Sunday, July 13, 2014

Puisi Tak Ber-jika

Derap-derap langkah yang kemarin Terdengar ada gelisah ikut terseret
Dengan sekonyong-konyong dua pesan kupunguti di ubin dingin
BERBUAT!
Isi pesan itu
Sedangkan pesan yang satunya tak kubuka

Kata si itu lebih pantas jika puisi cinta untuk Nusa
Saat ini, iya, kala kata kalah jadi cela
Tapi, puisi itu tak ber-jika, puisi itu tak ber-nusa
Puisi itu serupa sayatan angin di lindap subuh
Menyayat dedaunan berembun
Dingin, diam, dan... Ah, biarkan Ilahi menggumamkannya

Bahkan puisi tak bisa dipelajari
Ia suci tapi tak dirangkuli sampul kitab
Bait-baitnya hadir saat subuh hendak menyetubuhi malam
Lalu berbisik, "bangun Nak, hari baru, Nusa baru, tanpa jika!"

Kembali puisi itu berbisik, tak lirih, ada nada berat mencubiti setiap tanya
"Kenapa tak kau buka pesan yang satunya lagi?"

Genggam tiba-tiba merekah
Di secarik kertas kusut di sana tertulis
"Kita menang Nak, bukan lagi jika!"

@Sigidad
Eropassi
Thu-10-July-'14
1:07 am

(Puisi untuk 7uang 7okowi)
Powered by Telkomsel BlackBerry®