Thursday, April 4, 2013

Meracau Galau Sebelum Makan Malam

Hei... ada yang mengganjal dalam hati. Aku seringkali bersuara dengan bukan diriku. Baru malam ini tersadar setengah menengadah ke langit yang dipijari petir. Lantunan musik seruling Gus Teja musisi Ubud Bali bertitel 'Dream' makin menambah arus kegalauan semakin kencang. Aku masih bukan sepenuhnya diriku. Di sisi lain menjadi bijak setengah-setengah. Di sisi lain pula menjadi pencundang. Bukan tanpa alasan, tapi inilah sebenar-benarnya aku. Tantangan terbesar ketika utuh diriku yang sesungguhnya aku temukan. Tapi jangan malam ini. Tunda dulu hingga kukecup dahi dingin ubin.
Sementara sebatang rokok masih kusulut dengan korek berapi jingga. Kuhembuskan asap lurus mencorong, dan asap lainnya lagi menari-meliuk. Keadaan ini membuatku tercenung. Apa sebenarnya ini. Aku yang sesekali berjalan lurus, dan sesekali pincang. Aku yang tegak dan sesekali tumbang. Aku yang sesekali riang lalu kembali sendu. Sedunia ini mungkin berisi satu-satunya makhluk seperti aku. Tak akan ada yang pernah sama kisah. Tak akan ada yang pernah sama kasih. Tapi jika begitu. Ada mereka-mereka lainnya juga yang mengancungkan telunjuknya, sambil berujar dia juga makhluk satu-satunya, kan. Bingung seketika. Dan kalaupun ada yang sama, maka kumaui terhubung dengannya segera. Seperti dia mengingini hal serupa pastinya.
Ah, ubin dingin... aku rindu mengecup dahimu. Bukan tak bersegera. Tapi ini selalu ada tapinya. Nantilah kita bersua lagi. Dan kali ini jangan seperti caramu kemarin. Yang hampir meremukkan tulang koksigealisku. Tulang ekor yang terlalu rawan. Akan membuatku benar-benar pincang. Atau mati sekalian menemu cahaya----atau mungkin pekat. Seseorang yang jatuh dari ketinggian terlihat begitu tololnya sampai-sampai Isaac Newton tertawa terbahak-bahak sambil makan apel. Sialan.
Seruling Gus Teja masih mendayu-dayu haru. Tapi cerita di atas berbagi denganku---tentangku. Masih tetap galau tapi jangan sampai parau merengek. Biarkan saja tetap bergulir, masuk lobang, merangkak, mendaki, melompat, dan terus meracau. Karena hanya dengan itu kita bisa mengendus misteri. Ternyata kita semua memang sama. Pada akhirnya, aroma makanan membuatku beranjak. Meski tanpa aroma itu, kita memang makhluk lapar. Dan sama-sama galau jika lapar. Dan itulah sesungguhnya galau segalaunya makhluk lapar. Mari makan malam.

Powered by Telkomsel BlackBerry®