Sunday, April 7, 2013

Terima Kasih Kem-Bali Baliku

Bali, pulau indah ini sudah terlalu ramai. Tapi setidaknya di sini tak ditemukan gedung-gedung jangkung melengkung di angkasa. Menggantikan posisi pelangi yang tiba-tiba. Menetap sementara di sini selama enam bulan bukan waktu yang singkat meski di penghujung ini terasa sesaat. Banyak yang melebur di sini, dari ketawa Jawa, Makassar, Ambon, NTT, Sumatera, Manado, Eropa, Amerika, dan Bali itu sendiri. Ketawa yang membikin segalanya akrab. Ini tempat di mana orang berinteraksi secepat kilat, lalu berpisah pula secepat itu.
Di tulisanku sebelumnya, mengenai 'Pulau Purba', aku sedikit menulis tentang Kuta, daerah yang terlalu sering disatronin karena segala pertemuan bermula di sana. Di mana burung-burung mesin mengudara lalu hinggap di moncong pantainya. Menukik lembut terlihat dari pesisir pantai Kuta. Kuta adalah seribu yang datang, dan seribu yang pergi. Tak seperti di tempatku menetap, kota Denpasar, di sini hiruk pikuk siangnya meretas hari. Tapi malamnya kota ini tidur begitu pulasnya. Orang-orang lalu-lalang dengan sibuknya. Manusia-manusia yang sudah disetel alarm, secara periodik mengaum membangunkan dan mengharuskan kita menjadi singa, berburu untuk daging yang mengenyangkan.
Dari rencanaku hanya mampir untuk merayakan tahun baru di sini. Tak pelak bujukan untuk kerja di sini mengendus kemalasanku. Bekerja, menjadi manusia-manusia alarm. Bekerja menghamba, seperti tahun-tahun kemarin, nomaden hingga ke 'Pulau Purba' ini. Dan itu kujejali hingga berbulan-bulan, sampai sisa waktu sebulan ini kuniatkan saja untuk merasa bebas lagi. Sembari menunggu tangis bayi yang menjadi peluit----bahwa saatnya aku beranjak kembali. Kotamobagu, Desa Passiku selalu membuatku rindu dengan segala kebiasaannya.
Bali pasti kem-bali. Pulau ini selalu membuat kenangan tercecer dengan sendirinya. Alamnya yang menawarkan segala kenangan bertaut. Dan ada yang terlalu sederhana tapi berkesan di sini, di Lumintang tempat rumah kontrakan. Tetangga-tetangganya yang ramah, dari Ayahnya Komang yang tak segan membagi sedikit cerita tentang kearifan lokal budayanya, ada Om Botak permanen (terlalu licin) yang suka menyapa, "hei Bro", seakan-akan hanya kata sapaan itu yang ia tahu. Mas-mas dan Mbak-mbak yang sibuk dengan kantor kecilnya (entah bergerak di bidang apa) tapi masih sering tersenyum dan saling menyapa. Dan sepasang pasutri senja dari Madura, istrinya mengingatku pada Bu Bariah di Film Si Unyil. Dengan aksen Madura yang sudah tak kental karena lama terbubuhi rantau. Mereka-mereka ini manusia-manusia bahagia.
Di ujung Seroja sana tempat penyablonan kaos usaha kecil-kecilannya Bang Decky (suaminya Kak Jama keponakanku). Ada pekerjanya Si Kolok (bisu-tuli) yang tak berdosa, pikirku begitu karena lisannya tak pernah tahu menyerapah. Dan Si Casver (dengan huruf 'V' yang seharusnya 'P') anak yang terlalu rajin dan fasih berbicara bahasa Inggris. Dan mereka-mereka yang secara berkala datang mengunjungi tempat itu. Mereka semua yang membuatku rindu.
Dan untuk pembuat tatoku. Terima kasih telah mencabik-cabikkan jarummu di kulitku. Tinta yang membuat kepingan-kepingan puzzle dalam hidupku. Terima kasih juga buat Agung yang membisikkan namamu kepadaku, teman kantor yang sebegitu baiknya. Dan mungkin dia satu-satunya teman kantorku. Juga buat Nova Iswara anak kemarin sore yang tahu bagaimana menjalani hari, dan melekaskan sore. Untuk semua cerita mereka. Kuringkus dan kubungkus---pulang.
Yang paling membuatku berterima kasih, untuk Bang Decky dan Kak Jama yang sudah menganggapku seperti sebatang kara. Dan untuk kalian semua, semoga Tuhan kita Yang Satu selalu membikin kita Esa.
Powered by Telkomsel BlackBerry®