Tuesday, April 16, 2013

Siang Yang Bolong

Tak ada apa-apa hari ini, semuanya datar, tak ada candle yang naik-turun seperti di layar monitor saat online market bursa saham. Pikiran sedang buntu di kepala. Aku ingin pulang tapi keadaan masih memaksaku di sini. Menunggu hantu. Jauh di sana, di kampungku yang selalu kucintai dengan penuh, kini bolong oleh rindu. Menganga. Ada resah seketika merangsek dari sisi hati, terus menembus hingga membuat liang kosong. Mereka yang pernah tinggal di sini. Tak lagi ada. Hampir copot semuanya oleh jarak yang tercipta. Waktu sekali-kali memupuk rindu, tapi bisa juga meniadakannya seketika. Membunuhnya perlahan dengan detak-detak meretaki ladang kemarau hati. Banyak yang harus kusirami lagi. Dengan canda tawa kita.

Sedang apa mereka di siang yang bolong ini. Mereka-mereka yang pernah se-neraka, pernah pula se-sorga denganku. Mereka yang tahu benar kapan akan tertawa, dan kapan akan menangis. Hidup ini menjadi pelajaran yang singkat buat siapa yang cepat mangkat. Tapi diusiaku yang sekarang. Aku pikir sudah cukup lama juga telapak kaki ini meniduri jengkal-jengkal tanah. Kita mulai menua dengan pasti, jauh meninggalkan masa kekanak-kanakkan kita yang penuh ragam cerita.

Tapi terkadang kita bisa kembali sekadar berefleksi dengan diri. Melihat bayang-bayang kita yang entah sudah berapa kali ia berganti rupa. Sebuah masa yang pernah kita lampaui, hingga hidup ini terus menggerus kulit ari-ari kita. Kita memang tak akan pernah sama dengan kita yang dahulu. Mungkin satu-satunya yang terus tumbuh dan serupa terus, hanya kuku kita. Aku sering melihat kuku ini sama dengan bentuk kuku sepuluh tahun yang lalu. Tulang lunak yang terus tumbuh sekitar 0,1 mm per-hari. Siang ini, di musim panas ia tumbuh begitu cepat. Ah, kuku... Aku baru sadar selain dipakai untuk mengupil, kamu juga seringkali kupakai menekan "qwertyuiopasdfghjklzxcvbnm." Hingga jutaan kata bisa mewujud.

Makin bolong ini siang. Yang jauh pun semakin melesat pergi bagai selongsong peluru. Aku titip segala rindu ini, lalu kirim kembali sebagai penghibur yang membuat hati ini penuh lagi. Kamu, dia, dan mereka. Di kampungku yang sama, tapi banyak kisah yang tak akan tersamai di sana. Katanya, malam di sana makin dingin, orang-orang memilih mengunci diri di rumah. Banyak yang pergi---berpulang. Tapi akan banyak pula yang akan datang---kembali. Lalu kita membikin api unggun di sudut lapangan, sambil pergi memanen jagung milik kita. Membakar suasana. Karena api selalu menghangatkan kita. Api yang se-abadi pertemuan dan perpisahan.

Siang yang bolong... kugigiti seperti kue donat hangat.

Powered by Telkomsel BlackBerry®