Saturday, July 27, 2013

Dunia 5x5 Meter

Langit masih biru, tapi aku cemas menunggu malam yang-padahal-tak akan pernah tertunda. Malam selalu akan malam, seperti hitam yang akan senantiasa hitam.

Taanngg!!!

Itu bukan bunyi piring pecah yang jatuh, bukan pula dentang bandul jam dinding purba, itu suara perut yang entah kenapa memilih bunyi 'tang'. Ah, mungkin lantaran gelungan usus-usus di dalam perutku sudah berkarat, dan apapun yang berkarat itu selalu logam. Yah, logam yang 'tang', yang mati. Aku memang layaknya benda mati sekarang.

Aku terbaring, terlentang menantang segala yang di atas. Menatap langit-langit kamar yang semakin meninggi dan kabur. Bentuknya tak datar, tak cembung, apalagi cekung, tapi miring ke samping. Ini aneh, aku sedang berhalusinasi karena didera lapar, atau memang kamar ini sedang dalam kuasa mimpiku. Kucubit kulit lenganku tanpa diplintir, rasanya tetap sakit, aku tak sedang bermimpi.

Saat ini, bangkit dari kasur seperti sedang menggusur segunung tanah. Ini dunia hanya 5x5 meter, tapi mampu menahan tubuhku berjam-jam karena tak ada apa-apa. Semesta alit yang pelit.

Energiku makin terkuras. Sialan, kuraih ponselku kemudian memencet tombol, mencari nama kontak teman yang bisa dihubungi. Pah, pulsa tandas. Aku kembali memelas. Atau lebih tepatnya melemah.
Sekonyong-konyong kukuatkan raga untuk bangun, beranjak ke dapur mini di kamar ini. Segelas air putih mungkin bisa menambah energiku. Enam langkah saja. Kemudian mataku sayup-sayup sayu, galon air itu kosong. Ingin sekali aku bersenandung Sepasang Mata Bola diiringin bunyi perutku yang keroncongan. Lagu itu bahkan menjadi kidung.

Terbaring lagi, kini dengan posisi tengkurap. Kubenamkan wajah ke bantal empuk lantas berandai-andai. Jika saja bantal-bantal ini sekejap berubah menjadi sekarung dada ayam panggang. Ah, mungkin benar di mana ada panggang dan ranjang, di situlah tanah Tuhan yang dijanjikan. Tapi kali ini beda ceritanya. Ranjang mengada dengan panggang yang tiada.

Gelap sudah di luar sana. Sedang menunggu siapa? Hingga saat ini tak ada bunyi gagang pintu yang dibuka. Tak ada pula tang ting tung bunyi ponsel. Segala yang berada di semesta alit ini, mati. Kamar ini perlahan membunuhku.

Kuraih gagang pintu, kubuka pintu lebar-lebar, kuhirup udara malam segar. Aromanya seperti bukan udara. Ini aroma dunia. Duniaku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®