tak ada balasan darinya. Sungguh aneh karena aku tak pernah segusar ini. Cukup lama dengannya membuatku berpikir dia biasa-biasa saja. Dari sekolah menengah pertama kami sama-sama, hingga era "putih abu-abu' pun tetap bersama. Sebagai sahabat yang terlalu banyak diramaikan tawa. Maka cinta enggan (atau malu) mampir. Tapi kali ini lain, begitu lain. Karena sepertinya cinta datang tanpa permisi. Menerabas segala rasa pertemanan kami. Mencangkok hati, dan membikin mata bengkak. Dia cukup membuatku merasa mungil di depan altar cinta.

Lebih dari sekali dia mengatakan cinta. Tapi waktu itu aku lupa menyimpan kunci pintu hatiku di mana. Bukan mengingat lalu mencari. Senda gurau yang terus menerus membuatku lupa. Bahwa aku sudah tak di bangku "putih abu-abu" lagi. Harusnya aku menggandengnya-dia-atau siapa saja, yang memang pantas berjalan di sampingku. Memang ada beberapa yang sempat memegang kunciku dulu. Tapi tak selihai ini. Dia senyap-senyap datang dengan begitu akrabnya. Sampai aku tak tahu dia mencuri kuncinya. Dan tiba-tiba masuk dan tinggal di hatiku.

Dan rasa sakit ini masih terpaku pada layar ponsel. Menunggu pesan balasan. Tapi masih belum ada. Sejak dia kuliah di luar kota. Di sana atau pun sekembalinya ke kota kami, dia menjadi aneh. Tak lagi seperti sahabat. Tak ada lagi yang mengucap salam dan selonjoran di beranda rumah sambil bertukar cerita. Tak ada lagi jalan-jalan sore bersama, mengelilingi kota yang itu-itu saja tapi entah kenapa selalu tetap istimewa. Tak ada lagi pesan masuk. Ah, damn.... Aku merindukan dia yang sebenarnya sudah bukan milikku-malah tak pernah-belum-menjadi milikku. Rasa kehilangan yang datang meski aku belum pernah memilikinya. Hanya meminjam pijar matanya untuk kugambari selalu sebagai 'sahabat', tempatku berbagi setengah kisah hidupku. Dan waktu berkata lain. Pada akhirnya aku ingin berbagi dengannya. Segalanya.

Sejak tahu pacarnya juga seorang kenalanku. Bukan sakit yang kurasa. Tapi penyesalan yang terus memompa kelenjar mataku untuk berair. Dan itu lebih dari rasa sakit itu sendiri. Mungkin satu-satunya bentuk penyesalan yang teramat dalam, ketika kita tahu bahwa kita bukan sedang dicampakkan, tapi ketika semua air ludah yang menggenangi lantai ubin yang dingin, dan kita harus mencairkannya kembali lalu menjilatinya lagi. Pagi, siang, dan malam, sembab. Malam, pagi, dan siang, masih sembab. Aku menangis berhari-hari.

Teman-temanku banyak yang bertanya kabar. Di mana? Keluar yuk? Ajak mereka. Tapi semuanya seperti batu tenggelam. Hilang, hampa begitu saja. Kini diam. Lalu berombak seketika waktu kembali mengingatnya. Makan pun terasa seperti menelan batu di dasar sungai sekaligus meminum arus airnya. Batu berlumut yang tertelan begitu licin menembus tenggorokan. Aku membatu pula di meja makan. Dan orang serumah tahu bahwa aku sedang dipahat kegalauan. Proses yang membentuk jati diri. Pikir mereka. Biarkan saja.

Sampai sore itu datang. Seorang teman karibku yang berhasil membujukku keluar rumah. Setelah berjam-jam memelototi aku sembari menasehati. Sesekali marah, sebab tak mau temannya terus mengurung diri di rumah.
Berat juga melangkah ke mobil. Seperti ada kutub magnet lain yang menolak. Tapi sekaligus menarik. Sungguh ganjil. Dan keganjilan itu terbukti sudah ketika aku masuk ke dalam mobil. Seperti sebuah batu besar terpancang ke tanah liat. Kokoh menancap tapi masih sedikit memberat ke samping. Lalu, mataku menebal segaris dengan sisa-sisa sembab, dan berhamburan bulir-bulir air mata. Menjadi-jadi. Dia yang membuatku seperti ini duduk sejajar denganku sekarang. Rasa takut menyaingi haru-biru hari ini. Dia menenangkanku yang mulai cemas karena tangisanku. Dan kali ini sebuah maaf terucap tulus dari bibir mungilku sambil terisak-isak. Aku tetap tak memberinya kunci. Meski aku tahu kunci duplikatnya telah dia curi. Aku dan dia memegang kunci yang sama. Kunci yang membuatku leluasa lagi dengannya. Membuat dia pula leluasa denganku. Leluasa dalam arti persahabatan. Aku tak ingin yang lain. Hanya ingin kembali meminjam pijar matanya.

Salam, beranda rumah yang kembali terserak canda tawa, dan ponsel yang ber-ting-tang. Semuanya seperti semula. Meski tak memilikinya. Cukup kebahagiaan yang purba ini tetap terjaga. Aku berujar, alhamdulillah. Hingga kabar itu datang seperti aroma tanah liat yang dilebur dengan air wewangian seribu bunga. Dia putus dengan pacarnya, karena pacarnya masih terlalu sayang dengan mantannya. Miris. Orang yang aku puja, dicampakkan begitu saja. Lalu segaris senyum melengkung di wajahku. Ini kabar miris yang manis. Tanpa berkedip. Aku menerima pernyataan cintanya. Cintaku, cinta Tania, cinta tanah liat, begitu belia tapi mulia.
Powered by Telkomsel BlackBerry®