Monday, August 4, 2014

Bang KG, asal bo i-LIMI-tu' to?

Saat berbaring untuk rehat sejenak, menyegarkan sepasang bola mata yang berjam-jam pantengin tiga film di layar laptop. Tiga broadcast messages (BC) tiba-tiba menyembul di kolom chat BBM saya. Isinya, tulisan Bang KG (sapa saya kepada Katamsi Ginano). Dua buah link tulisan runut di situ: 
( http://kronikmongondow.blogspot.com/2014/08/sesal-silaturahmi-politik-1.html?m=1 ) dan yang satunya lagi: ( http://kronikmongondow.blogspot.com/2014/08/sesal-silaturahmi-politik-2.html?m=1 ).

Setelah menekan tombol enter. Tulisan yang pertama saya bacai. Dari awal paragraf dan seterusnya Bang KG bertutur menyoal silahturahmi. Dari judul tulisan "Sesal Silaturahmi Politik", saya belum menemukan kesesalan apa itu. Hingga paragraf ke-13 saya baru tahu. Bang KG kesal dengan sebuah pintu rumah yang tertutup. Pintu tuan rumah yang mengutus seorang tukang sonsoma kepada Bang KG. Tuan rumah itu adalah Limi Mokodompit.

Saya sendiri masih mempunyai tali persaudaraan dengan Om Limi (sapa saya kepada Limi Mokodompit), tapi sangat jarang ketemu. Saya baru beberapa kali ke rumahmya. Lebih sering kakak saya Samsir Galuwo yang hampir setiap malam ke sana. Tapi saya akan coba bertutur pula akan pengalaman saya saat pertama kali ke rumah itu.

Kala itu, saya diutus untuk mengantarkan undangan duka keluarga. Saya membaca sepintas nama dan alamat yang tercatut di amplop, Limi Mokodompit di Jalan Baru, Gogagoman. Meski sebelumnya saya tidak pernah berkunjung ke rumah Om Limi, namun sudah beberapa kali saya melewati istana megahnya. Bersegera saya menuju rumah itu yang, berada tak jauh dari Klenteng. Sesampainya di sana, gerbang rumah terkunci. Tapi ada sebuah pintu kecil berterali besi menganga bak mulutnya gerbang. Setelah beberapa kali mengucapkan salam. Seorang perempuan paruh baya melangkah menuju ke arah saya, lalu mengajak saya masuk.

Rumah itu memang begitu megah dengan pekarangan serupa semesta. Pintu depan rumah itu seingat saya berada di sudut kiri rumah. Seorang ibu mempersilakan saya masuk dan duduk. Saya pun akhirnya tahu kalau ibu itu istrinya Om Limi, sedangkan perempuan yang menyambutku di depan gerbang tadi seorang pembantu. Tanpa basa-basi saya menyampaikan maksud kedatangan yang, hendak mengantarkan undangan. Setelah menyerahkan undangan, saya masih sempat ditawarkan untuk dibuatkan teh. Dengan sopan saya menolak karena terburu-buru untuk mengantarkan undangan-undangan lainnya.

Itu pengalaman pertama saya saat mengunjungi rumah Om Limi. Memang sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bang KG di tulisannya. Di samping itu, situasinya pun jelas berbeda. Di saat Bang KG datang menghadiri undangannya Om Limi, jika pintu rumah itu tertutup rapat, mungkin si tuan rumah bermaksud memfokuskan tetamunya untuk reriungan bersama di bawah atap kanopi. Tak berserakan sana-sini. Dan bisa rembuk, saling diskusi, dan berbagi. Bukankah itu maksud silahturahmi?

Jika tafsir Bang KG soal pintu tertutup itu berbeda, jelas itu adalah pendapat pribadinya Bang KG. Dan apapun soal pendapat, setiap insan merdeka untuk berpendapat. Tapi, alangkah lebih baiknya jika kita selalu melihat sisi baik dari seseorang. Lagipula, dari tulisannya Bang KG, yang kusimak dari awal tutur, Bang KG malah berkisah tentang sebuah kesederhanaan dan kesan "mana-mana". Bukankah lebih sederhana kita duduk reriungan di bawah atap kanopi, ketimbang di dalam ruang tamu berpermadani?

Bang KG, asal bo ilimitu' to?

Itu sekadar pendapat pribadi saya menyoal tulisan Bang KG. Iya, tetap merdeka, dan selalu berpikir positif. Merdeka bukan berarti kita meniadakan kebaikan di sana. Dan berpikir positif adalah sebuah kebaikan.

Salam. Lama tak membaca tulisan Bang KG. Meski sudah di senja Idul Fitri. Saya ucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Oh, ya... Bang KG, kemarin waktu salaman sama Om Limi, pake kepalan tinju atau jabat tangan? Hehehe...