Tuesday, June 25, 2013

Ngabuburit di Kota "Perang" (Catatan Pasca Pilwako KK)

Seharian kemarin saya keliling Kota Kotamobagu. Suasana yang saya dapati agak "hening". Tak seriuh hari kemarin. Tapi ini adalah keadaan yang sangat saya suka karena saya tergolong jenis orang yang tidak tahan berlama-lama di keramaian.

Berkeliling menyaksikan keadaan Kota Kotamobagu siang tadi terasa seperti tengah mengelilingi sebuah kota dimana pertempuran sengit baru saja disudahi. Dan namanya pertempuran, selalu saja melahirkan mereka yang menang dan mereka yang kalah. Bukan pecundang bagi yang kalah, karena sebutan pencundang untuk mereka yang tak berani turun ke medan tempur.

Di Pilwako KK, para kontestan yang bertempur kemudian berada di pihak yang kalah adalah perasaan biasa bila kepala agak pening. Terlebih kandidat yang kalah meski telah bertarung mati-matian, dimana yang dipertaruhkan tak sekadar harga diri.
Namun apapun dan bagaimanapun kesengsaraan yang dirasakan pihak yang kalah sebagai hasil dari pertempuran, itulah konsekuensi logis dalam pertarungan di gelanggang politik. Lantaran menang-kalah sudahlah resiko yang harus disikapi dengan legowo, sebejat apapun itu.

Rasa pahit dan sakit tatkala kalah perang memang seperti binasa. Terlebih ditambah ejekan yang datang beruntun gulung-menggulung, dan terus menyiksa mereka yang telah terbungkuk-bungkuk seperti sepasukan budak. Sekalipun sang pemenang berpendapat hal itu sekadar balas dendam yang setimpal.

Seringkali manusia tidak lebih daripada merespon lingkungannya. Bahwa manusia bisa dibentuk, dilatih, dikontrol, selama lingkungan menginginkan demikian. Disaat inilah lingkungan menciptakan alter-ego kita yang berperan secara bergantian, yang suka mengolok-olok demi kepuasan dirinya, tentunya untuk contoh kasus sekarang.

Lanjut ke soal keliling-keliling kota. Ketika mobil yang saya kendarai bersama sahabat―sekaligus juga saudara dekat saya―Uwin Mokodongan kembali melewati Gogagoman, bangunan-bangunan posko yang biasanya dipenuhi "pasukan" nampak murung, lusuh, kosong dan mati. Entah ada berapa puluh, ratus, dan ribu harga diri bergelimpangan terbunuh di situ.

Karena merasa ngeri tak sekadar membayangkan namun juga menerjemahkan apa yang sekonyong-konyong tergambar dari bangunan posko-posko kelompok yang kalah, segera khayalan saya terseret ke suatu keadaan yang tak lama lagi kedepan akan membuat posko-posko yang lusuh, dingin, dan mati ini akan bangkit dan bersolek kembali tatkala Ramadhan tiba―bulan penuh hikmah dan pengampunan. Maka yang tergambar di hari kemudian adalah orang-orang ber-peci, baju koko, kain sarung, kerudung dan lantunan lagu-lagu religi.
Ah, alangkah indahnya dibanding posko-posko "perang" di hari kemarin.

Atau mungkin di posko-posko bekas para "serdadu berperang" dan "saling bunuh" ini, pada puasa yang tak lama lagi nanti akan ada berjubel penganan berjejer di situ mulai dari onde-onde, taripang, balapis, kukis putar, dan yang paling menyejukkan pereda dahaga kerena panasnya sengatan matahari yakni es cendol, es buah, atau es kalapa muda. Keadaan dan suasana kedepan inilah yang menurut saya merupakan momentum untuk menjadi penyejuk hati bagi mereka yang pernah menjadi "pasukan" dibangunan ini baik yang kandidatnya kalah, maupun yang kandidatnya menang untuk tetap menjaga persaudaraan sebagaimana Koyou In Mogoguyang.
Tak heran keliling-keliling Kotamobagu siang tadi membuat saya seolah merasa seperti dalam suasana ngabuburit pada bulan Ramadhan.

Seperti layaknya kukis, jika saya menyukai onde-onde, kamu menyukai balapis, ada pula yang doyan kukis taripang, dan mereka suka kukis lampu-lampu. Meski berbeda selera, tapi kita sama-sama penyuka KUKIS.
Mungkin seperti itulah analogi sederhana mengenai pesta Pilwako KK barusan. Lantaran kita berbeda pilihan, tapi sama saja, kita tetap harus menjaga rasa kemanusiaan kita. Tak saling membumi-hanguskan perasaan sesama dan tetap menjaga silahturahim. Kita manusia, bukan.

Namun khayalan saya tak begitu lama dan cepat buyar. Terkoyak oleh hingar-bingar dentuman musik dan riuh kelekar tawa dan luapan kegirangan berupa-rupa saat mobil yang kami kendarai telah berada di basis kelompok pemenang.
Hm, demokrasi memang merupakan pesta bagi para mayoritas se-kalap apapun pesta dan demokrasi itu. Pesta―tak hanya hura namun lengkap dengan olok-olok―seolah mahfum hanya milik mereka para pemenang di hajatan politik.

Akhirnya, jelang Ramadhan yang tak lama lagi, mari tetap kita jaga kedamaian, ketentraman, dan silaturahim seperti biasanya. Kehidupan ini seperti roda pedati. Kadang di bawah, kadang di atas. Kita semua akan merasakan hal itu dalam hidup kita. Malah bukan hanya di bawah, tapi kita tergilas roda itu sendiri, tanpa terkecuali.

Siapa pun kandidat Walikota dan Wakil Walikota yang telah terpilih, masyarakat kebanyakan tetap saja akan menikmati lauk yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Seminggu dua minggu nanti tatap bi' doman moyodungkul ikang putih, tahu andeka tempe. Deman bidon deho bo cakalang apalagi sinandoy.

Maka mari kita tak saling ejek-ejekan lagi―perang terek dan enggeng di dunia BBM so talalu span seolah tanpa adab―sebab terus-terusan larut dan terjaga dalam ejek, olok, terek dan enggeng. Kata sahabat di samping saya hanya akan menyita waktu istirahat, bercinta, tidur dan liburan Anda terbuang dengan percuma.
Jika mantan Kapolda Sulut berkata Brenti Jo Bagate, maka Brenti Jo Bagara juga baik, atau Brenti Jo Ba Pololeke. Sangat miris jika kita menggaung-gaungkan tentang orang Mongondow yang dengan semboyan keramatnya, 3-M (Mototabian, Mototompiaan, bo Mototanoban), kemudian kita sendiri yang kembali mencabik-cabiknya.

Jika kita pernah merasa sakit diejek, kenapa kemudian melakukan hal yang sama kepada orang lain? Bukan hendak sok bijak, tapi saya sekadar ingin meminjam omongan Konfusius; "Jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu".

Compassion... Mohon maaf lahir dan batin.


Powered by Telkomsel BlackBerry®