Friday, May 1, 2015

Humanisme Pemabuk

Hampir sepertiga malam, yang di mana katanya Tuhan akan turun ke bumi, dengan kaki kiri di timur sedang yang kanan di barat. Tuhan enyah dari
Arsy lalu turun nikmati bumi. Hadits sahih dari beberapa perawi jelas
sepakat, Tuhan sedang di sepertiga malam akhir.
Nyiiiitt! Nyiiittt!
Nada BBM berbunyi. Suaranya mirip robot. Kawanku mengirim pesan, agar
aku ke Eropassi (sebutan untuk Desa Passi). Bakar-bakaran daging ayam
dijadikan senjata pamungkas, hingga liur tak kuasa menolak.
Brummm!! Brummm!! Eropassi.
Sepuluh menit berlalu, laju motor sampailah sudah. Di teras rumah
kawanku, meja dilingkari kursi. Lima singgasana bagi para pemabuk
disiapkan, satu yang kosong untukku. Empat kawanku sedari tadi menunggu dengan serakan botol bir bintang. Cerek bening menunggu pula
dengan gelas kristal. Di dalamnya cap tikus dan bir beradu sisakan buih. Di piring, paha ayam bakar siap dicubit. Kemudian aku melarut seperti garam jatuh ke samudera. Kami berlima adalah; dua kawan sekampung, sedang yang dua lagi kawan dari desa tetangga, tapi kukenal akrab. Ayam bakar ditawarkan seperti aku ditunggu sedari tadi, dan paha nan pedas itu hanya untukku. Segelas kusesap, lalu kubenamkan kuku di empuk daging.
Diibaratkan, aku sedang di terminal Bonawang, lalu mereka berempat sudah di Desa Poigar menuju kerlap metropolitan. Mereka mabuk. Aku baru mau mabuk.
Bicara pun mengalir. Aku bertutur saat perjalanan dari Sinindian ke
Eropassi, seorang pencuri ayam (diduga) sedang merangkul dua ekor. Lelaki itu berjalan menyusuri gulita dan lampu motorku menerangi pijaknya yang sempoyongan. Pencuri itu mabuk juga dan berlakon seperti dua ekor ayam itu kesayangannya. Aktingnya kurang bagus untuk disimak Tuhan yang sedang mampir ke bumi.
Beberapa jeda, cerita menuju Nusakambangan. Kawan seberang kampung si penjual cap tikus mengawali. Disambutlah dengan argumen-argumen yang membuat dahi mengernyit, namun ditumisi humor. Jadilah diskusi nan lezat.
(Kutulis dengan bahasa lokal, sebab mungkin pembacanya pun kita-kita yang lokal)
Yadi (Bintau): "So jadi bunung pa dorang tu narkoba?"
Riki (Passi): "Sudah so caw. So tewas le dorang lapan!"
Wandi (Bintau): "Kasiang kang."
Ewin (Passi): "Mar Mary Jane ndak jadi."
Wandi: "Iyo dia memang cuma ada jebak kata."
Apa yang mereka bicarakan, masih seperti merempah bebek dan
bumbu-bumbu sedang disiapkan.
Yadi: "Kita ndak stuju deng hukuman mati. Kasiang orang itue."
Wandi: "Sedang ayam torang piara sayang mo ba potong."
Dan baru kusadari, daging ayam yang kucicipi, rasanya ber-deja vu. Ternyata benar, paha itu dibeli di Bobara Bakar.
Riki: "Sedang kita pe kucing tiga hari ndak pulang, kita so was-was, apalagi mo bunung. Kita pe toti' kesayangan itu."
Ewin yang diduga kelelahan seharian di kantor cabang Bank BRI, hanya diam dan menunduk. Lelah dan mabuk berpadu, iya, mungkin dia lelah. Jadi ingat dengan istilah mungkin dia lelah yang kalau bisa diklaim, awalnya istilah itu dari si Mita, sepupu Sandri. Saat nginap di rumah Mita di Manado, kucing Anggora peliharaannya tidur-tiduran di bawah meja makan. Saat dipanggil, kucing itu hanya diam, lalu terlontarlah kalimat mungkin dia lelah dari ucap Mita. Sandri pun membuat status di BBM, begitu juga denganku. Lalu mungkin dia lelah ngetop, ha-ha-ha-ha. Bisa jadi itu awal mulanya.
Yadi: "Mar memang kiapa musti ada hukuman mati e?"
Wandi: "Iyo no, padahal cuma Tuhan boleh ambe torang pe nyawa."
Cerita berlanjut, menerabas sisi humanisme.
Riki: "Mar itu Brimob yang ba tembak, dorang lagi barasa bagimana sto itu kang?"
Yadi: "Ada kita pe tamang dulu Brimob pernah taiko ba eksekusi bagitu. Siksa no dia bilang, ada beban. Bukang mo ba tembak babi utang ini."
Wandi: "Mar dari dua puluh ja ba tembak, cuma satu yang ada pluru kang?"
Yadi: "Iyo no, jadi dorang ndak rasa bersalah, dari nintau sapa pe senjata yang ada pluru."
Sejenak aku berpikir. Mungkin kah demikian prosedurnya? 
Google menjawab; misalnya dari 12 polisi yang mengeksekusi, semuanya
akan diberi senapan laras panjang. Namun hanya ada 3 senapan yang
berisi peluru, 9 lainnya kosong. Tepat untuk pertanyaanya si Wandi,
hanya satu atau beberapa senapan yang diisi peluru. Itu seperti jawab Yadi (tanpa melihat Google), bahwa menghindari kondisi psikologis eksekutor dari rasa bersalah. Senapan pun diambil secara acak. Terpidana memakai pakaian putih, dengan tanda sasaran bidik di dada. Jaraknya sekira lima meter atau sepuluh meter.
Setelah dijelaskan, diskusi mengalir lagi.
Yadi: "Mar yang siksa, kalo ndak mati kong ada satu yang mo ba tembak 
terakhir di kening."
Riki: "Pemar yang ja ba tembak itu samua jago. Jadi kalo ndak mati,
patut dipertanyakan deng mungkin dapa sanksi."
Wandi: "Tetap mati itu, di dada no. So biasa batera burung dorang."
Ewin mengambil cerek lalu mengguyur basah isi gelas, yang sedari tadi sisa busanya telah meletas dan kering. Gluk, gluk, gluk.
Ewin: "Kase abis jo, sadiki le kita so mo pulang, so manganto."
Aku: "Sadiki le, libur kwa besok, tanggal merah."
Ewin: "Iyo mar mata le so merah, kong mata ndak libur."
Ha-ha-ha-ha....
Yadi: "Intinya nimbole tu hukuman mati."
Wandi: "So sampe di unti ni cirita. Kukis sto. Mar masih brapa negara sto kang yang jaga pake hukuman mati?
Riki: "Di timur tengah masih banyak."
Yadi: "Iyo di Arab jaga penggal le dang."
Wandi: "Di Iran jaga gantong."
Tiba-tiba lampu padam.
Yadi: "Huh! bukang main ni PLN. Samantara ba cirita hukuman mati, lampu pi mati."
Wandi: "Marijo somo pulang."
Perjamuan para pemabuk bubar. Kami pulang ke rumah masing-masing. Bercerita tentang mati di kala mabuk, bahkan prihatin masih di sana, menelusup dan merembes ke cekung hati. Mereka merenung tentang kematian yang, bahkan binatang pun mereka enggan menghukum. Tak perlu belajar filsafat untuk merekam kebijaksanaan dalam keseharian kita. Laku humanisme mereka utarakan, tanpa sedikit pun menghidu bau debu buku kisah Socrates, ujar Palto, kata Protagoras, puitika Voltaire, ucap Jean Paul Sartre, tutur Bertrand Russell, sampai Cicero, atau kisah tokoh-tokoh humanisme lainnya.
Satu kalimat dari salah satu pemabuk tadi yang membuatku ingin menulis, "Hapus hukuman mati!"
Cheers!!!