Thursday, May 30, 2013

Cuaca Eropassi

Berada di daerah puncak, desaku Passi sudah terlalu akrab dengan cuaca dingin. Setibaku di sini, hujan menyambut hingga berhari-hari. Sepertinya hujan ingin agar aku tetap betah di rumah, melepas rindu dengan kedua orang tua dan saudara-saudara lainnya. Tak ada yang tampak beda di sini, malah yang kutemui peluk sapa yang lebih segar dan tentunya masakan Ibu yang lebih enak ketimbang masakan dari jutaan chef di luar sana. Jika saja perang dunia ke III terjadi kembali, maka yang pertama kali aku selamatkan adalah ikan teri saos bikinannya. Hampir setahun di kota seberang, membuat lidahku makin rindu dengan masakan-masakannya. Untuk berat badanku sekarang yang sudah mencapai 70 kg, mungkin akan tembus 80 kg dalam sebulan saja. Makanku tambah lahap, apalagi ketika senja purna dan hanya terang sisa di ufuk barat, sepohon pisang goroho senantiasa menggoda di sudut dapur dengan centilnya untuk ditelanjangi dan diceburkan ke minyak goreng panas. Tak ketinggalan sepiring sambal pedas khas lidah mongondow-manado yang sudah terbiasa terbakar cabe merah. Air liurku tak sempat menetes, sepiring pisang goroho goreng sudah tersaji di meja makan dan tandas dengan seketika. Tak perlu ke sorga kawan... nikmatnya.

Menurutku, bukan hanya rasa lapar yang bisa membangkitkan selera makan kita. Tapi faktor cuaca pun cukup punya andil. Cuaca Eropassi (demikian kami memberi julukan untuk desa Passi) adalah salah satu faktor yang menjembatani antara selera dan rasa lapar. Dingin yang terasa menusuk-nusuk membuat pori-pori kulit kita ingin menganga dan menyemburkan keringat. Aku tipe manusia yang jika sedang lahap-lahapnya makan, maka keringat tak akan terbendung. Aku hyperhidrosis disaat sedang menyantap makanan atau sedang gugup. Tapi itu aku imbangi dengan banyak meminum air jika sedang makan. Untuk sepiring dua piring nasi, lima-enam gelas akan tersesap tak tersisa.

Selain rasa lapar, rasa mengantuk kita pun terkadang disebabkan oleh faktor cuaca juga. Tidurku akan lebih lama jika sudah memasuki zona rancid room, "kamar hitam" yang asupan air liur untuk bantal-bantalnya cukup terpenuhi. Kamar ini selalu dingin, ditambah lagi dengan cuaca di sini, maka selimut satu-satunya pembungkus raga akan serupa kepompong dan membebatku selama berjam-jam. Kata 'bangun' melesak jauh dan tertimbun mimpi-mimpi. Untuk sadar kembali, aku butuh rasa lapar itu lagi.

Cuaca, tidur, dan lapar... ketiga-tiganya saling erat mengingat. Bahkan disaat kita merasakan panas yang berlebihan, berkeringat, maka dahaga dan lapar pun akan seketika hadir. Tapi untuk pembangkit selera, terkadang yang kamu butuhkan adalah cuaca dingin, cuaca penghujan, cuaca Eropassi. Untuk cuaca panas dan kita merasakan dahaga, mungkin segelas air akan serupa oase di gurun pasir, tapi untuk cuaca dingin, sepiring atau semangkok makanan hangat yang tersaji, akan seperti seunggun api dalam hutan bersalju. Leherku paling sering berkawan dengan yang hangat, bukan dengan yang dingin. Dan apapun soal makanan hangat, pedas. Maka sebatang rokok adalah puncak kenikmatnya.

Jangan lupa pula dengan hangatnya secangkir kopi di sini. Di cuaca Eropassi, di tambah dengan secangkir kopi Kotamobagu, pun kepulan asap rokok merajawali di udara. Maka entah yang kamu rasakan sedang berada di sorga yang tak ternamai. Sorga yang hanya kamu sendiri pemiliknya, tanpa bidadari, tanpa buah-buahan dan sungai-sungai yang dialiri susu. Hanya hitam air kopi dan sebungkus rokok. Itu sudah lebih dari cukup.

Senang bisa merasakan kembali cuacamu Eropassi. Teringat akan malam-malammu yang selalu kami bikin terbakar. Jalanan aspal yang kembali mendidih tertindih panas kayu bakar dari pagar-pagar. Jagung-jagung, ubi kayu, pula sesisir pisang yang dipanggang di atas bara, yang semuanya hasil panenan semalam dari kebun milik 'kakek' kita. Semua momen itu tak akan pernah terbayarkan. Kenakalan yang meremajakan kekanak-kanakkan kita. Tak perlu beranjak dewasa, karena di sini, di cuaca Eropassi... orang-orang dewasa itu seperti orang-orang tua yang seharusnya menyingkir saat kita sedang berpesta. Mereka bukan penikmat cuacamu. Tapi kamilah pengagum sejatimu. Setia menunggui pagi dengan tawa kami.


Powered by Telkomsel BlackBerry®