Wednesday, April 16, 2014

Tenang, Kenyang, dan Senang

imagecoll.com
Seperti biasa, tanpa membaca lebih dahulu, saya dengan cepat mem-forward tulisan di blog Kronik Mongondow. Tak sama halnya dengan tulisan yang pernah di-BC oleh salah seorang teman, tulisan dari Pitres Sombowadile yang diunggahnya lewat status di facebook, saya baca dengan saksama, kemudian mem-forward-nya kembali. Bukan dengan maksud mengadu, tapi agar para pembaca bisa runut mengikuti debat luhur dua penulis ini.

Kebetulan jaringan edge di blackberry gemini purba saya tak sekarat, sehingga dengan cepat link tulisan di Kronik pun saya simak. Menarik ingat, kembali ke sepuluh menit yang lalu saat seliweran status Bang Pitres di facebook, seuntai lirik lagu yang mengait tentang keakraban dan pemaafan bertengger di sana.

Saya di sini tak sedang ingin mengomentari persoalan kata "tragika" (yang sudah cukup jelas diulas oleh para dewa tinta ini), tak ingin menyinggung soal geng Kabar di zaman mereka, atau menyoal analisis-analisis mereka mengenai sosok Syachrial Damopolii atau pun Fachri Damopolii, terlebih tentang Yasti Soepredjo Mokoagow, Aditya Didi Moha, atau sesiapa pun. Saya hanya ingin mengomentari tentang sebuah persahabatan.

Saya bukan seorang petapa yang tiba-tiba saja turun gunung dan melerai tengkar dua dewa. Cukup menguping perkataan Zarathustra-nya Nietzsche, "Bagi sang petapa, seorang sahabat selalu merupakan orang ketiga, ia pelampung yang mencegah percakapan kedua pihak lain tenggelam dalam kedalaman."

Mungkin selama tengkar dua penulis ini, sejauh yang dapat ditemukan dalam tulisannya, porsi menyerang secara personal yang lebih banyak tinimbang mendebat substansi dari hasil analisis masing-masing pihak; tak banyak menyodorkan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi pembaca, juga menyumbang pembelajaran bagi kami penulis pemula.

Meski mereka lahir dari abad "sebelum masehi", rekam-jejak mereka persis saya ketahui dari angin-angin malam kala orang-orang yang dengan khusyuk mengenal sepak-terjang kedua dewa ini berkisah.

"Ya, meski selangit, tapi kita bisa lihat siapa yang memiliki roh profetik di antara mereka berdua," begitu bisik angin.

Tapi bagi saya, cukup dengan saya menganggap mereka sebagai abang dan sahabat, kedua abang saya ini adalah penulis yang tulisannya renyah seperti camu-camu, memiliki tentakel ke segala sudut seperti cumi-cumi, dan seringkali suka cumu-cumu hal yang cuma-cuma. Dan jika salah satunya terancam, ilmu tinta cumi-cumi pun disemburkan.

Dan tentu saja, kedua abang saya ini sedang tidak ingin menjajakan bakso yang dikecapi, bukan? Sebab sebutan abang tak ingin saya geser dan lekatkan artinya menjadi abang tukang bakso, meski setidaknya bakso memang membuat perut kita kenyang.

Bagi sebagian pembaca, debat antara Bang Katamsi dan Bang Pitres adalah adu ilmu kanuragan untuk mencari siapa yang layak berkacak pinggang sebagai jawara, dan tak jarang dengan merapalkan mantra dari kitab-kitab yang telah dituntaskan. Tapi, bagi saya, seteru dalam tulisan-tulisan mereka telah merembesi sumur sebegitu dalamnya, hingga sampai mencuatkan hal-hal personal yang seharusnya dibiarkan terkubur dalam kenangan di bilik kamar. Bagi saya, ini menenggelamkan.

Tak ingin lagi bicara panjang-lebar tentang kedua penulis ini, jika ingin menonton pertarungan yang ada hasil pasti di sana: kalah, menang, dan seri, mungkin tontonan olahraga tinju antara Pacman VS Brandley Minggu kemarin, membuat selera kita terpuaskan.

Cerita persahabatan antara Bang Katamsi dan Bang Pitres adalah sebuah contoh keganasan politik dan kekuasaan. Tapi toh, kita tidak pernah bisa melihat, hanya terus membaca, tanpa mencermati kelihaian mereka berdua yang mungkin saja saat ini sedang saling telepon dan janjian untuk nge-wine, atau barangkali sekadar merasai keganasan cap tikus atau saledo saat mengucur di terjal tenggorokan.

Ah, menguping kembali perkataan Zarathustra-nya Nietzsche, "Berkawan dengan diam itu lebih sepi daripada sendirian."

Selesai dengan segala kudapan dan minuman yang tersaji di hadapan, saya setel lagu Hard to Say I'm Sorry, dan bersiap berlayar ke pulau kapuk siang hari.

Tenang, kenyang, dan senang. Semoga bisa bermimpi melihat kedua dewa tadi berangkulan dan terbahak di tengah serakan botol wine.

After all that we've been through
I will make it up to you
I promise to


You're gonna be the lucky one

When we get there gonna jump in the air
No one'll see us 'cause there's nobody there
After all, you know we really don't care
Hold on, I'm gonna take you there