Tuesday, July 30, 2013

Bumiku

Turun ke jalan lalu mari melangkah
Sebab kaki untuk menggagahi Bumi
Jejaki setiap taman yang dirambati rerumput hijau
Meski seharusnya kaki kita tenggelam di kolam susu.

Di sini tak ada bidadari bertujuh
Hanya bidadari beribu
Mau pilih mana?
Rasanya Taman Firdaus tak seindah ini
Lalu kenapa merindunya?

Ada pula yang katanya bara api
Dan segala horor dan siksa
Tapi kenapa takut?
Bukankah kita tak pernah sekalipun merasakannya.
Diteror imajinasi. Dorrr!!!

Mari turun ke jalan kemudian berlari
Tangkap biru, panas dan warna udara
Kita tak akan benar-benar tahu kapan
matahari mengecup Bumi
Jadi tak perlu menggedor pintu keras-keras.
Tetaplah di luar.

Bumiku, semakin renta
Di punggungnya tak lagi banyak bulu tumbuh
Jangan cemberut jika aku terus mengelusmu dengan telapak kaki
Karena nanti kita akan saling besedekap
Kekal tanpa sorga dan neraka.
Hanya Bumiku.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, July 27, 2013

Dunia 5x5 Meter

Langit masih biru, tapi aku cemas menunggu malam yang-padahal-tak akan pernah tertunda. Malam selalu akan malam, seperti hitam yang akan senantiasa hitam.

Taanngg!!!

Itu bukan bunyi piring pecah yang jatuh, bukan pula dentang bandul jam dinding purba, itu suara perut yang entah kenapa memilih bunyi 'tang'. Ah, mungkin lantaran gelungan usus-usus di dalam perutku sudah berkarat, dan apapun yang berkarat itu selalu logam. Yah, logam yang 'tang', yang mati. Aku memang layaknya benda mati sekarang.

Aku terbaring, terlentang menantang segala yang di atas. Menatap langit-langit kamar yang semakin meninggi dan kabur. Bentuknya tak datar, tak cembung, apalagi cekung, tapi miring ke samping. Ini aneh, aku sedang berhalusinasi karena didera lapar, atau memang kamar ini sedang dalam kuasa mimpiku. Kucubit kulit lenganku tanpa diplintir, rasanya tetap sakit, aku tak sedang bermimpi.

Saat ini, bangkit dari kasur seperti sedang menggusur segunung tanah. Ini dunia hanya 5x5 meter, tapi mampu menahan tubuhku berjam-jam karena tak ada apa-apa. Semesta alit yang pelit.

Energiku makin terkuras. Sialan, kuraih ponselku kemudian memencet tombol, mencari nama kontak teman yang bisa dihubungi. Pah, pulsa tandas. Aku kembali memelas. Atau lebih tepatnya melemah.
Sekonyong-konyong kukuatkan raga untuk bangun, beranjak ke dapur mini di kamar ini. Segelas air putih mungkin bisa menambah energiku. Enam langkah saja. Kemudian mataku sayup-sayup sayu, galon air itu kosong. Ingin sekali aku bersenandung Sepasang Mata Bola diiringin bunyi perutku yang keroncongan. Lagu itu bahkan menjadi kidung.

Terbaring lagi, kini dengan posisi tengkurap. Kubenamkan wajah ke bantal empuk lantas berandai-andai. Jika saja bantal-bantal ini sekejap berubah menjadi sekarung dada ayam panggang. Ah, mungkin benar di mana ada panggang dan ranjang, di situlah tanah Tuhan yang dijanjikan. Tapi kali ini beda ceritanya. Ranjang mengada dengan panggang yang tiada.

Gelap sudah di luar sana. Sedang menunggu siapa? Hingga saat ini tak ada bunyi gagang pintu yang dibuka. Tak ada pula tang ting tung bunyi ponsel. Segala yang berada di semesta alit ini, mati. Kamar ini perlahan membunuhku.

Kuraih gagang pintu, kubuka pintu lebar-lebar, kuhirup udara malam segar. Aromanya seperti bukan udara. Ini aroma dunia. Duniaku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®





Friday, July 26, 2013

Puisi Pagi

Ada yang ringkih terbaring di kamar belakang
Ada yang cekat pucat di taman depan
Ada yang wangi liar meruap di kursi sofa
Ada pula yang sedang memuisikan pagi

Ini pagi mari kita tulisi
Dengan tinta cumi-cumi pun tak mengapa
Asal rasa yang bicara
Untuk apa itu makna

Rumahku purba dan tua
Dari bata dan kayu yang disusun oleh cinta dan pinta
Pagi ini, kayu selalu sedingin mimpi
Tak berwarna dan agak sepi
Di balik tembok setengah, aku menggeledah sejarah
Yang kutemukan hanya jamur

Dan...
Setiap pagi
Aku selalu lupa pakai celana
Basah

(Happy Poem Day)


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, July 24, 2013

Ramadhan

Seribu bulan menggelepar
Gigir dan gagap menyambutnya
Ramadhan namanya
Tapi, aku kepingin bulan yang tak bernama

Berlomba-lomba bersuci
Padahal air kali itu hitam
Mereka masih tetap membasuh muka
Di tengah sejarah muram

Aku seringkali tercenung
Sembari menggelung sajadah
Berseru sekalian alam
Lalu kusiramkan tinta ini ke Kitab

Mereka anggap dosa tercuci
Ah, Ramadhanku tak perlu suci
Mari mengisi penuh guci dengan anggur
Lalu menari, berputar macam gasing

Aku mabuk, kemudian tersungkur di kakiNya yang...
Tidak putih, tidak hitam.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, July 8, 2013

Seperempat Malam dengan Ayah Amato

Kotamobagu tak sebesar Kota Gorontalo. Di kota yang relatif kecil ini kita tak butuh banyak gerakan tambahan untuk mengakses tempat-tempat favorit yang kini digandrungi banyak kalangan.
Seperti suatu malam yang berlangsung belum lama ini. Ketika menerima Short Messages Service (SMS) dari seorang kawan sekaligus saudara untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang berada di Jalan Paloko Kinalang, tak hitung tiga, motor yang saya tunggangi meraung lurus mulus tanpa hambatan dan rasa bingung membelah malam Kotamobagu yang ketika itu menggigil.
Saya memang tak diberitahu merapat kesana dalam rangka apa, untuk apa, atau membicarakan apa. Instruksi yang saya terima cuma menandaskan kiranya saya merapat secepat mungkin. Tapi satu yang saya tahu (dan ini pasti) adalah, akan ada kopi, goroho dan sangkara di sana.
Saya kenal tempat ini. Sekali dua kali saya sudah pernah bertandang kemari sekembalinya dari "liburan panjang" di Makassar dan Bali. Mulanya saya memang sempat berpikir kalau kedai kopi di Kotamobagu baru ada di Jarod Sinindian. Diam-diam ternyata bisnis kopi plus WiFi di sini ramai pengunjung mengalahkan Foodcourt di lantai 3 Paris Super Store yang mulai ditinggalkan.
Suasana ramai nian malam itu. Banyak pengunjung datang. Saya masuk dan langsung bergabung di meja pertama yang berada di sebelah kiri. Di situ sudah ada Uwin Mokodongan (sahabat, saudara, juga ketua saya di sebuah perkumpulan tempat saya pernah belajar dan ditempa menjadi baja), juga ada (saya sapa dengan hormat) Kak Susi dan Om Rahmat, (Mama Naya dan Papa Naya/pasangan suami istri bagian dari keluarga kami juga di Kampung) yang baru pulang cuti kerja dari Papua. Pendek kata, ada 4 orang saudara dari Passi yang sama-sama melarutkan diri 1 meja di Kedai Kopi Korot Jalur Dua Kotobangon.
Baru sedetik bergabung, kawan Uwin menunjuk ke salah satu meja di pojok kanan lalu berkata kepada saya: "Pi bakudapa dulu deng ketua-ketua yang ada disanae", katanya sembari tersenyum. Saya menengok ke arah yang ditunjuk lalu menemukan para kuli media (pewarta) asyik berdiskusi sembari melahap mi goreng dan menyeruput kopi. Saya kenal satu dua sosok itu; Matt Jabrik, Buyung Algafari, juga yang kemudian saya kenal sebagai Endar dan Sis. Selanjutnya ada seorang lain juga di situ dengan penampilan khas; janggut hitam tebal yang disusupi satu dua helai yang berwarna putih saling sikut desak-desakkan seolah menolak didominasi, rambut cepak yang sisi kiri-kanannya mulai bersayap menandakan dua bulan kemarin terakhir kalinya dipangkas, kacamata tebal bertengger di sungut hidungnya yang cukup kuat memberi kesan si empuh kacamata adalah orang yang terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan tumpukkan buku. Sedang dari segi berpakaian, tak banyak komentar saya kecuali, dia tergolong orang yang apa adanya atau yang seolah "nimau tau". Why so serious?
Akhirnya saya bertemu Amato Assagaf. Pertemuan yang mantap dan saya idam-idamkan setelah hari-hari kemarin perkenalan dan percakapan hanya berlangsung lewat BlackBerry Messenger (BBM). Ulur jabat tangan dari sayapun mengawali pertemuan malam itu bersama sebentuk kalimat perdana: "So dari tadi?"
Setelah saling bertegur-sapa sebentar, saya kembali ke kursi tempat saya berada sebelumnya. Melarutkan diri dalam cengkrama empat orang Passi yang baru bertemu setelah "perpisahan" yang cukup lama. Saya juga baru tahu kalau ternyata kawan Uwin, Mama Naya dan Papa Naya bertemu di kedai kopi ini secara kebetulan juga.
Beberapa selang berjalan, Amato dan Buyung (Wartawan kontraonline.com) tiba-tiba berdiri dari meja mereka di pojok kanan ruangan lalu berjalan melewati meja tempat kami berada. Saya bertanya hendak kemana? Rupanya pamit pulang ke tempat Buyung Indekos di Jalan Merdeka Matali, sekalian mampir di Apotik karena nyeri luka tusuk di kaki Bung Amato. Saya lantas berkata akan menyusul mereka kesana. Ucapan yang hampir bersamaan dengan Buyung yang juga meminta kami supaya menyusul segera.
@Kost Bali, Jalan Merdeka, Matali.
Saya ditemani kawan Uwin ketika merapat ke kosan. Saat tiba, kami menemukan bung Amato tengah lelap tidur. Sebuah keadaan yang sebenarnya saya sayangkan sebab semenjak di kedai tadi, saya memang ingin bercakap-cakap dengan dia setelah sekian lama belakangan ini cuma bercakap-cakap tipis di BBM.
Nyeri akibat luka tusuk di pangkal kaki Bung Amato ditambah pil pereda rasa sakit yang mungkin mengandung obat penenang, membuat ia enak melambung sehingga tak mempedulikan lagi ada suara saling membual di depan pintu kamar tempat ia tidur.
Duduk berbual-bual di lorong depan pintu kamar hingga
hampir satu jam lebih sembari menandaskan isi "wine" (istilah Buyung malam itu), membuat perut yang cuma di pasok Goroho dan Sangkara tak kuat bertahan. Alhasil lapar nasi mengerang. Pilihan selanjutnya adalah merapat ke warung nasi kuning di Kotobangon.
Saat hendak bergegas cari makan tengah malam inilah Bung Amato baru menyadari kehadiran kami setelah ia dibangunkan kawan Buyung. Kami berangkat ke TKP.
Desakan perut terpenuhi. Di kos kami duduk melantai. Penggal-penggal tanya dari kami dijawab dengan penjelasan kuat dan padat dari mulut Bung Amato. Begitupun sepenggal kisah perjalanan singkat hidupnya yang dituturkan secara pendek, lewat potongan-potongan kisah yang juga mengandung banyak guyon dan sarat pengalaman penuh bobot.
Bercakap-cakap di subuh parak pagi itu, saya sedikit banyak memahami isme-isme yang diperbincangkan Bung Amato: Marxisme, Komunisme, Kapitalisme, Libertarianisme, Liberalisme, dan isme-isme lainnya termasuk Marhaenisme yang sempat terlambung dari kawan Uwin meski agaknya payah.
Saya juga menangkap "kepayahan" kawan Uwin (dengan segala maaf ketua KPA ha..ha..ha) soal teori Nilai yang katanya di curi Kelas Majikan terhadap Kelas Pekerja/Buruh. Namun demikian tersirat juga "ketidak-habis pikiran" saya sebab tahu bagaimanapun juga Bung Amato pernah menjadi seorang Marxis (bahkan pengajar Marxisme) yang kini berbalik "menyerang" teori, ide-ide, pendapat, dan "kebenaran" di dalam Marxisme tempat ia pernah menggantungkan "iman" dan menjadi jamaah di situ termasuk kepercayaan dia terhadap teori Nilai Kerja yang luruh dan keruntuhan itu ia tandaskan secara kuat, padat, dan kritis versi Bung Amato ke kepala kawan Uwin malam itu.
Ah, berbicara isme-isme (terlebih Marxisme) di Mongondow, bagi beberapa orang mungkin tak penting dan sia-sia. Tapi tidak bagi saya selaku anak Mongondow yang suka bertanya dan mencari tahu. Ini adalah "bual-membual" yang padat. Seperempat malam saja bersama Bung Amato membuat saya nekat mengukur, alangkah dalam dan luas cakrawala berpikir orang ini (bukan maksud memuji sebab saya yakin orang macam Bung Amato bukan orang yang suka dan mempan untuk dipuji).
Akan sangat memakan banyak ruang dan tempat untuk membagi di sini soal apa saja yang kami bincangkan hingga pagi pecah tepat pukul 07:00 (saya memperhatikan jarum jam tangan di lengan kiri saya). Saya sangat menikmati percakapan kami malam itu. Satu hal yang membuatku merenung sekembalinya ke rumah setelah kami bersempat diri melahap bubur ayam pagi itu adalah; untuk orang dengan cakrawala berpikir seperti Bung Amato dan apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisannya, saya yakin orang ini menulis―seperti tulisannya yang pernah dimuat Radar Totabuan―bukan untuk cari proyek semata sebagaimana yang pernah disangkakan.

Friday, July 5, 2013

Why So Serious? Transgresi dalam Imajinasi Politik Sigidad

Saya pernah menulis tentang politik dalam wilayah imajinasi. Sebentuk puitika yang kita butuhkan untuk memberi warna lain pada matematika politik yang sungguh membosankan itu. Sebagai puisi, politik hadir dengan berbagai kemungkinan dan, bersamanya, juga ada kemuskilan. Sebagai matematika, politik tinggal menjadi persoalan hitung menghitung yang tak hanya menjemukan tapi juga telah menelikung makna politik itu sendiri. Membuat politik yang memang telah busuk luar-dalam di wilayah praktisnya, akhirnya juga mengalami pembusukan di wilayah perenungannya.

Saya pernah berpikir, jika ruang-ruang praktis bagi para politisi dalam menjalani proses mengada telah menyempit menjadi daftar tabel statistik dan aljabar tambah-kurang, maka penyelamatan bagi makna politik dalam hidup hanya akan menemukan Golgotanya lewat penciptaan ruang-ruang imajinasi politik. Proyek besar para perenung politik seperti ini adalah, pertama-tama, mengubah matematika politik menjadi puisi dan, selanjutnya, menggubah satu atau lebih puisi bagi politik kita hari ini.

Selama sekira lima tahun berada dan mencoba mengikuti perkembangan sosial-budaya di (provinsi) Bolaang Mongondow Raya, terutama Bolaang Mongondow Timur dan Kotamobagu, saya selalu menunggu terciptanya puisi-puisi seperti itu. Masalahnya, media di, setidaknya, dua kawasan itu tampaknya kurang tertarik memberikan ruang bagi penciptaan puisi-puisi politik sejenis. Termasuk juga bagi perenungan imajinasi politis seperti yang saya maksudkan.

Setelah kita diberondong dengan tulisan-tulisan Katamsi Ginano yang memiliki kecanggihan penulisan tingkat dewa tapi tetap saja masih tanpa puisi-puisi, kita kemudian menyaksikan munculnya banyak penulis politik muda. Lepas dari problem bahwa politik tak jarang lebih merupakan konteks bagi tulisan mereka dibandingkan sebagai tema renungan untuk ditulis, mereka tetap saja telah menulis tentang politik. Sedemikian riuhnya, hingga saya memiliki cukup banyak kesempatan untuk memamah begitu banyak tulisan dengan harapan menemukan puisi; menemukan sebuah – meski hanya sebuah saja – tulisan yang menghadapi politik kita hari ini dengan imajinasi politis.

Sejauh pembacaan saya, meski itu tidak bisa dibilang lengkap dan melulu tepat, saya tidak menemukan puisi-puisi itu. Tampaknya kebanyakan penulis politik di (provinsi) Bolmong Raya menghadapi politik sebagai dunia yang terlalu serius, terlalu hitam putih, terlalu matematis, terlalu melibatkan banyak kepentingan sejenis. Dalam tulisan mereka, lepas dari masalah mereka menulis dengan baik atau tidak, saya tidak menemukan puisi, pertanyaan, rasa ragu, kecemasan, kegugupan, dunia manusia nyata yang tidak melulu benar-salah, baik-buruk, dunia yang penuh dengan kemungkinan, kekanak-kanakan yang melegakan, permainan yang cerdas, dugaan yang mengejutkan dan pertimbangan yang tak diperhitungkan namun begitu problematis. Tulisan yang memberi ruang bagi imajinasi dalam politik.

Saya tidak menemukan (lebih tepat saya "belum" menemukan) satupun tulisan seperti itu justru di negeri yang telah melahirkan penulis esai sebesar Katamsi Ginano. Termasuk saya tidak /belum menemukannya dalam tulisan Katamsi sendiri. Saya tidak/belum menemukannya hingga saya membaca sebuah tulisan dalam blog bernama "Getah Semesta" berjudul Kesaktian Abunti di Pilwako Kamunce. Sebuah tulisan, yang jika dinilai dengan standar penulisan yang baku, jelas masih terhitung lemah dengan sekian kekurangan teknis yang tidak perlu. Tapi jika dipasangkan pada kotak pencarian saya yang sederhana akan sebuah perenungan yang membuka kemungkinan bagi imajinasi untuk membingkai setiap bagian dari "peristiwa" politik kita hari ini, maka inilah tulisan yang saya cari.

Perlu dicatat, saya tidak mengatakan bahwa tulisan yang tidak membuka ruang bahasan bagi imajinasi politik itu buruk. Sejak awal saya dengan sengaja telah mencatut nama Katamsi untuk menunjukkan hal ini. Saya ulangi, Katamsi adalah penulis yang baik. Hampir tidak ada satupun tulisannya yang buruk (meski tidak selalu harus diterima sebagai benar) tapi saya tidak/belum menemukan tulisan Katamsi yang memberi kemungkinan bagi imajinasi politik kita. Begitu juga dengan sekian tulisan lain dari penulis lain yang juga baik dan, bahkan, benar. Artinya, saya tidak sedang berpretensi menjadi hakim atau juri bagi begitu banyak tulisan tentang politik kita hari ini di (provinsi) Bolmong Raya.

Saya hanya sedang mencari, secara teoritis, sebuah tulisan yang memberi kesempatan bagi transgresi (the process of overstepping the limit). Saya hanya sedang mencoba menemukan "penyimpangan" dari sifat kaku matematika politik kita hari ini. Sebuah pembalikan (inversion) yang memungkinkan penyingkapan (disclosure). Sebentuk model penulisan yang, dalam catatan sejarah Michel Foucault, ditemukan dalam tulisan-tulisan Sade, Holderlin, Flaubert dan Nietzsche. Yang dalam catatan pencarian saya, dimunculkan secara gagap lewat tulisan Sigidad tersebut di atas.

Saya tidak akan bicara lagi soal kenapa kita membutuhkan imajinasi dalam politik dan kenapa kita membutuhkan itu dalam tulisan atawa dalam cara kita menyusun pikiran. Secara sederhana, saya telah menuliskan itu dalam beberapa tulisan saya di rubrik opini kontraonline.com, terutama dalam tulisan Imajinasi: Puisi bagi Politik Kita Hari Ini. Tapi saya ingin menambahkan di sini bahwa imajinasi politik, setidaknya dalam sebuah tulisan, mampu menjadi kritik yang memutar-balik realitas politik praktis dan mengungkap apa yang ada di halaman belakang "peristiwa" politik bersangkutan.

Saya menuliskan peristiwa dalam tanda kutip untuk menunjukkan posisi peristiwa sebagaimana hal itu dipahami oleh filsuf Alain Badiou. Politik dalam "peristiwa" Badiou bisa menjadi yang-politik dalam pemahaman kita mengenai urusan publik. Di sini, manusia (para politisi) tidak pernah menjadi satu-satunya faktor. Dan di sini pula, dalam model "peristiwa" ini kita menemukan politik sebagai "cara membuat mungkin apa yang hanya nyata" dan, sebaliknya, "membuat nyata apa yang hanya mungkin."

Kembali ke Sigidad, apa yang membuat cerpen post-cerpen tentang Komkomci, Kamunce, dan Abunti yang ditulisnya sebagai esai itu telah membuka kemungkinan bagi transgresi dan pembalikan yang memungkinkan penyingkapan? Pertama, sadar atau tidak, dia terlebih dahulu telah melakukan inversi (pembalikan) atas kenyataan menjadi kemungkinan. Kita tidak perlu percaya bahwa ada daerah Komkomci, pilwako di Kamunce dan dukun bernama Abunti. Kita bahkan tidak membutuhkan rasionalitas Cartesian sederhana untuk menemukan eksistensi cerita itu sendiri. Tapi kita, lewat tuturan Sigidad dalam tulisan itu, telah dijebak ke dalam sebentuk kecurigaan bahwa mungkin ada konteks nyata bagi dongeng yang telah dia tuliskan itu.

Kedua, tulisan yang dituturkan dengan cara berbahasa yang masih kurang canggih itu justru secara canggih telah membuat pembedaan yang signifikan antara politik sebagai peristiwa kalkulatif dengan politik sebagai peristiwa imajinatif. Dengan cara itu, Sigidad telah mendorong tulisannya melewati batas kenyataan dan menjadi sebuah upaya transgresi. Tidak ada satupun manusia di muka bumi Bolaang Mongondow ini yang akan mengelak dari kenyataan bahwa politik selalu bersifat kalkulatif dan, demi Tuhan yang selalu mungkin, tidak ada satupun dari mereka yang akan mengabaikan hitungan dalam politik. Tapi Sigidad, sengaja atau tidak, telah melewati batas hitung menghitung politik dan menawarkan sebuah dunia yang berbeda yang, sayangnya, selalu mungkin bagi laku politik kita hari ini; sebuah imajinasi.

Ketiga, manakala kita selalu berbicara tentang apa yang dilakukan para politisi, tim sukses mereka, kampanye-kampanye (pidato, poster, pamflet, stiker dan kaos) sebagai realitas berlanjut, Sigidad membicarakan sebagai sebuah diskontinyuitas. Dia hanya mengungkapkan satu contoh saja, yang dituturkannya sebagai sebuah cerita pendek, dengan plot sederhana dan tema yang terhitung kecil (tidak ada elaborasi dalam tulisan itu) tapi dengan cara yang begitu membebaskan bagi menyebarnya tafsiran dan upaya untuk membuka kemungkinan. Tentu ada cara penafsiran yang berbeda-beda bagi setiap pembaca. Namun setiap penafsiran yang mungkin bisa mengusir kenyataan dari apa yang dituliskan Sigidad dan menggantinya dengan apa yang hanya merupakan kemungkinan semata.

Artinya, Sigidad tidak berupaya untuk tampak logis. Dia bahkan tidak melakukan strukturasi atas rasionalitas tulisannya dan, tentu saja, cara berpikirnya. Tidak melakukan analisa namun juga tidak berupaya menemukan sintesa. Dia hanya menuturkan "fakta" dengan cara yang begitu telanjang untuk membalikkannya. Dia mengungkapkan "fakta" dengan cara menyingkirkan "kenyataan" dari fakta tersebut. Sebuah kekurangajaran yang cukup cerdas untuk mengkritik pemahaman kita mengenai batas faktual dari sebuah peristiwa nyata. Sebuah cara yang mestinya hanya ada dalam cara berpikir Sigi bukan pikiran bapaknya.

Keempat, saya terkejut nyaris dengan keterkejutan yang sama jika saya membaca catatan pinggir Gunawan Mohammad, saat membaca paragraf terakhir dalam tulisan Sigidad tersebut. Secara lengkap saya kutipkan di sini, "Di kejauhan, seseorang tegak berdiri di bawah pohon Kandasuli dengan tatapan kosong. Sepertinya sarat beban. Entah siapa orang ini. Bibirnya yang kering sekonyong-konyong merekah dan terbata hendak mengucapkan sesuatu. Sepertinya; "Adakah tumbal dari semua ini … ""

Orang itu, yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam seluruh bangun tulisan tersebut, tiba-tiba hadir untuk mewakili pikiran terakhir penulis, kesimpulan non-tautologis, yang hendak disampaikannya. Dan orang itu, yang jelas tidak penting siapa (…Entah siapa orang ini) telah mengungkapkan dengan cara yang mulai penting bagaimana (tatapan kosong, sarat beban, bibir kering, dan terbata) dan jelas penting kenapa karena dia hanya "hendak" mengungkapkan sesuatu. Dia mungkin tidak pernah mengungkapkan itu atau dia telah mengungkapkannya dengan cara yang sebegitu samar: …Adakah tumbal dari semua ini? Lalu kenapa penulis tahu apa yang diungkapkan orang itu? Dan menuliskannya sebagai pertanyaan yang begitu meyakinkan?

Sigidad, sadar atau tidak, telah mempermainkan kita dan, sekaligus juga, mempermainkan seluruh pengetahuan dan pemahaman kita akan peristiwa politik menjadi sebuah "peristiwa" dari yang-politik. Sigidad, mungkin sadar, bahwa dia sedang melemparkan kritik tapi mungkin tidak cukup sadar bahwa dia sedang melakukan transgresi; mengajak kita melakukan revolusi dalam cara kita memaknai setiap peristiwa politik agar menjadi "peristiwa" dari yang-politik. Jika dibandingkan dengan penulis yang ditemukan Foucault, maka apa yang dilakukan Sigidad bisa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Marquis de Sade yang menuliskan transgresi; mengajak kita memahami peristiwa seks sebagai "peristiwa" dari yang-seksual.

Terakhir, kenapa saya selalu menggunakan kata "sadar atau tidak" seakan saya meragukan niat yang mungkin telah ada dalam benak Sigidad ketika menekan (bukan menindis) keyboard Blackberry atau komputernya? Jawabannya sederhana, saya tidak pernah menutup kemungkinan bahwa Sigidad dalam tulisan ini tidak akan pernah muncul lagi dalam tulisan-tulisannya yang lain. Sigidad mungkin akan mulai berpikir dengan cara yang sama yang dilakukan kebanyakan kawan-kawannya; melihat peristiwa politik sebagai peristiwa matematis dan mulai menghitung-hitung kenyataan sesuai tabel statistik seolah hendak menjadi pengamat politik tingkat daerah. Membutakan mata kanak-kanaknya untuk melakukan transgresi dan menemukan imajinasi dalam yang-politik. Membunuh Sigi dalam dirinya agar menjadi orang dewasa yang menjemukan itu.

Dengan selalu menuliskan "sadar atau tidak" saya sedang berupaya untuk menunjukkan bahwa tulisan saya tentang tulisan Sigidad tersebut tidak lebih dari sebuah cara penafsiran dalam berbagai model penafsiran lain yang keabsahannya hanya bisa ditemukan atau dalam kerangka pikiran saya sendiri atau dalam tulisan Sigidad tersebut. Saya hanya sedang menuliskan satu tulisan Sigidad dan bukan seluruh tulisannya karena mungkin setelah tulisan ini, saya tidak akan pernah lagi menemukan transgresi dalam tulisan Sigidad dan imajinasi dalam cara dia merenungkan politik.

Namun saya sedikit terhibur dengan penemuan saya atas dua tulisan lain Sigidad yang berjudul "Ronin Ababil" Pembunuh Ayu dan, terutama, puisi Cinderella di Pelabuhan dalam blog yang sama. Saya menangkap kembali cercah-cercah transgresi itu; kemampuan untuk mengajukan imajinasi sebagai alternatif bagi keseriusan perhitungan kita yang, dalam beberapa tulisan kawan-kawan, telah menjadi semenjemukan sikap Ismail Dahab saat sedang berkonsentrasi memenangkan calon yang dia dukung atau semenjemukan sikap Nayodo Kurniawan saat mengamankan pilwako dalam kapasitasnya sebagai ketua KPU Kotamobagu.

"Why so serious?" kata Joker dalam salah satu adegan film The Dark Knight.

Oleh: Amato Assagaf

Dimuat di www.kontraonline.com

http://m.kontraonline.com/13009/why-so-serious-transgresi-dalam-imajinasi-politik-sigidad/

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, July 1, 2013

“Ronin Ababil” Pembunuh Ayu

Terhenyak, tatkala tahu pembunuh Ayu Basalamah ternyata adalah dua orang Ababil (Anak Baru Gede Labil).
Sempat kemarin subur spekulasi pun demikian segala duga dan sangka yang menggosipkan bahwa kasus pembunuhan Ayu erat kaitannya dengan kasus pemukulan yang menimpanya.
Namun, toh akhirnya, segala duga dan sangka yang telah menjadi gosip publik itu, dalam sekejap mentah begitu saja, ketika kedua pelaku sebenarnya tertangkap.
Seantero Mongondow akhirnya tahu, dari hasil kerja pihak kepolisian telah ditetapkan dua tersangka pembunuhan yang usianya masih belasan tahun, yakni RZ (18) dan AA (17).
Saya mengistilahkan kedua pelaku pembunuhan―juga perampok―ini dengan sebutan "Ronin Ababil". Di Jepang, sebutan Ronin tak lagi hanya sekadar mengisahkan para Samurai yang kehilangan tuan/majikannya sehingga mereka hidup dalam pengembaraan, kegalauan, dan perampokan demi kehidupan. Sebutan Ronin di Jepang saat ini juga mengambarkan suatu keadaan dimana lulusan sekolah menengah umum yang gagal lulus tes masuk sekolah lain yang lebih tinggi. Yah, kita tahu kedua pelaku ini baru saja lulus sekolah menengah umum. Sedangkan Ababil adalah istilah yang populer dikalangan remaja kita yang berarti; Anak Baru Gede Labil.
Nah, kedua pelaku pembunuhan ini saya sebut sebagai Ronin Ababil yang menjadi "musuh" pengeksekusi Ayu. Motif (sementara) adalah perampokan yang berujung pada pembunuhan. Sial pula bagi gadis ababil berinisial KM (19) yang turut dijadikan tersangka lantaran ia menyimpan barang bukti hasil jarahan.
Saya tak habis pikir, kawan-kawan yang sempat saling bertukar cerita juga tak menyangka dua ababil ini bisa menghabisi korban dengan keji.
Ah, musuh Ayu ternyata tak lebih dari para pengutil nekat. Entah kenekatan ini juga dipicu hasrat "mo ba pumpun" karena tak lama laginya Lebaran, cuma mereka dan Tuhan yang tahu. Sukur-sukur jika penyidik diberitahu.
***
Bukan hendak mengaitkan kasus ini dengan Pilwako KK, namun dari kejadian ini (terbunuhnya Ayu) tak dapat kita bantah cukup mempengaruhi kontestan Pilwako yakni Muhamad Salim Lanjar - Ishak Sugeha (pasangan Laris-Manis), dimana Eyang (Bupati Boltim) selain sebagai Adik kandung kontestan (MSL) juga berdiri sebagai Juru Kampanye dan tim pemenangan. Sayangnya ketika Ayu terbunuh, meruyak spekulasi, gosip, duga dan sangka publik yang dialamatkan padanya. (Siapa saja aktor dibalik gosip ini punya hutang maaf pada Eyang).
Sekarang yang menjadi penting di sini, pembunuh Ayu Basalamah telah terkuak (semoga arwahmu menjadi tenang di alam barzakhi).
Ini sebuah kasus yang oleh Kapolres (mengutip di media)menjadi pertaruhan harga diri. Salut memang buat jajaran Polres Bolmong yang mampu membekuk para tersangka hanya dalam waktu 11 hari.
Sekedar catatan, masih ada harga diri lain yang wajib dipertaruhkan. Di Mongondow, masih ada sederet kasus menunggu harga diri itu menang. Bukan berada ditumpukan berkas dengan kode; "case is closed".

Powered by Telkomsel BlackBerry®