Friday, July 10, 2015

Peluh itu Puisi

Mungkin benar puisi itu berat. Namun mampu mewarnai angin. Perihal apa
yang entah, yang absurd, yang buncah, semua menyembul serupa peluh. Menetes begitu saja. Lelah pun sirna. Lalu kita lega.
Puisi seperti peluh siapa mereka yang bekerja. Hasilnya akan selalu indah. Tapi puisi pun akan jadi sakit, jika mengendap terlalu lama serupa peluh. Dan kita manusia tak bertubuh kempal. Kita berpeluh.
Aku punya deretan sahabat yang suka berpuisi. Mereka berpikir,
bekerja, menikmati, kemudian sirna. Sama seperti peluh yang jatuh di
kulit air, sahabat-sahabatku ini tak pernah tahu, apa yang pantas dan
yang terhempas, itu jauh lebih berarti. Setidaknya kalian pernah
berpuisi. Meski sirna, rimanya akan bergema.
Pernah bersama, kami sepakat membangun mimpi. Kami harus punya sebuah buku kumpulan puisi. Dan kami berkerja penuh peluh. Lembar demi lembar ditulisi. Ada yang harus disobek dan berakhir di tong sampah. Hingga pada lembar terakhir. Semuanya berakhir. Mimpi kami masih di kulit sampul. Tapi kami tetap tertawa. Bahagia sebab buku itu akhirnya berada di deretan lemari. Tepat di rak ke tiga.
Sahabat yang perempuan terus tertawa. Meski katanya ia lelah. Tapi
kami tetap berpuisi. Si rambut putih pun tetap tersenyum. Senyum yang
terus menjauh. Yang suka mengajak makan, terbang kembali ke dahan yang sama denganku, bersama si hitam. Kami tetap sepakat akan membangun mimpi. Tentu mimpi yang berbeda.
Ini memang pekerjaan terindah dalam hidup. Berpeluh dan berpuisi.
Kami tak pernah merebut mimpi, tapi memilih memiliki mimpi kami
sendiri. Sebab menulis puisi dengan peluh itu, adalah mimpi abadi.
#FREES