Selasa, 30 April 2013

Akhir April

Tak ada tempat menumpahkan rasa selain di kamar hitamku ini. Blog ini adalah kamar hitam mayaku. Di sini tempatku membual. Setelah kemarin kita selalu saling menyeret rasa, malam ini rasa itu melemparkan jangkarnya. Kita memang tak sebaik apa yang pernah kita rencanakan sebelumnya. Tapi di sini, di malam ini, tiga kata itu meringkus segala sebab. Dan memang, menurutku masa lalu yang termaafkan adalah yang paling  menentukan masa depan kita kelak.

Hidup selalu adil, saat arus menyeretmu ke kubangan lumpur, maka arus itu pula yang kembali membasuhmu dari lumpur. Aku tak pernah ada andil di situ, aku hanya seonggok wayang yang sedang dimainkan Sang Dalang. Jauh di dasar hati ini, Sang Dalang yang paling tahu. Karena segala sebab bermula darinya, dan segala akibat pun tak terlepas darinya. Malam ini dari semua rentetan sebab-akibat itu akhirnya bermuara di ujung satu jawaban. Kita berdua diciptakan untuk berbeda dan tak akan pernah sepaham.

Ada yang sebegitu indah dan besar maknanya dari kisah ini, aku lebih tahu bagaimana harus berpikir kemudian bertindak. Setelah sebelumnya aku terjebak dengan tindakan yang belum dipikirkan terlebih dahulu. Aku belajar banyak, bahwa ketika akal yang menjadikan kita manusia sebagai makhluk yang mulia, telah difungsikan dengan sebagaimana mestinya. Soal tanggung jawab itu, sebegitu besarnya sebuah resiko tapi masih bisa kupikul, meski untuk keberlanjutannya selalu ada celah yang menjadi tempatku mengintip akan segala kekuranganku.

Sebuah ketakutanku nanti bukan soal perpisahan, tapi tentang masa di mana peranku sudah tiba dan aku tak lagi di sana. Peran yang mungkin nantinya akan tergerus waktu seiring dengan apa yang akan terjadi. Peran sebagai ayah yang tertunda. Kita memang mudah mengucapkan, tapi yang tersulit sebenarnya saat kita akan menjalaninya nanti. Sendiri-sendiri, mungkin sebuah keputusan yang memangkas segala yang menggantung selama ini. Tapi untuk yang telah kita lewati bersama, itu menjadi faktor pembentuk kita. Membentuk perisai yang nantinya akan kita pakai untuk melindungi diri dari segala murka kehidupan. Karena yang kita jalani ini belum ada apa-apanya. Hidup masih panjang untuk kita tak berpikir panjang.

Seperti yang selalu aku harapkan adanya sebuah keputusan. Bersama atau berakhir. Dan sebuah pilihan tercentang sudah, maka jangan pernah menyinggung masa lalu dengan keburukan-keburukan yang terserak saat itu. Aku pun mendengar kalimat itu terucap dari lisanmu dengan begitu tenangnya. Mimpi-mimpi kita memang selalu berbeda, sejak kita baru mau beranjak tidur di malam-malam kemarin. Untuknya, kau selalu tahu siapa 'nya' yang kumaksudkan, ceritakan padanya; aku seorang ayah payah yang berupaya dengan susah payah menjadi ayah yang baik. Karena kelak, ia akan menemukanku lewat cerita-cerita itu.

Di April ini, segalanya bermula dan berakhir. Kita harus berpisah. Tiga kata itu. Melepaskan sekaligus meringkusku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®



Minggu, 28 April 2013

S.U.T. Sigi (My little Medusa)

Nun jauh di sana... ah, sudahlah, ini bukan cerita dongeng. Hari ini, ada pesta yang meriah di kejauhan sana. Musik riang menghentak. Balon warna-warni yang saling bergesekan direbut. Ada yang meletas, tertawa, teriak, dan kemudian tangisan. Tapi tawa itu selalu kembali berkejar-kejaran dengan rasa riang. Hari ini pesta mereka---anak-anak. Ada kue berwarna-warni di meja dihiasi dengan semarak pernak-pernik ulang tahun, tak lupa sebaris nama tertoreh di situ; Sistha Ghasyafani Galuwo, nama yang seperti kereta api, tapi sapaannya se-gerbong saja, Sigi. Lilin berbentuk angka '2' yang menancap di tengahnya meleleh terbakar, membuatnya terlihat semakin kokoh di atas kue yang liat. Lalu nyala lilin itu seketika padam ditiup mulut mungil dengan bantuan bibir bergincu lainnya. Riuh tepuk-tangan. Ultahnya anakku. Eh, ada badut yang tersenyum di ujung sana. Senyum yang kekal.

Terlahir dari ibundanya: Phoppy Fatmala Lando, anak gadis mungil ini seperti miniatur dari ibunya. Rambut keriting seperti Medusa (tapi rambut Ibunya sudah di-rebonding), mata bulat indah penari Bali (tapi mata ibunya sekarang pakai softlens), dengan dagu tirus membentuk stalaktit mau menikam bumi. Hidung mancungnya serupa bukit kecil yang dari atas puncaknya kita bisa melempar timba ke dasar sumur di kedua pipinya yang tampak ketika ia ketawa. Akan banyak yang dahaga ketika melihatnya besar nanti. Pikirku begitu. Dan apa yang mirip denganku. Hanya dagu dan senyumannya itu sudah lebih dari cukup. My little Medusa.
Sedikit catatan tentang Medusa...
Medusa selalu dianggap sosok yang jahat, padahal ia adalah sosok penjaga/pelindung. Anehnya juga ia seorang pendeta perempuan suci di kuil Athena, yang kemudian diperkosa Poseidon di kuil, tapi malah ia yang dikutuk. Mungkin Athena cemburu padanya, karena ternyata diam-diam Athena menaruh hati kepada Poseidon. Bagiku Medusa tetap sosok pendeta perempuan suci, dan ia bukan mati karena dibunuh, tapi ia mati oleh refleksi dirinya sendiri. Bukankah yang paling membunuh itu adalah diri kita sendiri?

Lanjut...
Pernah sekali di kamar hitamku, ketika sedang asik merokok, tiba-tiba ia berlari masuk ke kamar, mendapatkanku duduk di kursi sofa usang, lalu melempar tubuhnya ke tubuhku. Ia merangkul sembari tersenyum. Ada perasaan yang berbeda di sana. Itu bukan pelukan seorang anak, tapi itu pelukan Tuhan. Hingga sekarang rasa itu masih bisa kuingat, tangan yang memaksa melingkar di seluruh badanku, perasaan lega yang meringkus, dengan wajah yang dibenamkannya ke perutku. Dan seketika ia berbalik lalu menatapku. Tersenyum. Aku melihat Tuhan di dalam matanya saat itu. Aku menjadi segunung batu. Kita mungkin tahu, bahwa manifestasi Sang Pencipta adalah ciptaannya. Aku membikinnya, tapi bukan aku yang mencipta. Ciptaan yang Maha.

Setelah setahun terpisah. Ketika melihat pantai (karena Bali di kelilingi pantai), aku seringkali membayangkan saat-saat dimana aku berlari-lari, berkejar-kejaran dengan dia di bentangan pasir pantai yang menguning disaput senja. Tertawa dan basah. Bayangan itu yang seringkali hadir menghibur. Lumayan mengubur rindu. Tapi, tak pernah sesuatu itu terasa begitu menghibur, jika ia tidak hadir di depan mata kita, bukan? Rindu itu sepertinya ciptaan hantu.

Jarak yang membangun ruang di antara aku dan dia. Hingga hari ini, yang begitu spesial bagi ibunya. Aku, ayahnya berjarak ribuan kilometer darinya. Antara Bali dan Passi (nama desa tempat tinggalku). Sewaktu tapi berjarak. Tak sempat aku merasakan pelukan itu lagi, hingga kini di hari yang katanya tumpah ruah dengan kebahagiaan. Tapi kenapa harus hari ini? Bulan ini? Karena kapan pun pelukan itu akan aku rasakan kembali. Pelukan Tuhan. Bulan ini memang spesial. Kita berdua terlahir di bulan ini. April ini milik kita, Ayah, Ibu, dan Sigi. 28, angka (2) dua yang memunggungi angka (8) delapan yang tampak seperti dua angka kosong saling memeluk. Aku (2) dua dan kalian berdua (80) delapan. Tapi di ultahnya yang ke-2 ini, aku sebagai angka (2) dua itu tak ada.

Dengan masih memunggungimu, ayah ucapkan; "SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-2 DI 28 APRIL." Jangan pernah dewasa ...

Powered by Telkomsel BlackBerry®





Jumat, 26 April 2013

Perahu Kertas

Larik-larik ombak kecil
Menggaris riak-riak mewarnai air
Perahu lusuh itu tertampar
Terkulai kemudian mau karam

Tak ada tepukan karang
Hanya dua desah dari empat napas
Berhimpitan di 444 kabin kertas
Tadinya bernyawa tapi kini diam

Dua rela hanyut dengan senyum
Bukan senyum milik Rembrandt
Itu sekumpulan senyum...
Dari bale dan galerinya Poyan 

Para penjelajah samudera
Saling berbagi insang
Hadiah Neptunus katanya
Buat bernapas di pusaran bintang

Lanjut sudah berlayar
Memesona segala bentuk
Meraba-raba yang bukan diri kita
Lalu menemu diri kita semula

Perahu kertas itu tak berayap
Kekal dalam akal
Di lautan garam itu
Tak ada yang karam

*Puisi inspirasi dari Novel Perahu Kertas*
*Dee*

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 22 April 2013

Seharusnya...

Kita berkelindan, lalu kugigiti tengkukmu kala itu. Kala yang Maha.
Dan kini... Kamu menyambalewa selarik rasa. Kemudian kita berparak dengan teriak serak, dan tak ada lagi saling tarik lalu mengarik.

Dunia kita dekat berbeda, ketika sungai mau kuminum, kamu menginginkan lautan. Lautan menyihirmu. Padahal meski tawar dan asin, mereka itu air. Sama-sama dingin, sedingin kita sekarang.

Kemarin ada yang kubiarkan mencak-mencak. Biar tujuh pusara bisa kau tebang. Satu pusara yang menggenapi bukan dari papan. Ini batu cadas. Dan kakimu tiba-tiba kena serpihan batu, luka dan bacin.

Dulu, kata yang malu. Memerah karena tungkai yang akan berkerut lunglai. Sekarang, kata yang berani. Karena sadar kalau kata 'mati' itu terus sakti. Menyebat apa yang hebat.

Lalu apa?
Kita mau berpisah...

Ada yang kecil sedang menangis besar...

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 20 April 2013

Kotak Hitamku

Malam ini tak ada yang keliaran. hanya di teras dengan ubin dingin, sama seperti malam-malam kemarin, membatu di sini raga, dengan bayangan yang ingin ke tempat lain. Hitam langit mau kuringkus dengan bualan malam ini. Tentang sebuah pelarian. Waktu aku berniat untuk keluar kota, setelah pulih dari sakit akibat kecelakaan yang mengerangkengku berbulan-bulan di ruangan 3X4 m. Kamarku. Kini rasanya ingin kembali saja ke ruangan itu. Kecil, kotak, hitam, tapi bernyawa. Di sana seharusnya aku berada. Terkurung oleh tawa.

Banyak buku yang belum kuselami, dan ada tanggung jawab di sana yang tertinggal. Si kecil mungil yang keriting itu menunggu aku menidurkannya seperti suatu ketika. Mungkin sekarang ini sudah waktunya aku membacakan dongeng untuknya. Di kamar itu kemarin hanya ada aku, dia, dan nyamuk-nyamuk yang selalu tak kuijinkan mendarat di kulitnya. Aku selalu siaga dan terjaga untuk menjaga lelapnya. Kamar hitamku, di sana ia terbuahi, di sana pula ia tercerabut dari goa suci dengan amis darah yang menebal di segenap ruangan. Nyawanya dihirupkan di sana.

Aku rindu kamar itu dengan segala ceritanya. Meski baru kemarin beraromakan buku-buku baru, juga dengan debu-debu yang tak tersapu dan sisa air comberan dari kamar mandi sebelah yang meruap menyusup dari rusuk-rusuk jendela kamar. Kisah yang terserak di sana begitu lampau dan sengau jika diceritakan lagi.

Lamat-lamat bayangan hiruk-pikuk, tawa yang menggelegar, denting gelas yang beradu dengan botol, musik yang disetel kencang. Lalu teriakan menegur dari kamar seberang, siluet yang kabur meloncati jendela dan saling mencabik di pepohonan malam, ada yang merangsek di rerumputan, belukar yang terinjak, dan sebuah teriakan merobek malam di luar sana. Kamar itu isinya segala yang nakal. Hingga waktu seperti pasir hisap, menyedot segalanya. Tersisa bayang-bayang yang bergelayut di antara pasir-pasir murka.

Di sini, jauh yang seharusnya hanya selintas hari tuk bisa kembali kesana. Jarak terkadang terasa jauh jika kita masih menghirup udara masehi. Tapi saat ini teknologi dengan suka-sukanya meruyak. Mengoyak-ngoyak kantong dan kantung mata kita. Memudahkan tapi bisa juga menyiksa, karena tak ada lagi yang tak berlabel di dunia ini. Kendaraanku untuk kembali kesana. Dilabeli dengan harga.

Lantai ubin di teras ini makin dingin. Beku setelah lama aku terpekur di sini. Ah, kotak hitamku... menyimpan begitu banyak momen. Meski banyak kisah hitam, tapi bukankah putih juga tak akan tampak tanpa hitam. Mencuri kalimatnya Laksmi Pamuntjak, "Jangan-jangan warna cahaya adalah hitam?"
Powered by Telkomsel BlackBerry®



Jumat, 19 April 2013

Childhood

Masa kanak-kanak, kata kawan saya; masa dimana penuh dengan keajaiban, dan berbahagialah mereka yang tetap mau menjadi anak-anak, dan bertahan dengan keajaiban-keajaiban. Dewasa itu sebuah kesalahan, tua itu pasti seperti mati.

Anak-anak memang dipenuhi dengan imajinasi, semakin mereka menemukan hal-hal baru, maka imajinasi mereka seketika terpoles membentuk pelangi di atas kepala mereka. Dunia ini begitu sangat, sangat ajaibnya bagi mereka. Kita seringkali menganggap hal yang luar biasa menjadi hal yang biasa, karena terbiasa. Bulan yang menggantung, awan yang mengambang, dan bintang-bintang yang berserakan di langit. Selalu menjadi hal yang aneh bagi mereka. Seakan-akan alam masih tersaji segar. Dan semuanya tampak baru dipentaskan dan pantas dipertanyakan. Terkadang, untuk memahami sesuatu, kita memang harus menjadi anak-anak dulu.

Saya masih ingat mungkin ketika berusia sembilan tahun. Pernah bertanya-tanya di sore hari, sambil menyapu bersih alam sekitar dengan pandangan sejauh tatap yang menembus arak-arakkan mega. Siapa yang mencipta ini semua? Karena pikirku manusia yang terpandai saat itu adalah seorang Profesor, maka pertanyaan saya disusul dengan; siapa Bapak Profesor yang mampu mengetahui, dibalik semesta ini ada, siapa penciptanya? Dan jika si 'siapa' itu ada, dia dari 'siapa'... Dan jika segalanya hilang, maka di 'hilang' itu pasti masih ada yang 'ada', kan? Lalu?

Pertanyaan itu sempat saya tanyakan ke kakak perempuan saya, dan jawabnya; jangan bertanya seperti itu, nanti jadi gila. Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian, baru saya kembali menggali pertanyaan itu, yang sudah tertumpuk di memori. Dan ternyata, bukan hanya saya yang sering bertanya demikian. Beratus-ratus orang pemikir, memikirkan hal yang sama. Dan di usiaku yang masih kelas tiga sekolah dasar waktu itu. Pertanyaan seperti itu sangat lumrah dan itulah keajaiban masa kanak-kanak. Bukankan ketika kita masih bayi dan belajar mengeja bahasa, ada satu kata yang paling cepat kita ucapkan; apa, pa, papa, appa... Hingga kelas tiga SMP, saya juara kelas, dengan banyak bertanya. Dengan 'apa' yang tak pernah alpa. Dan sebenarnya, tak pernah ada satu pun jawaban yang saya temui, yang bisa menjelaskan apa yang saya tanyakan disaat usia sembilan tahun itu.

Dengan riang, kita tertawa, kita nikmati keajaiban-keajaiban, sonder diberitahu, kita telah jauh meninggalkan masa itu. Tapi itu masa yang purba dan terus teraba. Dan bagi saya, untuk sebuah pertanyaan itu, hanya keriangan kita yang bisa menjawab. Bahagia dengan melihat orang lain bahagia. Itu adalah jawaban dari segala pertanyaan. Dunia ini diciptakan oleh kebahagiaan. Dan satu saja kebaikanmu kepada orang lain, atau membuat ia bahagia. Maka disaat itulah, alasan Tuhan itu ada, dan mencipta. Untuk berbagi.

Kita tahu, bahwa anak-anaklah yang paling cepat berbagi sesuatu. Ia tidak pernah merasa memiliki, atau ia bisa saja menangisi suatu benda yang kita rebut dari dia dengan mudah, tapi sesaat setelah kita menawarkan benda yang lain, ia menerima begitu saja. Lalu berbagi kembali, memberi, dan merelakan begitu saja. 'Childhood', masa kanak-kanak... Kupikir... Tuhan adalah anak-anak. :)

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Selasa, 16 April 2013

Siang Yang Bolong

Tak ada apa-apa hari ini, semuanya datar, tak ada candle yang naik-turun seperti di layar monitor saat online market bursa saham. Pikiran sedang buntu di kepala. Aku ingin pulang tapi keadaan masih memaksaku di sini. Menunggu hantu. Jauh di sana, di kampungku yang selalu kucintai dengan penuh, kini bolong oleh rindu. Menganga. Ada resah seketika merangsek dari sisi hati, terus menembus hingga membuat liang kosong. Mereka yang pernah tinggal di sini. Tak lagi ada. Hampir copot semuanya oleh jarak yang tercipta. Waktu sekali-kali memupuk rindu, tapi bisa juga meniadakannya seketika. Membunuhnya perlahan dengan detak-detak meretaki ladang kemarau hati. Banyak yang harus kusirami lagi. Dengan canda tawa kita.

Sedang apa mereka di siang yang bolong ini. Mereka-mereka yang pernah se-neraka, pernah pula se-sorga denganku. Mereka yang tahu benar kapan akan tertawa, dan kapan akan menangis. Hidup ini menjadi pelajaran yang singkat buat siapa yang cepat mangkat. Tapi diusiaku yang sekarang. Aku pikir sudah cukup lama juga telapak kaki ini meniduri jengkal-jengkal tanah. Kita mulai menua dengan pasti, jauh meninggalkan masa kekanak-kanakkan kita yang penuh ragam cerita.

Tapi terkadang kita bisa kembali sekadar berefleksi dengan diri. Melihat bayang-bayang kita yang entah sudah berapa kali ia berganti rupa. Sebuah masa yang pernah kita lampaui, hingga hidup ini terus menggerus kulit ari-ari kita. Kita memang tak akan pernah sama dengan kita yang dahulu. Mungkin satu-satunya yang terus tumbuh dan serupa terus, hanya kuku kita. Aku sering melihat kuku ini sama dengan bentuk kuku sepuluh tahun yang lalu. Tulang lunak yang terus tumbuh sekitar 0,1 mm per-hari. Siang ini, di musim panas ia tumbuh begitu cepat. Ah, kuku... Aku baru sadar selain dipakai untuk mengupil, kamu juga seringkali kupakai menekan "qwertyuiopasdfghjklzxcvbnm." Hingga jutaan kata bisa mewujud.

Makin bolong ini siang. Yang jauh pun semakin melesat pergi bagai selongsong peluru. Aku titip segala rindu ini, lalu kirim kembali sebagai penghibur yang membuat hati ini penuh lagi. Kamu, dia, dan mereka. Di kampungku yang sama, tapi banyak kisah yang tak akan tersamai di sana. Katanya, malam di sana makin dingin, orang-orang memilih mengunci diri di rumah. Banyak yang pergi---berpulang. Tapi akan banyak pula yang akan datang---kembali. Lalu kita membikin api unggun di sudut lapangan, sambil pergi memanen jagung milik kita. Membakar suasana. Karena api selalu menghangatkan kita. Api yang se-abadi pertemuan dan perpisahan.

Siang yang bolong... kugigiti seperti kue donat hangat.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Pendidikan

Pendidikan, antara budaya menghukum dan merangsang minat siswa..
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?"
"Dari Indonesia," jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini," lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya.
"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti..
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI).
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 15 April 2013

Kopi Hitam Putih

Sudah panas hari, tapi baru saja segelas kopi tandas,
Semut yang sedari tadi bungkam pergi entah kemana,
Menyisakan jelaga ampas kopi di marmer pucat,
Banyak yang sengaja tercecer, terbuang, tergenang...

Ada dua pasang mata awas di sini,
Masih menjepit sebatang rokok yang berapi dan berasap abu-abu,
Siang ini segalanya abu-abu, dengan debu yang mulai memanjat udara,
Lalu bersinar malu pada matahari jauh...

Setumpuk rumput tergesa-gesa di tong sampah,
Kutambah lagi dengan puntung-puntung buntung,
Sisa kisah semalam yang penuh ketawa,
Kita terbahak-bahak, dan terbatuk-batuk...

Dewata... mari nyata
Duduk melantai di sini denganku
Kita berbagi cerita tentang semesta
Biar kubikin segelas kopi lagi untukmu,
Satu sendok gula hitam, dan dua sendok kopi putih,
Kupikir begitu seleramu...

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dua Puluh Peluh

Sangat terik, bumi terpanggang. Kalau dilihat dari satelit, mungkin planet bundar ini sedang mendengus. Satu peluh memotong raut mukaku yang kusam. Bergulir dan jatuh meresap bersatu di kaos lusuhku. Mereka, peluh-peluh itu pun besedekap dengan kawan-kawannya. Air seteguk, tak seimbang dengan keringat selutut. Menggenangi kota yang mulai meninggi mencolek langit. Mereka pikir bisa menjamahnya, seperti Menara Babel. Pada detik ini, hanya bahasa yang mampu meruntuhkan langit. Atau menikamnya dengan sebilah tombak teori. Padahal mereka lupa tongkat tombak itu akan melapuk. Dengan ujung mata tombak yang berkarat. Teori-teori sekarat.

Aku tertunduk. Cerita 'langit' membuat tengkukku lelah. Menyapa bumi yang kupijaki dengan badan miring. Ada peluh kedua yang terlepas jatuh, disusul peluh ketiga, keempat, kelima, lalu yang keenam mulai terlupakan. Lelah ini menggerus hingga beringus. Debu-debu seantero kota melesak masuk ke lubang hidungku. Kali ini peluh di tanah seketika mempunyai teman baru. Segumpal kenyal warna hijau muda baru saja dijentikkan jemariku ke tanah. Aku kini duduk dengan peluh ketujuh yang melintas cepat seperti baru saja lepas dari lapas.

Mungkin kalau dipotong setengkuk rambutku bisa mengurangi gerah hari ini." Kalimat itu terucap pelan, bicara dengan diriku sendiri sambil mengelus rambut gondrongku.
Peluh kedelapan senyap-senyap melewati dahi, lalu hinggap di kening sebelah kananku. Ia bersembunyi. Tapi peluh kesembilan datang dengan nakal dan menemukannya, mengajaknya lompat bersama. Meloncat melewati mata. Mereka lari dengan keberanian yang terawasi. Kemudian tercerai-berai menghujam dengkulku. Posisi dudukku bersila. Bersandar pada dinding angin. Aku lapar. Dengan dengkul yang gemetar.
"Sepertinya, bebek panggang dan dua piring nasi... Akan terhidang di meja makan." Tatapan lurus ke depan. Di sebuah rumah yang asri berseri-seri diapit kota. Bukan kos-kosan yang ngos-ngosan terhimpit kota.

Suara-suara klakson mobil meramaikan kota yang sedari tadi bising. Kurogoh saku celanaku, karena posisi duduk bersila susah merogoh saku, aku berdiri miring lagi dan yang kutemukan di kantong sakuku hanya sebuah koin lima ratusan yang basah seketika dihujani peluh kesepuluh. Disusul desahan yang ditembus peluh kesebelas dari ujung hidung. Aku menyeka sisa keringat yang menggelitik ujung hidungku. Berminyak dan mendidih. Peluh keduabelas, ketigabelas, dan keempat belas mengucur tiba-tiba dari belakang telingaku. Sambil tertawa mereka berucap, "Lihat telapak tanganmu, lihat telapak tanganmu."

Telapak tangan yang terbuka. Dengan garis-garis saling melintang semrawut. Posisi layaknya berdoa yang ditetesi bulir-bulir peluh kelimabelas dan keenambelas. Pandanganku beralih dari telapak tangan ke jalan setapak di ujung sana. Seorang anak kecil sedang bernyanyi, "Cinta ini, membunuhku," Dengan tangan yang menengadah sama. Meminta.

Anak itu meminta-minta, sementara saya terus berandai-andai dan berdoa." Dalam hati. Rupa ini jadi merah terbakar dupa doa. Peluh ketujuhbelas memelas melewati dagu. Menyusuri lekukan leher dan menembus ke dada. Dingin.

Hampir pukul 15:00, perut ini belum juga menjadi kuburan binatang. Atau sekadar tumbuh-tumbuhan yang tertumis layu di atas wajan. Peluh kedelapanbelas berkelok-kelok di pematang dahi, melintas di ujung saung kening, dan terus turun ke lembah cekung pipi. Tertahan. Hingga temannya peluh kesembilanbelas datang menyambanginya dan mengajak. Meloncat bunuh diri. Sementara jarum jam terus berdecak-decak. Mengejek. Jarum jam dari arloji di lengan orang yang berdiri di sampingku. Ia melihat jam tangannya lalu melirik ke arahku, mencari ruang untuk menyapa, "Peluhmu coba diseka, sudah dua puluh peluh yang kuhitung sedari tadi." Sambil menunjuk ke arah bibirku yang kini asin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®






Minggu, 14 April 2013

Kita Makhluk Pelupa

Kita tidak pernah tahu pasti tentang apa yang lampau. Tadi saja kita lupa menyikat gigi, atau lupa telah menginjak rerumputan yang meringis kesakitan. Kita tak akan pernah tahu seberapa banyak, panjang, dan jauh langkah kita. Kita pelupa kronis. Kehidupan seperti dengus hantu, lalu kematian-kematian mulai tampak dahaga. Menyergap tanpa derik dan bayangan. Di dunia ini terlalu banyak kematian yang bengis, amis, dan bacin. Entah yang baik atau jahat. Ia merenggut tanpa permisi. Memagut hidup yang seringkali kita lupa untuk tak mengeluh lagi.

Kita makhluk pelupa. Pernah sekali saja kita memunguti beling. Tapi seringkali kita yang menebar beling itu sendiri. Lalu menginjaknya dengan---mengaduh. Meringis lalu menangis, terhidu amis darah yang bukan dari jerawat pecah. Ini aroma kaca. Kaca yang dipolesi darahmu sendiri. Membenam dalam daging yang kau lupai, menikam kaki. Cabut apa yang tertancap. Lalu berkaca dengan itu. Mungkin saja bayang-bayang masa lalu seliweran di sana. Ratusan prajurit membunuh prajurit. Ratusan rakyat meludahi mayat rakyat. Ratusan prajurit membunuh dan meludahi jenazah-jenazah rakyat. Jangan pura-pura mengiris nadimu dengan apa yang kau lihat. Cukup lidahmu yang kau potong. Biar bungkam abadi. Mata yang berkaca itu. Coba lihat bayanganmu di sana. Bayangan yang bermata, berhidung, bertelinga. Mata yang mau kau tutup dengan tusukan di lambung, di dada, melesak menembus jantung. Tak berbicara dan biru. Sampai fosil-fosil yang menceritakan segalanya. Sejarah seringkali tergali lalu berada di ujung kuas-kuas yang memolesi tulang-belulang. Ada yang bicara di sana.

Sabda Bung Karno: Jas Merah---Jangan Melupakan Sejarah. Karena kita memang makhluk yang perlu diingatkan. Tetang sesuatu yang jauh di sana, terlampaui mani-mani 'pencipta' kita yang memancar belakangan. Kita hadir di sini untuk mengetahui, untuk sekadar melirik ke kanan menarik ingatan kemudian bertanya: di mana kuburan-kuburan mereka yang pantas kita kencingi, dan yang mana pantas kita genangi air mata

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 12 April 2013

Sepanci Ubi Ibu

Sepanci ubi
Mendidih jadi
Ini kasih Ibu
Yang mengebu-gebu

Rupa yang kekal
Melekaskan hari
Aku hanya sejengkal
Ia abadi...

Sepanci Ubi
Agar tak menggelepar
Ia selalu tahu, Robbi
Kita di dunia untuk terkapar

Jangan ada sesal jemu
Apalagi kesal
Aku selalu tahu rupamu
Rupa yang kekal...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 11 April 2013

April Dad Juga April Sigi

Pendek saja. Hingga hari ini, dunia masih menawarkan segala yang binal dan nakal. Malam ini lapar menawan nalar yang mau melangit. Mengerangkeng begitu lebam---membiru. Aku tahu aku sekarat. Tapi sekarat yang tak melarat, hanya terlalu rapat sampai celah enggan mengiris. Dunia ini menerimaku dengan segala yang karat pada diriku.

Malam ini cuma angin yang bisa membacaiku, aku sedang bahagia. Tapi bahagia yang tak ku ketahui entah dari rupa yang apa. Di dusun ini aku menyusun gundah, yang sedari tadi merobek punggungku. Ia mau lewat belakang lalu menembus hati. Aku dan ragaku di sini. Tapi sesuatu yang jauh di sana mengirim bala tentara murka mengajak perang. Aku hanya sendiri. Kalah. Aku mau ke dusun yang itu. Bukan dusun yang ini. Menyerah.

Rindu, kata yang candu. Tumpah ruah rasa sekali menafsirkannya dalam fikir. Durhaka aku pada fikirku. Aku tak mau tahu dengan ejaan 'fikir' dan 'pikir'. Aku suka dengan huruf 'F'. Fuck. Ini Aprilku. Aku bebas mencaci. Tak peduli.

Aku sedang menulis apa barusan?

Selamat Ulang Tahun...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 10 April 2013

Matur Suksma Kartakusuma

Malam tadi gerimis seperti enggan mempertemukan kami. Dan setelah dua jam lebih mengamuk pada alam, akhirnya alam membujuk agar saya tak lagi mengamuk (hahahaha). Gerimis itu reda. Tak jauh memang jarak yang saya tempuh nanti. Hanya dari Jalan Ahmad Yani, Denpasar. Menuju ke Grand Inna Bali Beach Hotel, Sanur. Pukul 22:00 bersegera ganti pakaian. Dan berangkat ke sana. Bukan waktu yang tepat untuk bertamu memang. Tapi karena orang yang akan saya temui ini cukup tahu jam berapa Putri Cinderella harus pulang. Akhirnya sebuah pertemuan yang dinanti-nantikan terwujud sudah. Esok harinya Bapak Tisnaya Kartakusuma beserta istrinya Ibu Henny Hakim (kakak perempuan Christine Hakim) sudah akan bertolak balik ke Jakarta setelah menerima undangan liburan di Bali oleh keluarga dekatnya yang menetap di sini.
Dengan sangat mudah saya menemukan lokasi hotelnya. Setelah menyusuri kota mati (Denpasar selalu mati jika sudah lewat pukul 22:00) saya sampai juga di hotel. Memarkir kendaraan di antara pelukan siluet pohon-pohon rindang. Lalu mata saya menatap gedung setengah jangkung, atau yang paling jangkung di depan saya. Setengah jangkung karena memang hotelnya ini hanya sepuluh lantai. Dan untuk yang paling jangkungnya, karena gedung ini satu-satunya yang paling tinggi di Bali. Di sini tidak boleh membangun gedung yang lebih dari tiga lantai. Tidak boleh melewati standar tingginya bangunan Pura. Dan karena permintaan Bung Karno maka gedung ini memancang di tanah khayangan ini.
Lekas ke lobi setelah ditanyai sekuriti depan hotel, saya duduk dengan pandangan menyapu seisi lobi. Ornamen-ornamen yang disuguhkan begitu kental dengan budayanya. Meski sedikit bergaya Eropa, gedung ini menyisakan aroma bunga kemboja di atas meja lobi. Ada papan putih kecil juga yang di lingkari merah, dengan gambar sebatang rokok disabit garis merah, "Di larang merokok." Ah, mungkin ini satu-satunya kesan yang sedikit membuat hidungku menghembuskan angin kesal.
Di hotel ini, tepatnya di lantai 3 kamar 327. Ada kamar yang sebutannya Kamar Bung Karno. Di kamar itu lukisan Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul yang bersanding dengan foto Bung Karno melakoni kamar tersebut. Kamar itu pulalah satu-satunya kamar yang enggan dijilati si jago merah ketika hotel ini pada 20 Januari 1993 selama tiga hari berturut-turut dipanggang---dingaben---terbakar. Mungkin mantra Ibrahim merangkul kamar itu.
Kurang lebih dua puluh menit berselang. Saya dihubungi dan diundang agar langsung saja menuju kamar 810 di lantai 8, setelah sebelumnya cemas karena dua puluh menit di dinginnya ubin dan AC, gedung yang baru saja mau bersahabat dengan tidak mengijinkan saya merokok di paru-paru lobinya. Saya beranjak dari kursi lalu menaiki eskalator ringkih bersuara serak renta, menuju lobi lantai 2, mencari kotak lift. Gedung ini purba. Sejarah membangunnya dengan lara.

Tak lama untuk sampai ke atas, lalu mencari kamar 810. Tombol bel kucubiti. Ting-tong. Dan sosok senja yang bahagia itu menyambutku. Rambut panjang yang dibiarkan menjamah pundak, putih, seolah-olah diwarnai dengan kanvas pengalaman hidup. Seribu kisah memutihkannya.
Di balkon kamar hotel. Ada saudara Bapak Tisnaya juga di sana. Duduk merokok sambil menggenggam cangkir kopi. Dokter yang mempunyai cerita hebat di matanya. Ayahnya yang seorang dokter juga, sempat berkawan dengan Bung Karno. Tapi tak lama setelah saya diminta untuk mengabadikan gambar mereka berempat dengan kamera ponselnya Bu Henny Hakim, dokter dan istri cantiknya itu pamitan. Sudah pukul 23:45. Pangeran dan putri Cinderella pulang. Seperti sengaja membiarkan saya dan Pak Tisnaya bebas bertukar kisah malam ini. Dengan gesit (diusianya ini beliau terlihat bergerak layaknya seorang pemuda) Bpk Tisnaya menyempatkan turun hingga ke lapangan parkir mengantar mereka berdua, saya pun ikut. Melambaikan tangan.
Perjalanan untuk kembali ke kamar 810 dibubuhi dengan sejarah hotel ini, dan sejarah Pak Dokter tadi. Lalu segelas kopi dan kue moci lombok yang merah merona, hijau belia itu disuguhkan. Kenyal. Sebatang rokok Gudang Garam Merah dibakar. Cerita sejarah oleh saksi sejarah pun dimulai. Yang ini panjang. Saya menyimaknya. Takjub.
Buku biografi ayahandanya Alm. Letjen TNI M.M.R Kartakusuma yang bertajuk "Sosok Prajurit & Pemikir yang beliau serahkan kepadaku tadi. Dibubuhi tanda tangannya. Putranya. Kado ulang tahun saya yang paling istimewa. Diberikan di tempat bersejarah dengan segala kisahnya. Sebelum berpisah
saya dan Pak Tisnaya masih sempat mengabadikan foto kami berdua di lobi hotel. Dan saya tak lupa memberikan pula bukunya Ayu Utami "Soegija", untuk beliau baca di perjalanan pulang nanti. Sosok Romo Soegija mungkin sudah jauh lebih dulu dikenal beliau. Tapi di kursi pesawat nanti, semoga saja buku dengan ilustrasi filmnya Romo Soegija itu bisa sedikit menghibur. Sebuah cicin Hiriz yang telah lebih dari delapan bulan denganku, saya berikan kepada beliau. Hiriz 14 orang suci yang saya dapatkan di Makassar beberapa bulan lalu. Setelah sebelumnya Hiriz itu memilih saya, maka saya menyerahkan Hiriz itu kepada orang yng pantas memakainya. Saya masih terlalu muda untuk menjadi suci. S(aint).
Terima kasih untuk pertemuannya Pak Tisnaya Kartakusuma dan Bu Henny Hakim. Semoga YME senantiasa memberikan keajaiban kesehatan dan umur panjang untuk kalian. Sama halnya YME menghadirkan kebetulan-kebetulan yang ajaib dalam hidup saya. Bisa bersua dengan kalian. Ini ajaib.
Powered by Telkomsel BlackBerry®






Selasa, 09 April 2013

Metamorfosil

Manusia, makhluk superior. Ada superior pasti ada inferior. Yang kita ketahui, akal yang menjadikan kita sebagai makhluk superior. Tapi kenapa harus ada yang inferior. Atau itu hanya sebentuk dikotomi hitam-putih yang mentah. Padahal kita seharusnya selalu merasa inferior. Rendah diri di bawah himpitan langit. Segala rupa teori dimuntahkan, tapi pada ujung-ujungnya. Mereka menjadi fosil di dasar tanah. Dan teori terus mengalir, bisa salah, bahkan mungkin seiring jaman semakin lemah, renta, dan rapuh.
Kepala yang tertunduk. Raga yang telanjang. Dan dagu yang ditopang lengan fosil. Mereka berpikir. Bahwa kita meledak, atau kita yang terbuang. Rupa-rupa warnanya. Dunia yang seperti balon. Gampang pecah dengan sekali tusukan jarum. Entah punya siapa yang benar. Coba tengok kebelakang, mereka mati dengan tulang belulang ditumbuk liat. Bercacing dan bacin. Tak ada yang abadi di antara. Kita manusia-manusia mengambang. Tertarik ke langit, dan melesak membenam di bumi.
Saya tak terlalu pintar dan superior dalam menggambarkan kesuperioran kita. Tak mampu menukil lembar-lembar buram sejarah dan segala kedahsyatannya. Juga tak pintar memaknai. Tapi setidaknya saya masih bernafas. Dan selama oksigen masih terpompa ke otak. Kita berpikir. Ada saat dimana segalanya tiba-tiba runtuh. Memilih dibangun kembali, atau memunguti puing-puing sembari tangan menengadah---merintih. Dan juga saat-saat dimana kita terpekur. Diam. Lalu dengan sendirinya dibisiki. Kita masih binatang jalang.
Lucu jika lupa bahwa kita memang binatang. Binatang yang mengeja ba-ha-sa. Dan seperti fosil-fosil yang kita garuk dari ceruk tanah. Kita sadar bahwa kita tak ubahnya fosil-fosil itu. Ber-meta-mor-fosil. Setelah itu entah apa yang berlaku. Kitab yang hampir terlupakan. Atau kerut dahi yang meretas makna. Kedua-duanya bekal yang imbang. Entah bekal bagi siapa. Ragu selalu menepuk dagu kita. Pada akhirnya, hanya dinding basah tanah yang akan mendekap. Lalu senyap. Tak ada suara. Bisu menunggu.
Manusia...
Kenapa kita mati?
Karena mungkin hanya kematian yang bisa meluruskan tanda tanya. Titik.
Powered by Telkomsel BlackBerry®


Amatir (Capapen: Catatan paling pendek)

Yah, aku memang amatiran dalam soal tulis-menulis. Tapi apapun soal keamatiran... itu menjadi martil untuk selalu membuatku terus menulis----apa saja. Bukankah semua berawal dari... Amatir.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Mi Instan

Lapar di tengah malam. Dan apa yang bisa menenggelamkan lapar itu di dasar perut. Sesuatu yang instan. Mari merebus mi instan malam ini dengan kasih sayang. Jangan lupa irisan cabe biar merokok terasa sorga. Atau saya mungkin keliru, kenapa kasih sayang dibikin dengan cara merebus, mendidihkan, dibakar dengan api di ujung lidah sumbu. Tapi bukankah kasih sayang-Tuhan-juga pernah hampir membakar dan mendidihkan kulit Ibrahim. Dan seharusnya memang terbakar. Tapi kasih sayang itu membuat Ibrahim menggigil.
Kembali ke mi instan. Kita tahu bahwa apa yang instan-instan selalu tidak baik. Apalagi soal makanan, apapun itu jika mengenai yang cepat saji, pasti tak selalu sehat. Berdampak buruk. Ini-itu. Bla... bla... bla... bla... seperti suara air rebusan yang mendidih. Tapi jika itu ikhtiar kita, meskipun kita ingin yang lebih baik pada diri kita. Toh, pada akhirnya juga maut sering mengintai ubun-ubun kita. Ajal tak suka disandingkan dengan aroma kaldu, pikirku. Bukankah usia kita sudah tertoreh di langit. Entah langit yang mana. Karena kita dikelilingi langit. Bahkan Bumi ini, bagi penghuni Jupiter, adalah langit. Bagian dari langit. Isi dari langit. Dan kita, langit itu sendiri.
Hidup ini memang instan, dan apapun soal yang instan, selalu tidak baik. Bahkan hidup ini memang tak baik. Berdesak-desakkan dengan segala rupa. Meminjam Tuhan lalu membunuh. Membunuh adalah sesuatu yang instan. Tusuk. Lalu membusuk. Bahkan demi mi instan, di luar sana mereka saling membantai. Menjerat leher yang dianggap lawan, lalu menghirup nyawa mereka. Padahal kemarin mereka tetangga. Tapi tubuh yang kerontang, selalu saling menantang demi sebungkus mi rasa ayam bawang. Mereka kelaparan. Dan lapar adalah sebab yang menakutkan.
Saos ini seperti darah, kecap jadi nanah hitam. Irisan cabe serupa titik-titik luka baru. Dan tali-temali keriting yang saling menjerat. Mangkuk ini jadi kolam Holocaust. Setelah habis direbus dengan api yang dicuri dari Hades. Aroma ini berubah menjadi bau. Saya rela lapar demi membunuh imajinasi ini. Tapi ini imagologi. Dunia memang pernah---sedang atau akan menjadi seperti mangkuk itu. Untuk semuanya, saya muntah membayangkannya.
Ah, apapun soal merebus, memang selalu menakutkan. Tapi ini hanya merebus mi. Kita tahu, bahwa apa yang instan memang tak selalu tak baik. Sorga menunggu di bungkusan lain. Menunggu dibakar. Sehabis makan, merokok selalu jadi hal yang sakral. Ketawa instan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®


Bahagia? (Sebuah Cerpen untuk yang bahagia)


Panas hari ini cukup mengucurkan peluh yang tak terbendung. Di salah satu desa yang berada di daerah puncak, tetap saja paceklik mendera dan matahari dengan sombongnya tak mau tahu. Hari makin terasa ganas dan pedas.
Tak jauh dari tanah lapang, ada rumah semi permanen, tampak sibuk beberapa orang yang terlihat gelisah di luar kamar. Di dalam kamar terlentang perempuan paruh baya. Bersimbah peluh menahan sakit. Kali ini terik mentari menambah pori-pori kulit makin menganga lebar, seiring mulut yang ternganga memekik kesakitan. Keajaiban sedang tercipta. Sebuah kelahiran. Wajar saja bagi kita manusia, tapi ini adalah keajaiban yang sudah biasa tapi sangat luar biasa.
Dari gua suci melongok kepala bayi. Merah dan gundul. Satu teriakan dan tangis sekaligus memecah siang yang membara. Keajaiban telah tercipta untuk yang ke lima kalinya di rumah ini. Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar, terlafadz sudah dari bibir beberapa orang di dalam dan di luar kamar.
"Bayinya tampan" Ujar bidan yang menolong persalinan sambil tersenyum.
Laki-laki yang paruh baya itu juga membalas senyuman, "Terima kasih banyak Ses, entah saya harus bilang apa."
Perempuan yang menjadi ibu untuk ke lima kalinya ini masih memincingkan mata. Mungkin sakit masih membelit raganya. Peluh masih terus mengucur. Ia baru saja melepaskan energi yang begitu banyak. Tapi tak lama seumbar senyum terpoles melengkung indah di wajahnya. Senyum yang sangat tulus. Bahkan Tuhan mungkin sedang membalas senyumnya saat ini.
Bidan itu bergegas memandikan bayinya. Tak berapa lama disusul ayah si bayi yang sudah siap melafadzkan adzan di telinga bayi mungilnya. Seusai kumandang adzan, manusia baru ini terlebeli sudah dengan agama, dan tujuh belas tahun lagi, sebuah KTP akan lebih meringkus keagamaan tersebut. Islam tentunya.
"Tadi pas kepala bayi turun masuk ruang panggul. Tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris akan menimbulkan rasa mengejan. Dia merasa seperti mau buang air besar, untung responnya bagus. Jadi saya cepat-cepat kesini tadi. Ini persalinan ke limanya. Jadi dia sudah sangat berpengalaman" Jelas Bidan pada Madni, ayah si bayi.
"Iya Ses Rita, tadi sudah sampai pembukaan 3 cm. Dengan segera saya mengabari Ses Rita" Lanjut Madni.
"Biarkan Ening istirahat dulu, capeknya minta ampun. Meski saya belum pernah merasakannya. Disaat menolong pasien, rasanya energiku juga ikut terkuras habis." Kata Ses Rita prihatin. Ia memang masih single. Bidan cantik yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai-sampai urusan percintaan terlupakan. Mungkin ia lebih mencintai pasien-pasiennya.
"Sudah disiapkan namanya Pak Madni?" Tanya Ses Rita sambil menyuguhkan bayi mungil itu ke arah Madni.
"Hari Matanova." Spontan Madni mengucapkannya dengan mata berbinar menatap bayi di pangkuannya.
Dengan sedikit menebak Ses Rita berkata "Mmmh... Ada hubungannya dengan panas hari ini yah."
"Saya kira begitu Ses." Madni tersenyum puas lalu menciumi dahi bayi itu.
"Kau akan menambah hangatnya keluarga kita." Jelas saja Madni sangat senang, karena ini anak laki-lakinya yang pertama. Untuk seorang anak yang ditunggu-tunggu, memang sangat janggal jika jauh-jauh hari belum menyiapkan sebuah nama.
Hampir sore, Ening masih menghidu amis darah. bau obat pun meruap menebal di kamar. Bayi itu terlelap. Tak berdosa.
Lenguhan melepas di ujung bibirnya, dan panggilan terdengar disusul langkah kaki.
"Ada apa Ning." Tanya Madni sambil duduk setara tatap di samping Istrinya.
"Kau beri nama Hari anak kita?"
"Kau tak suka?"
"Aku suka hari, dan seperti hari ini, aku selalu suka aroma mulutmu, mendekatlah dan ucapkan nama panjangnya." Diikuti gerak mata memanggil.
Hembusan nafas, yang dibaui, dan kali ini helaan, lalu tutur yang tegas, "Hari Matanova."
Perempuan itu mencium udara, lalu menciumi daging kenyal. Mereka saling berpagut. Paruh baya yang bahagia.
Sebulan kemudian...
Kecemasan melumeri raut-raut datar. Kali ini bukan kelahiran yang ditunggu-tunggui. Tapi sesuatu yang menakutkan. Yang datangnya entah dari gua apa. Tapi ia dari kegelapan. Kematian.
Bintang itu meredup, demam seketika merengut cahyanya. Tangisan kali ini murni kesedihan, tak ada kebahagiaan di sana. Sedih yang tegak. Tak miring. Dan menikam.
Hari Matanova membiru. Matahari mati.
"Mungkin Tuhan sedikit bosan dengan lelaki, karena itu Ia membunuhnya, sama halnya ketika Ia membuang Adam ke dunia." Ucapan itu bergetar, bukan dari bibir Hawa, tapi dari bibir Adam.
"Belum sembuh lukaku, dan sekarang bukan tambah dirobek, tapi dibikin menjadi lumpur, lumpur luka, yang bahkan cacing tak terlihat pun enggan menyelam di lukaku." Terisak-isak kali ini suara itu dari Hawa.
Bergetar, "Kau lihat dagingnya yang kenyal, kini siap ditunggui tanah yang meretakkan tulang belulangnya yang hampir belum tulang." Adam mencabik-cabik bajunya.
Adam dan Hawa itu, Ayah dan Ibu dari Matahari. Menangis menjadi-jadi. Tapi kenapa. Bukankah mereka berdua sudah memiliki empat orang anak perempuan lainnya. Putri-putri bulan.
Matahari adalah cahya yang ditunggu-tunggu untuk menyiangi kelelahan mereka. Di paruh baya, tak mudah untuk bisa melahirkan 'Matahari'. Satu-satunya matahari.
"Mungkin Tuhan menghukum kita, karena ingin kita yang keterlaluan. Ingin yang menjadikan kita terlalu boros dengan cahaya. Padahal empat cahya bulan sudah cukup." Madni menangis.
"Tuhan tak adil!" Ening menegang. Hening. Kemudian mati. Darah putihnya naik memucati raga mayatnya. Dua kematian menikam kemarin yang bahagia.
Madni memeloti dua mayat itu. Rumah riuh gaduh. Tangis sana-sini menabrak dinding-dinding dan pintu-pintu. Rumah yang kemarin ceria dibenamkan seketika oleh malaria. Merengut mata yang sembab kemudian meminum air mata asin.
"Tuhan, aku bahagia..." Adam itu memeluk bulan. Ada nada yang sedikit sumbang dan tegas di sana. Sumbang yang mengaitkan antara kerelaan dan keputusasaan. Dan tegas yang melekaskan keikhlasan.
Sebuah keluarga senja yang baru dihinggapi pagi. Lalu hitam seketika menggelapkan semuanya. Tapi di tengah sangkaan terselip kata itu... Bahagia?
Kalian tahu bulanku, apa yang membuat ayah bahagia?
Matahari tak sempat bercakap, tak sempat tahu apa lafadz yang ayah kumandangkan di telinganya. Tapi kalian... kalian harus tahu bahwa dunia ini memang sesingkat adzan. Seperti bisikan di telinga adikmu. Kalian juga harus tahu, adikmu tersenyum kala itu.
Madni menciumi dahi Istrinya, kemudian bayi mungilnya yang tak lagi menggigil. Diapit empat bulan. Mereka tersenyum. Menangis. Merelakan. Mengikhlaskan. Lalu bahagia?
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Hap!!!

Liat sore ini
Lazuardi ditikam tembaga
Dikit lagi langit dijelagai,
Melincak-lincak cecak di dinding
Menghidu aroma bohlam teras perangkap laron... Hap!!!

Kumparan menegang
Ketipak ketipuk kabel
Menyengat singa yang botak
Malam hitam tanpa putih
Kita mau dimangsa... Hap!!!

Apa ini?
Cecak berdecak kenyang
Lalu kita mati dikerling terakhir
Kerling mata tak beralis
Lagi lagi... Hap!!!

Apa itu?
Kamu tahu sore keliru
Sementara ada cuma siang malam
Laron menggelepar tak bersayap
Temannya tertelan... Hap!!!
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 08 April 2013

Cawan Rasa

Bersama tak berbaur
Genang airmata seringkali
Genang senang duka melebur
Berenang suka berkali-kali

Berpercik warna
Berupa air yang menyala
Kalian tahu apa
Sementara hati menggila

Inikan racun kutukan
Atau hanya cawan yang tertukar
Milik besan
Dipungut dari rerumputan belukar

Oh Ilahi penghimpun rasa
Perlukah aku menukar
Sejiwa dengan dewa
Entah itu di tanah basah


#Sigidad
Ramadhan_27-08-2012
6:55 am
Eropassi
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Pagi

Tak ada guna kita guna-gunai pagi ini
Dingin tak mempan oleh mantra
Komat-kamit saja percuma
Lebih baik kita pergi membikin kopi

Sumpah! hari ini mau berlari
Terlalu beku situasi baka
Sepotong roti dibawa pergi saja
Bekal ke Penanggungan dia mendaki

Katanya mau berbakti
Sambil menyeka keringat dan darah
Entah apa sorak mereka
Negeri atau untuk istri

Kita laki-laki
Sedari kala tak kenal duka
Lalu apa ini rasa
Kenapa mau durhaka pada nurani

Rusuk jendela pun diintip pagi
Pastikan ada nyawa melata
Tapi kita mati oleh bait puisi luka
Tersedak pait kopi

#Sigidad
Ramadhan_5-08-2012
5:59 Am
Eropassi
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Menulis Dan Membaca

Saya menulis ini setelah menamatkan membaca 'Amba' salah satu novel apik karya Laksmi Pamuntjak. Novel setebal hampir 500 halaman ini (tinggal lima kali kita membolak-baliknya genap sudah 500 halaman) bercerita sebuah kisah roman percintaan yang berbau amis darah---Pulau Buru. Kurang lebih ini kisah tentang 'Buru' yang akan melegenda sesudah tetraloginya Pramoedya Ananta Toer, 'Bumi Manusia'. Lebih kurang seperti itu testimoni para penulis dan sastrawan yang namanya bertengger di kulit sampul belakang novel. Untuk tahu lebih, silahkan menyisihkan uang tabunganmu lalu melangkah ke toko buku terdekat.
Saya ingin melanjutkannya dengan persoalan menulis dan membaca. Sedari Sekolah Dasar saya sudah gemar membaca, dan menulis. Dan meski tak gemar, kedua hal itu mungkin wajib bagi kita yang mengenyam pendidikan. Bahkan tak ada kata 'mungkin' tapi 'wajib'. Pelajaran Bahasa Indonesia memang selalu menjadi hal yang istimewa bagiku. Untuk mengarang, nilaiku tak pernah di bawah sembilan. Begitu pun dengan pelajaran lainnya. Sedari kelas satu hingga kelas enam, juara kelas menjadikanku anak yang selalu disisir rapi oleh Ibuku. "Kamu anak pintar" kata Ibuku. Lalu tak pernah saya mendengar kalimat lanjutan, "Siapa dulu dong orang tuanya" dari tutur kedua orang tuaku. Ini prestasiku, dan mereka memahaminya.
Membaca adalah kegemaran kanak-kanak. Ketika komik-komik 'Donal Bebek' mulai antri tersusun di rak-rak almari buku saudara perempuanku. Pinjam dan segera melekaskan membaca. Karena pinjam selalu diakhiri dengan harus mengembalikannya. Meski kami adalah saudara. Sungguh aneh jika kegemaran itu tiba-tiba datang setelah berpuluh-puluh tahun kemudian. Sama halnya dengan kegemaran menulis. Kini, buku seperti candu. Tak ada buku, tak mabuk. Kata-kata sering memabukkan memang. Mencongkel mata kita, memaksa menelannya, biar mata kita seliweran di dalam tubuh. Menjelma bersama leburan kalimat-kalimat, dan merangsek pelan di sel-sel syaraf, untuk kemudian menemukan maknanya.
Aneh memang, setelah berpuluh-puluh tahun, tiba-tiba cakra untuk menulis dan membaca terbuka dengan sendirinya. Buku-buku itu datang menjemput binar mata, menyiagakan segalanya. Sempat seingat saya sepuluh tahun yang lalu, menulis puisi ada caraku berbagi. Tapi semuanya tercecer. Sama halnya dengan kebiasaan-kebiasaan itu. Segalanya disegel denting gelas dan semarak hura-hura. Tak tahu kenapa, minat itu sekejap meliburkan suara semarak denting kaca. Sunyi. Senyap dalam aroma kayu dan lembar-lembar yang saling menumpuk---menindih. Dan siap untuk ditelanjangi.
Seingat saya, dua hal ini untuk sebagian orang, dan saya pun pernah merasakan, bahwa dua hal ini selalu menjadi sebuah hukuman. Menulis dan membaca. Satu bentuk hukuman yang menurutku memang untuk mengajari. Tapi jika mengajari selalu dengan hukuman, meski itu hanya menulis atau pun membaca. Maka kita, dengan sendirinya terkerangkeng oleh kata 'harus'. Mendesak. Melelahkan. Dan apapun itu jika soal mendesak dan melelahkan, akan berunjung pada mengungkung----kreativitas ditelungkupi kaca cembung. Saya ingat dulu jika lupa membuat PR, teman sebangku saya dihukumi dengan menuliskan seratus kalimat hingga kapur tulis terparut hampa di papan. Membaca buku dengan batas hingga kesekian halaman. Yang berbusa dan haus. Bergelembung meletas. Tak guna.
Di akhir novel 'Amba' tadi. Ada petilan dari Serat Centhini yang dilekatkan Laksmi Pamuntjak, "Manusia tidur, ketika mati mereka bangun."
Yang bisa saya maknai soal menulis dan membaca. Apapun yang kita tulis dan kita baca, semuanya hasil buah pikiran kita---manusia. Kita menulis dongeng tentang kematian, lalu kita membaca dongeng itu untuk melekaskan tidur. Kemudian bermimpi. Bahwa sesungguhnya ada alam yang kekal sesudah mati. Di mana kita tak tidur dan tak mati. Dan bangun menjadi kata yang tak tertuliskan dan terbacai.
Powered by Telkomsel BlackBerry®




Minggu, 07 April 2013

Terima Kasih Kem-Bali Baliku

Bali, pulau indah ini sudah terlalu ramai. Tapi setidaknya di sini tak ditemukan gedung-gedung jangkung melengkung di angkasa. Menggantikan posisi pelangi yang tiba-tiba. Menetap sementara di sini selama enam bulan bukan waktu yang singkat meski di penghujung ini terasa sesaat. Banyak yang melebur di sini, dari ketawa Jawa, Makassar, Ambon, NTT, Sumatera, Manado, Eropa, Amerika, dan Bali itu sendiri. Ketawa yang membikin segalanya akrab. Ini tempat di mana orang berinteraksi secepat kilat, lalu berpisah pula secepat itu.
Di tulisanku sebelumnya, mengenai 'Pulau Purba', aku sedikit menulis tentang Kuta, daerah yang terlalu sering disatronin karena segala pertemuan bermula di sana. Di mana burung-burung mesin mengudara lalu hinggap di moncong pantainya. Menukik lembut terlihat dari pesisir pantai Kuta. Kuta adalah seribu yang datang, dan seribu yang pergi. Tak seperti di tempatku menetap, kota Denpasar, di sini hiruk pikuk siangnya meretas hari. Tapi malamnya kota ini tidur begitu pulasnya. Orang-orang lalu-lalang dengan sibuknya. Manusia-manusia yang sudah disetel alarm, secara periodik mengaum membangunkan dan mengharuskan kita menjadi singa, berburu untuk daging yang mengenyangkan.
Dari rencanaku hanya mampir untuk merayakan tahun baru di sini. Tak pelak bujukan untuk kerja di sini mengendus kemalasanku. Bekerja, menjadi manusia-manusia alarm. Bekerja menghamba, seperti tahun-tahun kemarin, nomaden hingga ke 'Pulau Purba' ini. Dan itu kujejali hingga berbulan-bulan, sampai sisa waktu sebulan ini kuniatkan saja untuk merasa bebas lagi. Sembari menunggu tangis bayi yang menjadi peluit----bahwa saatnya aku beranjak kembali. Kotamobagu, Desa Passiku selalu membuatku rindu dengan segala kebiasaannya.
Bali pasti kem-bali. Pulau ini selalu membuat kenangan tercecer dengan sendirinya. Alamnya yang menawarkan segala kenangan bertaut. Dan ada yang terlalu sederhana tapi berkesan di sini, di Lumintang tempat rumah kontrakan. Tetangga-tetangganya yang ramah, dari Ayahnya Komang yang tak segan membagi sedikit cerita tentang kearifan lokal budayanya, ada Om Botak permanen (terlalu licin) yang suka menyapa, "hei Bro", seakan-akan hanya kata sapaan itu yang ia tahu. Mas-mas dan Mbak-mbak yang sibuk dengan kantor kecilnya (entah bergerak di bidang apa) tapi masih sering tersenyum dan saling menyapa. Dan sepasang pasutri senja dari Madura, istrinya mengingatku pada Bu Bariah di Film Si Unyil. Dengan aksen Madura yang sudah tak kental karena lama terbubuhi rantau. Mereka-mereka ini manusia-manusia bahagia.
Di ujung Seroja sana tempat penyablonan kaos usaha kecil-kecilannya Bang Decky (suaminya Kak Jama keponakanku). Ada pekerjanya Si Kolok (bisu-tuli) yang tak berdosa, pikirku begitu karena lisannya tak pernah tahu menyerapah. Dan Si Casver (dengan huruf 'V' yang seharusnya 'P') anak yang terlalu rajin dan fasih berbicara bahasa Inggris. Dan mereka-mereka yang secara berkala datang mengunjungi tempat itu. Mereka semua yang membuatku rindu.
Dan untuk pembuat tatoku. Terima kasih telah mencabik-cabikkan jarummu di kulitku. Tinta yang membuat kepingan-kepingan puzzle dalam hidupku. Terima kasih juga buat Agung yang membisikkan namamu kepadaku, teman kantor yang sebegitu baiknya. Dan mungkin dia satu-satunya teman kantorku. Juga buat Nova Iswara anak kemarin sore yang tahu bagaimana menjalani hari, dan melekaskan sore. Untuk semua cerita mereka. Kuringkus dan kubungkus---pulang.
Yang paling membuatku berterima kasih, untuk Bang Decky dan Kak Jama yang sudah menganggapku seperti sebatang kara. Dan untuk kalian semua, semoga Tuhan kita Yang Satu selalu membikin kita Esa.
Powered by Telkomsel BlackBerry®




Sabtu, 06 April 2013

DAN

Bumi dan langit. Senggama langka ketika itu. Aku di sorga telanjang layaknya Adam. Tak sendiri layaknya Adam. Oktober entah tahun berapa, aku hanya ingat bulan dan waktunya. Persis, kami melebur bersama. Sengaja dalam kemabukan. Derit ranjang dan lenguhan menyayat musik yang disetel keras. Agar tersamarkan. Oh, senggama langka itu begitu---Maha.

Bumi dan langit. Dia tercerabut dari tahta yang ia sendiri enggan. Ia bukan manusia biasa. Tuhan menciptakannya dengan kesederhanaan. Kesederhanaan yang tak biasa. Aku mencintainya jauh sebelum kami terkulai di rerumputan sorga. Jauh di rimba menahun, kami akrab dengan ketidakpastian. Tak pernah ia melincak-lincak angkuh sembari menunjuk-nunjuk suruh. Ia terus membungkuk di kaki singgasana meski seharusnya menjadi singa buas dengan keliarannya. Raja yang dirajai ketulusan. Hingga sengaja lupa kalau ia adalah penakluk. Sekali lagi, aku mencintainya.

Bumi dan langit. Aku merasa tak pernah dibutuhkan, tapi dibalik itu semua, aku tempatnya berbagi irisan roti. Aku ada untuk dia. Entah kenapa dunia tak perlu kujejali jika kami bercerita banyak tentang tadi. Tentang langit yang masih cembung, dan tentang burung-burung yang berselancar di angin buta. Kami sudah terlalu lama dengan kebiasaan yang tak lama lagi akan binasa. Kita menua dan terpisah.
Bumi dan langit. Dia cukup tahu kapan berjarak denganku. Meski lambat dan ditekan udara. Tak akan lama. Lazim jika ruang yang lapang ini sedikit diseragamkan dengan sepasang Adam dan Hawa. Dua manusia pertama yang membikin aku ikhlas untuk tak luka---meski seharusnya tidak.

Bumi dan langit. Binal dan nakal. Kemudian kekal. Aku ingin kekal dengannya, tidak dengan siapa-siapa. Tahta runtuh pun rata tanah, aku tahu ia selamat dengan kesederhanaanya. Nasib selalu adil pikirku. Membagi sama rata dengan porsi yang sepadan. Itu untuknya, belum denganku.

Bumi dan langit. Akankah kau tidur dengan nyenyak seperti kemarin. Tidur yang dibelai. Tidur yang diintai. Tidur yang dibaui. Ah, sekali lagi aku mencintaimu dengan seluruh. Biarkan aku mengatakan itu. Lalu simpan segalanya untuk nantinya kau buang. Karena sebenarnya tempat penyimpanan adalah tong sampah yang siap ditumpuk membusuk.

Bumi dan langit. Aku ingin bersenggama lagi---dengannya. Tapi kata 'langka' membikin segalanya tak
mungkin. Selamat tidur. Untuk kesederhanaanmu yang menyepuh segalanya menjadi begitu istimewa. Dan untuk lelapmu yang selalu kubaui.

Powered by Telkomsel BlackBerry®




Kuta

Kuta hampir mirip dengan sebutan untuk kotaku---Kotamobagu---lebih sering disebut Kota, di tempat asalku Bolaang Mongondow. Di Kuta
ada satu jalur jalan yang cukup padat dengan yang asing. Mereka menjamur di sini. Ah Legian, berlegit kisah sedikit apik di punggung semen dan aspalmu. Banyak yang terserak di sini. Denting botol dan ketawa kulintang. Aksen bahasa inggris yang latah. Dan segala yang asing dan akrab di sini.
Pantainya indah jika kamu cukup pintar berbagi waktu untuk tak keseringan. Segala wajah berganti di sini, seribu pergi, seribu menyerbu lagi. Kulit terpanggang. tato hitam di kulit legam-logam. Otot-otot besi dipahat terik tengah hari dan ombak. Anak-anak pantai. Tapi ada pula yang dibiarkan tetap berlemak. Buncit bir. Yang asing membuat mereka begitu. Sementara para gadis hampir telanjang berlindung manja di antara lalu lalang. Ada yang sedang dijemur sudah mau gosong. Bahkan entah yang mana membikin gerah mata, mereka yang setengah telanjang, atau wisatawan-wisatawan lokal berhijab. Dua-duanya.
Di seberang pagar tembok pantai. Berdiri gedung-gedung tak jangkung. Tapi sangat asing. Kuta, ragamu tak lagi Bali. Lahan-lahan di sini terbeli. Mereka seperti api mendekam dalam sekam. Membakar kulit padi Bali. Seketika pesisir Kuta menjadi terkutuk. Terkutuk 'agreement'. Ini milik kami sekarang kata mereka. Yang ditawarkan kebanyakan gandum, padi tak lagi. Dan itulah selera mereka. Kita tinggal berpura-pura saja bahwa biarpun itu menguras kantong, tapi lidah kita memaksa 'barat'. Dan seketika menjadi 'barat', mulai terbiasa dan beli lagi. Kita telah terkutuk.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan selera. Perut selalu lapar tak kenal apa yang nanti menjadi tinja. Cukup berlabel halal, atau yang tak membuatmu muntah. Yang kudengar pula, segala aset yang menyisir pesisir. Ada Bos Ibukota menanam tonggak besi di sini. Ah, mereka memang Indonesia yang ke-asing-an. Banyak turis asing yang benar-benar paham tentang estetika. Mereka sering bertanya, di mana Bali-ku. Bali yang dulu tetap awet dengan ke-purba-an-nya. Banyak dari mereka setibanya di Bali, bersegera ke Ubud. Satu kota yang masih tetap purba. Inilah Bali-ku. Bali milik manusia. Bali milik alam. Bukan Bali milik mesin-mesin penggiling koin.
Tinggal sebulan di sini membuatku semakin mengerti. Bahwa alam tak pernah ingin berubah. Tapi kita---manusia---yang berubah dan merubah. Di atas sana nanti, ketika pesawat melengking mengudara. Kusandarkan jidatku di kaca tebal jendela pesawat. Memandang birunya. Memandang Gunung Agung yang mencuat merobek awan, menghardik langit. Memandang dengan sepasang mata dan sepotong kaca. Yang kemudian mengiris tanggul kulit di bawah mataku. Terima kasih Bali-ku. Untuk segala ke-purba-an-mu.
Powered by Telkomsel BlackBerry®


Jumat, 05 April 2013

Perangkap Tikus

Sebulan yang lalu, sepulangnya pasutri (yang perempuan keponakanku) dari supermarket terdekat. Suaminya membawa sebuah kandang besi berukuran kecil, 20 X 10 cm. Aku pikir, mereka mau memelihara hamster. Tapi mana hamsternya, tak ada pula roda mini tempat hamster biasanya jogging di dalam kandang itu. Ah, ini perangkap tikus, sadarku.
Memang sekarang di rumah kontrakan, sedang diteror tikus. Tetangga pun semuanya ramai membeli perangkap. Lampu dapur tak boleh mati disaat malam. Suara-suara berisik makin mengusik jika lampu dipadamkan. Dua puluh hari berselang. Tapi belum juga ada yang masuk perangkap. Tikus di sini sudah pintar. Jam terbangnya sudah banyak. Aku sempat terheran-heran kemarin ketika melihat daging ikan mentah di dalam perangkap raib. Dan tak ada makhluk di sana yang cemas terkurung. Hanya semut-semut hitam yang menjilati sisa-sisa ikan berserakan.

Dan tak kalah anehnya lagi. Pintu perangkap itu tak tertutup. Ada seonggok tulang ikan yang mengganjal di sana. Mereka tikus-tikus cerdas, pikirku. Lem tikus pun dibeli si empuh rumah. Setelah perangkap kemarin yang tak efektif. Umpan yang diletakkan di tengah-tengah raib tanpa ada jejak-jejak kaki tikus. Dari jarak lantai dan lembar triplek tempat perekat itu disemirkan. Mungkin terlalu bisa dijangkau moncong tikus-tikus itu. Sekali lagi mereka lolos.

Akhirnya solusi dari keponakanku lumayan tak membikin dapur berisik. Dengan tak memadamkan lampu di dapur. Cukup efektif. Meski mereka tetap berkeliaran. Tapi tak seramai malam-malam kemarin. Gelap membuat mereka tabrak sana, tabrak sini. Lalu terang membuat mereka semakin rapi mencuri dan lari. Setidaknya tidur bisa pulas tak terusik.

Tadi siang aku iseng memperhatikan perangkap itu, lalu berpikir, kenapa tikus-tikus ini masuk perangkap lalu bisa keluar dengan leluasa. Selain 'clue' tulang yang mengganjal pintu. Mungkin tikus yang satu tubuhnya dibiarkan tetap mengganjal pintu. Dan tikus yang lainnya lagi dengan leluasa masuk, lalu keluar lagi sambil mengibaskan ekornya dengan langkah angkuh. I'm free. Sialan. Bagaimana jika umpannya aku letakkan di bawah pintu masuknya. Posisi pintu yang jika terinjak akan membungkuk dan membentuk titian ke bawah, dan pintu perangkap menganga. Kupikir juga tikus ini meski kemarin aku lihat lebih dari seekor, mereka pasti mencuri sendiri-sendiri. Jika sendiri, maka umpannya kuletakkan persis di bawah pintu masuknya, otomatis dia harus melewati titian itu, lalu mencoba meraih umpan. Pintu tertutup.

Sampai malam ini, meski lampu tetap dibiarkan menyala. Ada suara seperti meronta terdengar. Tubuh yang sengaja dihempaskan. Suara itu berasal dari dapur. Beranjak aku ke dapur. Langsung ke tempat perangkap itu dingin mengurung. Ada kilat cahaya mata di sana. Sepasang mata yang cemas. Ah, entah esok mata itu tak lagi bersinar. Aku kembali tidur. Dengan kecemasan yang sama.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Cinta Tanah Liat (Sebuah Cerpen untuk Tania)

Masih sangat pagi untuk bisa membuatku terbangun. Mata yang masih sembab ditinggal jejak tangisan semalam. Cahaya mentari pagi yang mengiris tirai jendela kamar menembus terang. Mataku tambah sakit karena cahaya yang menyilaukan. Bayangan wajahnya berkelebat kembali. Seumbar senyum yang entah kenapa aku bisa merindunya. Bahkan membuatku menangis menjadi-jadi. Sampai ibu sebegitu mengertinya dan tak berani komentar berlebihan. Anak ini sedang tumbuh, mungkin begitu kata ibu membatin. Hanya ejekan yang sesekali dilemparnya dan berharap bisa membuat mulutku menganga tertawa. Tapi tak berhasil. Aku masih tetap galau.

Ponselku di mana? Tanganku menelusup ke bawah bantal, lalu menemukannya terselip di sana. Pesan masuk tak ada. Tak ada balasan darinya. Sungguh aneh karena aku tak pernah segusar ini. Cukup lama dengannya membuatku berpikir dia biasa-biasa saja. Dari sekolah menengah pertama kami sama-sama, hingga era "putih abu-abu' pun tetap bersama. Sebagai sahabat yang terlalu banyak diramaikan tawa. Maka cinta enggan (atau malu) mampir. Tapi kali ini lain, begitu lain. Karena sepertinya cinta datang tanpa permisi. Menerabas segala rasa pertemanan kami. Mencangkok hati, dan membikin mata bengkak. Dia cukup membuatku merasa mungil di depan altar cinta.

Lebih dari sekali dia mengatakan cinta. Tapi waktu itu aku lupa menyimpan kunci pintu hatiku di mana. Bukan mengingat lalu mencari. Senda gurau yang terus menerus membuatku lupa. Bahwa aku sudah tak di bangku "putih abu-abu" lagi. Harusnya aku menggandengnya-dia-atau siapa saja, yang memang pantas berjalan di sampingku. Memang ada beberapa yang sempat memegang kunciku dulu. Tapi tak selihai ini. Dia senyap-senyap datang dengan begitu akrabnya. Sampai aku tak tahu dia mencuri kuncinya. Dan tiba-tiba masuk dan tinggal di hatiku.

Dan rasa sakit ini masih terpaku pada layar ponsel. Menunggu pesan balasan. Tapi masih belum ada. Sejak dia kuliah di luar kota. Di sana atau pun sekembalinya ke kota kami, dia menjadi aneh. Tak lagi seperti sahabat. Tak ada lagi yang mengucap salam dan selonjoran di beranda rumah sambil bertukar cerita. Tak ada lagi jalan-jalan sore bersama. Mengelilingi kota yang itu-itu saja tapi entah kenapa selalu tetap istimewa. Tak ada lagi pesan masuk. Ah, damn.... Aku merindukan dia yang sebenarnya sudah bukan milikku---malah tak pernah---belum---menjadi milikku. Rasa kehilangan yang datang meski aku belum pernah memilikinya. Hanya meminjam pijar matanya untuk kugambari selalu sebagai 'sahabat', tempatku berbagi setengah kisah hidupku. Dan waktu berkata lain. Pada akhirnya aku ingin berbagi dengannya. Segalanya.

Sejak tahu pacarnya juga seorang kenalanku. Bukan sakit yang kurasa. Tapi penyesalan yang terus memompa kelenjar mataku untuk berair. Dan itu lebih dari rasa sakit itu sendiri. Mungkin satu-satunya bentuk penyesalan yang teramat dalam, ketika kita tahu bahwa kita bukan sedang dicampakkan, tapi ketika semua air ludah yang menggenangi lantai ubin yang dingin, dan kita harus mencairkannya kembali lalu menjilatinya lagi. Pagi, siang, dan malam, sembab. Malam, pagi, dan siang, masih sembab. Aku menangis berhari-hari.

Teman-temanku banyak yang bertanya kabar. Di mana? Keluar yuk? Ajak mereka. Tapi semuanya seperti batu tenggelam. Hilang, hampa begitu saja. Kini diam. Lalu berombak seketika waktu kembali mengingatnya. Makan pun terasa seperti menelan batu di dasar sungai sekaligus meminum arus airnya. Batu berlumut yang tertelan begitu licin menembus tenggorokan. Aku membatu pula di meja makan. Dan orang serumah tahu bahwa aku sedang dipahat kegalauan. Proses yang membentuk jati diri. Pikir mereka. Biarkan saja.

Sampai sore itu datang. Seorang teman karibku yang berhasil membujukku keluar rumah. Setelah berjam-jam memelototi aku sembari menasehati. Sesekali marah. Karena tak mau temannya terus mengurung diri di rumah. Berat juga melangkah ke mobil. Seperti ada kutub magnet lain yang menolak. Tapi sekaligus menarik. Sungguh ganjil. Dan keganjilan itu terbukti sudah ketika aku masuk ke dalam mobil. Seperti sebuah batu besar terpancang ke tanah liat. Kokoh menancap tapi masih sedikit memberat ke samping. Lalu, mataku menebal segaris dengan sisa-sisa sembab, dan berhamburan bulir-bulir air mata. Menjadi-jadi. Dia yang membuatku seperti ini duduk sejajar denganku sekarang. Rasa takut menyaingi haru-biru hari ini. Dia menenangkanku yang mulai cemas karena tangisanku. Dan kali ini sebuah maaf terucap tulus dari bibir mungilku sambil terisak-isak. Aku tetap tak memberinya kunci. Meski aku tahu kunci duplikatnya telah dia curi. Aku dan dia memegang kunci yang sama. Kunci yang membuatku leluasa lagi dengannya. Membuat dia pula leluasa denganku. Leluasa dalam arti persahabatan. Aku tak ingin yang lain. Hanya ingin kembali meminjam pijar matanya.

Salam, beranda rumah yang kembali terserak canda tawa, dan ponsel yang ber-ting-tang. Semuanya seperti semula. Meski tak memilikinya. Cukup kebahagiaan yang purba ini tetap terjaga. Aku berujar, alhamdulillah. Hingga kabar itu datang seperti aroma tanah liat yang dilebur dengan air wewangian seribu bunga. Dia putus dengan pacarnya, karena pacarnya masih terlalu sayang dengan mantannya. Miris. Orang yang aku puja, dicampakkan begitu saja. Lalu segaris senyum melengkung di wajahku. Ini kabar miris yang manis. Tanpa berkedip. Aku menerima pernyataan cintanya. Cintaku, cinta Tania, cinta tanah liat, begitu belia tapi mulia.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 04 April 2013

Meracau Galau Sebelum Makan Malam

Hei... ada yang mengganjal dalam hati. Aku seringkali bersuara dengan bukan diriku. Baru malam ini tersadar setengah menengadah ke langit yang dipijari petir. Lantunan musik seruling Gus Teja musisi Ubud Bali bertitel 'Dream' makin menambah arus kegalauan semakin kencang. Aku masih bukan sepenuhnya diriku. Di sisi lain menjadi bijak setengah-setengah. Di sisi lain pula menjadi pencundang. Bukan tanpa alasan, tapi inilah sebenar-benarnya aku. Tantangan terbesar ketika utuh diriku yang sesungguhnya aku temukan. Tapi jangan malam ini. Tunda dulu hingga kukecup dahi dingin ubin.
Sementara sebatang rokok masih kusulut dengan korek berapi jingga. Kuhembuskan asap lurus mencorong, dan asap lainnya lagi menari-meliuk. Keadaan ini membuatku tercenung. Apa sebenarnya ini. Aku yang sesekali berjalan lurus, dan sesekali pincang. Aku yang tegak dan sesekali tumbang. Aku yang sesekali riang lalu kembali sendu. Sedunia ini mungkin berisi satu-satunya makhluk seperti aku. Tak akan ada yang pernah sama kisah. Tak akan ada yang pernah sama kasih. Tapi jika begitu. Ada mereka-mereka lainnya juga yang mengancungkan telunjuknya, sambil berujar dia juga makhluk satu-satunya, kan. Bingung seketika. Dan kalaupun ada yang sama, maka kumaui terhubung dengannya segera. Seperti dia mengingini hal serupa pastinya.
Ah, ubin dingin... aku rindu mengecup dahimu. Bukan tak bersegera. Tapi ini selalu ada tapinya. Nantilah kita bersua lagi. Dan kali ini jangan seperti caramu kemarin. Yang hampir meremukkan tulang koksigealisku. Tulang ekor yang terlalu rawan. Akan membuatku benar-benar pincang. Atau mati sekalian menemu cahaya----atau mungkin pekat. Seseorang yang jatuh dari ketinggian terlihat begitu tololnya sampai-sampai Isaac Newton tertawa terbahak-bahak sambil makan apel. Sialan.
Seruling Gus Teja masih mendayu-dayu haru. Tapi cerita di atas berbagi denganku---tentangku. Masih tetap galau tapi jangan sampai parau merengek. Biarkan saja tetap bergulir, masuk lobang, merangkak, mendaki, melompat, dan terus meracau. Karena hanya dengan itu kita bisa mengendus misteri. Ternyata kita semua memang sama. Pada akhirnya, aroma makanan membuatku beranjak. Meski tanpa aroma itu, kita memang makhluk lapar. Dan sama-sama galau jika lapar. Dan itulah sesungguhnya galau segalaunya makhluk lapar. Mari makan malam.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Rabu, 03 April 2013

Selamat Pagi

Aku menulis hanya ingin sekadar berbagi dengan diriku sendiri. Membaca kembali apa yang tersirat dari fikirku. Menelaah kisi-kisi hidupku sendiri. Mencoba berkaca dari sekumpulan kepingan dua puluh enam abjad huruf. Bercerita sederhana tentangku, tentang mereka, pula tentang hal yang absurd.

Sebenarnya apa yang berharga selain diri kita sendiri. Segala sesuatu menjadi berharga karena kita sendiri yang memberi nilai tersebut. Bahkan ada banyak di luar sana yang tak ternilai. Meski dengan angka-angka nominal berjuta berjejer saling memapah. Pun ke dua puluh enam abjad huruf tadi tak mampu meringkus. Terlalu banyak yang masih tanggung. Masih bersembunyi di lereng-lereng sel syaraf. Dan hanya butuh kepasrahan nantinya. Ia masih tak ingin diketahui.

Terlalu banyak yang belum kita kenal dan terlalu sedikit yang kita tahu. Menimba terus dari mata air yang entah berlubang berapa. Yang darinya mengucur deras segala pertanyaan-pertanyaan. Entah nantinya terjawab sudah setelah kita ikut terseret di pusarannya. Lalu tenggelam tersedak pertanyaan-pertanyaan kita sendiri.

Pagi ini pun masih menyisakan hal-hal yang menggantung. Sekumpulan awan berarak-arak di atas sana. Langit membiru. Burung-burung yang berkawan dengan angin. Dan tiga kuntum bunga kemboja jatuh seperti buah apel menimpuk kepalanya Isaac Newton. Membuat kita berpikir untuk sesuatu hal yang baru. Menegur kita bahwa segalanya pantas dipertanyakan. Kita dikelilingi rupa-rupa yang tak kita kenal. Mereka menyimpan sebuah misteri dari kita. Bahkan dari mereka itu sendiri. Banyak yang terserak. Membungkuklah dan mulai memunguti. Lalu menyisipkannya di telinga kita. Aromanya pun mulai tercium. Aroma yang tak bisa kita bayangkan untuk kedua kalinya lagi. Kemboja ini berbisik padaku, "Selamat pagi."
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Calam (Catatan Malam)

Lewati jembatan di alam simulakrum, menengadah ke langit-langit kamar, lalu mata membenam dalam kelopak---hampir pulas. Tapi tunggu dulu, sepertinya segelas kopi tadi menggenjot jantungku, memompa udara, menggesek syaraf otak untuk terjaga---siaga. Sementara waktu tetap ke hilir tak pernah terkilir, tak pernah keliru bahwa pagi akan segera membiru lagi.

Segera kuperlambat detak jantung ini. Mengatur nafas secara teratur tanpa tutur. Hanya helaan dan hembusan. Sepi. Dan sesekali suara manuver nyamuk makin mendominasi ruang, bahkan waktu yang tersisa pun dicabik-cabik dengungannya. Aku bukan pengidap insomnia, tapi siang tadi tak cukup lelah, ditambah kantukku masih sembunyi di balik siluet kafein. Senyawa Alkaloid Xantina itu merangkulnya erat. Pagi makin dekat lagi.

Oh ya, delapan hari lagi aku ulang tahun. Dan dua puluh empat hari lagi Sigi kecilku juga ulang tahun. Imajinasi tentang dia seketika menjadi pengisi kekosongan ini. Mencoba mengais-ngais di tumpukan memori, mencari kepingan yang bisa kujadikan senyuman tatkala jilatan kantuk nanti menggetahi kelopak mataku.

Sigiku ini bukan bidadari, tapi dia seperti hasil taksidermi dari beberapa makhluk indah. Tak bisa kugambarkan bagaimana Tuhan membentuknya sedemikian indah. Bukan parasnya, tapi ini tentang kejadian penciptaannya. Memang wajar bagi setiap makhluk yang diberi kesempatan bisa beranak pinak. Bagiku ini begitu istimewa. Dan yang belum diberi kesempatan. Sesuatu yang lebih istimewa sedang menanti di sana. Di panti asuhan, di jalanan, dan di rumah-rumah persalinan di mana para manusia tak mampu, beranak pinak memberi kalian kebahagian lain. Itu pun lebih istimewa lagi. Atau ia masih tersembunyi dalam bisikan doa. Senyap-senyap ia datang.

Di luar sana rintik hujan menepuk-nepuk pundak genteng. Dan cerita tentang April ini belum mau kuakhiri. April ini aku sekaligus buah hatiku dipersilahkan mendiami dunia tempat di mana kita terbuang---katanya. Setidaknya kita diberi kesempatan untuk berpetualang. Dari alam non materi ke alam materi, kemudian kembali lagi ke semula. Atau memang kita tak pernah bermula dan berakhir. Bukankah materi itu adalah non materi itu sendiri. Tapi yang namanya berpetualang pasti selalu mendebarkan. Aku mengira kita bukan mampir di sini. Bukan pula terbuang. Ini dunia tempat kita untuk berbagi. Agar barang bawaan kita tak terlalu berat untuk kembali. Kita datang telanjang, dan kembali telanjang pula. Yang kita bawa hanya ruh itu sendiri. Dan jangan bebani ruh kita dengan segala bentuk kematerian. Mari telanjang. Dan biarkan ruh menyeluruh bugil tak kenal menggigil.

Asin hujan menjadi penawar paitnya kopi tadi. Kantukku tiba-tiba melesak. Ah, hidup dan mati, lalu tidur dan bangun, kita masih dalam rangkulan kekekalan meski terkadang kekesalan hadir. Tapi dari rasa kesal selalu ada harapan. Sambil menunggu kita terbangun dan tersadar bahwa sebenarnya kita ini kekal. Aku pikir ruh tak pernah tidur. Tuhan pun demikian.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 01 April 2013

Hayuuu... Dukung Ayu!!! Ngeyaaawwww...

Mengenai kejadian penganiayaan yang menimpa Ayu Basalamah. Meski saya berada jauh dari Negeri Totabuan tercinta, saya sering memantau lewat sosmed (sosial media) dan beberapa medon (media online) di Bolaang Mongodow perihal permasalahan apapun yang sedang melumeri tubuh patung gagah Bogani. Dan tak bisa dipungkiri lagi, bahwa akhir-akhir ini, Negeri Para Bogani (demikian julukan lainnya) ini sedang dilanda krisis moralitas dari para elit politik hingga ke masyarakat itu sendiri. Sangat disayangkan. Impianku, setidaknya anak-anak putih abu-abu di sana sudah menamatkan Madilog bukunya Tan Malaka. Jika ingin Negeri Para Bogani lebih me-raksasa nantinya. Bukan malah tambah kerdil.
Kembali ke kasus penjemputan serta pemukulan terhadap Ayu, itu salah satu contoh praktek ke-mafia-an telah merambah dan sedang menjalari sel-sel otak para oknum polisi dan pejabat yang terlibat dengan kasus ini. Yang lucunya, praktek ke-mafia-an kali ini 'merias' korbannya dengan maskara kebiru-biruan, yang seharusnya itu menjadi pekerjaannya si Ayu. Saya jadi geli membayangkannya. Beringas salah prosedur kayaknya (tertawa terpingkal-pingkal). Sungguh sangat memalukan, karena kejadian ini juga berpangkal masalah dari kurangnya polling SMS dukungan kepada salah satu kontestan Idola Cilik yang berasal dari wilayah tampuk kepemimpinannya 'Eyang'. Polling yang kurang, cacian yang bergema, lalu bogem mentah. Sebenarnya tanpa sosmed pun kita cukup tahu bahwa kabar berita akan begitu cepatnya menjalar dari mulut yang satu ke telinga orang lain. Dan karena chatting hujatan itu maka Ayu menjadi korban penganiayaan yang hingga hari ini masih saja belum ada tindak lanjut dan penjemputan kepada tersangka pelaku pemukulan.
Sebenarnya tanpa kita berpikir sampai berkerut dahi, bahwa anjing pun jika kita ajari lewat perintah suara bentakan atau dengan gestur, maka anjing dengan sendirinya akan menurut. Anjing yang sedemikan dekat dengan tuan-nya akan coba melindungi entah dengan insting kebinatangannya atau dengan suara perintah tuan-nya. Perlakuan yang untuk membela kehormatan tuan-nya ini, atau memang ada sebuah perintah menggema di sana. Tapi meski dengan sebuah perintah. Terkadang juga, anjing-anjing ini akan takut jika lawannya sepadan dengannya. Anjing selalu mencari lawan yang lebih lemah. Jadi ingat di film The Godfather. The Don lebih suka memelihara kucing ketimbang anjing. Entah kenapa.
Untuk demo hari ini yang digiatkan para simpatisan Ayu juga beberapa teman koleganya, semoga kulit-kulit kalian tidak terbakar sia-sia. Dan bahkan alam sepertinya mendukung kalian dengan menghadiahi butiran-butiran air penyejuk dari langit. Gemuruh Halilintar seperti membentak kepada penguasa bahwa ada kekuatan lain di sini. Dan kita tak lebih dari sekadar makhluk lemah, selemah lengan kemayu Ayu yang tak mampu menangkis pukulan-pukulan yang menghujamnya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®