Friday, January 17, 2014

Bencana dan Canda

Pertama kali saya ingin mengucapkan turut berbela-sungkawa atas korban-korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di kota Manado dan sekitarnya, baik korban yang meninggal, dan mereka yang terus berbenah pasca banjir itu.

Menarik kala kita menyaksikan beragam status dan personal message, baik di jejaring sosial media (sosmed), juga di Blackberry Messenger (BBM) dari orang-orang yang peduli, pun mereka yang melihat angle lain dari bencana ini, termasuk saya sendiri.

Ada beberapa poin yang bisa dipetik kemudian dikemas, dibawa jauh ke puncak perenungan untuk kita semua, bahwa apa yang dibangun oleh manusia, tak akan lebih kokoh dibandingkan dengan apa yang terbangun sendiri oleh alam. Kalimat ini tak sengaja saya temukan di film Tekken, kemarin, yang entah kenapa bertepatan dengan ramainya pemberitaan soal banjir bandang di kota Manado.

Setelah kupikir dan kurenungi, alangkah bijaknya kita saat segala urusan bencana kita kembalikan kepada alam, kemudian ke diri kita pribadi ― manusia. Ini bukan kemurkaan Tuhan, bukan pula sebab tatap mata kita yang dimanjakan dan seringkali memijat lekuk tubuh gadis-gadis Manado yang mengenakan cadeko, yang jelas-jelas pernyataan itu adalah post hoc ergo propter hoc (setelah ini bukan berarti karena ini), fallacy, kesesatan pikir, meski itu disampaikan hanya dengan canda yang memang tak perlu kita seriusi.

Tapi hal itu menjadi serius ketika berderetan kembali puluhan personal message di BBM, puluhan Broadcast Messege (BC) yang menyebut bahwa bencana ini memang telah termaktub di salah satu ayat di kitab suci. Dan lebih parahnya saat menyelinap dengan cepat sebaris kalimat di kolom chat saya, "Bencana banjir ini adalah tanda-tanda kiamat!"

Entah itu hanya candaan, tapi alangkah baiknya kita melihat jauh ke dalam. Psikis para korban sekarang jauh lebih rengsa dibandingkan kita yang petantang-petenteng di kota yang nun jauh dan meski diguyur hujan pula, tapi kita masih tetap bisa meringkuk nyaman di balik selimut kala dingin datang menyergap.

Alam selalu akan membalas tingkah kita memang. Dengan gaya senyap-senyapnya, datang menerjang tanpa wujud, tanpa suara, sepi dan menggusur kala kita tidur, lalu sekejap terkubur lumpur.

Selalu bersikap adil terhadap alam, karena alam adalah wujud nyata dari Sang Pencipta.

Saat ini, saya jadi ingat lagu Marjinal, Luka Kita, di salah satu bait lirik lagu itu, kupetik dengan penuh rasa haru, "Besarnya bencana, lebih besarlah hikmahnya."

Hikmah apa di balik bencana ini? Manado adalah sebuah gerbang yang tak pernah disusupi dan dihebohkan oleh tingkah-tingkah bodoh para bigot-bigot kerdil yang mengusung paham-paham radikalisme dalam agama (meski mungkin telah ada tapi sedang menyusun strategi). Manado adalah kota yang sikap pluralitasnya begitu tinggi. Maka dengan bencana ini, jiwa gotong royong terus terjaga dan semakin erat. Sebab apa yang paling besar dalam diri manusia adalah sifat humanis kita, seperti kata Samratulangi, "Si tou timou tumou tou."

Maka besarkan hati kita untuk selalu melihat kebaikan dalam diri seseorang ― dan manusia lainnya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®