Thursday, August 28, 2014

Konstatasi, Kualifikasi, dan Konstitusi


Ratusan kasus atau perkara berbeda yang bertengger, datang dan pergi, di sebuah gedung yang bernama Pengadilan Negeri Kota Kotamobagu. Muara dari semua rekam-jejak dan putusan peristiwa pidana maupun perdata di Bolaang Mongondow Raya.

Pengadilan Negeri Kota Kotamobagu. Gedungnya dua lantai yang diapit oleh Jalan Ade Irma dan Jalan Datoe Binangkang, di pusat Kota Kotamobagu.

Lingkungannya asri didekap rerimbun pepohonan. Saat masuk, sebuah tangga di sebelah kiri menuntun kita ke lantai dua, di mana para hakim berkantor dengan tumpukan perkara di dalam hati dan akal mereka, untuk ditimang-timang.

Sementara untuk dua ruang sidang perkara, tangganya paling belakang bangunan, pun ada musholah di sana. Ruang sidang yang di sebelah kanan saat kita kesana, ada dua sel tahanan tiarap di bawah tangga. Di situ tempat bercokol para tahanan dengan mimik wajah dan perkara yang berbeda-beda. Nasib mereka, tergantung dari ketukan palu sang hakim.

Enam orang hakim yang tersisa di Pengadilan Negeri Kotamobagu ini. Ketua Majelis Hakim namanya I Dewa Made B. Watsara S.H, yang masing-masing formasi hakim anggotanya, Christy A. Leatemia S.H dan Harianto Mamonto S.H. Sedangkan formasi satunya lagi, Hakim Ketua Nur Dewi Sundari S.H, dengan hakim anggotanya Erick I. Christoffel S.H dan B. M. Cintia Buana S.H.

Ketika para hakim menganalisa sebuah perkara, itu tidak mudah. Ada tahapan-tahapan di mana setiap perkara harus ditelisik seksama.

"Mulanya kita mengkonstatir perkara, kita menganalisanya lalu merumuskan peristiwa. Setelah itu kita mengkualitisir, menetapkan peristiwa hukumnya dari yang sudah dikonstatir. Nah, tahap ketiga kita mengkonstituir, tahap penetapan hukum dan memberi keadilan suatu putusan," jelas Erick layaknya seorang dosen Fakultas Hukum kepada mahasiswanya.

Seringkali juga diakui Erick, bahwa beban psikis hadir seketika saat menganalisa sebuah perkara yang berbeda-beda.

"Beban psikis pasti ada. Perkara yang kita analisa berbeda-beda," akunya, Kamis (28/8) kemarin. Saat itu ia duduk di kursi dan meja kerja yang berdekatan dengan pintu masuk ruang sidang sebelah kanan, dari arah pintu masuk para hakim menuju ruang sidang. Selangkah dua langkah saja, ruang sidang terbentang sudah.

Sesaat kemudian, ia bersiap diri menuju ruang sidang, sembari membuka lemari tempat "jubah keadilan" menggantung di dalam. Sebuah bef putih berbentuk dasi dikalungkan di leher. Disusul toga hitam yang sudah terjahit simare merah dikenakannya. Tampak bef menyembul keluar dari dalam balutan toga.

Kali ini, Hakim Ketua Nur Dewi Sundari S.H, Erick I. Christoffel S.H dan B. M. Cintia Buana S.H, tepatnya akan memutuskan sebuah perkara pidana perlindungan anak. Sebuah sidang tertutup untuk umum.

Di dalam ruang sidang yang terlihat lapang, berjejeran di belakang, kursi memanjang yang dikhususkan bagi pengunjung sidang yang, kali ini hanya seorang tahanan dengan rompi oranyenya menunggu lugu. Jaksa Penuntut Umum dan seorang pengacara duduk di tempat biasanya, mereka berdua duduk di samping kanan dan kiri, serupa pengawal keadilan. Seorang panitera pun telah siap dengan pena di samping kiri para hakim, jika posisi kita dari pintu masuk pengunjung sidang. Setelah itu pintu ditutup rapat oleh penjaga. Ketukan palu terdengar. Nasib terdakwa ditentukan di dalam.

Setelah sidang putusan selesai, Hakim Ketua Nur Dewi Sundari S.H, meluangkan waktu untuk diwawancarai.

"Setelah semua tahap, kami musyawarah. Dan pada saat sidang, kami harus yakin saat membacakan putusan dan mengetukkan palu. Beban psikis saat memutuskan itu tidak ada, karena kita sudah melewati semua tahap saat menganalisa perkara," jelas hakim yang biasa disapa Dewi. Ia memang satu di antara dua "dewi" di Pengadilan Negeri ini, yang satunya lagi Christy A. Leatemia S.H.

Tidak mudah menjadi seorang hakim. Dari memeriksa sebuah perkara, menganalisa secara seksama, hingga merunutkan sebuah peristiwa. Di "jubah keadilan" para hakim, terjahit pula ratusan helai benang perkara, hingga kebenaran terurai dan diputuskan dengan gema ketukan palu.

Wednesday, August 13, 2014

Kopi Kotamobagu


Kopi Kotamobagu


Gunung Ambang terlihat dari Tudu Passi.
Gunung Ambang terlihat dari Tudu Passi.

Kotamobagu adalah salah satu kota di provinsi Sulawesi Utara. Dulunya wilayah ini menjadi ibukota kabupaten Bolaang-Mongondow. Setelah terjadi pemekaran wilayah, Kotamobagu menjadi masuk wilayah kotamadya dan ibukota kabupaten berpindah ke kota Lolak. Wilayah Kotamobagu dikelilingi pegunungan. Dari sekian gunung yang di sana terdapat satu gunung yang paling mencuat. Gunung Ambang namanya.

Dari tanah di sekitar gunung Ambang inilah dulu kopi Kotamobagu dihasilkan. Sama seperti wilayah lain di Nusantara, kopi menjadi tanaman yang wajib tanam penduduk pada jaman penjajahan Belanda di daerah ini. Tanaman kopi ditanam di lahan belakang rumah atau di lahan perkebunan. Sampai sekarang sebagian kecil penduduk desa masih mempertahankan untuk membudidayakan tanaman kopi.

Desa saya, desa Passi, terdapat di bagian puncak salah satu bukit di Kotamobagu. Dari desa ini jika kita naik ke puncak bukit yang disebut Tudu Passi, kita bisa menikmati kopi Kotamobagu sambil melihat pemandangan yang terhampar luas termasuk kerlap-kerlip Kotamobagu di malam hari.
Secangkir Kopi Kotamobagu siap disruput.
Secangkir Kopi Kotamobagu siap disruput.

Ada satu kisah yang menohok hati beredar kala kopi masih menjadi pundi gulden bagi kas kolonial Belanda. Kisahnya, di setiap dasar lesung yang terparkir di rumah-rumah penduduk diberi plakat dari tembaga yang berguna untuk memantau lesung itu digunakan untuk menumbuk padi atau biji kopi. Siapa yang ketahuan telah menumbuk kopi akan dihukum tembak. Bayangkan saja, untuk menikmati secangkir kopi nyawa menjadi taruhan. Di hitam cangkir kopi kita sekarang, selalu ada cerita kelam dan perjuangan di baliknya. Ada kisah penindasan juga kisah heroik yang tenggelam di hitam kopi. Karena dengan tindakan sewenang-wenang penjajah saat itu, bangkit jiwa untuk melawan dari rakyat. Kopi adalah revolusi. Hal ini memperkuat pendapat bahwa di setiap revolusi ada andil bercangkir-cangkir kopi yang menghadirkan buah-buah pikiran perlawanan.

Setelah masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 hingga kini kopi Kotamobagu masih tetap bertahan dari segala perubahan jaman. Meski banyak juga yang telah menggantinya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti tanaman vanilli dan cengkeh, karena mengejar harga vanilli dan cengkih yang sempat melambung tinggi. Tanaman kopi masih terus bertahan di daerah kaki gunung Ambang, tepatnya di kecamatan Modayag. Desa-desa di kecamatan ini sebagian kecil masih menjadi penghasil tanaman kopi. Dulu, sebagian dari penduduk desa ini datang dari pulau Jawa sebagai buruh di perkebunan kopi pada jaman penjajahan Belanda. Sampai masa kemerdekaan mereka beranak-pinak dan memilih tinggal. Sekarang, para penghasil kopi sudah tersebar di wilayah-wilayah lain di kabupaten ini.

Kopi Kotamobagu merupakan jenis arabica yang ditanam pada ketinggian 600-2200 mdpl di kaki dan punggung gunung Ambang. Kopi Kotamobagu sudah cukup terkenal kenikmatannya. Dalam gala dinner antara pemerintah Republik Ceko dan Kedutaaan Besar Indonesia kopi Kotamobagu turut dihadirkan. Kopi ini merupakan trade mark provinsi Sulawesi Utara, dan menjadi satu-satunya produk kopi berkualitas di sana yang tidak kalah dengan jenis kopi-kopi lainnya di Indonesia. Meski kita tahu bahwa soal citarasa mungkin lebih bersifat subjektif, tapi untuk bisa berkomentar lebih Anda harus mencoba kenikmatan kopi Kotamobagu ini.
Kopi Kotamobagu
© kopikotamobagu.com

Ada satu kedai kopi di Kotamobagu yang sekarang cukup populer meski tempatnya kecil layaknya kedai-kedai kopi biasanya. Tak sulit untuk menemukannya karena kota ini tak terlalu besar. Letaknya tepat di depan lapangan desa Sinindian yang tak jauh dari pusat kota Kotamobagu. Namanya mirip dengan nama tempat minum kopi di kota Manado yakni Jarod (jalan roda). Bedanya di sini bukanlah sederetan kedai-kedai kopi. Hanya ada satu kedai kopi. Saya lebih suka menamainya Kedai Kopi Aba' (sebutan di sini untuk orang tua yang artinya sama dengan sebutan ‘Abah’). Aba' pemilik sekaligus peramu kopi cukup familiar di seantero Kotamobagu.

Meski kedainya sederhana tempat ini dilengkapi fasilitas jaringan wi-fi, dengan pengunanya dipungut biaya Rp 5.000 setiap datang berkunjung. Aba' tak ketinggalan jaman meski usianya hampir menginjak 50 tahun (prediksi saya). Selain untuk menarik pelanggan, Aba' cukup tahu apa yang dibutuhkan orang-orang saat ini untuk bisa mengakses informasi selain tumpukan koran di meja rotannya. Itu yang membuat banyak mahasiswa dan wartawan sering mangkal di sini. Para pejabat kabupaten sesekali juga datang berkunjung, kemudian berbincang-bincang soal isu hangat perkembangan politik. Secangkir kopi dan roti bakarnya harganya cukup murah meriah. Uang limabelas ribuan tak akan tandas di kantongmu.

Sebenarnya selain di kedai kopinya Aba', ada beberapa tempat tongkrongan lain yang menyajikan minuman kopi di kota ini tapi tak sepopuler tempatnya Abak. Mungkin karena rasanya yang khas mampu meringkus hasrat orang-orang untuk selalu kembali ke sini. Kopi ini dibikin dari sejuta pengalaman hidup Aba' dengan cerek kopinya. Cara membuatnya pun sederhana. Cukup menjerang air dengan campuran kopi Kotamobagu dan gula yang hanya Aba' sendiri tahu takarannya. Kopi panas tersaji begitu cepat dan cekatan. Sempat saya berpikir, jika Aba' nanti mangkat, posisinya akan digantikan oleh siapa, karena tak pernah saya lihat ada orang lain di sana selain tubuh ringkih namun cekatan ini. Semoga saja Aba' selalu dianugerahi kesehatan dan umur panjang agar kami masih tetap bisa menjadi bala seruputnya. Satu yang Aba' tak bisa lakukan adalah menahan tidur dengan lebih lama, pukul 01.00 lewat tengah malam ia sudah dibuat menyerah oleh kantuk. Dan para pengunjungnya pun memaklumi.

Hingga hari ini saya cukup lega karena meski telah menetap di Bali, tapi masih saja sering dikirimi kopi Kotamobagu oleh keluarga. Pernah pula saya membaca buku Dewi Lestari, Filosofi Kopi. Dari sana saya bersama seorang teman tergerak hati ingin membuka rumah kopi sekaligus rumah baca di kota Lolak. Kami memilih kota itu, karena selain tak ingin bersaing dengan kedai kopinya Aba' atau lebih tepatnya khawatir kalah bersaing, lahan di sana adalah satu-satunya lahan yang tersedia dan milik teman saya. Kedai impian itu bakal diwujudkan sekembalinya kami dari perjalanan mengelilingi nusantara. Teman saya pun masih akan menyelesaikan studi di kota Makassar.

Secangkir kopi adalah mimpi. Hitamnya adalah warna pembuka kita saat bermimpi. Hari ini, mau pagi, siang, sore atau malam, saya masih menyempatkan diri beranjak untuk menjerang segelas air, dengan dua sendok kopi Kotamobagu, satu sendok gula pasir “Persia” diaduk melawan atau pun searah jarum jam hingga uapnya berfatamorgana. Kopi Kotamobagu siap diseruput. Tersesap begitu nikmat di dalam mulut. Lengkaplah sudah komposisi hari ini.

(Artikel ini pernah dimuat di www.minumkopi.com website punyanya Puthut Ea (penulis), tapi ada beberapa kesalahan editing, jadi di sini saya edit lagi) :D

Thursday, August 7, 2014

Gelora Ambang, Riwayatmu Kini...

Penulis: Kristianto Galuwo 

Gelora Ambang, stadion yang pernah menjadi kebanggaan kita. Saya yakin, ada banyak kenangan, pengalaman, kisah, dan prestasi yang pernah terukir di sini, oleh kita orang Bolaang Mongondow.
Bukan sedikit cerita yang pernah saya dengar tentang Gelora Ambang dari mereka yang di era 80 hingga 90-an adalah remaja-remaja yang aktif dan penuh kenangan di stadion ini. Ada lomba renang, pertunjukan sandiwara, teater, pacuan kuda, ragam perlombaan seni budaya, kejuaran atletik, dan pameran. Bahkan arena konser artis-artis lawas seperti: Nike Ardila, Poppy Merkuri, Andy Liani, Power Metal, Andromeda Band, Nicky Astria, Gito Rollis, Ikang Fauzi, dan sederet artis ibukota lainnya termasuk yang paling jadul, Euis Darliah. Saya salah satu yang pernah menyaksikan langsung  konser Power Metal, saat  masih duduk di bangku sekolah dasar.

Waktu melaju cepat, kekuasaan berganti,  stadion yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Drs Jambat Damopolii (alm) yang dahulunya dikunjungi ribuan manusia, kini sepi dari riuh kegiatan, bak bentangan belantara belukar yang mengubur ribuan kenangan pada masa keemasan di jaman 80 hingga 90-an.

Tapi stadiun ini, di awal millenium, seolah kembali menemukan roh-nya lewat aksi Persibom yang seolah hadir sebagai pengganti kuda-kuda pacu yang ‘mati’, pertunjukan seni budaya yang hilang, perlombaan ragam jenis olah raga atletik, entertain, serta pameran pembangunan yang dahulu biasa di gelar pemerintah kabupaten di tempat ini.

Saya mungkin adalah generasi penghabisan yang, masih sempat menyaksikan langsung kejayaan Persibom berlaga. Baru-baru ini, saat mencoba menengok kembali gambaran-gambaran yang pernah ada di stadion yang kini merana, sontak ada rasa sedih mengharu-biru dan menggulung dalam benak;  dulu kami berdesak-desakan di sini, mengantri tiket masuk, menyoraki Persibom, dan pulang dengan rasa bangga meski seringkali juga dengan kepala tertunduk.

Tapi pekan kemarin, ketika memacu sepeda motor ke tempat ini, mulut saya ternganga melihat Gelora Ambang yang kini bak hutan belantara; tribun depan yang digulung semak-belukar, puluhan mess atlit yang raib entah kemana hingga menyisakan reruntuhan pondasi pondok yang berbentuk semacam batu kubur yang tak dikenali. Lapangan basket yang digagahi belukar, arena teater yang menyimpan bau pesing jaman ‘purba’, dan pemandangan lain menyerupai bangunan bangunan ‘mati’ di Chernobyl  Ukraina.

Saya lantas berkendara  ke area tribun sebelah barat yang dibangun pada masa kejayaan klub sepakbola Fajar Bulawan era kepemimpinan Bupati Marlina Moha Siahaan. Tribun yang dulu disesaki para Bom Mania kini lebih mirip gudang  kayu  yang  jadi santapan rayap. Tinggal tunggu topan meniup maka bablaslah sudah.  Belukar juga ganas menggerayangi onggokan kayu yang rapuh.

Saat sedang miris dengan pemandangan ini, telinga saya menangkap sayup  suara anak-anak yang sepertinya datang dari arah kolam renang. Saya bahkan hampir tidak bisa menemukan jalan ke arah itu sebab belukar rimbun di mana-mana. Sejenak sempat usil berpikir, jangan-jangan itu suara penunggu Gelora Ambang. Maklum, suasana horror entah kenapa cepat menyergap  tatkala berada di sini.

Saya bergerak mencari ringkih suara yang tersisa itu dan akhirnya menemu jalan tikus yang menuntun saya memasuki area kolam renang.  Gerimis turun ketika itu. Ada empat orang  bocah laki-laki dan dua perempuan yang sedang mandi. Ada dua fasilitas kolam renang di sini; yang berukuran besar tinggal menambah kemirisan tatkala pemandangan yang ditampilkan adalah ubin raksasa tempat berkubangnya rawa dan tetumbuhan yang akan cepat benakmu mengambil prasangka bahwa, jangan-jangan ada anakonda bersemayam di situ, atau mungkin buaya, soa-soa (biawak), patola (ular piton) dan binatang berbisa lainnya. Sedangkan kolam yang satunya lagi, di mana para bocah sedang latihan berenang, itu satu-satunya fasilitas yang dirawat seadanya oleh seorang perempuan berumur  50-an yang biasa disapa Tanta Ebi.

Ia adalah penjaga  kolam. Suaminya “juru kunci” Gelora Ambang.  Perempuan ini membuka  kantin seadanya di tepi kolam yang menawarkan pisang goroho goreng sebagai menu andalan. Sebagai penjaga kolam yang luput perhatian dari pemerintah, ia cukup meminta Rp 3.000 kepada setiap orang yang datang mandi sepuasnya.

Usai bercakap-cakap sejenak dengan Tanta Ebi, saya pamit pulang dan menyempatkan diri  bersinggah di Kantor Pemkot Kota Kotamobagu hendak menemui  Asisten III, Dra Djumiati Makalalag, untuk bertanya seputar status Stadion Gelora Ambang yang masih terhitung sebagai aset Pemkab Bolmong.

Ia tak berada di tempat sehingga saya mengontaknya melalui telepon selular. Makalalag, menyampaikan bahwa saat pemekaran dan Ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow pindah ke Lolak, aset itu masih terhitung sebagai aset milik Pemkab Bolmong dan hingga kini belum ada penyerahan secara resmi.

“Memang baru-baru ini antara Pemkot dan Pemkab, ada rencana pembahasan untuk penyerahan aset secara resmi. Tapi waktunya belum disepakati kapan persisnya,” kata Makalalag melalui pesan singkat via handphone, Rabu 30/10/2013, lalu ia menyarankan saya selaku wartawan lintasbmr.com supaya bertemu langsung dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kotamobagu Mustafa Limbalo, atau menemui Kepala Dinas PPKAD.

Pada sebuah kesempatan saat  Dialog Publik yang dilangsungkan HMI Bolmong pada, Sabtu 16/11/2013, di Restoran Lembah Bening Sinindian, saya sempat bertemu Sekda Kota Kotamobagu Mustafa Limbalo dan menanyakan soal status Gelora Ambang. Dikatakan oleh Limbalo bahwa, Gelora Ambang memang terhitung sebagai  salah satu aset di antara 39 aset milik Pemkab Bolmong yang masih berada di wilayah Kotamobagu. Ia mengatakan, persoalan aset ini akan segera diselesaikan dalam waktu dekat ini.

Untuk diketahui, persoalan aset milik Pemkab Bolmong yang berada di wilayah pemerintahan Kotamobagu, hingga kini masih terkatung-katung pengelolaanya semenjak Ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow pindah ke Lolak tahun 2010 silam. Mengemuka wacana  agar aset yang tertinggal, diserahkan saja pihak Pemkab Bolmong ke Pemkot Kotamobagu. Para pemangku kebijakan antara kedua belah pihak telah ada kata sepakat. Akan tetapi realisasi penyerahan aset tersebut hingga saat ini urung dilakukan. Alhasil, banyak aset terbengkalai, termasuk bekas Kantor Pemkab Bolmong dan sejumlah kantor SKPD, termasuk Rumah Jabatan Bupati di Bukit Ilongkow yang santer dijadikan lokasi judi sabung ayam oleh masyarakat.

Akan halnya dengan Stadion Gelora Ambang, aset yang satu ini memang sudah lama terbengkalai melewati hitungan 1 dekade bahkan  sebelum pemekaran terjadi dan jauh hari sebelum pemerintah kabupaten Bolaang Mongondow pindah alamat ke Lolak, kondisi stadion Gelora Ambang memang sudah ‘sakit’ kronis.

Ah, Gelora Ambang. Riwayatmu kini....

 (Tulisan ini pernah dimuat di media elektronik www.lintasbmr.com, waktu saya masih sebagai reporter di media itu. Saya bermaksud ingin mengabadikan tulisan ini di blog pribadi saya.)

Wednesday, August 6, 2014

Laksi Pamuntjak di: “Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia”

Tulisan ini, ingin saya simpan di Getah Semesta.

Paris...
07 Desember 2008

Oto-fiksi dalam Sastra Indonesia: Pramoedya Ananta Toer dan Nh. Dini.

Oleh: Laksmi Pamuntjak

Saya ingin membuka percakapan ini dengan mengutip penyair John
Ashberry. Dan kalimat ini tidak terdapat dalam salah satu puisinya,
melainkan muncul dalam sebuah ceramah di Columbia University . " Ada
saatnya kita sadar bahwa tak ada satupun laku manusia yang lebih
dramatis dan meyakinkan ketimbang laku kita sendiri."

Saya sering merenungi kalimat ini. Nampaknya John Ashberry tak hanya
membuat sebuah komentar estetik tentang hidup dan karya orang-orang di
sekitarnya, tapi juga tentang masa sekarang, masa di mana kita hidup,
dan juga tentang perubahan fundamental—yang tak selalu disadari—dalam
bagaimana kita bercerita.

Dengan kata lain, John Ashberry mempermasalahkan efektivitas narasi
tradisional dalam membangun plot, dan dalam menjalin sejumlah aksi
manusia melalui tokoh yang bukan diri kita sendiri—yang berhasil
melampaui hukum alam dan mengambil alih baik diri mereka sendiri
maupun kondisi yang mereka alami—dengan cara yang meyakinkan dan
"nyata" bagi para pembaca.

Izinkan saya bercerita tentang pengalaman saya sendiri. Suatu hari,
saya mengirim pada teman saya 29 halaman cerita pendek saya lewat
email, cerita pendek yang tadinya saya niatkan sebagai sebuah
"novella." Saya ingin mendengar pendapatnya mengenai tulisan yang
berdasarkan hidup saya sendiri itu. Sembilan bulan lamanya saya
bergulat dengan teks ini; ia membuat saya bahagia sekaligus tersiksa.
Kadang saya merasa ia berada dalam kendali saya, tapi lebih sering ia
menyeret saya ke dalam alurnya sendiri. Ia membebaskan sekaligus
mememenjara.

Teman saya ini seorang teman lama. Ia seorang pembaca yang cermat dan
terlatih. Terhadap sebuah teks, ia kritis dan menuntut; ia terus ingin
tahu, ingin tahu lebih banyak, mengenai hidup manusia yang terkandung
dalamnya. Ia memilih subyek yang menarik minatnya, kemudian
menyelaminya dengan ketekunan seorang ilmuwan. Ia menilik untuk
mengerti, ia mengerti untuk puas.

Entah berapa surat terlayang di antara kita. Tentu, ia juga bercerita
mengenai dirinya, tapi yang mengalir, sesungguhnya, adalah sungai
kenangan saya.

Dan apa kata kawan saya itu, yang pagi itu menatapi saya tajam-tajam,
tak ubahnya seorang guru terhadap muridnya? "Kamu menutup-nutupi
begitu banyak hal mengenai dirimu." katanya, "Sebagai orang yang cukup
tahu apa yang telah kamu lalui, saya terus terang tak puas."
Masalahnya cukup sederhana, katanya: detailnya tidak cukup.

Pada titik itu saya terhenyak. Ia memang buru-buru menambahkan bahwa
pendapat ini berasal dari seseorang yang merasa mengenal saya;
seseorang yang punya bias, yang mungkin menjadikannya "… bukan seorang
kritik yang tepat, karena saya sudah terlalu masuk dalam detail
kehidupanmu." Tapi saya merasa bukan itu persoalannya: saya yakin ada
sesuatu dalam struktur atau roh tulisan itu sendiri yang tak memadai,
yang tak "menjadi". Kecurigaan saya terbukti ketika ia menambahkan
bahwa selama ini ia lebih sering membaca novel – novel dalam arti yang
tersempit: yang punya awal, bagian tengah dan akhir, dengan titik di
mana ia "selesai".

Siang itu saya pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Saya merasa
gamang, tercerabut. Saran kawan saya menghisap pengetahuan saya
mengenai diri saya sendiri: benahi kronologinya, perjelas setiap
lokasi, terangkan hubungan si ini dan si itu, perkenankan kita menemui
lagi karakter ini … semuanya tuntutan bahwa yang diekspresikan harus
juga dijelaskan.

Pada akhirnya, saya tetap bertahan dengan struktur lama. Ini bukan
karena saya tak bersedia menerima kritik, tapi karena saya yakin bahwa
persepsi kita mengenai fiksi – apalagi fiksi yang berangkat dari
otobiografi – tidak cocok. Saya tak mau terlalu jauh menyimpulkan
bahwa latar belakang disiplin kita yang berbeda – ia ilmu pasti, saya
humaniora – juga berperan dalam cara kita melihat apa yang relevan
dalam kedirian seseorang. Tapi kehausan akan detail itu, akan yang
"benar" dan yang sahih (dan ia bukan pembaca yang malas, atau yang tak
imajinatif) mau tak mau adalah sesuatu yang kualitatif, sesuatu yang
hanya bisa diukur dan diperiksa dari terjadi atau tidaknya sesuatu –
kapan, bagaimana dan mengapa – sesuatu yang bisa dirunut sebab dan
akibatnya. Dengan kata lain, sesuatu yang bersumber dari fakta.

***

Masalah yang mendasar dalam fiksi otobiografi sebenarnya bukan dalam
mengolah dan menyeimbangkan unsur fiksi dan fakta, tapi dalam
memutuskan fakta mana yang harus disingkap dan mana yang tidak, antara
"kebenaran" dan "setengah-kebenaran". Dalam fiksi dan dalam
otobiografi, narator orang pertama selalu memerlukan sebuah dalih,
sebuah helat, untuk memulai.

Sebelum abad ke 20, berbicara mengenai diri sendiri, baik dalam laku,
lisan maupun tulisan, tak pernah merupakan sesuatu yang terpuji:
novel-novel dan otobiografi-otobiografi klasik yang berpura-pura
menjadi memoar orang lain rata-rata dimulai dengan apologia bagi si
Aku. Zaman sekarang pun, ketika ke-aku-an tak lagi perlu dibela,
sebuah buku telaah diri, sebuah novel mengenai pribadi penulis,
senantiasa mengundang pembenaran. Mungkin akan "berguna" bagi orang
lain. Saya harus menuliskan hidup saya. Ada sesuatu yang ingin saya
gali, yang saya tak mengerti. Ini bukan mengenai saya, ini mengenai
orang lain. Mengenai orang-orang banyak.

Bagi banyak pengarang kontemporer, otobiografi – atau
semi-otobiografi, pengadopsian yang imajinatif dari sebuah persona –
adalah cara terampuh untuk membuat fiksi mereka berbicara, mengenai
dan terhadap keterasingan dan kekacauan hidup modern. Mereka melekat,
menyambalewa tak ubahnya sesosok bayangan abadi, di tapal batas
nonfiksi dan otobiografi. Dan inilah yang sesungguhnya mengusik kawan
saya, sang penggemar novel, beserta para tradisionalis lain. Mereka
terusik karena mereka tak menyadari bahwa novel zaman sekarang
tetaplah novel, bahwa sesuatu yang dihimpun dari ke-tak ada-an secarik
kertas kosong dan kesunyian sebuah ruang tak kalah absahnya dengan
sebuah cerita epik yang menghadirkan puluhan tokoh dan hamparan
geografi yang luas.

Betapapun, kecenderungan baru ini – yang tak begitu baru lagi di
Eropa; usianya paling tidak sudah lebih dari satu abad – masih saja
dipermasalahkan di Amerika, tak jarang dengan nada cemooh. Reaksi ini
memang konsekuensi alamiah dari bagaimana fiksi dan otobiografi
diajarkan secara tradisional: salah satunya melalui kontradiksi.

Pertama, kita diajarkan bahwa penulis diharuskan menulis hanya
mengenai apa yang ia ketahui. Kedua, bahwa otobiografi, memoar, jurnal
dan surat-menyurat dianggap bentuk-bentuk artistik yang inferior
terhadap novel tradisional. Tapi, dengan demikian, bagaimana kita bisa
menilai Midnight's Children, yang diakui sendiri oleh pengarangnya,
Salman Rushdie, sebagai karya berlandaskan visi "cermin yang pecah",
sebuah dunia setengah nyata setengah maya yang riap dan lebat, yang
disusun di atas ingatan yang "khilaf"?

Kita semua tahu, Rushdie melewatkan separuh hidupnya di luar Bombay ;
sebelum menulis Midnight's Children, yang terbit tahun 1981, ia
mengunjungi kota kelahirannya untuk "mengingat": pakaian orang pada
tahun 50 dan 60-an, poster film dan iklan, lagu-lagu lama. Karena,
secara kuantitatif, "mengingat" adalah lain dari "mengetahui",
haruskah kita mempermasalahkan validitas dan otentitas penulisnya
sesuai dengan diktum di atas, tanpa memedulikan pengaruh karya itu
pada kesadaran kita? Pada saat yang sama, bagaimana kita menghargai
jurnal Sylvia Plath, yang menyingkap sesuatu mengenai anatomi depresi
(yang, kita semua tahu, berakhir dengan tragis?) James Joyce dengan
The Portrait of an Artist as a Young Man? Rilke dengan The Letters of
a Young Poet-nya (yang, hampir satu abad kemudian, dicontoh dengan
brilian oleh satiris Vanity Fair Christopher Hitchens)? Bagaimana kita
menjelaskan sekaligus menciutkan peran Grace Paley dalam sastra modern
– ia yang selama karirnya berfiksi memakai tokoh Faith, seorang ibu
beranak dua, sebagai alter-egonya? Atau Umar Kayam, dengan tokohnya Ki
Ajeng dalam Manga Ora Mangan Kumpul, yang kita semua tahu adalah
alter-egonya?

Pergeseran fiksi dari kanvas-kanvas besar – mitos, laga, cerita epik –
ke dalam narasi kehidupan sebagaimana hidup itu sendiri – sesuatu yang
diinternalisasi, patologis, dan quotidian – berlangsung pada saat yang
sama radio, majalah dan film menjadi bagian kesehari-harian kita.
Begitu rupa hingga kita layak bertanya: mengapa, di zaman tabloid dan
televisi, kisah-kisah heroik harus dibebankan pada para penulis? Kita
tahu anasir-anasirnya: "Fakta lebih seru dari fiksi!", "Kita bercerita
kepada diri kita sendiri supaya tetap hidup."

Kita telah tiba di sebuah zaman di mana fantasi dan faktafiksi
diborong oleh medium-medium elektronik yang membawa semacam kondisi
kultural "keterasingan" di tengah apa yang sebut impuls elektronik.
Kita membutuhkan sebuah suara yang dapat menembus dinding, semacam
lorong kontak, di tengah deru informasi, eksibionisme, Oprah Winfrey,
dan mekanisme pemasaran 24 jam yang kita kenal sebagai "seni
komunikasi."

Dan oleh karena itulah para penulis mulai melongok ke peti diri, dan,
dengan girang campur takjub, menemukan hal-hal yang kecil, intim tapi
tak kalah menarik di dalamnya. Kita harus tahu, harus mencari tahu,
bagaimana orang lain hidup—di balik pintu dan jendela tertutup rapat,
di sisi weker yang tersetel pada jam-jam tertentu, di tengah
suara-suara yang terbungkam, di dalam ruang-ruang yang terapit dan
terancam. Psike sang individu, si "aku", yang tercerabut dari segala
apa dan senantiasa dirundung bahaya, adalah psike seorang dalam
perjalanan; perjalanan tersebut, tanpa awal dan akhir yang jelas, dan
tanpa garansi akan adanya perubahan, sesungguhnya adalah esensi Kisah
Modern, atau "the modern story." Dan dengan demikianlah, sejarah kita
urai, helai demi helai.

Chairil Anwar pernah mengatakannya: terbang dengan the only possible
non-stop flight, sonder menemu, sonder mendarat. Saya rasa ini bukan
saja sebuah pekik kemerdekaan, tapi juga pengakuan atas batas yang
dihadapi manusia justru ketika ia mencari dirinya. Dalam sajak "Senja
di Pelabuhan Kecil", Chairil meloncat-loncat begitu saja ketika
menghadirkan pelbagai benda-benda di depan matanya ("gudang", "rumah
tua", "tali temali") dan ia membaurkan semua itu, secara simultan,
dengan baris-baris solilokui tentang isi hatinya; ia juga membawakan
bunyi-bunyi kata yang sangat beragam dan perhentian yang tak
terduga-duga di tengah kalimat. Realitas dari luar dan dalam dirinya
mengalir, dan pertemuan terjadi dengan yang kebetulan, langsung,
individual, sekaligus begitu jauh dan dekat, tanpa bisa
diklasifikasikan.

Pada akhirnya, di penghujung abad ke 20, sastra memang melakukan yang
hanya bisa dilakukan oleh sastra: menyelusup ke dalam kepala orang
lain, mengalami sejenak bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bukan
kita. Ia mengekspresikan, bukan menjelaskan; ia merupakan penyingkapan
kehidupan interior yang tak habis-habis, di mana si aku adalah
penghubung antara kenyataan dan imajinasi. Apabila abad ke 19 berpusat
pada perkembangan sebuah keadaan, kata penyair Italia Cesare Pavese,
abad ke 20 adalah mengenai esensi yang statis.

Tapi, memang bukan tanpa masalah. Sebuah narasi orang ketiga, berbeda
dengan orang pertama, dengan sendirinya mampu menciptakan ilusi bahwa
cerita itu sedang berlangsung sekarang, saat ini. Kisah seorang
narator orang pertama, tidak bisa tidak, harus mengenai masa lalu.
Bercerita adalah menceritakan kembali. Dan pada saat itulah terbuka
kemungkinan untuk salah. Salah karena satu atau lain hal: ingatan yang
khilaf, jiwa manusia yang tak terbaca, jarak yang meniadakan antara
masa lalu dan masa kini, keterbatasan bahasa.

Javier Marias menulis, dalam kalimat-kalimat pertama Dark Back of Time:

"Saya percaya saya masih belum pernah keliru dalam membedakan fiksi
dan realita, meski saya telah mencampuradukkan keduanya lebih dari
sekali, seperti halnya semua orang, tak hanya para novelis dan penulis
tapi semua orang yang telah menceritakan sesuatu semenjak permulaan
waktu, dan tak ada satupun orang di dalam waktu yang diketahui itu
telah melakukan sesuatu di luar bercerita dan bercerita, atau
menyiapkan, atau memikirkan sebuah cerita, atau merencanakannya. Siapa
saja bisa menyampaikan sebuah anekdot mengenai sesuatu yang terjadi,
dan karena menyatakan sesuatu adalah menyimpangkan dan
memutarbalikannya, bahasa tak kuasa mereproduksi kejadian dan oleh
karenanya tak perlu mencoba melakukannya sama sekali …"

Dengan kata lain: menceritakan kembali sama saja dengan fiksi.

Monday, August 4, 2014

Puisi Berbalas

:: Gaza tak perlu metafora ::

maaf saya tidak tahu kalau ada
Agama bernama zionis dan hamas
zionis itu Yahudi, hamas itu Islam
apa harus begitu kita tafsirkan

Agama apa, alasan apa
tanpa dosa, tanpa rasa
membunuh wanita dan balita tak berdaya
merobohkan masjid dan gereja,
hancurkan rumah sakit dan sekolah

dalam cengkraman kebiadaban yang nyata
puisi sama hambarnya dengan air mata
sebab bicara tentang Gaza
tak perlu lagi metafora
semua punah karena senjata

*Jamal Rahman Iroth
(Malam Lebaran 2014)

Gayung bersambut untuk puisi Jamal.

~ Gaza dan Puisi ~

Gaza perlu puisi, kah?
Air mata itu puisi
Metafora dari langit

Gaza perlu puisi, kah?
Puisi ialah bahasa suci
Mampu meringkus nyata

Gaza perlu puisi, kah?
Metafora adalah ayat
Perlu ditafsir mereka yang beradab

Gaza perlu puisi, kah?
Ah, penyair tahu itu
Bahkan dengan diam

Gaza di ujung sana
Kau tikamkan paku sejajar pelupuk mata
Kutahu kau diam
Di Negri ini

@Sigidad
(Malam Sempitan 2014)

Bang KG, asal bo i-LIMI-tu' to?

Saat berbaring untuk rehat sejenak, menyegarkan sepasang bola mata yang berjam-jam pantengin tiga film di layar laptop. Tiga broadcast messages (BC) tiba-tiba menyembul di kolom chat BBM saya. Isinya, tulisan Bang KG (sapa saya kepada Katamsi Ginano). Dua buah link tulisan runut di situ: 
( http://kronikmongondow.blogspot.com/2014/08/sesal-silaturahmi-politik-1.html?m=1 ) dan yang satunya lagi: ( http://kronikmongondow.blogspot.com/2014/08/sesal-silaturahmi-politik-2.html?m=1 ).

Setelah menekan tombol enter. Tulisan yang pertama saya bacai. Dari awal paragraf dan seterusnya Bang KG bertutur menyoal silahturahmi. Dari judul tulisan "Sesal Silaturahmi Politik", saya belum menemukan kesesalan apa itu. Hingga paragraf ke-13 saya baru tahu. Bang KG kesal dengan sebuah pintu rumah yang tertutup. Pintu tuan rumah yang mengutus seorang tukang sonsoma kepada Bang KG. Tuan rumah itu adalah Limi Mokodompit.

Saya sendiri masih mempunyai tali persaudaraan dengan Om Limi (sapa saya kepada Limi Mokodompit), tapi sangat jarang ketemu. Saya baru beberapa kali ke rumahmya. Lebih sering kakak saya Samsir Galuwo yang hampir setiap malam ke sana. Tapi saya akan coba bertutur pula akan pengalaman saya saat pertama kali ke rumah itu.

Kala itu, saya diutus untuk mengantarkan undangan duka keluarga. Saya membaca sepintas nama dan alamat yang tercatut di amplop, Limi Mokodompit di Jalan Baru, Gogagoman. Meski sebelumnya saya tidak pernah berkunjung ke rumah Om Limi, namun sudah beberapa kali saya melewati istana megahnya. Bersegera saya menuju rumah itu yang, berada tak jauh dari Klenteng. Sesampainya di sana, gerbang rumah terkunci. Tapi ada sebuah pintu kecil berterali besi menganga bak mulutnya gerbang. Setelah beberapa kali mengucapkan salam. Seorang perempuan paruh baya melangkah menuju ke arah saya, lalu mengajak saya masuk.

Rumah itu memang begitu megah dengan pekarangan serupa semesta. Pintu depan rumah itu seingat saya berada di sudut kiri rumah. Seorang ibu mempersilakan saya masuk dan duduk. Saya pun akhirnya tahu kalau ibu itu istrinya Om Limi, sedangkan perempuan yang menyambutku di depan gerbang tadi seorang pembantu. Tanpa basa-basi saya menyampaikan maksud kedatangan yang, hendak mengantarkan undangan. Setelah menyerahkan undangan, saya masih sempat ditawarkan untuk dibuatkan teh. Dengan sopan saya menolak karena terburu-buru untuk mengantarkan undangan-undangan lainnya.

Itu pengalaman pertama saya saat mengunjungi rumah Om Limi. Memang sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bang KG di tulisannya. Di samping itu, situasinya pun jelas berbeda. Di saat Bang KG datang menghadiri undangannya Om Limi, jika pintu rumah itu tertutup rapat, mungkin si tuan rumah bermaksud memfokuskan tetamunya untuk reriungan bersama di bawah atap kanopi. Tak berserakan sana-sini. Dan bisa rembuk, saling diskusi, dan berbagi. Bukankah itu maksud silahturahmi?

Jika tafsir Bang KG soal pintu tertutup itu berbeda, jelas itu adalah pendapat pribadinya Bang KG. Dan apapun soal pendapat, setiap insan merdeka untuk berpendapat. Tapi, alangkah lebih baiknya jika kita selalu melihat sisi baik dari seseorang. Lagipula, dari tulisannya Bang KG, yang kusimak dari awal tutur, Bang KG malah berkisah tentang sebuah kesederhanaan dan kesan "mana-mana". Bukankah lebih sederhana kita duduk reriungan di bawah atap kanopi, ketimbang di dalam ruang tamu berpermadani?

Bang KG, asal bo ilimitu' to?

Itu sekadar pendapat pribadi saya menyoal tulisan Bang KG. Iya, tetap merdeka, dan selalu berpikir positif. Merdeka bukan berarti kita meniadakan kebaikan di sana. Dan berpikir positif adalah sebuah kebaikan.

Salam. Lama tak membaca tulisan Bang KG. Meski sudah di senja Idul Fitri. Saya ucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Oh, ya... Bang KG, kemarin waktu salaman sama Om Limi, pake kepalan tinju atau jabat tangan? Hehehe...