Wednesday, October 30, 2013

Ya Atau Tidak

Deru angkot tua satu-satu memecah subuh yang masih gelap. Semburat sorot lampunya memotong embun-embun tebal padat membungkus pagi. Dingin masih mencengkeram. Tapi, pagi ini, ada manusia paruh baya dengan temali mengebat erat di genggamannya. Dua punuk lembu tampak menonjol basah menghela gerobak penuh muatan, merayap tegas menembus kabut tebal di lindap subuh itu. Pemandangan yang membuat suasana pagi itu segar seperti senyum lelaki.

Gerobaknya berkejar-kejaran dengan beberapa orang di tepi jalan. Orang-orang dengan sajadah terkulai di bahu. Mereka sedang menuju rumah Tuhan. Lain dengannya yang mau ke pasar dengan tumpukan kayu yang harus ia lekaskan pagi ini. Entah siapa yang sedang benar-benar ke rumah Tuhan.

"Mamonag pa o (mau ke bawah dulu)," sapanya.

"O'o (iya)," serempak mereka menyahut.

Yang di atas memang harus menengok ke bawah dan menyapa. Tapi, sekali lagi, entah siapa yang benar-benar di atas dan di bawah. Nasib seringkali sulit ditebak. Seperti putaran roda gerobak.

Selang empat puluh menit, ia pun tiba di pasar. Tumpukan kayu di atas gerobak dihempaskannya ke bahu jalan. Kemudian dirapikan kembali dengan segera. Siap dijual.

Satu jam ia menunggu dengan dua batang rokok saja. Pasar makin ramai seiring pagi merekah disiram cerlang cahaya mentari. Kerumunan orang bertengkar dengan lalat dan terik ketika matahari merangkak naik kian tinggi. Ini pasar tradisional yang multi dimensional. Ratusan lapak pedagang dengan aneka jualan, terlihat serupa menjajakan nasib.

"Bole lima ribu satu ika (apakah boleh lima ribu seikat)?" seorang ibu menawar.

"Lima stenga jo, Bu," sahutnya, meminta tambahan lima ratus perak.

"Lima ribu jo kwa'," si ibu tak hendak surut dengan tawarannya, berjongkok, menepukkan tangan pada seikat kayu.

"Iyo jo dang (baiklah)," pasrahnya. Pikirnya, di jaman ini masih syukur kayu bakar bisa bersaing dengan bahan bakar lainnya, sembari pandangan matanya menyaput jejeran tabung gas elpiji dari sebuah toko yang baru saja dibuka pemiliknya.

Usai membayar, si ibu berlalu. Hampir sejam kemudian baru ada lagi pembeli yang menghampirinya.

"Brapa satu ika (berapa seikat)?" tanya pembeli itu.

Ia mendongak ke arah datangnya suara, tersenyum, "Anam ribu, Bu (enam ribu, Ibu)."

"So nimbole kurang (apakah tak bisa kurang)?" si ibu yang berjongkok di samping ikatan kayu mengerling kepada si penjual.

"Lima stenga jo (lima setengah saja)," dia menegaskan harga.

"Ampa ribu jo (empat ribu saja, ya)?" tanya si ibu berharap mendapat harga lebih rendah.

"Adoh, nimbole noh (aduh, tidak bisa)," jawabannya kukuh dengan raut wajah tetap ramah.

Kala tawar-menawar itu tengah berlangsung, tiba-tiba puluhan polisi pamong praja datang menyerbu.

"So bilang nimboleh bajual sini (sudah dikatakan tidak boleh berjualan di sini)!" teriak beberapa orang di antara mereka.

Ada yang kocar-kacir, namun tak sedikit yang memilih tak beranjak. Beberapa perempuan tua, yang kesehariannya berjualan di tempat itu, hanya bisa melongo dan sesekali berbisik mengumpat. Barangkali, mereka ingin protes dengan sikap semena-mena dan jauh dari sopan-santun itu.

"Nogiboli don kami bo tantu bi' angoyon bongkaron (kami sudah membayar, tapi masih saja selalu digelandang)," keluh seorang nenek.

"Deeman natua , inde. Kaka andon pinomiaan pasar nobagu pomampingan bo moiko doi' bi' maya kon tua (bukan begitu, nek. Kan sudah dibuatkan pasar baru untuk pindah, tapi kalian tidak mau ke sana)," seorang polisi pamong praja menjawab sengit.

Para polisi pamong praja tak ingin terlibat depat panjang. Tugas mereka adalah bertindak menertibkan pasar tersebut dari pedagang yang membangkang keputusan pemerintah kota setempat. Cepat dan cekatan membongkar tumpukan jualan dan lapak para pedagang.

Si penjual kayu tak luput dari gerudukan petugas ini. Tumpukan kayu bakar jualannya bak dilalap api, diangkut kawanan pamong praja, tak tersisa dari tempatnya, senasib dengan jualan pedagang lainnya yang membuat pemandangan di pasar itu menjadi kering kerontang.

Gerobak sapi sewaan tadi pagi sudah ia titipkan ke salah seorang tetangganya –yang juga sesama pedagang di pasar itu—untuk dibawa pulang. Istri si tetangga masih di sini. Mereka bersitatap, bungkam, dan nanar. Hampa.

Sejurus kemudian, si pedagang memecah kebisuan, "Bain don tumakoy kon bentor kita mo buyi (nanti naik becak motor saja kita pulang). Semburat ucapan dari bibir yang nampak kering dengan nada bergetar, yang disahuti dengan anggukan si perempuan.

Mereka baru hendak mengangkat kaki, ketika suara gaduh teriakan sekelompok orang mengagetkan penghuni pasar. Keributan belum usai rupanya.

"Ini pasar torang punya (pasar ini milik kami)!" koar mereka yang baru tiba.

Sepertinya mereka lagi. Sekumpulan orang yang mengaku sebagai "ahli waris" lahan pasar ini. Lahan pasar ini, memang, masih menjadi sengketa dengan pihak pemerintah kota. Lahan tempat menggantung nasib ternyata nasibnya pun masih menggantung. Ada yang gagu menatap mereka dengan mata berbinar ambigu. Entah airmata jenis apa yang pantas diteteskan untuk menangisi perilaku mereka –sudah menjadi rahasia umum karakter orang-orang penuh klaim ini.

"Mo buyi don kitada mani'ka, topilik mo kacau don naa (lebih baik kita pulang saja, sebentar lagi pasti terjadi kekacauan)," ajaknya.

Mereka berdua bergegas ke tempat biasanya becak motor mangkal. Memilih pulang dan berharap sesegera mungkin sampai di rumah, jauh dari carut-marut pasar: tempat nasib mereka saling bertumpuk, mematungi hari-hari dengan menghitung kibasan lembar uang, dan tempat di mana kata "ya" atau "tidak" paling sakral dilapalkan.

Pada akhirnya, ada yang harus berkata "ya" untuk sengketa pasar, walau sebelumnya gigih mengatakan "tidak". Sama seperti mantra dalam tawar-menawar yang abadi antara penjual dan pembeli: "ya" atau "tidak".


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, October 25, 2013

Abu-Abu

Rimba terlalu sepi malam ini. Ada ketakutan menelan jutaan siluet pepohonan. Segala hewan nokturnal memilih bungkam dan sepertinya lebih diam dari mati. Malam ini, hantu pun enggan menggoda.

Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Terdengar suara rumput kering saling bergesekan. Tak ada yang bisa memastikan suara apa. Jika saja seekor Otus manadensis rela bertengger di cabang basah. Menyergap tanpa suara, tanpa kepakan sayap. Tapi malam ini. Semua mati. Kecuali daun kering itu.

Hutan di rimba masih terus menutup mata. Hingga sederak batuk memecah. Segala yang mati di rimba ini kembali bersedia hidup untuk menyaksikan siapa yang berani mengalahkan ketakutan malam ini. Tampak tak jauh sosok ringkih menyeret kaki melukis sepanjang tanah dengan satu warna. Gelap. Langkahnya coba memetakan dunia. Kini, ada seekor Otus mengintai. Otus yang bisu.

Ada yang kembali mendidih di lehernya. Dan batuk berderak untuk kedua kali. Kabut tersingkap oleh suara itu. Satu dua gemintang mengintip. Disusul puluhan, ratusan, jutaan, dan tak terkira lagi. Seketika rimba dan langit diramaikan batuk.

Terlalu lama di gulita sosok itu makin misteri. Kenapa ia memilih gelap jika di luar sana ada yang menawarkan cahaya. Tapi gelap seringkali menajamkan indra. Jika ditanya kepada orang buta apa warna kesukaannya, ia pasti mejawab gelap, bukan hitam. Ia tak pernah diberi kesempatan mengenali warna. Alangkah bodoh bertanya warna kepada buta. Jika ditanya apa yang paling ia damba, mungkin ia menjawab, cahaya. Tapi sekali lagi pertanyaan bodoh. Pernahkah seseorang ditanyai sesuatu yang jawabannya tak pernah ia kenali.

Satu demi satu makhluk malam bermunculan dari lubang gelap di tegap pepohonan raksasa, dari balik batu, rerimbun semak, kulit tanah, dari angin. Tiga kunang-kunang meloncati udara. Jangkrik-jangkrik memetik kecapi. Kini riuh di rimba. Orang itu menghidupkan. Tapi ia bukan Isa. Yang tadi mati ingin berterima kasih. Tapi ia bukan Sulaiman yang bisa membalas ucap. Ia terhenti, duduk pada batu seukuran pusara. Selonjoran dengan sepuluh jemari kaki mau menggaruk langit dan punggung kaki yang penuh lintah. Semakin jelas. Ia bukan hantu. Meski baunya persis cacing tanah.

Kenapa hantu kebanyakan digambarkan dengan dua warna saja. Hitam putih. Kenapa tak abu-abu. Pertanyaan itu membatu. Menunggui pantat yang siap menduduki. Lihat, ia masih bisu seperti batu yang abu-abu.

Pepohonan makin merangkul. Memaksanya menghidu udara kematian. Meremas paru-parunya yang ternyata telah berpuluh-puluh tahun bergelayutan pada rating rapuh. Ah, malam selalu menyimpan rahasia. Ia yang kini tak lagi mendamba cahaya. Apalagi gelap sedari janin menyelaputi binar matanya yang, kini diitari keriput abadi. Ia hanya ingin mencari sebongkah batu abu-abu dengan meraba. Untuk pusara yang nanti menduduki jenazahnya.

Rimba kembali semati batu. Hanya Otus yang benar-benar mengenalinya. Ia bukan jantan, bukan betina. Ia abu-abu.

Powered by Telkomsel BlackBerry®







Tuesday, October 15, 2013

Inisial KG Untuk Tiga Nama (Perjumpaanku dengan Bang KG)

Ada yang menggelinjang di dalam dada saat dikabari Papa Attar (sapaanku buat Ahmad Alheid) sedari pagi kemarin, kalau ia akan berkunjung ke Kotamobagu untuk sekadar bertemu, bertepuk dada dan merangkul punggung kawan purbanya Katamsi Ginano yang saat ini sedang mudik Lebaran Qurban.

Aku bakalan ketemu sekaligus dengan para "Dewa" tinta ini, pikirku. Juga dengan istri dan putra semata wayangnya Papa Attar: Rini dan Attar. Aku memanggil anak ini "Attar si Penyair" sebab namanya yang mirip penyair sufi dari Persia. Melihat Attar jadi ingat Abang dan Ateng putranya Amato Assagaf yang, kemarin malam ikut begadang dengan kami di Rumah Kopi Korot.

Mereka, adalah "kebetulan-kebetulan" lainnya yang Tuhan Maha Kebetulan remah-rotikan di takdir hidupku. Cerita kisah mereka tinggal kupunguti satu-satu dan kukantongi. Selalu kusimpan untuk membantu menuntunku ke arah pulang kelak. Aku jatuh cinta dengan cara Tuhan mempertemukan kami. Direkatkan lewat tulisan yang menggetah. Getah Semesta.

Akhirnya, KG dan KG ketemu juga. Inisial KG yang pertama untuk diriku sendiri, Kristianto Galuwo. Sedangkan KG yang kedua untuk Katamsi Ginano.

"Nah, ini dia baru da cumu-cumu tadi, umur panjang skali ni Sigidad," ujarnya yang terbahasa klasik dan digagap-gemakan beberapa orang lainnya. Batinku menyahut; ini dia si empu blog Kronik Mongondow yang serupa penyakit kronis bagi para pejabat "nakal" di BMR.

Kami pun bersalaman, disusul kepalan tinju kanannya menantang akrab. Kuseruduk saja dengan kepalan childhood-ku. Tak lupa kucondongkan badanku ke samping kanannya, berjabat tangan dengan Papa Attar yang juga telah lebih dulu hadir di sana. Lanjut bersalaman dengan Abang Uling (sapaku untuk Musly Mokoginta) yang ternyata turut larut juga bersama mereka. Sementara yang lainnya, coba kulemparkan senyum satu-satu dan terbalas akrab.

Setelah dipersilakan duduk, kusapu sekeliling sekali lagi. Jarod meriuh dengan para awak media. Pembicaraan mereka yang sempat terhenti dilanjutkan. Bang KG (sapaku untuknya) dengan gaya serupa konduktor memimpin orkestra menarikku masuk ke cerita dan membaur seketika. Gestur tubuhnya menghidupkan opera di bilik bambu Jarod. Pun guyonan ala Bang KG yang versi verbalnya baru kini bisa kudengar, menggelitik urat tawa kami.

Larut luruh kami mendengar sabdanya. Dari kisah para penulis cerpen tenar lengkap dengan perjalanan hidup mereka yang tak terduga, seperti A.S Laksana dan buku kumpulan cerpennya Bidadari Yang Mengembara, dan ternyata adalah kawan baiknya. Hingga ke negeri Matahari menemui Eiji Yoshikawa dengan karya besarnya Musashi. Tak lupa wejangan bagi kami para pewarta yang masih liat.

Waktu kami reriungan di Jarod habis. Tapi tidak dengan malam ini, selanjutnya kami ditawari untuk bersantap bebek di rumahnya Syarif, salah satu kawan akrab mereka yang tadi juga duduk bersama kami. Setelah saling bertukar buku dengan Papa Attar yang meminjami aku buku: Elemen Elemen Jurnalisme, Bill Kovach & Tom Rosenstiel, kami bergegas merapat ke rumahnya Syarif.

Bang KG, Papa Attar, dan Syarif lebih dulu jalan. Dan ternyata ada tugas yang lumayan mengucurkan keringat menunggu mereka di sana. Rumah tetangga Syarif yang berdampingan dan baru saja akan dibangun, nyaris saja kebakaran.

Kami menemukan mereka dan beberapa rekan lainnya yang berjibaku memadamkan kobaran api, masih mengitari lokasi. Tampak tumpukan arang kayu berserakan masih mengepulkan asap, dan sisa jelaga menjilati dinding pagar pembatas rumah yang terbuat dari atap seng.

Di depan rumah, sambil menyeka keringat Papa Attar bercerita kepadaku; "Kitorang turung di got di muka situ ba timba aer tadi, Bang Tamsi yang lebe dulu lari ka blakang kong ba sirang."

Mendengar cerita Papa Attar dengan napas memburu, meminjam sedikit kata-kata Dewi Lestari: tampaknya selain menulis, gali kubur, narik becak, pekerjaan memadamkan kebakaran sangat membutuhkan asupan kalori yang cukup tinggi. Salut untuk sikap heroik mereka.

Setelah lelah mendaras kasus kebakaran itu. Lapar mengerang. Kini ada yang menggoda di meja makan: ubi rebus dan bebek rampah-rampah RW. Bulir-bulir keringat turun bersamaan dengan senda gurau kami yang duduk melantai di ubin dingin.

Keadaan terus sama hingga kami menandaskan segala apa yang di atas meja makan. Kemudian melanjutkan cerita yang bahkan sempat menyentuh wilayah langit Ilahi. Posisi duduk kami yang melingkar di lantai, bersila, selonjoran, dan jika saja ada beberapa nyala lilin, kami lebih mirip sekte sesat yang sedang melakukan ritual sambil mendengar rapalan mantra-mantra dari rahib.

Iblis pun disebut-sebut malam itu. Aku teringat sebuah cerita yang pernah kubaca (aku lupa judul bukunya) tentang iblis. Iblis ini kondisinya tengah sekarat. Seorang pendeta yang tak sengaja berjumpa dengannya, kemudian terkesiap dan mengeluarkan pedang. Pendeta akan membunuhnya. Iblis berkata tunggu, sebelum membunuh, biarkan ia bercerita banyak. Iblis kemudian bertutur panjang lebar tentang betapa penting arti dirinya bagi kehidupan, bagi manusia, dan juga bagi si pendeta. Iblis bertanya, "Katakan padaku wahai pendeta, apakah yang akan mendorongmu untuk tetap beribadah, jika aku mati kelak?" pendeta kebingungan menjawabnya dan akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan si iblis. Ia membasuh luka iblis dan membopongnya ke tempat di mana ia bisa dirawat.

Yang kuingat dari cerita di atas hanya penulisnya saja, Kahlil Gibran. Jika diinisialkan maka ia KG yang ketiga.

Masih banyak lagi topik pembicaraan malam itu. Dan... waktu yang mempertemukan, waktu pula yang menyentil erat jabat agar jangan terlalu lama menggenggam. Setelah itu, apalagi yang bisa ditawarkan oleh waktu dan "kebetulan" lainnya?

Tepukan Bang KG di pundakku sembari melafadzkan sepotong kalimat suci: "Teruslah menulis, itu hidupmu" membikinku menggigil seperti ketika Ahmad pertama kali mendengar ucapan Jibril. Antara baca dan tulis. Keduanyalah yang membedakan kita dengan makhluk Tuhan lainnya di muka bumi. Superioritas kita sebagai manusia.

Kembali kepalan tinju diarahkan. Kemudian pintu geser mobil menutup pelan dengan jendela kaca yang masih terbuka. Teriakku; "Tu oto bagus pake ba culik akang Bang!" dan disahutinya, "Memang itu!"

Bang KG melaju dengan mobil itu, membelah malam Kotamobagu dan kembali pergi mencuri jutaan kata yang, siap dirajutnya menjadi selimut agar tidurnya tetap selalu lelap. Sebab apa yang paling berharga dalam hidup adalah: saat kita mampu membuat nyaman diri kita, meski itu hanya dengan sehelai selimut usang.

Damai di bumi
Damai di langit
Damai kami sepanjang hari.

Sunday, October 13, 2013

SIGI



Bapaknya Kristianto, ibunya bulan pucat yang selalu cemas di tepi langit. Ketika hujan memberi arti pada warna merah, keduanya menikah. Setelah itu tidak ada lagi yang bisa diceritakan tentang mereka kecuali bahwa dengan duka yang nyaris mengusaikan harapan, gadis itu pun lahir. Mereka menamakannya Sigi. Artinya, sekali tercipta sudah itu abadi.

Aku mencintai Sigi tanpa tahu kenapa. Dalam bahasa psikoanalisa Slavoj Zizek, aku memiliki jawaban bagi setiap kerinduanku akan Sigi tanpa pernah benar-benar tahu apa yang sesungguhnya menjadi pertanyaan. Sigi adalah jawaban itu sendiri; simptom yang menjalin batas antara kesadaran dan ketidaksadaranku. Tapi apa yang menjadi pertanyaan bagi kehadirannya?

Di penghujung malam, di penghujung mimpi, ketika embun gemetar oleh tiupan angin dan fajar mengintai seperti kebangkitan kembali ide komunisme dalam kepala Badiou, aku mencoba untuk menuliskan biografi perkenalanku dengan Sigi. Aku menemukan 66 episode perkenalan yang dibagi oleh persinggahan-persinggahan kami. Dalam perjalanan yang cukup panjang sebuah biografi memerlukan kemampuan kita untuk memungut kembali remah-remah ingatan.

Sigi tidak berdiam dalam ingatanku padanya tapi dalam biografi perkenalan yang aku ciptakan dengan ingatan yang kabur akan masa laluku sendiri; itulah kenapa kita bisa menerima gagasan yang buruk tentang cinta, kerinduan, juga harapan. Dan di penghujung malam itu, setelah bangkit dari bunuh diri yang melelahkan, aku mulai menulis. Suasana tetap sepi seperti cuaca hari itu. Dari dalam kepala, samar-samar aku dengar suara Lionel Ritchie.


Episode Eropa yang Pertama
Hello…
Isn't me you're looking for?
(Lionel Ritchie)

Aku mengenal Sigi pertama kalinya sebagai seorang gadis yang menghitung cahaya di permukaan riak sungai Rheine. Rambutnya ikal dan senyumnya bersimpul. Waktu itu, dia duduk dekat pintu rumah kopi bertuliskan kutipan sebuah puisi Jerman pra-Goethe. "Aku orang Mongondow," katanya dengan jemari yang kering. Musim belum beranjak, masih panas yang sama meski kali ini tanpa matahari.

"Sigi," aku mencoba untuk mengulang nama itu dan secara refleks mengembalikan ingatanku pada cara Edward de Verre melukiskan Juliet lewat lidah Romeo. Mata aristokrasi tidak bisa santun menatap kecantikan seorang perempuan tapi mereka punya banyak kata untuk menangkap jiwa dari kecantikan itu sendiri. Lengkap dengan luka-lukanya. "Aku seorang bohemian," kataku memperkenalkan diri.

Setengah jam berikutnya adalah sebuah kisah cinta.

Aku memesan dua cangkir latte. Satu cangkir untukku dan satu cangkir lagi untuk memberiku alasan mengenang Sigi serta kehadirannya yang luput dari semua puisi yang pernah aku tulis. Sigi mengangkat wajahnya dari busa cappuccino, menyalakan rokok dan melepaskan resahnya bersama asap putih yang keluar dari mulutnya. Wajahnya datar tanpa senyum namun cintanya berlarian seperti kanak-kanak.

Kami bercerita tentang begitu banyak hal sembari tetap menjaga jarak dari biografi masing-masing. Cinta memang selalu menghapus biografi pecinta dan yang dicinta dari pembicaraan. Memberi kita begitu banyak kesempatan untuk mengikis pelan-pelan perjumbuhan akal sehat dengan kenyataan. Menjadi metafisika yang kehilangan subyek dan mempertaruhkan segalanya pada Ada tanpa harus menghitung waktu.

Di Jerman, para filsuf pecinta seperti Nietzsche dan Heidegger, telah menuliskan dengan alir Rheine yang sama bagaimana aku akan bertemu Sigi dan melumat sejarah ke dalam bahasa. Membunuh perjumpaan demi ingatan akan Ada, seperti cara dua orang berbeda sia-sia melukiskan pertemuan yang sama dalam tafsiran hermeneutis. Sigi tampak bosan pada ujung rambutnya. Mengusirnya ke punggung lewat bahunya yang mungil. Tangan kanannya menjemput cangkir cappuccino sementara tangan kirinya menuntun aku keluar dari kenyataan.

Angin berhembus dingin di musim panas Eropa yang semu, memerahkan hidung melayu Sigi. Membuatnya tampak seperti tuhan-tuhan perempuan dalam cerita pagan kaum Aria sebelum Hitler gagal menangkap keunggulan ras kulit putih dalam perang yang mempersatukan rasionalitas Eropa menjadi Filsafat Kontinental Modern, lengkap dengan kelupaan mereka pada tuhan-tuhan perempuan berwajah Asia seperti Sigi.


Episode Eropa yang Kedua
Lady…
Your love is the only love I need
(Lionel Ritchie)


Masih di Jerman. Negeri yang mempersembahkan padaku Kant, Fichte, Schelling dan Hegel dalam satu paket yang utuh meski gagal disimpulkan di benak Nietzsche. Namun ini adalah cerita lain tentang Sigi. Aku mengenalnya sebagai seorang perempuan yang menukar kecantikannya dengan kalimat pertama dari poin 360 dalam karya Hegel Phenomenology of Spirit yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A. V. Miller dan diterbitkan Oxford University Press tahun 1977:

"Self-consciousness which, on the whole, knows itself to be reality, has its object in its own self, but as an object which initially is merely for self-consciousness, and does not as yet possess [objective] being which confronts it as a reality other than its own; and self-consciousness, by behaving as a being-for-it-self, aims to see itself as another independent being."

Sigi membiarkan langkahnya membawa tubuhnya yang kurus terbungkus jaket bulu panjang, perlahan menyusuri jalan sepi Messkirch, Baden-Wurttemburg untuk menangkap cintaku di desa kelahiran Heidegger itu. Bukan tanpa alasan kami berada di situ dan berharap bisa mencintai satu dengan yang lain dengan cara seperti itu. Karena jika kesadaran-diri dapat mengenali dirinya sebagai obyek bagi kesadaran-diri itu sendiri, lalu kenapa aku selalu gagal mengenali Sigi dalam kenyataan dirinya?

Jawabannya aku temukan di belokan satu blok dari tempat Heidegger memutuskan untuk mengenali Ada. Dialektika telah gagal dalam langkah Sigi. Kecantikannya akan tetap tinggal, bersama dengan keperempuanannya, dalam tema ontologis yang ditinggalkan Hegel bagi Heidegger: dialektika buntung tesis-antitesis yang selalu berarti Ada dan bagaimana Sigi meninggalkan aku di persimpangan itu. Kami akan selalu bertemu meski tanpa sublasi.

Bunyi derak daun jendela toko kelontong Messkirch terdengar seperti irama lagu Love is Blue dalam instrumentalia Paul Mauriat ketika Sigi menjauh dariku. Lengang seperti cakrawala dan aku menemukan air mataku berubah menjadi Jerman yang asing di dalam kepala para filsuf Yahudi di tahun 1940an. Rasionalisme Hegelian telah gagal dua kali, pertama, di kamp-kamp konsentrasi Nazi dan, kedua, di cakrawala yang menelan tubuh Sigi menjadi titik dalam buku puisi Dante Alighieri yang terlambat aku baca.

Seminggu setelah itu adalah sebuah puisi cinta.

Namun Sigi tidak bersedih karena dia adalah hiburan bagi dirinya sendiri. Dia telah menjadi proses seperti Ruh Absolut Hegel. Dia telah menjadi perubahan itu sendiri. Kekal dalam zaman yang berulang sebagai bahasa bagi cinta yang aku tinggalkan di Freiburg seminggu sebelum aku meninggalkan Jerman menuju halaman 115 dari Philosophical Explanations karya Robert Nozick yang diterbitkan tahun 1981 oleh The Belknap Press: WHY IS THERE SOMETHING RATHER THAN NOTHING?


Episode Eropa yang Ketiga
And I…
I want to show you all my love
(Lionel Ritchie)


Bagaimanapun juga, yang nyata tidak selalu masuk di akal dan yang masuk di akal tidak selalu nyata, seperti Sigi. Seperti juga cinta tidak selalu dari dan untuk cinta. Kali ini aku berada di pelataran Plaza de Chateau, Paris. Sekitar tiga meter dari tempat Sigi duduk mendengarkan musik pop Amerika yang dibawakan lamat-lamat oleh seorang violis Perancis berdarah Aljazair. Sigi menundukkan punggungnya saat suara biola itu mengiris kenangannya akan masa lalu yang jauh di Bolaang Mongondow.

Aku mengenalnya waktu itu sebagai seorang perempuan asing. Dan ketika kami sudah punya cukup alasan untuk janji makan malam, aku lupa bahwa tidak pernah ada lilin untuk mata Sigi yang selalu basah. Waktu itu kapitalisme telah memperkaya miliaran orang dan menggusarkan para pecinta negara yang semakin payah dalam simulakra tanda. Kami juga berbincang tentang libertarianisme sebagai pilihan ideologis terakhir yang paling masuk di akal bagi eksistensi umat manusia hari ini. Makan malam yang indah untuk mengenang pembebasan Thomas Paine dari penjara kaum Jacobin Perancis dengan seorang gadis bermata basah.

Sigi suka sekali menulis semua perbincangan kami dan melemparkannya ke udara dan membiarkan kertas-kertas itu terbang di udara Perancis musim gugur. Lalu kami melewatkan banyak malam berikutnya dengan film-film Perancis yang ragu-ragu dari Goddard hingga Noe. Dalam pantulan cahaya film-film itulah aku mencoba untuk melukis kembali Sigi sebagai seorang perempuan yang berbeda yang, ketika pagi datang lewat jendela motel tempat aku menginap, berubah menjadi bocah mungil dengan lidah merah jambu.

Beberapa detik kemudian adalah sebuah kemungkinan.

Berapa kalipun aku mengenal Sigi, dia tetap saja Sigi yang sama yang hanya aku kenal dari foto-foto lucu dan tato di tubuh bapaknya. Dia adalah putriku yang telah diculik takdir karena aku tercipta dari api dan Sigi tercipta dari cahaya. Dia adalah penggal demi penggal imajinasi dalam upayaku mengenal hidupku sendiri di batas pertemuan paling luar dari seni dan filsafat. Dia adalah puisi dialektika Hegel yang gagal membaca sejarah tapi mampu mengulang Ada.

Ya, Sigi adalah putriku yang telah diculik oleh takdir yang sama yang telah mempertemukan bapaknya dengan bulan pucat yang selalu cemas di tepi langit.


Manado 2013

Amato Assagaf

Saturday, October 5, 2013

My Bad Grandpa

Apa kenangan terindahmu dengan sosok kakek?

Beruntung bagi kalian yang masih bisa mencicipi kenangan itu. Tidak denganku, yang bahkan diberi kesempatan untuk mengenalnya pun tak pernah. Terlahir terlalu bungsu dalam keluarga memang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Kita bisa dimanjakan kedua orang tua dan keluarga tapi tidak oleh kenangan yang purba.

Kenapa hari ini aku begitu ingat dengan sosok itu?

Berawal dari duka dari seorang tetangga kemarin sore yang masih memiliki tali persaudaran yang erat dengaku. Seorang kakek dari teman, sanak saudara sekaligus suami dari adik kakekku. Turut berduka cita aku haturkan untuk kalian. Semoga arwah beliau diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT.
Tiba-tiba saja ada yang mengusik asik di pikiranku, bahwa meski mereka telah kehilangan, tapi jauh di lubuk hati terdalam mereka, ada kenangan yang pernah mereka miliki. Bungsu sepertiku tak pernah hidup dengan sosok kakek dari pihak ayah maupun ibu.

Dan karena kebetulan yang seketika terjadi semalam saat ditayangkan di salah satu tivi swasta iklan sebuah film bergenre komedi terbaru dari Jackass Present berjudul Bad Grandpa yang akan tayang Okotober ini. Sinopsis Jackass Presents: Bad Grandpa 2013: Irving Zisman (Johnny Knoxville) seorang kakek 86 tahun berada dalam perjalanan mengelilingi Amerika bersama sahabat terbaik, yaitu Cucu-nya yang berusia 8 tahun, Billy (Jackson Nicholl). Film ini tentang Irving Zisman dan Billy yang akan membuat penonton melihat hal-hal paling gila yang mereka lakukan saat terekam kamera tersembunyi, perjalanan seru dan kekonyolan mereka yang pernah tertangkap di kamera.
Orang-orang nyata dalam situasi nyata, membuat film ini benar-benar kacau dan penuh komedi. http://optionradar.blogspot.ca/2013/09/film-jackass-presents-bad-grandpa-2013-di-bioskop.html

Mengenai kakekku, ada satu pesan dari kemisteriusan marga Galuwo yang kini bersanding di namaku. Bahwa berpetualanglah dalam hidup. Kita boleh terlahir di suatu tempat, tapi hal yang terhebat saat kita tumbuh besar, dikenal, dan kemudian wafat di tempat yang berbeda nantinya.

Pernah aku mencoba menelusuri sejarah marga Galuwo hingga menemukan jalan buntu. Menggelung kisah-kisah dari ayah sekaligus keluargaku, mencoba menemukan ujung benang kusut dari marga ini. Dan niatku pun tertahan. Mungkin alangkah lebih baik, ada satu misteri yang tak perlu terungkap. Seperti yang tersisa dalam kotak Pandora. Sebuah harapan.

Sebuah keajaiban yang terjadi di hidupku hari ini. Saat aku merasa bahwa, meski tak pernah memiliki pun kita mampu merasakan kenangan itu. Imajinasi adalah sebuah bentuk nyata di dunianya sendiri.

Selalu merindumu Kakek M. Galuwo. Karena untuk apa sebuah kemisteriusan sosokmu dan leluhurku, jika darahmu mengalir membaur dalam darahku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, October 1, 2013

Puisi Selamat Ultah Buat Komdan Aca'

Selamat Ulang Tahun

Selamat hari di mana kau dilahirkan dari gua garba yang maha suci Ibundamu.
Yang kamu, dia, kita dan mereka selalu junjung hingga dunia diluluh lantakkan.

Selamat hari dan tahun yang berbeda, tapi bulan dan tanggal yang sama, di mana kamu diluaskan dari sempitnya "rumah rahim" Ibundamu.

Selamat hari ketika tangisanmu menjahit luka dari penantian kedua orang tuamu dan tangisanmu yang merangkul tawa dan tangis sekaligus.

Selamat Hari Ulang Tahun Bung Aca'

Doa kami tak seluas laut Mediterania dan tak sepanjang sungai Nil.

Hanya... Semoga segala doa dan keinginanmu akan melesat tinggi di angkasa raya, mencuri bintang-bintang dan naik ke atas langit hingga lapis terakhir langit ILAHI.

#Cheeerrsssss

Powered by Telkomsel BlackBerry®