Thursday, April 23, 2015

Tulisan Laksmi untuk Kartini


Kartini dan Eropa: Sebuah Mimikri

This article is presented at a discussion at Teater Utan Kayu,
Jakarta, to commemorate R.A. Kartini's birthday, 20 April 2008.

Selama ini bila Kartini dibicarakan, ia selalu dilihat sebagai sosok
yang utuh dan transparan. Atau ia sebagai feminis, sebagai pendekar
emansipasi perempuan, atau sebagai pembela rakyat, pejuang
anti-kolonial.

Tapi kita perlu ingat, dalam membaca Kartini, kita sebenarnya membaca
sejumlah besar surat. Ia bukan saja berbicara mengenai "Aku" dan
"Engkau" tapi juga kepada seorang "Engkau", yang senantiasa harus
ditafsirkan dan dinegosiasi. Kartini adalah contoh bagaimana "Aku"
selalu merupakan subyek dalam proses.

Ini tampak jelas dalam surat pembuka Kartini kepada Stella
Zeehandelar, seorang feminis dan sosialis Belanda berdarah Yahudi,
jurnalis majalah mingguan Belanda untuk perempuan-perempuan muda
progresif, De Hollandsche Lelie, yang mempunyai hubungan kuat dengan
gerakan sosialis ternama di Belanda:

"Panggil saja aku Kartini—itu namaku." Kalimat ini terkenal karena
menjadi judul buku Pramoedya Ananta Toer tentang perempuan muda dari
Jepara ini. Tetapi sebenarnya sini Kartini menandaskan ke-"aku"-annya
dengan memakai tatapan dan bahasa pihak Yang Lain, yang "bukan Aku".

"Ketika aku memberikan alamatku kepada Mev. Van Wermeskerken tentu aku
tidak bisa hanya menulis Kartini bukan, hal ini pasti akan mereka
anggap aneh di Belanda dan untuk menulis "mejuffrouw" (nona) atau
sejenisnya di depan namaku, wah, aku tidak berhak untuk itu—aku
hanyalah orang Jawa." tulis Kartini.

Ini bisa jadi semacam sarkasme, bisa murni sebuah kesantunan terhadap
seorang asing yang baru saja ia kenal. Tetapi ini juga dapat dilihat
sebagai usaha menyesuaikan diri, agar lebih mudah dipahami orang di
Belanda.

Surat memang berbeda dari jurnal karena ia harus selalu menempatkan
diri dalam dialog dengan orang lain. Kadang ia berpuisi dengan liris,
beretorika dengan mengumpat, berbisik dengan lirih. Kadang ia mesra
bak terhadap seorang kekasih: "Nanti, nanti, Stella, pujaanku, saat
aku sudah menggenggamnya di tanganku, erat, amat erat, sehingga tak
akan lepas, saat itulah kau akan tahu." Tetapi kadang ia berjarak,
seperti pada ketakmampuan Kartini mengakui, dalam surat pertama, bahwa
ia anak selir.

Surat berbeda dengan esai. Esai menghadirkan semacam sesuatu yang
konstan (terutama dalam struktur, metode, kronologi dan fakta sejarah
yang jelas), sementara surat sangat tergantung kepada pihak yang
disurati, siapa dia, usia, ras, status sosial, ideologi dan aliran
politiknya. Surat juga tergantung suasana hati si penulis surat pada
saat ia menulis.

Selalu "Lain"
Bagi saya, Kartini adalah selalu "ia yang lain". Ia selalu bukan ini atau itu.

Ia sosok yang selalu berada di tepi. Ia berada di tepi hierarki sosial
Jawa, sebagai bagian dari kaum priyayi rendah. Ia berada di tepi dalam
hubungan kolonial, sebagai kaum priyayi yang mendapatkan sejumlah
privilese tapi juga tak bisa merealisasikannya secara penuh. Ia berada
di tepi dalam hubungan keluarga, sebagai anak kesayangan bapaknya tapi
sekaligus anak selir dan bukan anak permaisuri – yang menyebabkan ia
mencintai bapaknya sekaligus membenci hubungan poligami.

Berada di tepi mengandung kepedihan tertentu. Ia menulis: "Di satu
pihak aku tidak bisa kembali ke lingkunganku yang sebelumnya – namun
di pihak lain aku juga tidak mungkin masuk ke dalam dunia baru itu,
masih ada beribu tali yang mengikatku erat kepada dunia lamaku."

Kepedihan itu lebih tersirat dalam hubungan keluarganya. Ia mengatakan
kepada Stella mengenai Ibunya yang "masih sangat terhubung dengan
Kerajaan Madura". Yang dimaksud di sini tentunya adalah ibu tirinya,
bukan ibu kandungnya yang datang dari kalangan pesantren—sesuatu yang
bisa kita tafsirkan sebagai gabungan rasa malunya karena bapaknya
berpoligami, rasa cemasnya bahwa fakta itu akan mengusik sensibilitas
seorang feminis seperti Stella atau rasa malunya bahwa ia hanyalah
anak selir.

Kartini juga berada di tepi karena kebebasan dan pendidikan yang ia
dapatkan sebenarnya tidak luar biasa bagi ukuran Barat tapi tetap tak
lazim buat negerinya. Kita melihat Kartini tetap terbelenggu – ia tak
bisa mewujudkan cita-cita tertingginya, yaitu "pergi ke Eropa."

Ia mendidik dirinya dengan pikiran-pikiran Barat, tapi, ketika pada
usia 16 tahun mendapatkan "kebebasan" dari bapaknya untuk keluar
rumah, ia mendengar Mevrouw Ovink-Soer, salah satu teman keluarganya,
"Nak, nak, apakah kami sudah melakukan hal yang benar dengan
mengeluarkanmu dari tembok kabupaten yang tinggi itu? Apakah justru
mungkin akan lebih baik kalau kalian bertiga tetap tinggal di sana?"



Ambivalensi Wacana Kolonial
Di sini kita lihat bahwa Kartini adalah sebuah contoh ambivalensi
dalam wacana kolonial. Kita tahu, kolonialisme (atau imperialisme)
adalah puncak kapitalisme pada zaman itu. Kapitalisme sendiri
merupakan buah dari Pencerahan, yaitu ide manusia sebagai subyek yang
mandiri, yang mengalahkan alam dan yang di luar diri, yang membawa
kemajuan, seperti yang digambarkan dalam Manifesto Komunis, akan
tetapi juga penjajahan. Ketika Si Kolonialis berada di negeri jajahan,
dia bertemu dengan "Yang Lain", pihak yang dijajah yang di luar
dirinya.

Harus diapakankah orang-orang ini? Karena semangat Pencerahan adalah
membawa kemajuan maka salah satu proyek kolonialisme adalah
pendidikan. Di Hindia Belanda itu dicerminkan dalam "Politik Etis,"
untuk menularkan semangat kemajuan dan pencerahan pada Yang Lain.

Tetapi agenda Pencerahan seperti yang tampak dalam "Politik Etis"
mengandung risiko: apabila proyek ini diteruskan, ia akan mengaburkan
Yang Menjajah dan Yang Terjajah, dan berbahaya bagi identitas si
Penjajah. Apabila proyek itu dilakukan sepenuhnya, Yang Terjajah bisa
menuntut kesetaraan dan kemerdekaan, yang akan mengancam raison d'etre
penjajahan. Maka proyek itu dihambat sendiri "dari dalam", oleh Yang
Menjajah. Si Terjajah harus tetap jadi "Yang Lain", yang berbeda. Di
sini yang dipertahankan pada dasarnya adalah pengukuhan dan
pelembagaan esensialisme. Esensialisme adalah sebuah sikap yang
membuat setiap perbedaan dan identitas hakiki, tak berubah-ubah dan
tak tergantung pada sejarah dan lokalitas.

Tapi pada saat yang sama Yang Terjajah tak jarang memakai kesempatan
ini sebagai perlawanan. Misalnya melalui pendidikan ia mengubah
dirinya, dan dengan mengubah dirinya ia menghancurkan esensialisme.
Pengertian "mimikri" yang diperkenalkan oleh Homi Bhabha, tidak
sekedar meniru-niru, tetapi mengandung perlawanan. Homi Bhabha sendiri
meminjam ide mimikri ini dari Jacques Derrida, yang mengatakan bahwa
mimikri atau laku meniru tak sekadar menjiplak sebuah fenomena, ide
atau sosok yang sudah ada sebelumnya, tapi membentuk, dengan
membayangkan (membawa "fantasme") tentang suatu yang "asli", dan
merupakan asal usul.

Kartini fasih berbahasa Belanda, mahir memasak masakan Belanda,
menulis resep-resep dengan cara Barat seperti yang dikemukakan oleh
Suryatini N. Ganie dalam bukunya, Resep-Resep Putri Jepara, dan rajin
membaca buku dan jurnal yang diterbitkan di Barat. Terkadang dilihat,
sikap ini seperti meniru Si Penjajah – tetapi sebenarnya tidak hanya
itu. Inilah yang menyebabkan setiap transplantasi budaya bisa
mengandung sesuatu yang paradoksal, Tak ada lagi daya kendali yang
otentik, orisinil ataupun murni; segala sesuatu dikontaminasi atau
diberdayakan oleh daya subversif imitasi. Yang "Lain" telah menjadi
"sesama" yang telah dilarutkan. Terjadilah hibriditas.

Bagi banyak wacana nasionalisme, hibriditas cenderung dianggap dengan
negatif, karena tidak murni, hingga mimikri sering nampak seakan hanya
jiplakan belaka. Padahal, seperti yang ditunjukkan Homi Bhabha,
mimikri mengukuhkan dan mendistorsi otoritas kolonial sekaligus.

Seperti yang ditunjukkan Kartini, mimikri mewakili sebuah kompromi
yang ironis: hampir sama, tapi tidak benar-benar sama. "Stella yang
baik, aku sungguh bahagia karena kau menganggapku sama dengan
teman-teman Belandamu dan memperlakukanku sama dengan mereka, dan juga
menganggapku sebagai teman sepahammu. Aku tidak menginginkan hal lain
selain kau tetap memanggilku dengan 'namaku' juga dengan 'je' dan
'jij'. Kau bisa lihat bagaimana lancarnya aku meniru contohmu."

Apa yang kita lihat dalam diri Kartini adalah sebuah upaya yang
konsisten untuk memaknai dirinya sebagai aspek perlawanan dari
mimikri. Tak jarang Kartini memposisikan Stella, sang "pasangan jiwa",
sebagai yang lain, yang tak mengerti, yang angkuh, yang hanya tahu
sedikit-sedikit, dan yang berdiri di luar realitanya, hingga Kartini
acap merasa perlu mengangkat ke-Jawa-an sebagai sesuatu yang luhur dan
berbudaya. Ini agaknya semacam upaya mengkonstruksi sebuah identitas
kolektif sebagai subyek "Budaya Jawa," tulis Kartini pada Stella,
"tidak rendah dalam pendalaman rohaninya."

Tapi kita tahu dalam kehendak menandaskan diri, Kartini – dan tak
jarang kaum yang dijajah umumya -- mencoba menggali tradisi, bahasa,
sejarah dan agama dan membangun ulang "sifat otentik". Mereka
melakukan ini karena tak sudi mengukur diri terhadap norma-norma yang
dalam jargon Lacan dikenal (dalam bahasa Inggris) sebagai the Big
Other, atau "Mereka" -- yaitu negara, lembaga, orang tua, yang
menguasai wacana atau membentuk identitas "aku". Tapi dengan
menandaskan "keotentikan" yang nota bene artifisial, pada dasarnya
kaum yang dijajah tetap berpikir dalam cengkeraman "Mereka".

Dari kasus ini kita melihat bahwa Homi Bhabha hanya menyinggung satu
bentuk mimikri, yaitu meniru untuk mengguncang esensialisme. Sementara
itu, menurut hemat saya, bentuk mimikri yang lain, yang justru dalam
niat melawan dengan berbeda ternyata malah mengukuhkan esensialisme.

Itulah yang terjadi ketika Kartini berbicara kepada Stella tentang
"Jawa", seakan-akan "Jawa" itu tidak berubah. Dalam kasus ini Kartini
melakukan perlawanan dengan mengukuhkan identitas tapi justru dengan
itu ia mereproduksi wacana yang berkuasa, yaitu esensialisme.

Tapi di sini juga kita meihat posisi Kartini sebagai orang tepian . Ia
tak sepenuhnya konsisten memuja-muja kebudayaan Jawa—apalagi dalam
memuji kebudayaan Jawa itu ia mungkin hanya melakukannya sebagai
strategi identitas. Tulisnya pada Stella: "Apa peduliku soal
peraturan-peraturan adat? Aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak
peraturan adat Jawa yang konyol itu saat berbincang dalam tulisanku
ini. Adat peraturan ini dibuat oleh manusia, bagiku itu menjijikkan."

Tetapi mengapa ia butuh strategi identitas itu?

"Eropa" dalam kehidupan Kartini
Di sini kita sampai pada pertanyaan: Eropa macam apakah yang masuk
dalam hidup Kartini, dan bagaimanakah ia masuk?

Pertama, melalui pendidikan. Ini dimulai dengan seorang almarhum kakek
yang "progresif" untuk zamannya: bupati pertama di Jawa yang
mengundang "seorang tamu" dari seberang lautan dan yang memberikan
semua anaknya pendidikan ala Eropa. Kemudian, seorang bapak yang
melanjutkan hal ini dengan memberikan pendidikan yang kurang lebih
sama bagi anak-anaknya.

Kedua, melalui bacaannya atas literatur Eropa.

Ketiga, gaya hidup Eropa yang masuk ke rumahnya, termasuk dalam hal makanan.

Keempat, interaksi sosial, yang mencakup pergaulannya dengan
orang-orang Eropa, baik secara langsung maupun melalui korespondensi,
maupun amatannya terhadap interaksi orang Eropa dan kaum pribumi di
negerinya.

Saya ingin sedikit membahas ketiga aspek terakhir. Salah satu hal yang
menakjubkan tentang Kartini bukan saja minat dan telaahnya terhadap
literatur Eropa tapi juga kegigihannya menulis. Meski dalam
surat-suratnya respons terhadap bahan bacaan tersebut tak pernah
terlalu mendalam, ada kesan kuat bahwa ia memikirkan apa yang ia baca
dan membiarkan mereka memicu sejumlah sikap dan keputusannya.

Kekaguman Kartini terhadap Mevrouw Geekoop De Jong van Beeken En Donk,
penulis feminis yang sangat berpengaruh dengan bukunya, Hilda van
Suylenburg, yang terbit tahun 1897, misalnya, adalah salah satu alasan
mengapa ia menolak pernikahan.

Kartini juga mengagumi Multatuli, dan mampu membandingkan kondisi
masyarakat kolonial pada zamannya dengan kondisi masyarakat kolonial
dalam Max Havelaar.

Sementara itu, Kartini rajin menulis. Selain menyumbangkan sebuah
tulisan tentang batik kepada Pameran Karya Perempuan di Belanda tahun
1898, yang beberapa kali dicetak ulang, ia pun menulis sebuah buku
resep – sesuatu yang tidak lazim pada zamannya.

Dengan demikian Eropa juga masuk ke diri Kartini melalui makanan..
Buku yang ditulis Kartini, kumpulan resep keluarganya, adalah semacam
testimoni atas bagaimana cita rasa dan cara hidup kaum elite kolonial
meniru budaya si penguasa yang sebenarnya juga tidak asli.

Ritual uurtje, misalnya, atau ritual minum teh di sore hari, sama
sekali bukan merupakan tradisi Belanda, tapi tradisi Inggris. Ritual
ini hanya dilakukan oleh orang Belanda di Hindia Belanda, yang
nampaknya kurang kerjaan dan hanya bisa duduk-duduk ongkang-ongkang
kaki sambil minum teh dan makan pisang goreng di sore hari, sembari
menikmati semilir angin di sebuah petang tropis. Sementara, kebanyakan
orang Belanda di negerinya, yang kerja keras dan hidup tanpa pembantu,
tak akan punya waktu untuk ritual-ritual seperti itu.

Hal semacam ini juga tak hanya melibatkan etiket dan kebiasaan makan,
tapi juga apa yang dimakan. Apa yang dikenal di Indonesia sebagai sop
sayur, misalnya, sebenarnya adalah apa yang di Belanda dikenal sebagai
groenten soep; sementara itu Madeira Sauce yang acap ditemukan di
dalam bistik yang sering dihidangkan di meja makan Kartini
sesungguhnya adalah adaptasi dari adaptasi: orang Indonesia
mengadaptasi orang Belanda yang mengadaptasi orang Prancis. Selat
Solo—potongan sandung lamur dan pelbagai sayur rebus yang diiris
tipis-tipis yang disajikan dengan saus semur dan saus mayonnaise yang
mengandung banyak telur—adalah contoh makanan dalam repertoar keluarga
Kartini yang tak akan pernah ditemukan di meja makan khalayak ramai.

Dalam hal ini, kita bisa berspekulasi bahwa keputusan Kartini membuat
buku resep adalah upaya mengkonstruksikan adat atau kebiasaan
bersantap orang Jawa dengan paradigma Eropa sebagai semacam penyamaan
martabat dengan budaya Si Penjajah.

Jika kita melihat adanya sikap yang bermata dua dalam kasus resep,
dalam hal interaksi sosial juga ada ambivalensi. Terhadap Stella, yang
ia hormati dan sayangi, dia ingin berlaku sama. Dengan Rosa
Abendanon-Mandri, istri Direktur Pendidikan Hindia Belanda baru yang
beraliran reformis sikapnya berbeda. Perempuan ini jadi panutan dan
pujaan bagi Kartini dan adik-adiknya.

Begitu rupa kekaguman dan rasa takjub Kartini terhadap Rosa
Abendanon-Mandri hingga surat-suratnya sering "histeris" dan terbuai
dalam romantismenya sendiri, atas kondisinya dan adik-adiknya sebagai
makhluk jajahan yang "telah terluka berat dan hancur oleh kejamnya
Hidup." Ia lukiskan kebahagiaannya yang meluap-luap ketika pertama
kali bertemu dengan Rosa dan suaminya sebagai "cinta yang menderu
merasuki dirinya dan mengambil alih seluruh jiwa dan raganya tanpa ia
sadari".

Juvenilia semacam ini tak jarang ditemukan dalam orang sebaya Kartini,
yang berbakat, menonjol dan ingin diperhatikan, dan juga yang pada
usia itu punya kehendak untuk merasakan dan menuliskan keadaan jatuh
cinta. Tetapi sikap ini mungkin juga mengandung sedikit pragmatisme.
Rosa dan suaminya kuat secara politis, dan berkuasa atas nasib
pendidikannya.

Amat mungkin juga karena Rosa berbeda. Latar belakang Rosa sebagai
orang Spanyol yang lahir di Puerto Rico, sesuatu yang Kartini
asosiasikan sebagai kedekatan intrinsik dengan Jawa. Ini praktis
membuat Rosa juga sesama orang asing di tengah komunitas orang Eropa
yang diwakili Belanda. Seperti yang Kartini kemukakan dalam suratnya:
"Dia, Rosa, adalah orang asing, seorang dari Spanyol yang penuh
kehangatan, yang memukau, indah, romantis."

Pada akhirnya, Rosa tampil sebagai pribadi, bukan wakil sebuah ras
yang superior, seperti paradigma yang ditekankan orang Belanda di
zaman kolonial itu.

Pada titik ini, yang bisa disimpulkan Eropa atau Belanda bagi Kartini
tidak tunggal, tidak mempunyai hakikat atau esensi yang kekal. Kita
bisa mencatat kebencian Kartini terhadap wajah Belanda yang zalim,
yang sombong, congkak, rakus dan semena-mena, hal yang sering ia
temukan dalam perjalanannya menemani bapaknya sang bupati Jepara yang
peduli pada nasib rakyat kecil. Tak ada lagi Kartini si anak kecil
haus perhatian, Kartini yang sentimental. Surat-suratnya yang
menjelaskan hubungan kolonial yang eksploitatif itu, sungguh luas dan
dalam mengupas anatomi penjajahan yang berujung pada kemiskinan,
keterpurukan dan keterbelakangan.

" … dan masih juga, sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai
'ladang kera yang mengerikan.' Aku naik pitam jika mendengar orang
mengatakan "Hindia yang miskin." Orang mudah sekali lupa kalau "negeri
kera yang miskin ini" telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan
emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal
di sini."

Nasionalisme yang universalis
Sebagai penutup, tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa
Kartini telah mempelopori sebuah kesadaran identitas diri yang
merupakan dasar nasionalisme Indonesia kelak, yang tidak berdasarkan
identitas etnik atau budaya yang permanen. Bisa jadi Kartini
mendahului pemikiran kaum nasionalis di Indonesia yang kemudian
datang: nasionalisme yang berdasarkan kepada sifat universal yang ada
pada sesama.

Ia mengatakan pada Stella bahwa ia ingin "bekerja tidak hanya untuk
kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas,
bekerja untuk kebaikan sesamanya" dan "aku tak ingin apapun kecuali
mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang
telah dilakukan kaum perempuan di Eropa".

Sekaligus ia menjelaskan bahwa "Bisikan itu tak hanya datang dari
luar, dari mereka yang sudah beradab, dari Benua Eropa …", tapi bahwa
ada sesuatu dalam dirinya yang membisikkan keinginan itu jauh sebelum
ia bisa mendapat akses kepada buku dan artikel Eropa tentang
modernitas.

Artinya, ia melihat bahwa tuntutan untuk merdeka juga bisa datang dari
seorang perempuan Jawa, ketika perempuan itu tertindas. Tuntutan itu
universal, bisa datang dari semua bangsa di muka bumi.

Dan ini semua hanya bisa dikemukakan oleh orang di tepian, yang
identitasnya tidak dikurung dalam sesuatu yang partikular.

20 April 2008