Sunday, March 31, 2013

Repetisi dan Hari, Hari-hari, Hari dan lagi-lagi Hari.

Rutinitas keseharian kita membentuk opini bahwa apa yang kita lakukan selalu tentang repetisi, keberulangan dari kemarin, hari ini, besok. Dan kembali hari ini akan menjadi kemarin setelah kita tetapkan ia menjadi besok juga ketika kemarin. Untuk skala tahunan, bulanan, mingguan, kita terlalu sulit untuk merunutkan apa yang telah kita kerjakan secara berulang-ulang itu. Dan untuk itulah aku lebih mengecilkan skalanya---dalam hitungan hari.

Senin: Hari Senin adalah hari dimana kita kembali beraktifitas dari libur kerja, kuliah dan sekolah. Libur Sabtu-Minggu bagi yang mempunyai jadwal lima hari kerja. Dan untuk yang berjadwal enam hari kerja, mungkin mereka ini yang paling membenci hari Senin. Tak terlepas para anak kuliahan dan sekolahan. Tapi sebenarnya, ada pertanyaan yang seringkali terjulur dari mulutku, kenapa kita harus membenci hari Senin. Padahal harusnya fisik tubuh kita kembali berotot menjadi Superman setelah beristirahat dari rutinitas itu (dengan sedikit akting merobek baju atasan agar terlihat huruf 'S'nya lalu membusungkan dada). Senin, harus aku namai apa hari ini. Atau kita yang terlalu memumeti hari Senin, karena menjadi pangkal awal hari untuk kita mengeja hari-hari berikutnya. Baiklah, untuk hari Senin, aku sepakat menjulukinya 'Monster Day'. Kalau disusutkan bisa jadi ejaan dalam bahasa inggris Monday---akronimnya. Monster Day yang harus Superman kalahkan.

Selasa: Dengan sedikit lega karena Senin yang telah terlewatkan, kita menapaki hari ini dengan menghitung juga, tinggal tiga kali berjinjit, lalu kita kembali menemui hari libur lagi. Baru hari kedua kerja, tapi hitungan itu cukup menghibur selama kita menganggap tiga hari kedepan itu sesuatu yang singkat. Untuk mereka yang enam hari menjalankan rutinitas kerja, kuliah dan sekolah, Selasa masih belum terlalu melegakan mereka. Tapi setidaknya di hari ini, ada hal yang seharusnya dibereskan di hari kemarin, maka kita coba rampungkan di hari ini. Sepertinya hari Selasa banyak memberi arti bagi kita, untuk tetap fokus dengan hari ini, lupakan Monster Day kemarin yang telah terkalahkan, dan terus saja melenggang dengan semestinya. Pasti hari-hari berikutnya akan dilalui dan berlalu begitu saja. Maka hari Selasa aku maknai 'Selaksa'.
Rabu: Ini juga hari yang tepat untuk kita terus berpikir positif, selalu seimbangkan kehidupan. Karena posisinya memang di tengah-tengah, maka hari ini juga semakin membuat kita memaknai hari-hari kemarin. Yang kemarin, dan yang akan datang, adalah sesuatu yang sudah dan akan kita jambangi lagi. Maka untuk hari ini tak perlu terburu-buru, tetap santai berada di posisi tengah. Dan untuk hari Rabu aku warnai 'Abu-Abu'. Sebuah komposisi warna di antara hitam dan putih. Di tengah. Dan menyeimbangkan.
Kamis: Kita mulai berbenah, untuk hasil akumulasi dari hari-hari kemarin. Posisi ini sangat melegakan, apalagi buat yang hanya enam hari kerja. Rasanya seperti tumisan bumbu masakan ibu-ibu yang sudah mulai matang, pun kumis bapak-bapak mulai dielus-elus karena kerjanya mulai rampung, tinggal mari bersantap makan. Kita sudah terlalu lelah dengan yang kemarin. Dan repetisi di sini akan hadir lagi seperti kumis-kumis yang tumbuh kembali setelah dicukur. Dan untuk hari ini aku tempeli dengan nama hari 'Kumis'.
Jumat: Ah, di hari Jumat ini, hari yang begitu agung bagi umat Islam, banyak yang suka melumat kalimat religius, lalu memuntahkannya di status---saling bersikut-sikutan di recent updates BBM. Pun di sosmed (sosial media) seperti Facebook dan Twitter. Tapi sudahlah, itu salah satu bentuk keintiman mereka dengan Tuhan. Keintiman lewat untaian kata-kata di status. Sepertinya terlalu banyak yang merayakannya seperti itu, jadi membosankan juga. Mungkin, hari Jumat lebih tersakralitaskan ketika apa yang sudah kita lalui kemarin, kita jinjing ke rumah Tuhan, tanpa ketahuan orang-orang, hanya kita sendiri, dan Dia yang tahu. Seperti kamu ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga kepada Ibu---senyap---dan membuatnya terharu. Maka kuhadiahkan hari ini dengan sapaan 'Mother Day'. Ibu dari segala hari. Dan ibu yang selalu mengingatkan kita, lupakan amal-amal baikmu. Tak perlu kau rayakan dan diarak-arak. Semakin semarak, semakin tak layak disebut amal baik meski banyak.
Sabtu: Meloncat girang, atau tidur hingga siang menjelang malam. Dan bagi yang masih tetap beraktifitas seperti biasanya. Tetap meloncat karena besok mari menemu Minggu. Di hari ini tak perlu menunggu. Kerjakan saja apa yang harus dirampungkan. Dan sisanya tak perlu menggerutu. Hanya berpikir, malam nanti kita bertemu kekasih, atau menonton semalam suntuk, lalu keesokannya seharian tidur bermalas-malasan. Malamnya pun hanya milik kita. Bahkan kamu enggan berbagi dengan Si Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Hanya kamu dan Sabtu. Maka Sabtu harus kulebeli dengan hari Cerutu. Hari dimana tak perlu cemberut, tak usah menggerutu, tapi mari menyulut Cerutu Kuba. Pesta.
Minggu: Zzzz...
Lalu Monster itu datang lagi...
Powered by Telkomsel BlackBerry®





Sebuah Rasa 'Kesemutan'

Barusan saya minum kopi di teras rumah, karena terlalu keasikan BBM-an, pas lihat cangkir kopinya sudah dikerumbuni semut. Saya singkirkan semut-semut itu dengan meniup-niup cangkir kopinya. Ada seekor semut yang tak sengaja tertiup masuk kedalam cangkir kopi, untung kopinya sudah tidak terlalu panas tadi, sedangkan teman-temannya yang lain sedang sibuk menyelamatkan diri. Kucari-cari dan kusendoki semut itu lalu kuletakkan ke lantai, semut itu tergolek lemas---basah. Tapi salah satu ujung tungkai kakinya masih bisa ia gerak-gerakkan---masih bernyawa. Di samping cangkir kopi masih banyak teman-temannya yang lalu-lalang, saya tetesi lantai itu dengan sedikit air kopi yang membentuk sebuah kubangan air hitam besar, tentu saja besar untuk ukuran semut. Seketika mereka mengerubuninya. Tak jauh dari situ saya pindahkan posisi semut yang barusan tenggelam itu dekat dengan kubangan air kopi itu. Ada hal yang menarik di sini, salah satu semut yang posisinya sedang asik menyeruput air kopi, dan sangat dekat dengan semut yang tergolek tak berdaya itu, selang dua puluh detik, semut itu beralih menengok temannya yang sedari tadi tergolek lemas tak jauh dari oase air kopi itu. Entah kelihatan seperti ia meniup-niupnya biar temannya itu cepat kering dari basah kuyup, dan karena keterbatasanku sebagai manusia tak mampu menyaksikan kejadian itu lebih jelas, sebatas mengira-ngira. Tak lama kemudian tubuh semut itu seperti tampak berbentuk selayaknya semut. Satu-persatu tungkai-tungkai kakinya mulai bergerak perlahan, tubuhnya yang tadi basah dan lebih mirip jenazah tiba-tiba bernyawa lagi. Si semut penyelamat tadi seketika membopongnya lalu membawanya pergi. Yang lebih menarik lagi, dari dua pilihan yang saya berikan. Pilihan pertama sebuah tetesan air manis gula di kopi, dan pilihan kedua seekor semut yang sedang sekarat, makhluk kecil itu lebih memilih menolong temannya yang sekarat. Dan itulah sebuah rasa 'kesemutan' (plesetan dari 'kemanusiaan') bagi semut. Mereka makhluk yang tak berpikir, katanya. Mereka hanya menggunakan insting, katanya. Tapi yang barusan terjadi itu adalah sebuah bentuk keberpikiran dari semut. Kita manusia juga binatang, hanya saja memiliki kemampuan linguistik yang tinggi. Makanya jangan pernah sombong menjadi manusia, dan selalu saling memanusiakan manusia lainnya. Atau untuk bahasaku sendiri "saling memakhlukkan makhluk lainnya".
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Cinta

Mari kita mengeja kata itu, lalu melafadzkannya dengan sedikit nakal atau menelanjanginya dengan suci. Kita tahu tanpa cinta hidup hanyalah sebuah kamar pengap penuh debu. Sesekali melirik di bilik kamar itu saja, sudah membuat paru-paru kita dijalari sedemikan banyak bakteri kehidupan. Tapi coba kita bawa perkakas pembersih, lalu bersihkan kamar itu, kita warnai dindingnya dengan coretan kanvas keindahan. Kita keruk semua debu dan membuka lebar-lebar jendela pengetahuan kita. Maka seketika kamar itu akan dipenuhi oleh cinta. Udara kehidupan yang sebenar-benarnya pun terhirup lega.
Tapi tak pernah semudah itu. Bahasa mudah dilumat, dan dimuntahkan begitu saja. Namun disaat dikotomi hitam-putih yang tak pernah lepas dari universalitas warna ikut serta tanpa bisa ditepis. Kita seringkali terjebak. Bahkan lebih parah jika itu menjadi landasan kita menilai segala sesuatu. Hitam dan putih, baik-buruk, bahkan soal awal dan akhir eksistensi kita di hidup dan mati---tak lepas dari dua kubu itu yang saling membelit.
Tangan kita gemetar ketika sedang menyetuh titik vital dalam hidup. Apalagi soal lapar dan kenyang. Ada si baik yang sedang kekenyangan, dan si jahat yang meringkuk kelaparan. Keadaan itu jarang sekali kita pikirkan. Kita sebenarnya seringkali menemui orang-orang baik yang sedang kekenyangan tanpa kita sadari. Dan bukan tidak mungkin pula ada orang-orang jahat yang masih kelaparan karena semalam gagal maling. Dan entah kali ini cinta memihak siapa.
Lalu kita terbentur lagi di dinding kamar. Meringis karena sakit itu kita yang merasa. Tapi di luar pintu sana ada si pengintip yang tertawa, dan kita pun makin salah tingkah. Kita menjadi objek dari subjektifitas si penilai yang berubah menjadi penghakim diri kita. Kita dihakimi dengan sebuah ketawa. Kita merasa terawasi dari lubang kunci pintu kamar. Jean Paul Sartre menganalogikannya sebegitu cerdas soal itu.
Jika kita posisikan Tuhan seperti itu. Maka dosa akan terasa seperti beban yang sesekali akan ditimpahkan kepada kita. Kecintaan tak pelak jadi sebuah otoritas yang menjadi sebuah keharusan. Kita harus berbuat baik, bukan lagi kita berbuat baik. Pahala akan kita maknai serupa kado yang nantinya kita terima disaat telah berbuat baik. Tuhan menjadi si pemberi beban dan si pemberi hadiah. Kita tinggal di dalam kamar elektrik yang sudah diatur bagaimana seharusnya kita bertindak. Kita dihukumi dan dihadiahi sebuah kamar mewah bertombol on-off. Dan selalu takut dengan Sang Pengontrol. Maka kita bukan lagi manusia, tapi seonggok besi yang dijejali berjuta kabel yang diringkus satu tombol merah---sebagai pengeksekusi nyawa.
Cinta apa yang bisa kita maknai di kamar ini. Kita memilih beberapa perkakas tanpa kita sadari telah menjadi perkakas itu sendiri. Lalu untuk apa kita membersihkan sebuah kamar pengap, jika tak dimulai dari membersihkan diri sendiri. Membersihkan debu-debu dikotomi dalam kehidupan kita. Tak lagi takut dengan sebuah penghukuman atau girang akan iming-imingan hadiah. Dan untuk itu, cinta menjadi sebuah bungkusan. Ciptakan saja sebuah kecintaan yang bahkan Tuhan sendiri tak perlu mengutus makhluk elektrik untuk menanyai kita nanti. Kunci rapat-rapat kamar kita, dan jangan pernah tanggalkan kuncinya. Agar mereka tak menemukan sedikitpun celah untuk mengintip kita lagi. Kita sedang membuat cinta---sendiri.
Powered by Telkomsel BlackBerry®