Saturday, November 30, 2013

Cekung dan Cembung

Kamu tahu, benda-benda cekung di sekeliling kamarku? Atau ini semua hanya ilusi dari dua-tiga dimensi? Atau... Apa itu yang ada di genggamanmu? Benda cembung itu. Coba kamu telisik seksama; ada cetak digit angka, inisial, cetak huruf, atau nama. Apa itu? Kode ACT? Ah, silahkan ke Wiki.

Air. Yah, dahaga seringkali meni-rrr-up (lidah leluhur saya bergetar) tenggorokan. Lalu celingukan bukan sedang mencari-cari (dengan slow motion). Sesuatu sedang meradang di dalam batang leher. Kemudian tenggelam.

Mendadak dunia cekung menikung, cembung
menggembung... Dan semuanya kembali datar ― tergenang ― begitu tenang. Ini aneh, kenapa tak direngut saja cekung mata anak busung lapar tadi? Oh, atau kamu sudah jadi anak angkatnya si Carlos Slim Helu. Aku tahu, ia menghubungiku kemarin.
Seperti kemarin, yang habis, dan terjual. Masa selalu hadir beraneka corak. Ragam budaya, ragam basantara, dan jutaan butir pasir di atas timbangan beras. Eh, ngomong apa kamu? Mabuk? Iya, saya mabuk, tapi bukan dengan pasir! Tapi ini dari perasan beras, kenapa kamu marah? Sok, religi? Kamu tahu ballo? Itu beras, kamu makan beras? Tutup mulutmu! Ini pelepah kurma. Kamu bingung, kan? Kenapa Dewi Sri duduk selonjoran di pematang Jawa? Ia tersesat kesana karena mabuk.

Si anak angkatnya Carlos kini sedang mencangkul. Dengan mata melotot ― cembung. Ia mulai dari bertanya. Tanah itu kalau disemai bisa hamil? Perutnya bisa cembung? Apa sih, bedanya cekung sama cembung? Cangkul sontak menjawab: Itu tergantung bagaimana caramu mencangkul. Mencangkul kan bikin tanah cekung, tapi gundukan tanah di belakangmu jadi cembung. Mencangkul dan tertimbun. Bingung. Pah! Cangkul bisa bicara? Tunggu dulu. Itu di internet. Ternyata ia sedang main games FarmVille. Sial.

Hei! Kamu. Ingat yang kemarin? Iya, benar... Yang kemarin, ada dua perempuan sedang kebingungan saat belanja kutang. Kamu ingat? Sewaktu lengan mereka turun ke saku, tampak siang dengan segera berubah sore. Kamu melihatnya di mana? Kita, kita melihatnya di internet. Aih!
Sudah jam berapa? Sudah jam lima. Sebaiknya kamu pergi saja, ada makanan di meja. Kalau besok kamu melihat yang cekung-cembung. Kamu ajak saya. Saya mau mencangkul. Sebaiknya kamu pergi.

Satu huruf, tiga kata, lima baris kalimat, tiga paragraf, lima bab, satu buku. Tanpa tanda baca. Aku menulisnya kala cegukan, dan tersihir begitu saja. Tiba-tiba ada. Bodoh! Mabuk!

Ah, si maling kutang!

Powered by Telkomsel BlackBerry®






Wednesday, November 27, 2013

Kemarau di Negeri Kikuka (Dongeng untuk Sigi)

Di sebuah negeri yang bernama Kikuka. Negeri yang hanya dihidupi hewan-hewan berawalan huruf K. Hanya ada Kelinci, Keledai, Kancil, Kalajengking, Kerbau, Kepiting, dan hewan berawalan huruf K lainnya.

Pada suatu hari yang kemarau, dua hewan berbeda spesies sedang terlibat pembicaraan soal panas matahari yang semakin membakar bumi.

Kelinci bertanya, "Kau tahu Keledai, kenapa bumi semakin panas, dan matahari seperti sudah di atas kepala kita?"

"Kau salah bertanya Kelinci, aku hewan yang pandir. Coba kau tanyakan kepada Kancil, ia sangat cerdik, dan pasti pintar, dan bisa menjawab." jawab si Keledai sembari terus melahap rerumputan.

Kelinci bergegas pergi ke sungai yang tak jauh letaknya dari tempat mereka berada. Benar juga, ada Kancil di sana sedang menyesap air sungai yang tampak kabur dan hanya sedikit itu.

"Hei! Kancil!" teriak Kelinci yang membuat kaget Kancil.

Dengan mata memicing dan sungut hidung yang masih basah, Kancil itu menyahut, "Ada apa Kelinci? Sudah berapa batang wortel yang kau habiskan, kemudian merasa haus dan datang kesini?"

"Aku tidak sedang haus, tapi aku ingin bertanya," jelas Kelinci.

Dahi Kancil mengerut dan saling merangkul, "Pertanyaan apakah itu gerangan?"

"Kenapa bumi semakin panas ya?"

"Oh, soal itu, mari kujelaskan di sana," ajak Kancil ke salah satu pohon besar di tepi sungai. Pohon yang masih rimbun di tengah musim kemarau.

"Kau tahu Kelinci, bumi kita mempunyai lapisan ozon yang berguna menyaring cahaya matahari," Kancil mulai bercerita.

"Nah, kamu lihat rimbun dedaunan pohon ini," lanjut Kancil sambil menengadah, yang diikuti pula oleh Kelinci.

"Dedaunan itu memiliki fungsi yang hampir sama dengan lapisan ozon,"

Kini dahi Kelinci yang dipenuhi bulu tebal terlihat saling merangkul, tapi kedua telinga besarnya tetap berdiri tegak. Siaga. "Tunggu dulu, apa hubungannya?"

"Biar kulanjutkan. Dedaunan itu melindungi kita dari panas matahari, bukan? Coba saja kalau dedaunan itu tidak ada, pasti kita akan merasakan panas terik matahari langsung mengenai kulit kita."
Anggukan dari Kelinci sebagai tanda ia mulai paham dengan apa yang dijelaskan oleh Kancil.

"Lantas apa yang membuat daun-daun itu gugur, kalau contohnya yang pohon tadi?" tanya Kelinci lagi.

"Ini semua perbuatan manusia, coba kau ke perkotaan, karbon monoksida dari asap kendaraan di sana, kepulan asap dari pabrik-pabrik, dan masih banyak lagi hal lainnya yang menyebabkan lapisan ozon itu menipis, atau parahnya hingga berlubang. Lihat pohon ini, coba kamu memelihara api di bawahnya, kepulan asapnya pasti akan membuat daun-daun layu dan gugur,"
Penjelasan Kancil itu membikin Kelinci meringis dan terlihat gigi depannya makin menonjol keluar.

"Kau tahu Kelinci. Kalau pepohonan di hutan ini juga ditebang. Itu juga bisa mengakibatkan lapisan ozon menipis, karena tetumbuhan itu menyerap karbon yang dilepaskan oleh kendaraan atau kepulan asap pabrik-pabrik tadi," jelas Kancil dengan nada sedih, sambil memandang pepohonan yang membentang di hadapan mereka.

Tak lama kemudian Kepiting dengan langkah khasnya datang menghampiri mereka berdua.

"Sedang apa kalian? Pacaran ya? Tak bisa kubayangkan kalau nanti bayi kalian nanti jadi makhluk apa," sapa Kepiting dengan gurauan.

"Nah, ini dia salah satu hewan yang nanti jadi korban penipisan lapisan ozon," kata Kancil.

"Apa hubungannya denganku?"

"Kami sedang membahas soal lapisan ozon, dan kamu Kepiting, salah satu hewan yang paling terkena dampak buruk jika radiasi ultra violet nantinya berlebih," jelas Kancil.

"Aku kan punya cangkang untuk berlindung," jawab Kepiting dengan pongah.

"Justru cangkangmu itu yang nanti akan berubah menjadi penggorengan,"

Kepiting mengatupkan kedua capitnya. "Bikin ngeri saja kau Kancil!"

"Iya, apa yang dikatakan Kancil itu benar," kata Kelinci.

"Kenapa kau bisa sampai kesini?" tanya Kancil.

"Di pantai panasnya memang makin menjadi,"

"Ah, andai saja lautan itu tak asin," harap Kancil, agar ia bisa minum sepuasnya.

Dari seberang terlihat Kerbau, Keledai, dan Kalajengking datang mendekati mereka.

"Kata Keledai, kalian sedang bicara soal cuaca ya?" tanya Kerbau sesampainya.

"Iya, cuaca yang semakin panas. Lihat saja sungai itu makin kering," ujar Kancil sambil menunjuk ke arah sungai dengan moncongnya.

Kalajengking turut membaur bersama mereka, "Tapi aku baik-baik saja, cuaca panas sudah biasa bagiku," katanya angkuh.

"Hei! Kalajengking, bagimu biasa, tapi tidak dengan kami," teriak Kepiting geram. "Kalau kau kesini mau duel, sini denganku! Kita beradu capit di sini!" lanjutnya sengit.

"Hei, hei, tenang dulu kawan. Kita di sini sedang ingin membahas persoalan yang dampak buruknya untuk kita semua. Kamu juga Kalajengking, meski kamu sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini, tapi apakah kamu mampu bertahan jika hutan ini terbakar habis karena panas matahari yang berlebihan?" Kancil coba menenangkan suasana yang mulai memanas itu.

Keledai yang sedari tadi bungkam memilih bersuara, "Kalian ini kenapa? Kita sama-sama hewan tapi membicarakan soal kerusakan bumi ini yang diakibatkan ulah manusia, dan hanya manusia itu sendiri yang bisa mengatasinya."

Semua terdiam mendengar ucapan Keledai barusan.

"Sebaiknya kita pergi saja mencari makan dan minum, untuk membuat kita tetap bertahan hidup. Dan untuk Kalajengking dan Kepiting, sebaiknya capit kalian digunakan untuk mencari mangsa saja, bukan untuk diadu," nasehat Keledai.

Sejurus kemudian, mereka beranjak pergi dengan kepala tertunduk. Kepiting dan Kalajengking berjalan dengan saling bergandengan capit. Kepiting yang cara khasnya berjalan ke kiri, ke kanan itu, menyeret Kalajengking bersamanya. Melihat kejadian lucu itu. Kelinci, Kancil, Kerbau, dan Keledai tertawa lepas. Kepiting dan Kalajengking menoleh ke belakang, dan ikut pula tertawa.

Ah, andai saja manusia bisa tertawa layaknya mereka.

Akh! Pologi

Sebagai seorang blogger, tentu saja saya pemerhati tulisan-tulisan yang malang melintang, membuana, di jagad semesta maya ini. Dan saat tulisannya Eko Paputungan nyungsep ke dalam kolom chat saya lewat BC. Jempol saya tentu sangat tertarik untuk menekan enter (ta lebet).

Wuih! Kaget bukan kepalang saat membaca tulisan tanggapan Eko yang sebagai Ketua HMI Bolmong (http://ekspap.blogspot.ca/2013/11/yukur-moanto-kakanda-katamsi-tapi-ide.html?m=1) atas tulisan Bang KG (Katamsi Ginano) kemarin di blog Kronik Mongondow (http://www.kronikmongondow.blogspot.ca/2013/11/gerombolan-itu-bernama-hmi-bolmong-raya.html?m=1).

Sewaktu saya membaca tulisan Bang KG kemarin, yang menyoal demo HMI Bolmong, Senin (25/11), yang datang "menjambani" rudis Walikota. Sebenarnya bukan tonteek-tonteek dan loleke di tulisannya yang sinisme itu ― yang perlu diperhatikan. Tapi kritikannya atas tindakan trespassing (masuk tanpa izin) yang dilakukan sekumpulan pendemo ke halaman rudis Walikota. Di desa saya di Passi, orang yang masuk tanpa izin, "so salah dua-A, adat deng aturan (hukum)". Tentu saja bukan hanya itu substansi dari tulisan Bang KG. Dan saya akan terus mengikuti "debat" blog kalian nantinya (hitung-hitung dapat ilmu).

Tulisan ini bukan bentuk apologi kami (lintasbmr.com). Ini pure datang dari gelinjang dodobku, karena nama media tempat saya mengais rezeki disebut-sebut dalam tulisan Eko. Menyoal carep yang salah menginformasikan, atau salah memberi data berita kepada redaktur kami. Dan yang lucunya juga, carep yang meliput demo itu terdaftar sebagai anggota himpunan yang dipimpin Eko itu sendiri. Tapi tentu saja bukan ke-organisasian itu yang menjadi soal, dan sebagai patner kerja, saya akan membela, karena data yang sudah teman saya kirimkan tak ada satu pun kesalahan.

Di tulisan Eko, redaktur kami Uwin Mokodongan memberi komentar: "Bung Eko, ada sepenggal jawaban yang saya sisipkan di sini, terkait kebingungan Anda soal pemberitaan lintasbmr.com yang menurut Bung keliru. Saya mulai lewat kutipan ini: "... hal itu terjadi ketika pihak Satpol PP Pemkot KK yang dikepalai Sahaya Mokoginta hendak mengamankan massa pendemo yang memasuki Rumah Dinas Walikota" dan "… massa demonstran mulai berarak memasuki halaman Rumah Dinas Walikota."

Jawaban Uwin adalah: "Data yang kami dapatkan melalui wartawan saat meliput langsung demonstrasi HMI Bolmong Raya, adalah demikian. Saya bentangkan kutipannya: "... berdasarkan pantauan lintasbmr.com di lokasi demonstrasi, hal itu terjadi ketika pihak Satpol PP Pemkot KK yang dikepalai Sahaya Mokoginta hendak mengamankan massa pendemo yang memasuki Rumah Dinas Walikota."

Selanjutnya: "... saat massa demonstran tiba di kantor Pemkot KK, mereka kecewa karena Walikota dan Wakil Walikota tidak berada di tempat karena tengah menghadiri acara yang dilaksanakan PGRI Kotamobagu di Gedung Siti Barokah. Geram karena Walikota tak berada di kantor, massa demonstran akhirnya memilih berarak ke rumah dinas Walikota yang terletak hanya beberapa meter dari kantor Pemkot KK. Mereka bergerak ke rumah dinas sembari terus berorasi."

Pertanyaan Uwin: "Mana data yang salah di atas yang membuat Bung garuk-garuk kepala? Dan mengatakan tak ada kesesuaian antara fakta lapangan dan pemberitaan?

Ah, Eko... Saya ingin membaur sedikit, soal hujat-menghujat, sepertinya Anda lebih paham soal itu, karena BC Anda kemarin, saya tak mungkin keliru menyimak nama salah satu hewan disebut.

Hahahaha.... "Jangan meludah melawan angin!" cubit Nietzsche.

Dan untuk fabel, "Udang bicara Kepiting, ketika dibakar sama-sama berubah warna menjadi merah," yang Anda artikan sebagai: "Mengkritik orang lain padahal diri sendiri masih sering melanggarnya."

Saya tidak akan menggaruk-garuk kepala untuk itu. Tepok jidat!

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, November 23, 2013

Patung Bogani

Hiruk-pikuk Kota Kotamobagu dengan terik matahari yang bertengger di ubun-ubun pada pukul dua belas siang, memantik didih yang memuaikan segala baja. Tapi tidak dengan sebuah patung yang berada tepat di pertigaan Osion, Kotobangon. Meski bersikutan dengan seutas jembatan yang di bawahnya ada alir sungai, tak membuatnya tampak segar. Tapi ia tetap terlihat tegar.

Patung Bogani. Fatamorgana yang meruap sebab panas kulit aspal, memanggangnya dan menghanguskan seketika jamur-jamur musim penghujan yang menyelimuti dan melumuti kulitnya. Cat kecoklatan dan purba di sekujur tubuhnya seperti mengisyaratkan: aku sejarah yang terlupakan, aku hanya seonggok patung yang ter-vandalis oleh ketidakpedulian, dan istirah di belukar salah satu bukit yang mencuat, mendinding Kotamu. Di bukit Tudu Passi. Pun belulang yang terserak di seantero kandung bumimu.

Satu dua hal yang menambah kesedihan; seliweran kita para liliput Bogani, apakah masih sempat menjelikan pandang dan memikirkan hal yang biasa itu menjadi tak biasa? Seonggok patung yang dengan kekar dan perkasa, memaksa bertahan dari sejarah yang mengelupas dan akan binasa, ia butuh sekerjap tatap. Atau kita memang benar-benar telah melupakannya?

Dari sekian banyak patung-patung yang hanya mengilustrasikan sosok wajah, patung Bogani adalah salah satu patung yang memiliki eksistensi sepenuhnya, dari mulai: bentuk tubuh yang ideal bagi penggambaran sosok manusia, senjata tombak, dan tameng siaga di genggamannya. Patung ini tak hanya sekadar penanda ke kiri, ke kanan, atau berpusarnya puluhan kendaraan. Ia adalah kabah-nya Bolaang Mongondow.

Mungkin dibandingkan dengan ratusan patung bersejarah dan arca-arca galian di pelosok negri, patung Bogani memang tak setara. Patung ini, yang menjadi hiasan sebuah kota, yang cenderung meramaikan lanskap sebuah perkotaan, yang seharusnya dirawat dengan baik, terbengkalai begitu saja. Siapa yang mau berpose dengan patung ini? Mungkin hanya orang udik yang rela. Tapi setidaknya, mereka yang udik lebih memahami apa itu bentuk kesederhanaan dan penghormatan sejarah. Orang-orang yang rela berpose dan udik itu, lebih mulia dari mereka yang berdasi, mereka yang enggan.

Entah engkau dibikin dari lempung, semen, atau sekumpulan raga yang terbuang. Saya akan sangat dengan bangga memunggungimu dan bergagah-gagahan sekalipun setara tengkukmu. Saya anak Bolaang Mongondow yang akan terus bertanya, "Ki ine nomia kon patong Bogani?" (Siapa yang membuat patung Bogani?)

Penelusuranku tak sia-sia. Setelah menjaring beberapa link di internet. Saya dipertemukan dengan salah satu blogger (http://graceeditha.wordpress.com/2010/10/18/alex-b-wetik-ayah-teman-guru-ku/) yang ternyata adalah putri kandung dari seniman asal Minahasa yang melukis patung Bogani. Grace M. E. Wetik namanya, putri dari sang seniman Alex B. Wetik. Terima kasih untuk karya besarmu pak Alex.

Mari berpose!

Monday, November 18, 2013

Syam, Bukan Matahari (Cerpen Nukila Amal)

SYAM, tak seperti namanya, bukan seorang matahari. Ia antitesis cahaya dan segala yang terang. Semisal lukisan, ia bukan figur di tengah yang terang-benderang berdiri gagah berkacak pinggang, namun siluet gelap berjubah hitam yang bersandar di sudut. Siluet yang mengamati segala di sekitar, di dalam dan di luar lukisan.

Syam manusia temaram. Yang cemerlang adalah benaknya. Dan matanya. Matanya menatap tajam wajah dan tingkah-polah orang-orang di sekitarnya. Menghunjam cemerlang, daya hunusnya kerap membuat orang tak nyaman, dan mereka dalam hati menganggapnya menjengkelkan atau menggentarkan.

Matanya bisa tak berkedip lama, menatap siapa pun yang bicara di depannya. Jika ia sedang begitu, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu apa yang sedang ia pikirkan. Syam seorang ironis sejati, bicaranya kerap tampak berlawanan dengan akal sehat banyak manusia. Ini dilakukannya nyaris tanpa usaha. Ia memasang muka jernih, muka bingung, muka jemu, muka tolol, muka dingin, muka apa saja sesuai orang yang dihadapi. Tetapi, selalu ada jejak semacam sinisme halus, keisengan, kalau bukan kekurangajaran.

Jejak itu sudah permanen, apa pun ekspresi wajahnya. Lalu Syam menjawab bicara setelah membiarkan mereka bicara panjang-lebar secara sok aksi dan bergaya. Keterampilan bicaranya yang tenang tapi akrobatik mampu menjungkirbalikkan pikiran dan perasaan orang-orang. Ia mampu mengeluarkan sifat paling buruk dari dalam diri seseorang. Orang-orang, yang umumnya berlalu darinya dengan satu kesimpulan serupa: ia bajingan, sembari menyesali dan mengutuk hari perjumpaan dengannya. Bicaranya kerap baru dipahami orang-orang seminggu, sebulan atau setahun kemudian, seakan punya masa inkubasi tertentu. Maka suaranya lalu terngiang menyiksa jam-jam larut mereka sebelum tidur, mencabik kepastian dan kepalsuan diri mereka sebagai manusia. Ia sangat mungkin sering muncul dalam mimpi buruk sejumlah orang.

Syam, sesekali saja melihat terbit matahari. Jarang berbaju rapi, atau mencukur jenggot dan rambut. Sekilas ia tampak awut-awutan, tapi jika diamati lebih dekat, kuku-kuku tangannya selalu pendek dan bersih. Sebersih kemeja dan telinganya. Perawakannya tinggi kurus, seakan tidak teratur makan—dan memang demikian adanya. Ia makan tiga kali sehari hanya jika sedang bersama ketiga sahabatnya—Batara, Anya, dan Ale. Syam lebih suka mengurung diri membaca buku. Begitu banyak buku dihabiskan dalam kecepatan di atas rata-rata orang. Ia suka mengutip perkataan atau tulisan siapalah yang sesuai kesempatan apalah—sering ia lakukan untuk sekadar menjengkelkan ketiga temannya. Ia mengutip Heraklitus atau Konfusius, Isutzu dan Lao Tzu, Charles atau Jean Fourier, Ibnu 'Arabi dan Hammurabi, Novalis, dan sejumlah novelis. Juga Rilke dan Roethke, atau penyair Cina dinasti T'ang dan penyair Polandia pascaperang. Jika tidak sedang mengutip, Syam senang mendefinisikan. Maka, cinta adalah "lirisisme cengeng berdua bertiga berjamaah", keseksian adalah "kemampuan untuk merefleksikan kenikmatan potensial."

Syam sudah sering mempermalukan para sahabatnya. Ketiganya mesti menanggung malu oleh ujar atau ulah Syam di pelbagai acara pergaulan. Biasanya melibatkan korban yang menantang berkelahi, sakit hati atau menangis.
"Oh, benjol memar biru ungu…."
"Nggak bakal begini kalau kamu tadi pura-pura pingsan."
"Atau pura-pura cacat. Pulang sana…."
Begitulah ketiga temannya mengeluh dan mengumpat sepulang dari suatu acara. Syam tak menjawab, ia santai rebahan di sofa dengan kompres es batu di dahi.
 .
SYAM dulu tak seperti ini. Syam 1.0 seambisius pemuda-pemuda lain seumurnya, menatap penuh harap masa depan yang masih panjang terbentang, menerakan mimpi-mimpi sepanjang jalan. Syam dulu bersinar-sinar seperti nama Arabnya. Ia arsitek, penganut dan penganjur penggunaan bahan-bahan setempat dalam bangunan yang dirancangnya. Ia tak peduli dengan konsep arsitektur modern yang diterapkan rekan-rekan arsitek—mereka yang tentu kariernya lebih laju—dan kerap menolak proyek properti kepingin modern yang tak menerima konsep "muatan lokal" yang diajukannya. Begitu banyak prospek yang dilewatkannya begitu saja. Ia lebih mirip tukang ketimbang arsitek, mengerjakan sendiri detail bangunan sembari menebarkan ilmu pada mandor hingga kuli bangunan tamatan SMP . Jika sedang tidak menggambar di kertas kalkir besar, ia mencorat-coret sketsa di buku gambar besar. Ia juga suka mencorat-coret buku kecil, atau mengetik di laptop. Sesekali ia menulis sejumlah esai kritis yang panjang, tak hanya tentang arsitektur namun melebar ke hal-hal lain. Sesekali ia pacaran, datang ke pesta-pesta, naik-turun gunung, ke kelab jazz—cara-cara melupa yang dapat dimengerti manusia.

Di akhir 2005, tiba-tiba segala berubah. Sesuatu telah mengubah Syam luar-dalam. Sesuatu yang biasa terpandang mata, namun mampu membelokkan dan menekuk takdir seseorang dengan teramat fatal. Sesuatu yang akan sangat dikenali seseorang, takkan pernah tampak sama di matanya, menjelma doa dan mimpi buruk, membayang pada benda yang disentuh dan wajah yang ditatap, melekat di langkah kaki sepanjang jalan. Adalah air yang telah meredupkan matahari dalam diri Syam. Matahari yang dulu tak garang kini tinggal temaram.
Air telah mengingkarinya. Mengingkari umat manusia dan kepastian matematika hitungan mereka. 1 + 1 = 2 tak berlaku bagi air. Setitik tambah setitik tetaplah setitik air. Titik-titik air yang bergabung-gabung memperbanyak diri. Merambah pergi dari Sumatra ke Jawa dan entah ke terus ke mana, menyusuri pelan-pelan jarak, menjelma jadi segala warna dan rupa. Selalu akan dikenalinya. Air yang cuma singgah. Sementara. Seperti dirinya.

Air telah singgah menerjang kampung halamannya, menjelma jadi luapan bah dengan mahadaya penghancur apa pun dan siapa pun. Dan Syam tak ada di sana, berada jauh dari segala mala, dari keluarga. Mereka yang mesti mengalah dalam kuasa air, tertelan di dalam murkanya yang buta. Syam tiba di sana pada hari kedua, ketika mayat-mayat masih segar berlumur lempung berserakan di jalanan. Telah beberapa tahun lalu, namun masih seperti kemarin dirasakannya, masih keluar dalam mimpi buruk berulang yang terus menghantui malam-malamnya.

Air bah telah mengubah Syam jadi pertapa, ia tiba-tiba seakan bertambah tua. Uban tiba-tiba memenuhi kepalanya, wajahnya dibiarkan berjanggut. Ia mengalihkan cicilan apartemennya pada seorang rekan arsitek lajang yang masih ingin bermimpi dan ia pindah ke rumah pamannya, menempati paviliun teduh yang telah lama kosong. Di suatu malam paman tertuanya telah meminta, "Syam, tinggallah di sini…." Bibinya telah lebih dulu berlinang. Ini terjadi setelah Syam sempat lama menghilang dari Jakarta. Ia pulang kampung mengerjakan proyek pembangunan rumah-rumah yang hancur bersama beberapa teman arsiteknya. Ia juga membangun kembali mesjid dan SD bersama para penyintas di kampungnya. Ini kerja konstruksinya yang terakhir kali, ia lalu berhenti sama sekali.

Syam di malam-malam hari sering bercakap dengan bibi, paman, bibi tertua yang sudah agak pikun dan sepupunya yang masih sekolah. Selalu ia menghindari percakapan tentang masa lalu atau kampung halaman mereka. Ia kemudian lebih banyak mengurung diri di kamar. Sesekali ia menghilang pergi entah ke mana, tak berkabar. Kemudian muncul lagi di Jakarta. Di banyak akhir pekan, ia ke rumah Ale dan Anya, namun lebih sering bercakap dengan Om Nala, ayah si kembar. Topik obrolan mereka seakan tak pernah habis, juga punya lelucon sendiri yang hanya dimengerti keduanya. Lalu Anya dan Ale merasa sebal dan pergi tidur. Sesekali Syam kelamaan mengobrol lalu menginap di kamar tamu atau di kamar Ale.

Ketiga temannya sering datang menyambangi paviliun Syam. Mereka sering datang mengendap-endap mirip pasukan khusus dalam misi rahasia. Masalahnya, bibi tertua suka mencegat dan menyuruh mereka duduk dulu membaca surat-surat Alquran. Bibi tertua mendengarkan sambil manggut-manggut setuju jika lafalan mereka benar dan memarahi dengan galak jika keliru. Ketiganya sungguh gentar dibuatnya. Batara memakai kalung salib besar jika ke sana, sebab bibi tertua sering lupa dan selalu ia kena giliran pertama.

Mereka saksikan bagaimana kamar Syam kian lama kian dipenuhi buku-buku. Berjejer di rak, bertumpuk di atas lantai, berserakan di meja tulis. Meja arsitek tak lagi ada, bernasib sama dengan sejumlah piranti arsitektur yang dihibahkannya. Syam masih sering menulis. Beberapa esai panjang-pendek masih ditulisnya. Ada yang dikirimnya untuk publikasi, ada yang tidak. Dua kali ia menerjemahkan novel tebal yang ia suka. Satu kali ia iseng menulis novel lebih tebal. Itu sebuah novel aneh; judul, isi, juga nama penulis—anagram dari nama aslinya—namun novel aneh itu dipuji para kritikus padahal sesungguhnya mereka kebingungan. Tak ada foto penulis atau riwayat hidup, peluncuran buku, wawancara, Syam hanya bersurat dengan penerbit. Cuma tiga temannya yang tahu siapa penulis novel serba aneh itu. Hanya Anya yang membaca novel aneh sampai tamat, Ale menyerah di bab lima, Batara membeli tapi tidak baca sama sekali. "Dengar bicaranya saja aku mau semaput, apalagi baca buku tulisnya."

Saat itu tak seorang pun menanya, di kemudian hari akan ada pula "buku tulis Anya".
KAKIKU berat di atas tanah. Dalam satu sapuan mata, kulihat segala berserak. Kudengar gumam istighfar berulang, begitu samar, gamang, hingga kuragukan jika kalimat itu memang milikku, jika keluar dari mulutku, ataukah langkah kakiku. Apakah kakiku menapak satu-satu, ataukah panjang-panjang berlari.Yang pasti hanya rasa keintiman lama itu, seperti mengenali wajah seseorang yang bertahun-tahun kemudian kutemui, namun ia terlanjur jenazah. Wajah yang masih kukenali, tetapi raut mati.

Ini kampung yang pernah. Jalanan yang pernah. Aku mencari jejak rumahku. Jalanan penuh puing dan rangka bangunan, lumpur serupa enamel yang melapisi semua yang pernah. Semacam bebauan bergerak di udara, di atas kelupas aspal dan gelimpangan mayat. Begitu banyak mereka…. Bau ini, kutahu kelak akan menghantuiku di antara banyak aroma lain di tempat-tempat lain. Maka aku menukar aroma itu dengan harum gardamun di kain ibu, wangi deterjen kemeja ayah saat salat Jumat, semerbak tiga tangkai mawar di tangan adikku, melati kering di seprai nenek.

Kukenali masjid. Empat dinding putihnya masih berdiri tegak menandu kubah, tak berpucuk. Di halaman masjid, seseorang berwajah putih mengangkat bulan sabit dan bintang jatuh. Di langit, matahari seperti daun melayang. Pecahan kaca dan patahan kayu timpa-menimpa dengan pohon tumbang dan bongkah beton di mana-mana.Tak jauh dari masjid, kedai nasi yang pernah. Tempat aku dan ayahku duduk minum kopi di sore-sore hari seusai mengaduk semen dinding mesjid bertahun lalu.

Kukenali dua tiga wajah akrab tetangga. Mereka berwajah putih. Mereka bukan mendiang, telah diluputkan maut. Sedang yang berserakan, wajah-wajah mereka berwarna lempung. Aku tak tahu apa warna wajahku.

Rumahku. Dinding-dindingnya masih tegak berdiri meski rompal, mengangakan luka. Berserakan bilah-bilah kayu, bongkahan bata kelabu, retakan ubin dan kaca. Kukenali setiap detail yang pernah, suatu kali telah tergenggam tanganku dan ayahku. Kami membangun kembali rumah tua warisan kakek, dalam satu pulangku ketika cuti. Dengan lihai aku mengamalkan ilmu dan pekerjaanku di ibukota. Aku buruh yang menyusun batu-bata, aku arsitek yang menggambar cetak biru rumah, aku pengunjung yang datang tak teratur. Ke rumah yang pernah.

Kukenali seketika. Ayah, ibu, nenek, adik. Wajah mereka jernih bersenyum. Mereka duduk di atas tikar pandan, mendengarkan nenekku menyanyi lagu berbahasa lama yang tak kumengerti, seperti pernah dulu kala. Nenek jeda menyanyi, menyapaku, "Kau sudah pulang." Mereka tak sedih, sebab "Maut datang terlalu cepat untuk sempat bersedih, biarlah kau ingat kami dalam bahagia ini." Wajah-wajah mereka lempung cemerlang. Mereka melambai, gerak menyuruh pergi. "Mulailah kerjamu di sini."

Aku berpaling. Kurasakan air di lempung wajah mereka, air di pipiku dingin, apa bedanya. Aku tak tahu apa warna wajahku. Melangkah keluar, di jalanan kulihat seorang anak lelaki berwajah putih, memeluk sebuah sisa tiang. Ia menatapku, tertawa senang memperlihatkan gigi putih susu. Ia menandak-nandak gembira, melompat, menari, masih tertawa. Aku menghampirinya, heran mengapa ia begini riang di tengah semua yang muram.

Anak lelaki menatapku, dahinya berkeringat oleh tarian dan lompatan. Peluh turun ke bajunya yang berdebu, ada banyak bekas luka di badannya. Ia menyeka dahi dan mendongak menatap wajahku yang menjulang. Jarinya memberi isyarat agar aku membungkuk ke arahnya. Aku membungkuk, menatap bola matanya yang bundar. Seakan kukenali ia.

Anak lelaki mengamati mata dan keningku, lalu menepuk-nepuk pipiku. "Air melukakan kita."
"Siapa namamu?"
"Syam. Kau sudah besar sekarang."
"Kau tak seperti yang kuingat. Aku… aku dulu tak seriang ini."
"Aku harus bergembira ria."
"Mengapa?"
"Sebab sudah harus begitu. Tambah malam, aku akan tambah bahagia. Mestinya kau lihat aku nanti jam dua belas malam nanti."
"Mengapa?"
"Sebab sudah harus begitu. Dirimu besok hari akan berduka, terlalu berduka. Maka aku, dirimu yang kemarin, harus melewatkan waktuku dengan sangat bahagia."

Anak lelaki berpaling, "Aku pergi dulu, temanku sudah memanggil. Dia tahu." Anak lelaki menunjuk ke arah seorang anak perempuan yang berdiri tak jauh, berbaju kuning-hitam dengan pita, tengah menatapku lekat. Kurasa anak perempuan memang sudah tahu.
"Sedih. Jangan. Berkepanjangan " Anak lelaki berkata sembari melompat tiga kali. "Bahkan mesjid ini pun akan berdiri lagi."

Anak lelaki berlari menuju temannya. Mereka lalu berjongkok dan bermain. Anak perempuan mulai menyanyi, suaranya bening tinggi, mengalir seringan udara. Sebuah kidung dalam bahasa lama.
Dan tiba-tiba bahasa lama itu kupahami. Anak perempuan menyanyi kidung tentang jelmaan-jelmaan air. Seiring kidung, segala warna dan rupa air berkilasan. Air di tepian mata, air di dahi anak lelaki, air yang menggumpal berarak di atas kepala, air yang mundur menuju cakrawala, air di dalam lumpur di kakiku, air di dalam tubuh para jenazah…. Air yang sama, yang pernah berayun di kelopak mawar adikku, di dahi ayahku kala subuh hari, gelembung sabun yang pecah di basuhan kain ibuku, kopi dan kue halia buatan nenekku…. Air yang sama, dalam banyak jelmaannya. Akan kukenali rupa dan warna mereka semua. Sedang aku masih tak tahu, apa warna wajahku—
Syam terjaga. Selalu, ia terjaga dari mimpi itu dengan dada sesak dan pipi lembab. Dirasanya ada jari yang menyeka pipinya. Syam membuka mata, melihat Anya tengah membungkuk ke dekatnya dengan mata risau sambil memanggil namanya, "Syam, Syam…."

Dalam beberapa lintas detik Syam melihat Anya berwajah putih anak kecil perempuan berpita. Syam mengerjapkan mata dan kembali melihat wajah Anya yang biasa. Di latar belakang, dikenalinya bentuk-bentuk temaram di kamar tamu rumah Anya. Syam meraih jari Anya di rahangnya, mendekapnya erat-erat seakan tangan Anya sauh terakhir tempat berpegang seusai laut terjauh. Anya berbaring di sisinya, tak bicara apa-apa.

Ruang temaram sempurna, hening begitu lama. Di suatu saat, manusia temaram bersuara. Suara Syam lamat-lamat mengalir ke telinga Anya, satu-satunya manusia di dunia yang ia ceritakan tentang mimpi itu. Anya merasakan denyut jantung di dada Syam, setiap hirup nafasnya. Syam merasakan basah mengumpul di bahu kemejanya. Tetes peluhnya, linang air mata Anya, apa bedanya. Anya masih tak bicara apa-apa hingga Syam selesai bicara dan ruangan kembali hening. Mereka berbaring seperti itu sepanjang sisa malam.

(Koran Tempo, 29 Januari 2012)
Powered by Telkomsel BlackBerry

Gelora Ambang

Jam 11.00 WITA. Mendung tebal menggantung di langit Kotamobagu Rabu (30/10), ketika saya dan seorang teman memutuskan ke Gelanggang Olahraga (Gelora) Ambang, Togop, Kota Kotamobagu.


Tak butuh waktu lama menemukan stadion yang pernah jadi kebanggaan di masa keemasan Persatuan Sepakbola Bolaang Mongondow (Persibom), kala Kabupaten Bolaang Mongondow dipimpin Bupati Marlina Moha Siahaan. Letaknya tak jauh dari pusat kota. Jika ditarik garis lurus, jaraknya dari kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu hanya sekitar dua ratus meter.

Sekira tiga menit menerobos gerimis dengan sepeda motor, tibalah kami di lokasi tujuan. Pemandangan mengharu-biru segera menyergap: Gelora Ambang bak lahan tidur yang lama ditelantarkan dengan bangunan-bangunan tak terurus; tribun depan, yang didiami beberapa keluarga, dikerubuti semak-belukar. Lapangan tenis yang sukar dikenali lagi, hanya lantai birunya yang tampak seperti biru langit di antara arak-arakan awan kelabu.

Kondisi tadi belum seberapa. Saat kendaraan roda dua kami merangsek ke dalam, tak ada lagi tameng yang mengitari lapangan sepakbola. Lapangan hampa tertembus pandang begitu saja. Kemuning tanaman jagung memasuki usia matang menyambut kami. Hingga sapuan tatapan ke sekeliling memupus, hanya tampak tanaman jagung dan belukar tak terawat. Semrawut. Tribun barat lebih mirip gelondongan kayu raksasa di hutan liar dan dirayapi segala jenis tetumbuhan simbiosis parasitisme. Seng atapnya karatan dan bocor di sana-sini. Cat tiang-tiangnya mengelupas dan juga berkarat.

Selagi asyik berkeliling, kami dikagetkan suara anak-anak kecil yang bermain riang di kolam renang. Lima sampai enam orang anak laki-laki dan perempuan sedang mandi di sana. Oh, ternyata masih ada juga salah satu fasilitas di sini yang bisa digunakan selain bangunan lainnya yang difungsikan sebagai tempat tinggal.

Hujan yang kian deras memaksa kami berteduh di tribun mini di area kolam renang. Sedangkan anak-anak itu kelihatan bertambah riang seiring makin melebatnya hujan. Mereka berteriak-teriak, tertawa, berlari di tepian kolam, meloncat, berenang, dan sesekali menyelam.
Di dekat kolam, ada seorang ibu yang biasa disapa Tanta Ebi sebagai penjaga kolam. Suaminya Romy Gunena adalah "juru kunci" Gelora Ambang. Tanta Ebi sendiri membuka warung kecil-kecilan yang lebih mirip kantin. Menurut Tanta Ebi, untuk mandi di kolam, setiap anak dipunguti biaya Rp. 3 ribu. "Dorang boleh mandi sampe malamise (mereka bisa mandi sampai gelagapan tenggelam)," ujar Tanta Ebi bergurau.

Hanya tinggal kolam berair dangkal, tempat anak-anak bermain itu, yang masih termanfaatkan. Sedangkan kolam besar di sebelahnya dibiarkan tak terurus; hampir seluruh ubin lantainya tertutup lumpur yang mulai ditumbuhi rerumputan setinggi betis orang dewasa.
Melihat anak-anak jumpalitan di kolam kemudian berlarian kecil ke tribun mini dan menikmati kudapan pisang goroho goreng, membikin perut saya tergoda lapar lantas memesan sepiring pisang goreng goroho yang disajikan dengan potongan-potongan kecil atau biasa disebut pisang stick.

Begitu hujan mereda, kami bergegas ke kantor Pemkot Kotamobagu setelah berpamitan dengan Tanta Ebi untuk menemui Asisten III, Dra Djumiati Makalalag untuk menanyakan status aset Gelora Ambang. Yang dituju sedang tidak di tempat. Kami menghubunginya lewat ponsel, namun tak terhubung. Setelah disusul dengan pesan singkat, ia membalasnya setelah berselang dua jam. Ia mengatakan bahwa aset itu belum ada penyerahan secara resmi dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Bolmong (Bolaang Mongondow). "Ada rencana pembahasan untuk penyerahan secara resmi nantinya, tapi waktunya saya belum tahu persis. Nanti coba ditanya kepada Sekkot (Sekretaris Kota) dan Kadis PPKAD (Kepala Dinas Pengelolah Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah)," balasnya di pesan singkat.

Harusnya kami berlama-lama di Gelora Ambang tadi. Agar lebih lama mengenang. Ada yang harus menggelora kembali. Miris mengingat kembali apa yang baru saja kami lihat. Dana milyaran telah habis digerus dari kantong rakyat hanya untuk biaya perawatan atau sekadar pugar sana-sini.

Pada masa penjajahan Belanda, infrastruktur yang dibangun oleh mereka hingga kini awet. Berabad-abad tetap bertahan. Karena mereka pikir akan hidup selamanya di negeri ini. Jika hal yang sama dipikirkan oleh para pihak yang menangani proyek pembangunan prasarana di negeri ini. Maka tak akan ada lagi 'tembok' di negeri (atau daerah) ini yang akan dibangun asal-asalan. Runtuh, remuk, dan punah seketika. Binasa tak tersisa. 

Rolling

Anda kenal The Rolling Stones?

Sudah tentu kenal. Grup musik rock asal Inggris yang berkiprah sejak tahun 1960-an. Stones menggemakan musik dan lirik-lirik lagu gila mereka hingga melesak ke dalam moncong gua Esa Ala. Semua negeri yang memiliki gua, pasti gaung musik mereka telah terdengar.

Kenapa saya jadi ingat grup band ini? Saat tengah berada di zona ritual rolling kabinet Pemerintahan Kota Kotamobagu. Seketika saja, salah satu lagu Stones, I Can't Get No melesat dalam ingat. Lagu yang mendapat urutan keempat lagu terbaik Stones. Agak sulit memang menentukan yang mana lagu terbaik dari sekian banyak album yang telah dirilis sejak awal mula mereka berkarir di dunia musik. Namun, upaya untuk memilah dan memilih itu dilakukan oleh Mojo (salah satu majalah musik terkenal di Inggris) saat ulang tahun Stones yang ke-40.

Nah, saat rolling kabinet, satu-satunya yang menghibur saya hanya lagu itu. Karena apapun soal rolling kabinet pasca peralihan tampuk kekuasaan. Pasti sangat membosankan dengan format repetesi, berulang-ulang ― sama ― dan kita sudah tahu, siapa yang didepak dan didapuk.
Seperti majalah Mojo, sebuah tabloid yang selalu memberitakan para pelaku seni. Maka sama halnya dengan media-media cetak maupun online di daerah ini yang memberitakan tentang mereka para pelaku kebijakan (dengan sedikit
terpaksa kata 'kebijakan' saya pakai). Ritual rolling selalu menjadi yang terhangat dan paling ditunggu-tunggu. Disaat pelantikan dan pengambilan sumpah, saya berani bertaruh, bukan nama Tuhan lagi yang mereka sebut, tapi nama si Ratu (atau si Raja).

Bicara soal loyalitas, para pemegang kekuasaan harus banyak mengoleksi film-film mafia, gangster, dan triad. Lucu jika melihat para penjilat yang seharusnya ditembak mati malah mendapatkan tempat yang layak, dan secara tiba-tiba berkelindan dengan majikan barunya sangat akrab. Sedangkan mereka yang begitu loyal dengan yang namanya 'atasan' bukan 'tuan', ditendang begitu saja meski kinerja mereka selama ini cukup baik.

Acapkali yang menjadi korban, pegawai-pegawai negeri sipil yang selama ini tanpa sadar tersesat dalam labirin kekuasaan. Sebagian ada yang hampir atau sudah menemukan pintu bertuliskan "Eureka!". Pun ada yang malah kembali ke asal mula jejak langkah. Namun, satu hal yang selalu menjadi pelajaran dari setiap pengembara karir, bahwa ada yang lebih kuasa di atas segala yang paling berkuasa di muka bumi ini. Dan kita seringkali dibisiki satu kalimat, "Tuhan tak tidur, dan selalu memberi jalan."

Bicara soal rolling kabinet memang bikin boring. Makanya saya tak panjang bicara soal itu (kurang paham juga). Tapi, disaat-saat bosan, Stones akan selalu menghibur kita sekalian para pencinta kegilaan yang selalu merdeka.

Mari terus menggelinding!

When I'm watchin' my TV
and a man comes on to tell me
how white my shirts can be.
Well he can't be a man 'cause he doesn't smoke the same cigarrettes as me.
I can't get no, oh no no no.
Hey hey hey, that's what I say.