Saturday, April 6, 2013

Kuta

Kuta hampir mirip dengan sebutan untuk kotaku---Kotamobagu---lebih sering disebut Kota, di tempat asalku Bolaang Mongondow. Di Kuta
ada satu jalur jalan yang cukup padat dengan yang asing. Mereka menjamur di sini. Ah Legian, berlegit kisah sedikit apik di punggung semen dan aspalmu. Banyak yang terserak di sini. Denting botol dan ketawa kulintang. Aksen bahasa inggris yang latah. Dan segala yang asing dan akrab di sini.
Pantainya indah jika kamu cukup pintar berbagi waktu untuk tak keseringan. Segala wajah berganti di sini, seribu pergi, seribu menyerbu lagi. Kulit terpanggang. tato hitam di kulit legam-logam. Otot-otot besi dipahat terik tengah hari dan ombak. Anak-anak pantai. Tapi ada pula yang dibiarkan tetap berlemak. Buncit bir. Yang asing membuat mereka begitu. Sementara para gadis hampir telanjang berlindung manja di antara lalu lalang. Ada yang sedang dijemur sudah mau gosong. Bahkan entah yang mana membikin gerah mata, mereka yang setengah telanjang, atau wisatawan-wisatawan lokal berhijab. Dua-duanya.
Di seberang pagar tembok pantai. Berdiri gedung-gedung tak jangkung. Tapi sangat asing. Kuta, ragamu tak lagi Bali. Lahan-lahan di sini terbeli. Mereka seperti api mendekam dalam sekam. Membakar kulit padi Bali. Seketika pesisir Kuta menjadi terkutuk. Terkutuk 'agreement'. Ini milik kami sekarang kata mereka. Yang ditawarkan kebanyakan gandum, padi tak lagi. Dan itulah selera mereka. Kita tinggal berpura-pura saja bahwa biarpun itu menguras kantong, tapi lidah kita memaksa 'barat'. Dan seketika menjadi 'barat', mulai terbiasa dan beli lagi. Kita telah terkutuk.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan selera. Perut selalu lapar tak kenal apa yang nanti menjadi tinja. Cukup berlabel halal, atau yang tak membuatmu muntah. Yang kudengar pula, segala aset yang menyisir pesisir. Ada Bos Ibukota menanam tonggak besi di sini. Ah, mereka memang Indonesia yang ke-asing-an. Banyak turis asing yang benar-benar paham tentang estetika. Mereka sering bertanya, di mana Bali-ku. Bali yang dulu tetap awet dengan ke-purba-an-nya. Banyak dari mereka setibanya di Bali, bersegera ke Ubud. Satu kota yang masih tetap purba. Inilah Bali-ku. Bali milik manusia. Bali milik alam. Bukan Bali milik mesin-mesin penggiling koin.
Tinggal sebulan di sini membuatku semakin mengerti. Bahwa alam tak pernah ingin berubah. Tapi kita---manusia---yang berubah dan merubah. Di atas sana nanti, ketika pesawat melengking mengudara. Kusandarkan jidatku di kaca tebal jendela pesawat. Memandang birunya. Memandang Gunung Agung yang mencuat merobek awan, menghardik langit. Memandang dengan sepasang mata dan sepotong kaca. Yang kemudian mengiris tanggul kulit di bawah mataku. Terima kasih Bali-ku. Untuk segala ke-purba-an-mu.
Powered by Telkomsel BlackBerry®