Monday, February 17, 2014

Dewasa

Dewasa. Kita mungkin sering mendengar kata itu diucapkan seseorang untuk mengingatkan atau menegur kita dari hal konyol dan kekanak-kanakan yang kita perbuat, atau mungkin, kita sendiri malah pernah mengucapkan kata itu kepada orang lain.

Yah, kata "dewasa" memang selalu menjadi kata pamungkas bagi kita, sebab dengan ucap kalimat teguran itu kita lontarkan, tiba-tiba saja kita berubah menjadi seorang kakek dengan jubah bersinar menjuntai ke tanah, janggut putih lebat menggantung, dengan tak lupa sebatang tongkat kayu di tangan kanan. Kita menjadi sangat bijak saat itu.

Tapi ada satu yang menjadi buah pikirku ketika barusan kata itu kembali kutemukan dalam satu film yang judulnya juga kurang-lebih mengartikan hal yang sama. Film itu berjudul Grown Ups, yang dirilis sekitar tahun 2010, dan sekuelnya Grown Ups 2, baru saja dirilis tahun kemarin, 2013. Apa yang tersuguh dalam film itu, mengisyaratkan banyak pemaknaan yang berupa pesan bahwa, buat apa menjadi dewasa, jika hal yang menyenangkan selama kita kanak-kanak masih bisa membuat kita tertawa dan bahagia. Sedangkan pesan lainnya adalah, tak perlu terlalu menyembah games-games yang ada di gadget, play station, atau di semesta maya manapun, jika di sekitar kita masih telalu banyak kenangan segala macam permainan masa kecil yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita.

Aku punya satu orang putri. Sigi. Usianya akan menginjak 3 tahun, bulan April nanti. Meski tak bersamaku sekarang, tapi setidaknya beberapa larangan masih sempat aku coba sampaikan kepada ibunya, salah-satunya; jauhi Sigi dari ketergantungannya dengan gadget, biarkan ia memainkan sapu lidi dan mencoba menyapu pekarangan dengan neneknya, menyusun balok-balok kecil dari ampas kayu gergajian tukang, atau melukis tembok dengan kerikil yang dipungutnya. Bebaskan, asalkan dengan pengawasan.

Aku pernah menakuti ibunya dengan mengirimi sebuah link yang kudapat dari twitter soal, apa dampak jika anak usia dini dibiasakan dengan gadget. Dari penelitian beberapa pakar di bidangnya dan para psikolog, mengatakan bahwa bisa saja anak itu nantinya akan bermasalah dengan pembentukan tulang punggungnya, karena seringkali pewe' (posisi wenak) dengan duduk dan tubuh sedikit membungkuk ketika sedang berasyik-masyuk dengan games atau apa saja dalam gadget tersebut yang membuat anak-anak itu tertarik.

Itu belum seberapa, masalah lainnya juga pada mata. Karena mata anak-anak yang masih rentan dan tentunya sangat berbahaya jika terus menerus dibiasakan terkena cahaya benderang dari gadget tersebut. Dan dampak psikologisnya anak-anak juga menjadi sulit bersosialisasi karena ia merasa nyaman dengan gadget, susah berinteraksi, sehingga tak lagi menghiraukan keramaian, sorak-sorai anak-anak lain, dan bersikap acuh dengan dunia luar ketika ada "dunia lain" dalam genggamannya. Dan kita saja, seringkali seperti itu jika sudah keasikan dengan ponsel maha pintar kita.
Dan kurang-lebih inilah beberapa dampak bagi anak usia dini yang sering kita biasakan bermain gadget:

-Menyebabkan obesitas karena anak jadi malas bergerak.
-Pola makan dan tidur menjadi terganggu.
-Ada kemungkinan mengalami addicted (kecanduan).
-Kerusakan pada mata sejak dini, karena mata anak yang sedang berkembang harus dipaksakan melihat layar yang kecil dan terang-benderang
-Munculnya perilaku agresif.
-Menghilangkan konsentrasi.
-Kurang minat pada lingkungan sosial.
-Lebih mudah stres dan lelah.

Itu bencana!!!

Aku orangnya konservatif, tak mengagung-agungkan hal-hal baru, lebih suka apa adanya dengan yang sudah ada, selama itu masih bisa membantu. Selain itu juga budget untuk memburu barang-barang baru berupa gadget, kantongku tak terlalu bersahabat. Lagipula aku terlalu nyaman dengan kekanak-kanakan yang, seringkali hanya memiliki koin di kantong. Ahahaha.

Dan karena aku orangnya seperti itu, semoga saja peribahasa "like father, like son" juga berlaku kepadaku, semoga Sigi besar nanti akan seperti ayahnya yang konservatif pula, biar saja urusan wajah aku mengalah dengan ibunya, tapi soal sifat yang konservatif, semoga saja buah tak jatuh jauh dari pohonnya, dan semoga pohonnya juga tak berada di atas bukit dan di bawahnya ada alir sungai.
Masa kecilnya ini, aku serahkan kepada ibunya, tapi jika sudah berusia sekolah dasar, ada aku di sudut sekolah yang siaga menjemputnya.

Jangan pernah dewasa. Itu satu kalimat yang diucapkan Gru kepada Agnes dalam film Dispicable Me 2. Tapi jauh sebelum film itu ada, kalimat itu sudah pernah aku utarakan. Karena buat apa dewasa jika hal yang pasti dalam hidup kita hanya tentang kelahiran, menjadi anak kecil, masa yang penuh dengan keajaiban-keajaiban, dewasa berarti meninggalkan masa-masa yang penuh keajaiban itu, kemudian menjadi tua, dan apapun soal hidup selalu tentang bagaimana kita ― manusia ― bergerak menuju kematian.

Di awal film Grown Ups, aku menyitir ucapan pelatih tim basket setelah mereka menang. "Aku ingin kalian jalani hidup persis seperti yang kalian mainkan dalam pertandingan tadi. Saat bel tanda usai kehidupan kalian berbunyi (eeerkkk), kalian tak punya penyesalan."
Jelas bukan permainan dalam gadget di genggamanmu, nak!
Pada akhirnya, kata dewasa, atau dewasalah, menjadi seperti "ejekan" buat mereka yang tak pernah bahagia dengan masa kecil.

Powered by Telkomsel BlackBerry®