Friday, April 17, 2015

Sial

Aku hanya bisa mengoceh, saat dua bulir keringat jatuh pelan menuruni kulit pipi yang, sedikit kusam berminyak.
Di bawah terik, motor butut berusia dua puluh tahun kudorong dengan payah dan susah. Iya, aku kepayahan dan tengah kesusahan. Aku capek mendorong sejauh lima ratus meter. Ponselku mati, tak ada manusia atau pun jin yang bisa kukabari. Desa berikutnya, bisa kutemui dua puluh kilo meter jauhnya. Sialan. Aku mengumpat tidak dalam hati.
Pohon rindang di tepi jalan, nun jauh digerak-gerakan fatamorgana. Jalan aspal memang tengah mendenguskan bayang. Aku memacu energi yang tersisa, menguras habis agar bisa berteduh. Tak begitu lama, lingkaran hitam nan teduh di bawah pohon sorga, semakin dekat. Sampai sudah. Sejuk menghalau terik lalu mendekap pelan.
Ransel di punggung kubenamkan di rerumputan yang mengitari pohon. Kubuka lalu kurogoh botol air mineral. Sial. Aku baru ingat, air itu kuletakkan di samping helm, di warung saat beli rokok. Kuraba batok kepalaku yang seukuran kelapa muda. Sial lagi. Helm itu pun ketinggalan.
Aku bersandar pada tanah, sambil memandangi motor Honda GL 125 warisan ayah. Ban roda belakang kempis. Bensin pun habis.
"Kubakar saja kau!"
Sepintas, kata bakar itu membuatku teringat rokok yang kubeli di warung, tempat helm dan botol air mineral diam menunggu penemu. Botol mungkin dibuang, tapi helm? Itu helm serdadu di jaman gulden. Barang antik, pasti laku mahal. Sialan. Aku mengumpat lagi. Masih bukan dalam hati. Lima jemariku meraba-raba isi ransel. Sebungkus rokok Djarum kutemukan di dasar.
"Koreknya mana ya?" tanyaku bermonolog, kali ini dalam hati. Aku enggan semut, rumput liar, hembus angin, dan matahari mengetahui kesialan yang bakal menimpaku lagi. Iya, rokok kubeli, korek tidak.
"SIALAN!!!" (dengan huruf besar dan tiga tanda seru).
Jam tangan kutengok. Sudah pukul tiga sore. Tiga jam lagi hari gelap, namun setitik zarah kendaraanmu tak nampak. Bahkan berharap gerobak lewat atau manusia pejalan pun, tiada. Aku menginap saja di sini. Pikirku tidak dalam hati.
Aku berhalusinasi sebab dehidrasi. Belai angin pun makin mempertegas sisi dramatis. Andai saja.
Aku terhenyak. Sayup deru kendaraan terdengar. Kucubit ujung cuping hidung, ternyata ini bukan mimpi. Aku bergegas bangkit menuju tepi jalan, dengan telapak tangan menempel di kening. Sebuah tingkah yang sebenarnya tidak ada gunanya. Tidak menambah besar ukuran benda di kejauhan. Sialan, tak ada satu pun kendaraan. Aku baru ingat, mungkin suara tadi berasal dari perut. Lapar.
Pagi tadi sebelum berangkat, tenggorokanku hanya dilintasi segelas kopi dan sebungkus roti. Padahal jarak tempuhku cukup jauh. Ada dua ratusan kilo meter. Berangkat dari kos, tuk pulang ke rumah. Uangku menipis, sementara kiriman dari ayah dan ibu tak kunjung tiba. Usiaku sekarang enam belas tahun. Sedang sekolah di kota. Memilih pulang dan berharap kedua orang tua baik-baik saja, itu lebih dari cukup daripada segelas air saat ini. Tak ada yang bisa aku lakukan, hanya bisa menunggu bantuan. Atau mati.
Aku kembali berteduh. Berharap. Hingga tertidur dalam tidur. Lalu sayup suara ibu menyeru, "Bangun Badil!"
Sial.