Wednesday, January 22, 2014

Mimpi Buruk

Suara dentuman keras. Orang-orang berlarian, teriak, dan meremukkan kompas, tak ada lagi yang tahu arah. Aku setengah sadar tapi tak berdaya. Dalam dunia nyata, ketidakberdayaan itu seperti saat bapak guru memergoki kita di dalam kantin lalu kita sedang merokok. Dalam mimpi, ketidakberdayaan itu seperti kita lari dari hal yang menakutkan, tapi kaki tak bisa diajak kompromi. Meski coba menghindar, kita mau kemana dalam dunia mimpi?

Tiba-tiba bumi retak terbelah, tak ada lagi pijakan hingga segala yang di atas kulit tanah hanyalah logam memberat jatuh. Aku ikut terseret bersama ratusan orang lainnya. Masuk ke naraka tak bercelah. Hanya hitam yang samar dijilat-jilat ujung lidah api. Segunung tanah menguburku. Kedua lenganku saling bersedekap. Sedang sakratulmaut dengan sisa hembus nafas tertahan lama. Dan akhirnya mirip jenazah. Apakah aku sudah mati?

Itu beberapa plot dalam mimpi yang masih bisa kuingat setelah satu hentakan di kaki dan sayup-sayup suara yang makin mengeras membangunkanku. Dan baru di situ bisa kubedakan antara batas ketidaksadaran dan sadar, antara kematian dan kehidupan. Dan lagi-lagi tampak seorang perempuan renta menertawaiku karena ekspresi kagetku tak ketulungan. Ya, "ketindisan" sudah menjadi kebiasaan di setiap tidurku. Kebiasaan dari kecil yang lumayan mengganggu.

Wajah-wajah dan tempat yang tadi itu, tak bisa kukenali, dan tak ada lagi yang tersisa dalam memori jangka pendek. Aku sudah di alam sadar.

Dalam mimpi buruk, saat terbangun mungkin kita masih bisa mengingat sekejap. Memimpikan sesuatu hal yang seram, bisa teringat samar dalam pikiran. Membekas seketika tetapi detail menjadi tak jelas. Hal ini karena bagian otak 'sub-conscious mind' tidak memindahkannya dari memori jangka pendek menjadi jangka panjang, sehingga akan segera terlupakan setelah bangun tidur, seperti yang kubaca di Wikipedia ― dan fakta yang kurasakan saat ini memang demikian.

Yang paling parah, ketika kita bermimpi dan disertai dengan fenomena "ketindisan" atau bahasa kerennya sleep paralyze, kelumpuhan saat tidur yang, konon disebabkan oleh hantu atau mahluk halus, seperti mimpi yang barusan. Jika dibaca kembali plot mimpi di atas, di mana bagian saat sosok si hantu itu mengada dan meyakinkanku bahwa ia sedang menindihku? Atau si hantu masuk ke alam bawah sadar kita dan menciptakan mimpi seram itu? Aih...


Tapi bukan itu yang membuatku tercenung saat ini. Setelah mencoba meramaikan seisi kamar dengan suara musik dari laptop, kucoba tenangkan pikir dengan sebatang rokok yang kusulut dengan pijar api meletas dari korek api. Kucoba ramaikan suasana. Hingga seiring waktu, penggalan-penggalan mimpi yang seharusnya memang ingin kulupakan, dan menjadi tidak, oleh sebab telah kutuliskan di atas, dan kini ingin kembali kuingat-ingat.

Yah, jika selalu ada arti dalam sebuah mimpi, aku akan sangat kesulitan mengungkai dan menafsirkan mimpi yang barusan tadi. Kalau saja dari retakan tanah muncul angka-angka, maka siang nanti segera kucari si bandar togel.

Ah, tak perlu diseriusi, lagian ini mimpi burukku yang kesekian kalinya. Kalau mimpi-mimpi yang dulu itu memang memiliki arti, maka biarkan saja ruang dan waktu yang menyediakan sempat untuk bisa kumaknai. Sejauh ini, tak ada yang bisa lebih kumaknai selain apa yang nyata kulalui dalam hidup. Bukan pada mimpi.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, January 17, 2014

Bencana dan Canda

Pertama kali saya ingin mengucapkan turut berbela-sungkawa atas korban-korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di kota Manado dan sekitarnya, baik korban yang meninggal, dan mereka yang terus berbenah pasca banjir itu.

Menarik kala kita menyaksikan beragam status dan personal message, baik di jejaring sosial media (sosmed), juga di Blackberry Messenger (BBM) dari orang-orang yang peduli, pun mereka yang melihat angle lain dari bencana ini, termasuk saya sendiri.

Ada beberapa poin yang bisa dipetik kemudian dikemas, dibawa jauh ke puncak perenungan untuk kita semua, bahwa apa yang dibangun oleh manusia, tak akan lebih kokoh dibandingkan dengan apa yang terbangun sendiri oleh alam. Kalimat ini tak sengaja saya temukan di film Tekken, kemarin, yang entah kenapa bertepatan dengan ramainya pemberitaan soal banjir bandang di kota Manado.

Setelah kupikir dan kurenungi, alangkah bijaknya kita saat segala urusan bencana kita kembalikan kepada alam, kemudian ke diri kita pribadi ― manusia. Ini bukan kemurkaan Tuhan, bukan pula sebab tatap mata kita yang dimanjakan dan seringkali memijat lekuk tubuh gadis-gadis Manado yang mengenakan cadeko, yang jelas-jelas pernyataan itu adalah post hoc ergo propter hoc (setelah ini bukan berarti karena ini), fallacy, kesesatan pikir, meski itu disampaikan hanya dengan canda yang memang tak perlu kita seriusi.

Tapi hal itu menjadi serius ketika berderetan kembali puluhan personal message di BBM, puluhan Broadcast Messege (BC) yang menyebut bahwa bencana ini memang telah termaktub di salah satu ayat di kitab suci. Dan lebih parahnya saat menyelinap dengan cepat sebaris kalimat di kolom chat saya, "Bencana banjir ini adalah tanda-tanda kiamat!"

Entah itu hanya candaan, tapi alangkah baiknya kita melihat jauh ke dalam. Psikis para korban sekarang jauh lebih rengsa dibandingkan kita yang petantang-petenteng di kota yang nun jauh dan meski diguyur hujan pula, tapi kita masih tetap bisa meringkuk nyaman di balik selimut kala dingin datang menyergap.

Alam selalu akan membalas tingkah kita memang. Dengan gaya senyap-senyapnya, datang menerjang tanpa wujud, tanpa suara, sepi dan menggusur kala kita tidur, lalu sekejap terkubur lumpur.

Selalu bersikap adil terhadap alam, karena alam adalah wujud nyata dari Sang Pencipta.

Saat ini, saya jadi ingat lagu Marjinal, Luka Kita, di salah satu bait lirik lagu itu, kupetik dengan penuh rasa haru, "Besarnya bencana, lebih besarlah hikmahnya."

Hikmah apa di balik bencana ini? Manado adalah sebuah gerbang yang tak pernah disusupi dan dihebohkan oleh tingkah-tingkah bodoh para bigot-bigot kerdil yang mengusung paham-paham radikalisme dalam agama (meski mungkin telah ada tapi sedang menyusun strategi). Manado adalah kota yang sikap pluralitasnya begitu tinggi. Maka dengan bencana ini, jiwa gotong royong terus terjaga dan semakin erat. Sebab apa yang paling besar dalam diri manusia adalah sifat humanis kita, seperti kata Samratulangi, "Si tou timou tumou tou."

Maka besarkan hati kita untuk selalu melihat kebaikan dalam diri seseorang ― dan manusia lainnya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®







Sunday, January 5, 2014

Pungut Itu Bintang

Akan kucakar tujuh puluh dustamu, biar kamu senang dengan apa itu cinta! Setelah itu... Mau kugaruk lagi luka cakar itu. Kau merasa sakit? Kau melihat punggungmu terkoyak? Ah, itu cuma geliat sakit yang enak. Tubuhmu sakit, tapi jiwamu tidak.

Kemarin saja aku kejar kau dengan tujuh dering, tapi malah kau benamkan ponselmu ke dalam kolam. Apa salahku? aku hanya mau bertanya, sudahkah kau teguk air mani yang kuteteskan di penutup botol bir itu?

Aku tak berkuku panjang, jadi kuku ini tak akan lepas seperti kuku milikmu yang kemarin ― tercerabut seperti cangkang ketika mencabik-cabik ini tubuh. Padahal aku hanya bilang, jangan garami siput di tembok itu. Tapi kau kukuh diri, kau jahat! kau lebih suka melihat lendir-lendir mengalir dari jasad bercangkang itu.

Kau dan aku beda. Aku suka apa yang aku suka, aku tidak suka apa yang aku tidak suka, dan aku suka pada apa yang seharusnya aku tidak suka, aku tidak suka pada apa yang semestinya aku suka.

Aku dan kau beda. Kau lebih malu dengan aib, sementara aku menganggap aib itu adalah sebuah keagungan.

Tapi, sudahlah, semuanya berlalu sudah, kita semakin (akan) tua dan sebentar lagi tak punya waktu untuk semua tengkar. Temali yang kemarin itu, hanya seutas saja nasib, kau yang memilih untuk apa kau gunakan itu, bahkan bisa kau pakai untuk menjerat takdir.

Kita kelilingi saja sepenggal petak bumi ini, kemudian merenungi perjalanan, memahami segala warna, dan menemukan bintang kita di langit, bukan hanya satu, tapi kantongi sebanyak-banyaknya.

Dan, teruslah memunguti gemintang, sebab apa yang disebut memunguti itu selalu apa yang berserakan di bawah, tapi benarkah langit itu di atas? Jika semesta ini begitu luas tanpa batas.

Lalu... Pungut itu bintang.

Powered by Telkomsel BlackBerry®