Thursday, August 22, 2013

Aku Ingin

Aku ingin meminjam senyummu malam itu
Senyum puas ketika selesai senggama
Bukan cemberut pun desah bosan suami pada istri
Istri yang lupa bersolek dan banyak makan

Aku ingin meminjam tawamu malam itu
Tawa renyah kala srimulat menggelar lelucon
Bukan duka sinetron anak tiri yang dijambak rambutnya
Atau duka sekumpulan artis yang melayat dengan make up tebal

Jika tak kau beri, bolehkah aku mencurinya darimu
Aku pikir kita terlalu dekat untuk bisa berseteru
Terlalu lama bersama untuk bisa marah

Aku hanya ingin senyum dan tawamu
Cuma itu

Tahukah mereka tentang senja yang pernah kita ketawai
Malam yang merenggut cerlang siang
Burung-burung berarak pulang ke sarang
Tapi kita terus tertawa

Aku hanya ingin malam itu
Aku ingin


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, August 5, 2013

Lebaran

Lebaran sebentar doang
Lebaran sebentar doang
Abis itu...
Si Lebaran pulang
Lebaran pulang
Lebaran pulang
Lebaran, sebentar doang.

Pengggalan lirik lagu dari Band Punk Marjinal yang bermarkas di Taring Babi, Ibukota Jakarta itu, terdengar hanya seperti sebuah celoteh asal-asalan. Tapi ada makna besar terkandung di setiap lirik lagunya.

Saya sedang tidak ingin membahas seluruh bait dalam lagu itu, tapi hanya sepenggal saja; Lebaran sebentar doang, abis itu si Lebaran pulang.
Sungguh menyiratkan sebuah momen yang hanya sebentar. Sebuah peristiwa sakral yang diagung-agungkan tapi dalam interval waktu yang singkat saja.
Memang sebuah momen selalu hanya sebentar, sekilas, pun sekejap. Tapi, saat kita merasakannya, kita seakan-akan telah memilikinya lebih. Merasakan diri kita sebagai manusia dengan dan saling memaafkan. Lebaran adalah ketika kita menjadi manusia lagi.
Tak penting dengan pakaian baru, tak penting pula dengan segala tetek bengek persoalan barang-barang baru. Cukup uluran tangan, ikhlas dan memaafkan, kita seperti melepaskan sesuatu. Kekhilafan, seakan lepas begitu saja dengan jabat dan peluk erat.

Bicara soal Lebaran, pun pesona 'pumpun' (belanja pakaian baru) yang merajalela menggeser makna Lebaran itu sendiri, menjadikannya hanya sekadar sebuah ibadah 'Thawaf' di pusat-pusat perbelanjaan. Bukan lagi seperti ritus ibadah Thawaf, yang belajar bahwa segala sesuatu berputar, kembali ke fitrah, kembali ke awal. Karena pada dasarnya semua orang berada pada lintasan yang berputar-putar saja. Bukan pakaian yang menjadikan kita sebagai manusia baru, tapi apa yang ada di balik pakaian itu.
Kata Ali Syari'ati, "Aku sering melihat orang yang tak ada baju di badannya. Juga sering melihat baju yang tak ada orang di dalamnya". Kalimat ini menurut interpretasi diri saya pribadi, dan mungkin relevan dengan momen Lebaran saat ini bahwa; masih banyak orang-orang di luar sana, di jalanan, di bawah kolong jembatan, dan berbagai tempat hina dina yang tak berpakaian tapi lebih mulia di mata Tuhan. Juga banyak manusia-manusia dengan pakaian yang brandit, harga selangit, tapi tak secuilpun mendapatkan makna hidup sebagai manusia."

Ya, Lebaran sebentar doang. Setelah itu si Lebaran pergi. Setelahnya apakah kita menjadi manusia yang fitrah lagi, tergantung pada pencapaian masing-masing individu umat yang menjalaninya dengan keikhlasan. Saya pun tak jauh dari keburukan, bahkan Lebaran kali ini mungkin satu-satunya yang baik dalam diri saya, hanya ketika tulisan ini hadir.

Lebaran seperti sebuah konsep pembelajaran secara horisontal kepada kita umat manusia, secara kolektif, tanpa ada sekat-sekat agama. Dengan sebegitu singkatnya kata 'maaf', kita telah memanusiakan manusia lainnya.

Mohon maaf lahir dan bathin.

Powered by Telkomsel BlackBerry®