Sunday, January 5, 2014

Pungut Itu Bintang

Akan kucakar tujuh puluh dustamu, biar kamu senang dengan apa itu cinta! Setelah itu... Mau kugaruk lagi luka cakar itu. Kau merasa sakit? Kau melihat punggungmu terkoyak? Ah, itu cuma geliat sakit yang enak. Tubuhmu sakit, tapi jiwamu tidak.

Kemarin saja aku kejar kau dengan tujuh dering, tapi malah kau benamkan ponselmu ke dalam kolam. Apa salahku? aku hanya mau bertanya, sudahkah kau teguk air mani yang kuteteskan di penutup botol bir itu?

Aku tak berkuku panjang, jadi kuku ini tak akan lepas seperti kuku milikmu yang kemarin ― tercerabut seperti cangkang ketika mencabik-cabik ini tubuh. Padahal aku hanya bilang, jangan garami siput di tembok itu. Tapi kau kukuh diri, kau jahat! kau lebih suka melihat lendir-lendir mengalir dari jasad bercangkang itu.

Kau dan aku beda. Aku suka apa yang aku suka, aku tidak suka apa yang aku tidak suka, dan aku suka pada apa yang seharusnya aku tidak suka, aku tidak suka pada apa yang semestinya aku suka.

Aku dan kau beda. Kau lebih malu dengan aib, sementara aku menganggap aib itu adalah sebuah keagungan.

Tapi, sudahlah, semuanya berlalu sudah, kita semakin (akan) tua dan sebentar lagi tak punya waktu untuk semua tengkar. Temali yang kemarin itu, hanya seutas saja nasib, kau yang memilih untuk apa kau gunakan itu, bahkan bisa kau pakai untuk menjerat takdir.

Kita kelilingi saja sepenggal petak bumi ini, kemudian merenungi perjalanan, memahami segala warna, dan menemukan bintang kita di langit, bukan hanya satu, tapi kantongi sebanyak-banyaknya.

Dan, teruslah memunguti gemintang, sebab apa yang disebut memunguti itu selalu apa yang berserakan di bawah, tapi benarkah langit itu di atas? Jika semesta ini begitu luas tanpa batas.

Lalu... Pungut itu bintang.

Powered by Telkomsel BlackBerry®