Friday, September 5, 2014

JK (Jempol Kapalan) Demi JK (Jokowi-Kalla)


Saya jarang menonton tipi, selain program acaranya yang itu-itu saja, hanya sedikit program acara yang bergizi dan bernilai edukasi. Metro Tv satu-satunya stasiun tipi yang terkadang mengoda jemari ini untuk memencet tombol on di remote tipi.

Tapi, menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014. Saya semakin aktif menongkrong di depan layar tipi. Apapun stasiun tipi yang menayangkan soal Pilpres. Pasti saya kejar dengan jemari dan bersegera menekan tombol angka siaran stasiun tipi tersebut. Entah ruh apa yang dimiliki Jokowi, hingga setiap pemberitaan tentangnya, pasti mau saja diri ini terus update. Entah itu di media cetak, media elektronik, postingan-postingan di sosial media (sosmed) dari twitter, facebook, kaskus, atau pun di aplikasi pertemanan Blackberry Messegger (BBM). Apa terlebih setelah ada debat calon presiden (capres). Tak sabar menanti dan siap-siap melanjutkan debat dengan pendukung capres yang satunya lagi di BBM, twitter, atau facebook.

Yang paling menarik tatkala di setiap recent updates (RU) di BBM, mereka pendukung capres (calon presiden) nomor urut 1, Prabowo-Hatta, mulai melancarkan fitnah-fitnah. Dari foto-foto hasil editan, hingga status-status yang mengundang rasa geli. Saya, dan beberapa teman yang sama-sama mendukung Jokowi-Kalla, seringkali sahut-sahutan dengan mereka, dan mencoba menghadang ataupun mengklarifikasi setiap isu-isu yang coba mereka layangkan. Gayung bersambut, bahkan tak sedikit dari mereka adalah para sahabat kami sendiri. Yah, dipimpin oleh rezim militer selama berapa dekade, mungkin telah membuat mereka amnesia. Saya pikir begitu. Selain itu, meski jempol ini kapalan, membela kebenaran jauh lebih mulia tinimbang diam, duduk, dan mangut-mangut.

Dari kalangan perempuan. Seringkali saya temui alasan-alasan lucu mereka kenapa memilih capres nomor urut 1, Prabowo: dari mulai mendukung Prabowo karena ia lebih ganteng, lebih keren, dan lebih macho, hingga alasan bahwa Prabowo lebih hebat berpidato. Tak heran memang, bahkan penyanyi, dan aktor film berbakat saja, mereka nilai bukan dari kualitas, tapi dari paras. Dari kecakapan berpidato, mereka bukan melihat ide dan gagasan, tapi gestur dan verbalnya saja.

Dari delapan ratusan teman saya di BBM . Ada empat ratus lebih kontak yang terdiri dari perempuan. Dari pendukung yang militan, yang ikut rame, hingga yang, yah, alasan itu, ganteng. Saya mencoba membangun komunikasi dengan mereka, sesopan mungkin. Lantas bertanya, "Kenapa mbak milih Prabowo?". Dan seringkali jawaban mereka sama, "Prabowo ganteng!".


Ada beberapa dari mereka yang memang masuk dalam garis kepartaian. Dan mereka-mereka ini meski bumi terbelah dua, dan tempat pemungutan suara (TPS) berada di belahan bumi yang satunya lagi, tetap saja mereka akan menyeberangi langit dan mencoblos Prabowo. Maka saya tak harus menghabiskan energi dengan mereka ini. Saya lebih fokus kepada mereka yang ikut rame, sama yang memilih dengan alasan paras. Alhamdulillah, dengan sedikit "dongeng" tentang Orde Baru (Orba) yang membikin jempol ini kapalan, dan karena mereka perempuan, hati mereka pun lebih cepat terenyuh dan terengut untuk pindah posisi. On the right side. Tak sedikit, seratus lebih yang berhasil sembuh dari amnesia. Efektif.

Saya termasuk salah satu Barisan Relawan (Bara) Jokowi-Kalla di kabupaten saya, Bolaang Mongondow. Sebuah kabupaten yang sedang memperjuangkan untuk menjadi sebuah Propinsi. Di samping ikut mengkampanyekan Jokowi-Kalla di sosmed. Dari reriungan bersama teman-teman pun seringkali figur Jokowi menjadi pembahasan kami. Baik itu dengan teman-teman sesama pendukung, atau pun dengan mereka yang bukan.

Momen Pilpres kali ini sangat menguji soal kejujuran kita, karena seiring dengan bulan suci Ramadhan. Satu-satunya kaos yang bergambar Jokowi, adalah kaos pemberian yang paling berharga di tahun ini. Saya memakainya di Lebaran pertama, dengan kemeja kotak-kotak yang kubeli. Alangkah bangganya memakai kaos bergambar pemimpin negara ini, seperti Bung Karno, Gus Dur, dan sekarang ini salah satu tokoh yang mewakili wong cilik, yakni Jokowi.

Dari hasil perdebatan saya dengan beberapa sahabat yang berseberangan dengan kami. Saya wujudkan dalam salah satu puisi.

Terima kasih Pak Jokowi, Pak Jusuf Kalla. Bangsa ini tak mau lagi mendengar kata "JIKA", tapi kata "JK".

Puisi Tak Ber-jika

Derap-derap langkah yang kemarin
Terdengar ada gelisah ikut terseret
Dengan sekonyong-konyong dua pesan kupunguti di ubin dingin
BERBUAT!
Isi pesan itu
Sedangkan pesan yang satunya tak kubuka

Kata si itu lebih pantas jika puisi cinta untuk Nusa
Saat ini, iya, kala kata kalah jadi cela
Tapi, puisi itu tak ber-jika, puisi itu tak ber-nusa
Puisi itu serupa sayatan angin di lindap subuh
Menyayat dedaunan berembun
Dingin, diam, dan... Ah, biarkan Ilahi menggumamkannya

Bahkan puisi tak bisa dipelajari
Ia suci tapi tak dirangkuli sampul kitab
Bait-baitnya hadir saat subuh hendak menyetubuhi malam
Lalu berbisik, "Bangun Nak, hari baru, Nusa baru, tanpa jika!"

Kembali puisi itu berbisik, tak lirih, ada nada berat mencubiti setiap tanya
"Kenapa tak kau buka pesan yang satunya lagi?"

Genggam tiba-tiba merekah
Di secarik kertas kusut di sana tertulis
"Kita menang Nak, bukan lagi jika!"