Friday, September 27, 2013

Puisi Ulang Tahun Buat Sahabat DB

Adakah suci terbentang di sepanjang waktu
Dalam rentang rentang kisah yang berjalan menjadi lalu
Dalam batu
Helai daun yang diterkam angin
Pun di carik kertas yang usang bersama kerontang jalan muda yang terengut

Adakah hitam menggelepar di lorong lorong yang tergilas roda hidup
Membiru bersama kisah-kisah manis yang, meriang bersama cerita-cerita elang dan camar mematuk tangkai rapuh di pantai

Putih
Hitam
Biru
Merah
Darah
Amarah
Dahaga
Suci
Dimanakah langkah menempuh tujuan
Yang gigir di antara keinginan paling sepi dan brutal

Hari berganti
Dunia terang
Kicau burung merentang di belantara hijau dan kilau cakrawala

Hari
Bulan
Tahun
Tik tik tak tak
Roda roda berputar
Kita berada di mana nafas menghitung langkah
Langkah langkah gelisah
Langkah langkah penuh harap
Langkah langkah merah, biru, hitam, putih suci membilang

Pada purnama lima malam lalu
September yang penuh arti
Tiga hari sebelum Gestapu pecah
Pada nafas waktu malam ini
Kami teriakkan: tumpah! tumpah! tumpah!
Gelas kosong berdentang, jangan pecahkan, minum isinya
Minum hingga pagi menjelang
Dan matari memberi harapan baru
Selamat ulang tahun kawan!

-Owen Mokodongan

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, September 18, 2013

Negara Genting Jendral

Deru maut bersahutan gagak teriak
Denting genting subuh beradu bunyi senjata
Tang! Ting! Tang!
Meruap amis dari lantai ubin
Bau mesiu menyeruak di udara
Sontak jerit tangis, robek gulita

Negara genting Jendral!
Sedang diseret ke nganga sumur luka
Jendral tipu Jendral
Prajurit hantam Prajurit
Saling babat siapa hebat
Iblis itu Kapitalis, kah?

Palu dan arit
Kelu dan jerit
Berjejer lapar ngunyah genjer-genjer
Kini bertukar cekam dibantai juta
Terbujur, tumpuk, busuk dan hancur

Negara genting Jendral!
Tapi kalian berdiri mematung
Mati, tak ada geraan
Padahal kalian punya jantung
Pun darah merah seperti amarah

Negara genting Jendral!
Dibiarken hingga kini
Dari September ke September
Masih metik genjer-genjer


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kalung Bulan

Bulan di ujung gunung
Dikalungi tiga warna yang katanya jembatan para bidari
Pelangi menggelung
Bersama makin bawa meninggi berdiri

Gemuruh senar digaruk jemari
Berpuluh-puluh lagu senandung
Rapat menerkam dari arah kiri
Ah, para tetangga kami tersanjung atau mau memancung

Di teras bulan makin melancung
Kawan mari kemari
Bulan diam, basah disepuh tenung
Langit diarak-araki halimun dan para peri

Kata mereka matari
Membagi cahya biar malam terlihat cekung
Cerlang gemintang menari
Menggeser gulita makin ke ujung

Kalung itu masih menggantung
Kawan mari kemari
Kita bersenandung bukan kidung
Makin ke kiri, tak sendiri.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, September 3, 2013

Pertanyaan Si Gila

Ingin ku kunyah bara itu
Sepotong demi sebongkah
Biar mereka tak lupa dengan rasa
Duhai makhluk yang berdiri

Masih kenal kah kalian apa itu api?
Apa itu air?
Apa itu debu?
Apa itu lumpur?
Apa itu cahya?

Aku masih ingat segala
Tak tersimpan dalam memori
Karna hanya yang gila yang kini bisa merasa
Manusia gila tak memiliki memori
Tersisa hanya hati

Coba tanya kakek!
Tanya nenek!
Tanya bapak!
Tanya ibu!
Tanya kepada manusia!
Atau kepada segala makhluk yang katanya senantiasa melafadzkan asmaNya
Apa mereka manusia, yang teriak itu masih memiliki hati?
Aku pikir tak lagi
Hanya manusia gila yang punya

Yang waras bertepuk tangan
Yang gila melurut dada kemudian menabuhnya
Yang waras tak lagi memiliki bunyi tepukan
Yang gila dadanya bergemuruh

Oh, duhai Yang Esa
Mereka mau meniru si gila
Tapi mereka tak lagi memiliki tangan untuk ditepuk, dada untuk ditabuh
Berbahagialah kalian yang gila
Aku tak hanya memiliki pertanyaan dan ingatan
Aku memiliki kawan

Serentak kami yang gila pun bertanya...
Siapa kami para penggilaMu ini?


Powered by Telkomsel BlackBerry®