Thursday, December 31, 2015

Kecemasan di Akhir dan Awal


Tahun, adalah sebuah penanda. Atau mungkin ia adalah bandul yang mengingatkan kita akan perjalanan hidup. Tiap kali bandul itu menggaris cekung udara, maka satu-satunya yang berubah adalah ruang, bukan waktu. Seperti tubuh kita yang menjadi ruang bagi jiwa. Ia terus bergerak dan berubah, tapi tidak dengan jiwa.

Setiap perjalanan pun pasti berproses. Acapkali berliku-liku, lurus saja, bergelombang, datar, atau malah penuh dengan kecemasan-kecemasan. Setiap perjalanan butuh tujuan dan kecemasan. Namun sebagian orang melupakan proses perjalanan itu sendiri. Bahkan melupakan kecemasan itu. Sebab kenapa? mendengarkan selalu dikalahkan oleh omongan. Kita lupa bahwa dalam sunyi, kita mampu mendengarkan kecemasan sayup-sayup dan menghantarkan kita menemunya. Kenapa kecemasan harus didengarkan? Agar kita tahu, bahwa dalam hidup ada saja ketakterdugaan yang kerap datang menghampiri. Ia hadir setelah kita mencemaskannya.

Menengok ke belakang pun sangat perlu. Pada tahun-tahun yang pernah terlewati dengan gamang. Sebab dalam lupa, kita tak mampu lagi mengenali esok atau hari ini. Kita semua berangkat dari masalalu. Ketololan-ketololan di masa kecil dan remaja pun akan sangat mengenang. Dan itu abadi di memori.

Pada setiap masa, aku sesekali berpangku tangan. Menatap kosong ke langit, lalu mencoba menemukan putih di antara hamparan hitam. Segala ritus agama telah lama kutinggalkan, hanya tuhan-tuhan kecil yang kerap datang menjawab; apa saja tentang air, udara, bumi, hutan, hujan, dan pertanyaan-pertanyaan kekanak-kanakkan lainnya. Semuanya dilahap, tanpa pernah aku berpikir bahwa semesta adalah ketakterdugaan yang hanya terus memangsa tanya. Apa saja.

Semakin kita mengetahui, maka semakin banyak hal yang tidak kita ketahui. Kita adalah sebuah wadah yang melebihi samudera, bahkan semesta raya. Namun langit akan selalu menjawab apa yang dipertanyakan bumi, selama kita tetap ikhlas tersungkur.

***

Pernah seorang kawan bercerita, bahwa ia menyesali hidupnya. Apa yang dirasakannya hanyalah gerak-gerak monoton. Hingga pada suatu hari, ia memutuskan meninggalkan tanah lahirnya. Segala raut-raut wajah di kampung dirautnya dalam kenang, lalu dijadikannya selimut sebagai penghangat semangat. Jauh hidup di perantauan, hidup jadi begitu keras. Namun berwarna. Tapi itu tak berlangsung lama, sebab ia kembali merindukan masa dimana segalanya biasa-biasa saja. Ia ingin tidur semaunya, bangun pun sesukanya, dan membakar-bakar mimpi seenaknya. Ia akhirnya memutuskan pulang, menjalani kehidupan lamanya.

Apa yang bisa disalahkan dari pilihannya? Meski ia telah berhasil mencemaskan hidup, melewatinya, lalu pada akhirnya jenuh? Satu-satunya jawaban yang bisa diterima, kala ia berdalih; "Aku tak menemu hal-hal yang tak terduga."

Kawan ini kembali bercerita; selama hidup nun jauh di sana, ia hanya bersuka-suka, menikmati hidup, mencemaskannya sesekali, bekerja, namun tak pernah ada hal-hal yang tak terduga ia temui. Ia akhirnya merasa hanya bertemu dengan bayangan-bayangannya sendiri. Semua orang yang ia temui, adalah refleksi dari kecemasannya yang tanpa satu pun ketakterdugaan hadir di sana. Wajah-wajah yang bisa diterka.

Setelah itu, ia memilih pulang, lantas menjalani kehidupan sehari-hari yang bersiklus; makan, tidur, bekerja seadanya, dan bersenang-senang. Di tahun kemarin, semua kehidupan monoton yang pernah ia tinggalkan, kembali ia pilih untuk dijalani. Setahun, kawan itu akhirnya jenuh. Hidup menurutnya hanyalah repetisi, sebuah pengulangan, yang meski penuh liku atau datar saja, ternyata hanyalah bandul yang memantul setiap hari, bulan, dan tahun. Memantul di tempat yang sama.

Sampai ia memutuskan untuk pergi lagi. Merasakan arti 'rumah' yang sebenarnya, agar rindu tetap terjaga. Ia kembali berpetualang dan mencoba menemukan ketakterdugaan dalam kecemasannya. Lalu kawan itu bertemu dengan wajah-wajah baru. Ia kerap memandangi lama setiap wajah yang ditemuinya. Ia mencoba mencari kemiripan, namun hanya menemui warna-warna berbeda.

Pernah pada suatu malam, kawan itu mendengar kisah dari beberapa wajah-wajah baru itu, tentang karib mereka yang hidup mapan dan memilih turun ke bawah (turba). Satu per satu membenarkan bahwa mereka tak jauh beda dengan sebagian orang, yang telah nyaman berada di kelas atas dan menengah. Terlena di zona nyaman. Padahal, bukankah dengan kita berada di zona nyaman, sikap kritis dan kecemasan kita hilang?

Lalu mereka memilih bunuh diri kelas, turba, dan berbaur hidup dengan kelas bawah. Mereka menemukan kecemasan di sana, dan selalu saja hadir ketakterdugaan. Hidup lebih terasa hidup. Setiap wajah-wajah yang bercerita itu memiliki mimpi-mimpi baru. Kawan itu lalu memutuskan untuk bertahan. Mungkin di tempat baru itu, ia bisa menemukan apa yang selama ini dicarinya. Atau malah, menemukan apa yang selama ini luput ia cari.

Di akhir tahun 2015 dan di awal tahun 2016, setelah pesta kembang api mencoreti kanvas langit, dan pada sebuah kesunyian di ujung malam, kawan itu kembali bercerita; ia telah menemukan apa yang dicarinya, Eureka!

Ia lantas memelukku erat. Sangat erat. Sehingga lipatan-lipatan tangannya tenggelam di tubuhku. Kami menyatu.

Kawan itu.... Adalah bayanganku.