Thursday, July 30, 2015

Why so SERIUS?

Matahari dan banteng meliuk di langit. "Saya mencintai PAN," lirih matahari kala itu. Banteng mendengus. Kemudian, gambar-gambar di BBM hanya bisa saya pandangi, tanpa cuil niat untuk mengirim pesan tanya yang 'tahu'.
Tak lama, runtun link ini berjatuhan serupa kerikil permainan tradisional congkak — manual — yang memanfaatkan tanah pekarangan. Kerikil pertama "SMILE Disambut Ribuan Pendukung Fanatik http://m.zonabmr.com/read/188985/smile-disambut-ribuan-pendukung-fanatik.html, lalu disusul kerikil kedua Tatong: PAN Wajib Dukung Alul http://m.zonabmr.com/read/188989/tatong-kader-pan-wajib-dukung-alul.html, dan kerikil ketiga Alul: Saya Mencintai PAN http://m.zonabmr.com/read/188997/alul-saya-mencintai-pan.html. Meski hingga hari ini, masih banyak kerikil-kerikil lainnya. Sampai 'kerikil' urung niat mendaftar.
Ingat segera menderetkan kalimat Machiavelli di pikiran. Meski sebenarnya saya tak kunjung tahu, deretan kalimat (bahasa) atau pikiran, yang mana yang lebih dulu. Bahasa atau pikiran? Jawaban itu hanya bocah yang benar-benar tahu.
Singkat ucap Machiavelli, "One must consider the final result." (Kita harus mempertimbangkan hasil akhir).
Iya, akhirnya koar itu disumpal. Namun masih tersisa juang di sana. PAN memang cukup lihai bermain congkak. Seperti kanak-kanak. Tapi inilah politik, sebuah taman bermain yang terkadang kedewasaan harus ditanggalkan. Kita bisa berpura-pura merampas sebongkah, layaknya bocah. Lalu syahdu mendengar tangis sesaat yang lepas di ujung genggam. Meski ada isak yang hanya berdiam di lubuk, lalu kemudian datang bujuk, padahal katanya tak ada rajuk. Iya, tak ada yang terampas di sini, yang ada hanya yang terbuang.
Namun tunggu dulu, apa yang benar, belum tentu menang, bukan? Hasil akhir kata Machiavelli. Tarung masih panjang.
Saya tak ingin lagi merentang apa yang sudah media beritakan. Tentunya pembaca cukup tahu, gegap-gagap apa yang tengah berkejaran di tanjakan Atoga sana. Ada artis?
Iya, PAN memang riuh dengan para artis. Apalagi di sini, banyak artis instan. Saya tak ingin menyebut badut meski itu lebih pantas, sebab itu agaknya terlalu kasar bagi anak seumuran saya. Untuk usia saya yang baru menginjak empat tahun, badut begitu menakutkan, atau terkadang malah menghibur. Ha-ha-ha-ha.... Yang kemarin itu memang lucu nian.
Ah, kebocahan itulah yang membuat saya iseng menelaah, kekanak-kanakkan apa yang tengah bergemuruh di timur sana. Memang, hanya pandang bocah yang mampu menangkap itu. Hanya bocah berleleh ingus.
Saya lantas tertarik mencermati gambar, bukan berita lagi. Sebab gambar menyiratkan ribuan kata.
Coba tengok matahari yang katanya tegar itu. Saat lengannya mengancung, kelihatan serupa kusuf. Kepalnya rengsa dengan sisa tenaga; empat jemari mengatup lembut, sedang  jempol bengkok lusuh. Dada remuk redam. Di sampingnya, banteng tegap namun hati agak menunduk. Tak mendengus lagi. Senyum terselip di sana, tapi kecut lebih berpendar. Ah, bangsat! Sekali lagi tawa. Ini memang keadaan di mana 'ha-ha-ha-ha' sangat tepat merepresentasikan perasaan. Mereduksinya menjadi barisan pesan. Pesan tawa yang layak.
Apalagi, kala matahari berhijab bermata gelap, menyembul ke permukaan. Raut pucat sisa-sisa meraup jasa, razia, dan jajah tanah juga bersandar di wajah. Gelap. Hanya gelap. Masih juga ada tawa terselip di jejer gigi gadingnya. Ngok!
Lalu matahari, tegar dengan dada membusung. Ada pendar di sana, tepat di samping kiri, padahal yang terlihat hanya redup. Di sampingnya sang maha matahari benderang. Kami akan menangkan DIA, teriak maha matahari  riuh rendah. Matahari yang lebih maha lagi datang membakar. Mereka saling membakar. Ah, di Boltim terlalu PANas. Bocah suka berleleh ingus.
Cermati lagi gambar-gambar lainnya. Di sana banyak tawa yang riuh rendah.
Eh, Eyang kemana saja yah? Masih memilin kumi (s)?
Yang terakhir terlihat di gambar, ia sumringah. Layaknya artis sungguh. Tapi ingat hasil akhir. Saya saja sukar menebak. Sesukar menebak tawa Eyang di balik belukar kumi-(s)-nya. Why so SERIUS?