Saturday, February 15, 2014

Kehilangan

Gemerincing pecahan kaca dari botol yang dilemparkan gadis itu membuat Saga kaget. Memang bukan ke arahnya, tapi di lorong yang sempit, itu cukup membikin jantungnya seakan copot.

"Hei! Awas pecahan botol itu nanti keinjak!" seru Saga.

Gadis itu hanya menoleh sebentar ke arahnya, kemudian berlalu begitu saja dengan umpatan, "Anjing!"

"Eh, dibilangin!"

Saga pun terus menyusuri lorong dan menuju ke rumahnya yang berjarak sekitar seratus meter dari lorong gelap itu. Meski sudah cukup jauh dari lorong, tapi dentuman kerasnya musik dari klab-klab malam di balik tembok lorong masih terdengar mengganggu. Ia masih memikirkan gadis yang berpenampilan seksi itu.

"Kamu lewat lorong itu lagi?" tanya ibunya yang tengah menyetrika pakaian adik-adiknya. Besok hari Senin.

Sambil berbaring dan merogoh ponsel di sakunya, Saga tak terlalu menyimak pertanyaan ibunya. Pertanyaan yang selalu sama terucap dari mulut ibunya.

Tak mendapat respon, ibunya bertanya lagi, "Saga, bagaimana kerjamu malam ini?"

Saga menyahut, "Lumayan Bu, capek juga kerja malam terus sampe sepagi ini. Asal ada penghasilan buat bantu keperluan Ibu dan adik-adik, Saga masih sanggup, Bu," katanya dengan sesekali melirik layar ponsel.

"Mau Ibu buatkan teh hangat?" tawar ibunya.

Saga bangkit dan beranjak dari kursi menuju kamarnya. "Tadi Saga minum banyak bir disuguhi tamu. Saga istirahat dulu."

Tak lama kemudian, suara adzan subuh dari corong masjid yang tak jauh dari rumahnya memekik.

"Hi, berisik!" gerutu Saga yang kemudian tidur menyerong ke kiri dan meraih segepok bantal dan berusaha menyumbat telinganya dengan bantal yang diletakkan menutupi keseluruhan bagian kepala.

*

Kedua adik Saga terbangun lebih awal, pukul 05:00 Wita. Sultan berusia tiga belas tahun sedangkan Sindi baru sepuluh tahun. Seketika rumah ramai dengan suara adik-adiknya. Dan yang paling membuat Saga kesal, jika ia lupa menutup pintu kamarnya, dan Sindi dengan gaya senyap-senyapnya masuk ke kamar kemudian menutup kedua lubang hidung Saga.

Dan kali ini...

"Sindiiiiiiiiiiiiiiiii!!!"

Radius lima ratus meter, teriakan Saga seakan seperti seorang muadzim di atas bukit Gurun Sahara memecah pagi.

Sindi berlari ke arah ibu, lalu cekikikan. Ibu hanya bisa tersenyum setiap kali melihat kejadian serupa. Seperti sudah terlalu lama rumah ini kehilangan canda dan tawa.

Ayah Saga meninggal saat Sindi masih berusia tiga tahun. Di ujung lorong yang biasa dilewatinya, di sanalah ayahnya terkapar bersimbah darah. Tiga orang pemuda mabuk menghabisi nyawa ayahnya demi seonggok ponsel, arloji, dan uang puluhan ribu di dompet. Sejak saat itulah, ibu sering melarangnya untuk melewati lorong itu jika pulang kerja. Dan hal itu pula yang membuat Saga putus sekolah. Ayahnya kerja di pabrik semen dengan penghasilan sebulan hanya cukup untuk membeli makan sebulan pula.

**

Malam Selasa, agak sepi di klab tempat Saga bekerja. Kemarin malam, kebetulan ada tamu-tamu dari perusahaan tambang batu bara yang memenuhi hampir seluruh kursi tamu di klab.

Baru pukul 01:00 Wita. Klab ditutup dan Saga pun bergegas pulang, menyusuri lorong itu lagi.

Pandangannya seperti sedang mencari-cari sesuatu. Ia lantas memantik koreknya dan menyulut sebatang rokok. Dan tiba-tiba dari arah belakang, suara yang dikenalnya menyapa.

"Bagi rokoknya bang!"

Saga tahu persis kalau itu suara gadis yang semalam mengumpatnya. Saat ia menoleh ke arah belakang, gadis itu terlihat beda. Ia mengenakan jaket tebal dengan topi hitam bertengger di atas kepalanya. Celana yang dikenakannya pun tak seseksi yang semalam. Kali ini ia bercelanakan jeans hitam yang, memeluk sekujur paha dan betis putihnya.

"Woy! Bagi rokoknya, melotot aja!" seru gadis itu yang membuyarkan khayalannya.

"Kamu minta rokok apa malak?"

"Dua-duanya," kata gadis itu diiringi tatapan nanar yang dibuat-buat.

"Semalam kamu seksi, tapi lebih enak dipandang yang saat ini," Saga berkomentar.

"Semalam aku jualan, malam ini lagi kosong," tukasnya.

Sesaat mereka berdua terdiam.

"Oh, yah, namaku Kinta," kata gadis itu sembari menyodorkan tangan kanannya.

Saga menyambutnya,"Aku Saga."

"Nama kamu keren."

"Namamu juga."

"Udah ah, entar dinding-dinding lorongnya pada ambruk!" canda Kinta.

***

Di ujung lorong, hingga pagi merekah, tawa mereka terus terdengar. Saat sholat Subuh tadi, mereka diam-diam ke masjid dan menakut-nakuti imam dan beberapa orang makmum.

"Gila kamu Kinta! Mereka itu orang baik-baik,"

"Ahahaha, kamu tahu tidak, imam yang memimpin sholat Subuh itu ayahku."

Saga kaget dan kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Sialan kamu, itu alasan kamu merubah penampilan malam ini?"

"Tidak direncanakan sih, aku pikir Tuhan yang mengatur biar kita ketemuan, terus..." kata Kinta.

"Aku balik dulu yah, besok pagi aku mau mengantar ibu ke pelabuhan. Ambil paket kiriman adik ibu. Oh, yah, besok kamu jualan?" tanya Saga seperti pertanyaan itu menjadi lumrah saja setelah semalaman mereka lalui bersama.

Kinta hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya, lalu pergi.

"Hei! Kalau kamu besok jualan, aku pelanggan pertamamu!" seru Saga menyusul tubuh Kinta yang tinggal siluet ditelan gelap.

Sesampainya di rumah, Saga tak bisa tidur. Setelah berapa lama baru kali ini ia merasakan hal yang berbeda, ketika ia mencoba membuka hati lagi kepada wanita lain. Pacarnya yang dulu, Vini, yang juga bekerja di klab yang sama dengannya sudah menikah dengan seorang pelaut.

Dalam hati Saga, meskipun hubungannya dengan Vini cukup lama, tapi Vini tak memiliki apa yang dimiliki oleh Kinta. Meski baru pertama kali bertemu. Gadis itu bandel bukan nakal.

Saga tak lupa mengunci kamarnya, berharap bisa bermimpi bersama Kinta lagi tanpa diganggu oleh kejahilan Sindi.

****

Sudah seminggu Saga tak melihat Kinta. Ia mulai panik. Berkali-kali saat melewati lorong, ia sempatkan untuk berteriak memanggil nama Kinta.

Hal itu terus berlanjut. Saga mulai berani ke masjid saat subuh. Ia seperti orang gila. Tak jarang beberapa orang mengunjungi rumahnya dan memberitahukan ibunya, tentang apa yang selama ini ia perbuat. Tapi itu tak membuat ia jera. Bukan hanya dua kali orang sekampung mengejarnya karena suka mengintip di masjid dan membuat orang-orang takut.

Saga tak lagi fokus dengan kerjanya. Perkataan ibunya tak lagi ia indahka. Hingga suatu malam, seorang laki-laki paruh baya yang cukup familiar di matanya, berkunjung ke rumah.

"De' Saga, kamu ketemu Kinta di mana?" tanya laki-laki yang belakangan diketahui sebutannya Haji Gandi.

Saga hanya menatap kosong ke arah laki-laki itu. Ibunya datang dengan membawa secangkir kopi untuk Haji Gandi.

"Saya juga tak habis pikir, kenapa Saga bisa begini. Ia satu-satunya tumpuan keluarga ini, adik-adiknya masih terlalu kecil," cerita perempuan itu dengan isak tangis.

"Ibu tahu Kinta yang sering ia sebut itu, ia bukan putri sungguh. Kinta kecil, saat usianya enam tahun, saya temukan tengah menangis di lorong itu. Saat itu sepulangnya saya dari pengajian di RT sebelah. Setelah bertanya-tanya kepada masyarakat dan tak ada yang mengenalinya, saya memutuskan mengadopsi Kinta," kisahnya.

"Kemudian saat usianya menginjak tiga belas tahun, ia saya sekolahkan di SMP Nusantara di depan. Kinta tumbuh menjadi sangat nakal, mungkin karena bawaannya sewaktu ia hidup di jalanan," lanjut Haji Gandi dengan kepala menunduk dan kemudian kantung matanya memberat, mengalirkan bulir-bulir air mata.

"Ia diperkosa pacarnya yang kemudian melarikan diri. Ibu tahu, keadaan serupa yang menimpa Saga, seringkali menjadi pemandangan di rumahku selama tiga tahun."

Kali ini mata Saga terlihat memicing, dan kemudian ia berlari ke arah masjid.

Haji Gandi dan Ibunya menyusul dengan panik.

Hal yang terjadi kali ini cukup membuat Haji Gandi, Ibunya, dan beberapa masyarakat sekitar yang turut mengejar terheran-heran. Jemari dan kuku Saga berlumuran darah dan tanah. Ia mengais-ngais sebuah taman bunga di samping masjid. Saat ia tengah menggaruk tanah yang terlihat sudah mulai cekung. Bisikan itu terdengar lirih olehnya, ia kenal suara itu seperti saat sebuah pinta terakhir kali terdengar.

"Kau tahu Saga, semoga saja ada lorong di sebelah kisahmu ini, setidaknya lorong itu bisa membebaskanmu," kemudian suara itu tak lagi terdengar oleh Saga.

Saga berlari ke arah lorong itu, terduduk dan tunduk lama ia di sana. Warga menemukan tulang-belulang Kinta di bawah taman bunga setelah penggalian yang memakan waktu sejam. Belum diketahui siapa pelaku pembunuhan itu. Sebelum masjid itu dipugar sepuluh tahun yang lalu, di sekitar masjid berjejeran papan-papan kayu yang mengitari masjid, cukup menjadi perisai bagi si pembunuh untuk menyembunyikan kejahatannya.

Saga masih tertunduk, selang tak lama kemudian ia bergumam, mencoba melepaskan apa yang ada di dalam hatinya. Sebait kalimat lirih ia ucapkan, "Aku belum memilikimu, tapi aku sudah merasa kehilangan."

"Sama halnya dengan Gandi."

Sahutan itu, suara itu, sangat ia kenal.


(Catatan: Cerpen ini aku tulis tadi pukul 02:00 am, dalam keadaan suhu badan panas meninggi. Imajinasi berkali-kali terlempar dan coba aku rangkum menjadi sebuah cerpen. Lumayan sih, untuk mengalihkan rasa sakit, menulis bisa melupakan sejenak rasa sakit. Jadilah cerpen yang agak horor ini.)

Powered by Telkomsel BlackBerry®