Sunday, December 6, 2015

Pagi

pagi ini kembali terbata-bata
pada tetes air di toilet
pada musik  sayup-sayup
pun pada ikan yang mondar-mandir di kotak kaca

sebentar lagi mentari mengintip
pastikan apakah ubin masih bisa kutiduri
bersama sisa kenangan dan harapan
satu-satunya yang harus direbut adalah hari ini
dimana segala yang mungkin belum tentu terjadi. 

aku menunggu sebuah sejarah
yang akan bergelantungan di dahan atau  dedaunan
kemudian berubah menjadi siput-siput yang siap mengeja langkah

pada setiap pagi yang kutulisi puisi
bagiku puisi itu laci
tempat  menyimpan benci
tapi ini hanya benci pada sebuah diri
yang kerap melulu ingin menjadi suluh
atau malah lebih sering redup dipadamkan  peluh

pagi ini masih tersisa selarik diri
yang mencoba pergi melirik
jauh ke dalam hati
kenapa iri, dengki, atau caci sudah terlalu lama bertamu
belum juga mau pergi