Thursday, April 30, 2015

Inah

Garuk punggung gatal melepuh
luka itu sudah mau sembuh
tanda beban masih menunggu
pikul nasib serupa lembu

Inah, kebaya compang nganga
terkaing sakit di ujung bunga
sisa uang tak ada hingga
lintah darat beri air gangga

Perempuan lengannya baja
hitam legam ditumis batas senja
bulir keringat merembes saja
Inah sudah bau tinja

Bos dan Anda ketawa ha-ha-ha
lalu mandi pergi berleha-leha
napas Inah terhela-hela
Bos suruh sembah berhala

Inah berseru!
tanpa buruh, kau tak punya seluruh
tanpa buruh, bos tak lagi suruh
Inah bersiul luruh

(Eropassi Fri-1-May day-15)

Tuesday, April 28, 2015

R.I.P Hukuman Mati

Ilustrasi Google

Jauh dari Nusakambangan, di kaki puncak Everest, nasib dua pendaki  sejoli Kadek Andana dan Alma Parahita, hingga kini keberadaannya masih  entah. Tapi gempa Nepal yang menelan korban ribuan jiwa manusia, tampaknya tidak terlalu menarik bagi negeri ini. Perhatian sedang  tersita, atas pro-kontra hukuman mati terhadap terpidana perkara Narkoba. Porsi ribuan korban jiwa di Nepal, tak "selezat" delapan  terpidana yang sudah tereksekusi dan terengut nyawanya seiring deru  senapan.

Lebih menggugah, terpidana satunya lagi, Mary Jane dengan dramatis  luput dari kematian. Ibu dan kedua puteranya pun girang. Tak, senasib  dengan keluarga korban lainnya, yang kepalanya meringkuk di balik  kedua lipatan kaki.

Urat syaraf kedua pemimpin negara, Jokowi dan Abbott pun tertarik  menegang. Meski sebenarnya Australia terkesan ambivalen atas keputusan  hukuman mati, ketika hantu-hantu getayangan para pelaku bom Bali yang  tereksekusi menyunggingkan mulut.

Kita sendiri tahu, pemerintah  Australia saat hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku bom Bali, memilih  bersikap diam. Sementara keluarga korban bom Bali dan sebagian  pengecam ulah teroris sepakat dengan eksekusi. Kesan Abbott untuk menaikkan popularitas, menjadi analisis sepihak terkait penolakan atas  eksekusi mati warganya. Meski sebenarnya standar ganda yang sama melekat pada Indonesia, saat nasib para TKI yang bakal—atau sudah—terpancung di negeri para Nabi.

Tapi mari kita sejenak menjauh, dengan dua kepala negara yang sedang bersitegang ini, meski sebenarnya Jokowi terlihat santai-santai saja.  Bagi Jokowi, hukum mati sudah harga mati. Entah kematian yang  bagaimana, yang patut dilabel harga. Seperti harga 2 kg heroin yang  diuangkan, lalu disepadankan dengan total pemakai yang tewas. Padahal kita tahu, nyawa itu tak ternilai. 

Hukuman mati (selanjutnya ditulis HM). Di negara-negara benua seberang, meski HM sudah dihapuskan, tak bisa dipungkiri, itu telah melalui proses gerak  sejarah yang panjang. Seperti Perancis yang memiliki sejarah kelam dan mengerikan dengan HM. Pun negara-negara lainnya yang telah lebih dulu tercerahkan, bahwa kemanusiaan harus dijunjung dan dijuangkan. Indonesia butuh polemik HM, agar masyarakat dan bangsa ini belajar, berpikir, berdebat, dan tercerahkan seiring gerak. Momen ini pun bakal  dikenang, sama seperti titik tahun 1981 pasca Perancis menghapus HM, sama halnya dengan Australia di tahun 1985.

Manusia butuh gerak, butuh proses untuk berpikir dan merenung.  Perenungan lahir dari pentas yang riuh. Dan riuh polemik ini, bisa menjadi remah-remah roti menuju tahun penghapusan HM.  Kita sadar, HM tak berefek jera setelah melalui riset panjang. Di Inggris pada  abad ke-15, hukuman gantung berlaku bagi mereka yang mencuri atau para pencopet. Tapi disaat ramai eksekusi, para pencopet tetap beraksi, saat seluruh warga kota lengah dan terpana menyaksikan manusia bergelantungan.

Hukuman berlaku bagi apa yang diperbuat, bukan atas balas dendam dan efek jera. Kita yang melihat para terhukum dibuat  berpikir, mencuri itu tidak baik dan pasti dihukum, bukan mencuri itu  pasti mati.

Sampai di sini, kematian memang penuh drama, dengan plot cerita yang beragam, sebelum menuju akhir. Di waktu yang sama, ketika peluru menembus bidang dada delapan terpidana di lapangan tembak Nusakambangan, jauh di tempat berbeda ada manusia lainnya yang tertimbun reruntuhan. Ada pula yang tewas dibom, kecelakaan tragis, kehabisan darah saat melahirkan, tertimpa pohon, tenggelam, dan sebab-sebab lainnya. Meski sebab berbeda, tapi kematian memiliki esensi yang sama. Hanya mati. 

Tapi menghukum mati sesama manusia itu, sesuatu yang keji. Nyawa manusia hanya Maha Pencipta yang berhak, meski dengan dalil para ulama bahwa manusia dicipta Tuhan, untuk itu manusia bebas menghukum manusia lainnya yang berbuat kejahatan. HM tetaplah keji. Tak ada alasan yang mampu menebus kamanusiaan.

Turut berduka untuk kalian. Nyawa kalian bukan tak berarti, tapi sesungguhnya adalah momen penting bagi gerak sejarah bangsa ini, menuju pencerahan dan penghapusan atas HUKUMAN MATI.

Semoga damai di sana.

1. Andrew Chan
Andrew Chan Warga Negara Australia, dikenal sebagai Godfather di kelompok Bali Nine dalam kasus penyelundupan 8,3 kg heroin ke Bali 17 April 2005 dan ditangkap di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Andrew harus menghadapi regu tembak setelah divonis mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada 2006. Grasi serta Peninjauan Kembali (PK) yang diajukannya ditolak Presiden Joko Widodo dan Mahkamah Agung (MA).

2. Myuran Sukumaran
Myuran Sukumaran yang juga gembong narkoba Warga Negara Australia, adalah satu kelompok dengan Andrew Chan yang ditangkap bersama kelompok Bali Nine di Bandara Ngurah Rai, Bali pada 17 April 2005. Myuran ditangkap setelah berusaha menyelundupkan heroin seberat 8,3 kilogram ke Bali. Myuran dovonis mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada 2006. Upaya hukum lanjutan berupa PK dan Pengajuan Grasi tak bisa menyelamatkan dari regu tembak.

3. Martin Anderson
Martin Anderson alias Surajudeen Abiodun Moshood alias Belo adalah  Warga Negara Ghana yang ditangkap di rumahnya di Kelapa Gading Jakarta  Utara, 17 November 2003 atas kepemilikan 50 gram heroin. Martin dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan  pada 2004 dan 2015. Dia kemudian mengajukan Peninjaun Kembali atau PK, setelah grasinya ditolak Presiden Joko Widodo.

4. Zainal Abidin
Zainal Abidin adalah satu-satunya terpidana mati Warga Negara Indonesia yang dieksekusi mati dini hari tadi. Zainal ditangkap di  rumahnya di Palembang, Sumatera Selatan pada 21 Desember 2000, bersama barang bukti 155 gram sabu. Zainal divonis mati oleh Pengadilan Negeri Palembang pada 2004. Zainal berhadapan dengan eksekutor hukuman mati setelah PK-nya ditolak MA yang sebelumnya grasi yang diajukan juga ditolak Presiden Jokowi.

5. Raheem Agbaje
Raheem Agbaje Salami Warga Negara Spanyol, didakwa menyelundupkan 5 kg heroin pada 1999, setelah tertangkap tangan di Bandara Juanda Sidoarjo. Vonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Surabaya diterima Raheem pada 2008. Dia sempat mengajukan grasi pada 11 September 2008 dan harus menunggu 7 tahun untuk mendapatkan jawaban penolakan.

6. Rodrigo Gularte 
Rodrigo Gularte Warga Negara Brasil divonis mati Pengadilan Negeri Tangerang, Banten pada 7 Februari 2005, setelah terbukti menyelundupkan 19 kg kokain pada 2004. Rodrigo sempat menjadi perhatian para pegiat hak asasi manusia atau HAM, karena dirinya disebut memilik gangguan jiwa yang menilainya tak layak dihukum mati.

7. Silvester Obiekwe Nwolise
Silvester Obiekwe Nwolise Warga Negara Nigeria ini juga divonis mati Pengadilan Negeri Tangerang, Banten. Ia ditangkap Direktorat Narkoba Polri, setelah kedapatan membawa 1,2 kg heroin pada 2003. Silvester bahkan sudah 2 kali ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) karena mengendalikan peredaran narkoba dari balik Penjara Nusakambangan pada 2012 dan 2015.

8. Okwudili Oyatanze
Okwudili Oyatanze Warga Negara Nigeria dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang, Banten pada 13 Agustus 2002. Ia ditangkap bersama barang bukti 1,1 kilogram heroin di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten pada 28 Januari 2001. Putusan hukuman mati Okwudili diperkuat dengan putusan banding oleh Pengadilan Tinggi Banten pada 2011 dan putusan kasasi MA. Dia juga empat mengajukan grasi kepada Presiden Jokowi pada 2015, namun ditolak.

Awalnya, ada 10 terpidana mati yang akan dieksekusi pada gelombang II ini. Namun eksekusi terhadap 2 di antaranya, yakni Mary Jane (WN Filipina) dan Sergei Areski Atlaoui (WN Prancis) ditunda, karena proses hukum belum selesai.

#Tolak_Hukuman_Mati

Thursday, April 23, 2015

Salah Tafsir jadi Kaum Takfir

Bicara konteks, akhirnya Uwin sendiri menjauh dari konteks. Saya
bengong tambah heran dengan cara penafsiran 'barat tak selalu buruk'.
Sejak tulisan pertama, yang saya bincangkan adalah feminisme barat
yang 'mendidik' Kartini di balik tembok keraton. Bukan kah budaya
barat, pendidikan barat, kawan-kawan barat, tradisi minum teh yang tak
lazim bagi pribumi, yang dipermasalahkan? Budaya yang lahir dari
kolonialisme, imperialisme, dan entahisme apalagi.
Bukankah dalam tulisan pertama di www.arusutara.com, hal tersebut yang
dikau pertanyakan? Seluruh asupan gizi dari mata kucing yang dikau
poles menjadi Politik Etis.
Bahkan di tulisan kedua saya, dengan terang saya bedakan antara yang
si Jawa dan si Aceh. Tetap saja bagi saya Kartini adalah pemikir
feminisme pertama di Indonesia. Jauh sebelum para cendekiawan lain
lahir.
Kartini gegerkan pemerintah kolonial Hindia Belanda, dalam melawan
diskriminasi terhadap kaumnya. Belanda dibuat bingung, mengapa
seseorang yang dibesarkan oleh kultur budaya patriarkis dan berada di
bawah jajahannya, bisa memiliki pemikiran semodern dan selengkap itu?
Mereka sendiri lupa, Kartini berkamuflase dengan budaya mereka, agar
bisa menyamai taraf pemikiran si kantong gulden.
Sebenarnya, gerakan feminisme yang dijuangkan Kartini, merupakan
perjuangan mentransformasikan sistem dan struktur yang tidak adil,
menuju ke sistem yang adil bagi perempuan maupun laki-laki. Jelas
poligami ia tolak dengan paradoks. Ia menjalani sekaligus menolak.
Kartini merasai. Mungkin lebih tepat ambivalensi.
Bahkan di Indonesia sendiri, sejarah perjuangan kaum feminis telah
dimulai pada abad ke-18 ketika Kartini ada.
Banyak yang dikau tak pelajari mengenai feminisme yang Kartini
genggam. Feminisme yang ia pelajari dari barat, namun cenderung
'sendiri' dan menjadi sebuah sintesis dari patriarki dan feminisme
barat itu sendiri.
Makin membuat saya heran, ketika barat yang saya maksud, telah jauh
melenceng dengan disamakannya tafsir ala kaum takfir, padahal bukan
itu yang saya maksud. Mungkin kata menuduh lebih tepat bersanding di
laptop dikau.
Barat yang terang lalu menuju gelapnya Nusantara. Barat yang selama
ini dikau katakan telah merayap jauh menembus kebaya Kartini,
mendidiknya dan menyarukannya menjadi praduga Politik Etis.
Sampai di sini, saya hanya bisa berkata.... Lebe bae maen CoC jo.

Tulisan Laksmi untuk Kartini


Kartini dan Eropa: Sebuah Mimikri

This article is presented at a discussion at Teater Utan Kayu,
Jakarta, to commemorate R.A. Kartini's birthday, 20 April 2008.

Selama ini bila Kartini dibicarakan, ia selalu dilihat sebagai sosok
yang utuh dan transparan. Atau ia sebagai feminis, sebagai pendekar
emansipasi perempuan, atau sebagai pembela rakyat, pejuang
anti-kolonial.

Tapi kita perlu ingat, dalam membaca Kartini, kita sebenarnya membaca
sejumlah besar surat. Ia bukan saja berbicara mengenai "Aku" dan
"Engkau" tapi juga kepada seorang "Engkau", yang senantiasa harus
ditafsirkan dan dinegosiasi. Kartini adalah contoh bagaimana "Aku"
selalu merupakan subyek dalam proses.

Ini tampak jelas dalam surat pembuka Kartini kepada Stella
Zeehandelar, seorang feminis dan sosialis Belanda berdarah Yahudi,
jurnalis majalah mingguan Belanda untuk perempuan-perempuan muda
progresif, De Hollandsche Lelie, yang mempunyai hubungan kuat dengan
gerakan sosialis ternama di Belanda:

"Panggil saja aku Kartini—itu namaku." Kalimat ini terkenal karena
menjadi judul buku Pramoedya Ananta Toer tentang perempuan muda dari
Jepara ini. Tetapi sebenarnya sini Kartini menandaskan ke-"aku"-annya
dengan memakai tatapan dan bahasa pihak Yang Lain, yang "bukan Aku".

"Ketika aku memberikan alamatku kepada Mev. Van Wermeskerken tentu aku
tidak bisa hanya menulis Kartini bukan, hal ini pasti akan mereka
anggap aneh di Belanda dan untuk menulis "mejuffrouw" (nona) atau
sejenisnya di depan namaku, wah, aku tidak berhak untuk itu—aku
hanyalah orang Jawa." tulis Kartini.

Ini bisa jadi semacam sarkasme, bisa murni sebuah kesantunan terhadap
seorang asing yang baru saja ia kenal. Tetapi ini juga dapat dilihat
sebagai usaha menyesuaikan diri, agar lebih mudah dipahami orang di
Belanda.

Surat memang berbeda dari jurnal karena ia harus selalu menempatkan
diri dalam dialog dengan orang lain. Kadang ia berpuisi dengan liris,
beretorika dengan mengumpat, berbisik dengan lirih. Kadang ia mesra
bak terhadap seorang kekasih: "Nanti, nanti, Stella, pujaanku, saat
aku sudah menggenggamnya di tanganku, erat, amat erat, sehingga tak
akan lepas, saat itulah kau akan tahu." Tetapi kadang ia berjarak,
seperti pada ketakmampuan Kartini mengakui, dalam surat pertama, bahwa
ia anak selir.

Surat berbeda dengan esai. Esai menghadirkan semacam sesuatu yang
konstan (terutama dalam struktur, metode, kronologi dan fakta sejarah
yang jelas), sementara surat sangat tergantung kepada pihak yang
disurati, siapa dia, usia, ras, status sosial, ideologi dan aliran
politiknya. Surat juga tergantung suasana hati si penulis surat pada
saat ia menulis.

Selalu "Lain"
Bagi saya, Kartini adalah selalu "ia yang lain". Ia selalu bukan ini atau itu.

Ia sosok yang selalu berada di tepi. Ia berada di tepi hierarki sosial
Jawa, sebagai bagian dari kaum priyayi rendah. Ia berada di tepi dalam
hubungan kolonial, sebagai kaum priyayi yang mendapatkan sejumlah
privilese tapi juga tak bisa merealisasikannya secara penuh. Ia berada
di tepi dalam hubungan keluarga, sebagai anak kesayangan bapaknya tapi
sekaligus anak selir dan bukan anak permaisuri – yang menyebabkan ia
mencintai bapaknya sekaligus membenci hubungan poligami.

Berada di tepi mengandung kepedihan tertentu. Ia menulis: "Di satu
pihak aku tidak bisa kembali ke lingkunganku yang sebelumnya – namun
di pihak lain aku juga tidak mungkin masuk ke dalam dunia baru itu,
masih ada beribu tali yang mengikatku erat kepada dunia lamaku."

Kepedihan itu lebih tersirat dalam hubungan keluarganya. Ia mengatakan
kepada Stella mengenai Ibunya yang "masih sangat terhubung dengan
Kerajaan Madura". Yang dimaksud di sini tentunya adalah ibu tirinya,
bukan ibu kandungnya yang datang dari kalangan pesantren—sesuatu yang
bisa kita tafsirkan sebagai gabungan rasa malunya karena bapaknya
berpoligami, rasa cemasnya bahwa fakta itu akan mengusik sensibilitas
seorang feminis seperti Stella atau rasa malunya bahwa ia hanyalah
anak selir.

Kartini juga berada di tepi karena kebebasan dan pendidikan yang ia
dapatkan sebenarnya tidak luar biasa bagi ukuran Barat tapi tetap tak
lazim buat negerinya. Kita melihat Kartini tetap terbelenggu – ia tak
bisa mewujudkan cita-cita tertingginya, yaitu "pergi ke Eropa."

Ia mendidik dirinya dengan pikiran-pikiran Barat, tapi, ketika pada
usia 16 tahun mendapatkan "kebebasan" dari bapaknya untuk keluar
rumah, ia mendengar Mevrouw Ovink-Soer, salah satu teman keluarganya,
"Nak, nak, apakah kami sudah melakukan hal yang benar dengan
mengeluarkanmu dari tembok kabupaten yang tinggi itu? Apakah justru
mungkin akan lebih baik kalau kalian bertiga tetap tinggal di sana?"



Ambivalensi Wacana Kolonial
Di sini kita lihat bahwa Kartini adalah sebuah contoh ambivalensi
dalam wacana kolonial. Kita tahu, kolonialisme (atau imperialisme)
adalah puncak kapitalisme pada zaman itu. Kapitalisme sendiri
merupakan buah dari Pencerahan, yaitu ide manusia sebagai subyek yang
mandiri, yang mengalahkan alam dan yang di luar diri, yang membawa
kemajuan, seperti yang digambarkan dalam Manifesto Komunis, akan
tetapi juga penjajahan. Ketika Si Kolonialis berada di negeri jajahan,
dia bertemu dengan "Yang Lain", pihak yang dijajah yang di luar
dirinya.

Harus diapakankah orang-orang ini? Karena semangat Pencerahan adalah
membawa kemajuan maka salah satu proyek kolonialisme adalah
pendidikan. Di Hindia Belanda itu dicerminkan dalam "Politik Etis,"
untuk menularkan semangat kemajuan dan pencerahan pada Yang Lain.

Tetapi agenda Pencerahan seperti yang tampak dalam "Politik Etis"
mengandung risiko: apabila proyek ini diteruskan, ia akan mengaburkan
Yang Menjajah dan Yang Terjajah, dan berbahaya bagi identitas si
Penjajah. Apabila proyek itu dilakukan sepenuhnya, Yang Terjajah bisa
menuntut kesetaraan dan kemerdekaan, yang akan mengancam raison d'etre
penjajahan. Maka proyek itu dihambat sendiri "dari dalam", oleh Yang
Menjajah. Si Terjajah harus tetap jadi "Yang Lain", yang berbeda. Di
sini yang dipertahankan pada dasarnya adalah pengukuhan dan
pelembagaan esensialisme. Esensialisme adalah sebuah sikap yang
membuat setiap perbedaan dan identitas hakiki, tak berubah-ubah dan
tak tergantung pada sejarah dan lokalitas.

Tapi pada saat yang sama Yang Terjajah tak jarang memakai kesempatan
ini sebagai perlawanan. Misalnya melalui pendidikan ia mengubah
dirinya, dan dengan mengubah dirinya ia menghancurkan esensialisme.
Pengertian "mimikri" yang diperkenalkan oleh Homi Bhabha, tidak
sekedar meniru-niru, tetapi mengandung perlawanan. Homi Bhabha sendiri
meminjam ide mimikri ini dari Jacques Derrida, yang mengatakan bahwa
mimikri atau laku meniru tak sekadar menjiplak sebuah fenomena, ide
atau sosok yang sudah ada sebelumnya, tapi membentuk, dengan
membayangkan (membawa "fantasme") tentang suatu yang "asli", dan
merupakan asal usul.

Kartini fasih berbahasa Belanda, mahir memasak masakan Belanda,
menulis resep-resep dengan cara Barat seperti yang dikemukakan oleh
Suryatini N. Ganie dalam bukunya, Resep-Resep Putri Jepara, dan rajin
membaca buku dan jurnal yang diterbitkan di Barat. Terkadang dilihat,
sikap ini seperti meniru Si Penjajah – tetapi sebenarnya tidak hanya
itu. Inilah yang menyebabkan setiap transplantasi budaya bisa
mengandung sesuatu yang paradoksal, Tak ada lagi daya kendali yang
otentik, orisinil ataupun murni; segala sesuatu dikontaminasi atau
diberdayakan oleh daya subversif imitasi. Yang "Lain" telah menjadi
"sesama" yang telah dilarutkan. Terjadilah hibriditas.

Bagi banyak wacana nasionalisme, hibriditas cenderung dianggap dengan
negatif, karena tidak murni, hingga mimikri sering nampak seakan hanya
jiplakan belaka. Padahal, seperti yang ditunjukkan Homi Bhabha,
mimikri mengukuhkan dan mendistorsi otoritas kolonial sekaligus.

Seperti yang ditunjukkan Kartini, mimikri mewakili sebuah kompromi
yang ironis: hampir sama, tapi tidak benar-benar sama. "Stella yang
baik, aku sungguh bahagia karena kau menganggapku sama dengan
teman-teman Belandamu dan memperlakukanku sama dengan mereka, dan juga
menganggapku sebagai teman sepahammu. Aku tidak menginginkan hal lain
selain kau tetap memanggilku dengan 'namaku' juga dengan 'je' dan
'jij'. Kau bisa lihat bagaimana lancarnya aku meniru contohmu."

Apa yang kita lihat dalam diri Kartini adalah sebuah upaya yang
konsisten untuk memaknai dirinya sebagai aspek perlawanan dari
mimikri. Tak jarang Kartini memposisikan Stella, sang "pasangan jiwa",
sebagai yang lain, yang tak mengerti, yang angkuh, yang hanya tahu
sedikit-sedikit, dan yang berdiri di luar realitanya, hingga Kartini
acap merasa perlu mengangkat ke-Jawa-an sebagai sesuatu yang luhur dan
berbudaya. Ini agaknya semacam upaya mengkonstruksi sebuah identitas
kolektif sebagai subyek "Budaya Jawa," tulis Kartini pada Stella,
"tidak rendah dalam pendalaman rohaninya."

Tapi kita tahu dalam kehendak menandaskan diri, Kartini – dan tak
jarang kaum yang dijajah umumya -- mencoba menggali tradisi, bahasa,
sejarah dan agama dan membangun ulang "sifat otentik". Mereka
melakukan ini karena tak sudi mengukur diri terhadap norma-norma yang
dalam jargon Lacan dikenal (dalam bahasa Inggris) sebagai the Big
Other, atau "Mereka" -- yaitu negara, lembaga, orang tua, yang
menguasai wacana atau membentuk identitas "aku". Tapi dengan
menandaskan "keotentikan" yang nota bene artifisial, pada dasarnya
kaum yang dijajah tetap berpikir dalam cengkeraman "Mereka".

Dari kasus ini kita melihat bahwa Homi Bhabha hanya menyinggung satu
bentuk mimikri, yaitu meniru untuk mengguncang esensialisme. Sementara
itu, menurut hemat saya, bentuk mimikri yang lain, yang justru dalam
niat melawan dengan berbeda ternyata malah mengukuhkan esensialisme.

Itulah yang terjadi ketika Kartini berbicara kepada Stella tentang
"Jawa", seakan-akan "Jawa" itu tidak berubah. Dalam kasus ini Kartini
melakukan perlawanan dengan mengukuhkan identitas tapi justru dengan
itu ia mereproduksi wacana yang berkuasa, yaitu esensialisme.

Tapi di sini juga kita meihat posisi Kartini sebagai orang tepian . Ia
tak sepenuhnya konsisten memuja-muja kebudayaan Jawa—apalagi dalam
memuji kebudayaan Jawa itu ia mungkin hanya melakukannya sebagai
strategi identitas. Tulisnya pada Stella: "Apa peduliku soal
peraturan-peraturan adat? Aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak
peraturan adat Jawa yang konyol itu saat berbincang dalam tulisanku
ini. Adat peraturan ini dibuat oleh manusia, bagiku itu menjijikkan."

Tetapi mengapa ia butuh strategi identitas itu?

"Eropa" dalam kehidupan Kartini
Di sini kita sampai pada pertanyaan: Eropa macam apakah yang masuk
dalam hidup Kartini, dan bagaimanakah ia masuk?

Pertama, melalui pendidikan. Ini dimulai dengan seorang almarhum kakek
yang "progresif" untuk zamannya: bupati pertama di Jawa yang
mengundang "seorang tamu" dari seberang lautan dan yang memberikan
semua anaknya pendidikan ala Eropa. Kemudian, seorang bapak yang
melanjutkan hal ini dengan memberikan pendidikan yang kurang lebih
sama bagi anak-anaknya.

Kedua, melalui bacaannya atas literatur Eropa.

Ketiga, gaya hidup Eropa yang masuk ke rumahnya, termasuk dalam hal makanan.

Keempat, interaksi sosial, yang mencakup pergaulannya dengan
orang-orang Eropa, baik secara langsung maupun melalui korespondensi,
maupun amatannya terhadap interaksi orang Eropa dan kaum pribumi di
negerinya.

Saya ingin sedikit membahas ketiga aspek terakhir. Salah satu hal yang
menakjubkan tentang Kartini bukan saja minat dan telaahnya terhadap
literatur Eropa tapi juga kegigihannya menulis. Meski dalam
surat-suratnya respons terhadap bahan bacaan tersebut tak pernah
terlalu mendalam, ada kesan kuat bahwa ia memikirkan apa yang ia baca
dan membiarkan mereka memicu sejumlah sikap dan keputusannya.

Kekaguman Kartini terhadap Mevrouw Geekoop De Jong van Beeken En Donk,
penulis feminis yang sangat berpengaruh dengan bukunya, Hilda van
Suylenburg, yang terbit tahun 1897, misalnya, adalah salah satu alasan
mengapa ia menolak pernikahan.

Kartini juga mengagumi Multatuli, dan mampu membandingkan kondisi
masyarakat kolonial pada zamannya dengan kondisi masyarakat kolonial
dalam Max Havelaar.

Sementara itu, Kartini rajin menulis. Selain menyumbangkan sebuah
tulisan tentang batik kepada Pameran Karya Perempuan di Belanda tahun
1898, yang beberapa kali dicetak ulang, ia pun menulis sebuah buku
resep – sesuatu yang tidak lazim pada zamannya.

Dengan demikian Eropa juga masuk ke diri Kartini melalui makanan..
Buku yang ditulis Kartini, kumpulan resep keluarganya, adalah semacam
testimoni atas bagaimana cita rasa dan cara hidup kaum elite kolonial
meniru budaya si penguasa yang sebenarnya juga tidak asli.

Ritual uurtje, misalnya, atau ritual minum teh di sore hari, sama
sekali bukan merupakan tradisi Belanda, tapi tradisi Inggris. Ritual
ini hanya dilakukan oleh orang Belanda di Hindia Belanda, yang
nampaknya kurang kerjaan dan hanya bisa duduk-duduk ongkang-ongkang
kaki sambil minum teh dan makan pisang goreng di sore hari, sembari
menikmati semilir angin di sebuah petang tropis. Sementara, kebanyakan
orang Belanda di negerinya, yang kerja keras dan hidup tanpa pembantu,
tak akan punya waktu untuk ritual-ritual seperti itu.

Hal semacam ini juga tak hanya melibatkan etiket dan kebiasaan makan,
tapi juga apa yang dimakan. Apa yang dikenal di Indonesia sebagai sop
sayur, misalnya, sebenarnya adalah apa yang di Belanda dikenal sebagai
groenten soep; sementara itu Madeira Sauce yang acap ditemukan di
dalam bistik yang sering dihidangkan di meja makan Kartini
sesungguhnya adalah adaptasi dari adaptasi: orang Indonesia
mengadaptasi orang Belanda yang mengadaptasi orang Prancis. Selat
Solo—potongan sandung lamur dan pelbagai sayur rebus yang diiris
tipis-tipis yang disajikan dengan saus semur dan saus mayonnaise yang
mengandung banyak telur—adalah contoh makanan dalam repertoar keluarga
Kartini yang tak akan pernah ditemukan di meja makan khalayak ramai.

Dalam hal ini, kita bisa berspekulasi bahwa keputusan Kartini membuat
buku resep adalah upaya mengkonstruksikan adat atau kebiasaan
bersantap orang Jawa dengan paradigma Eropa sebagai semacam penyamaan
martabat dengan budaya Si Penjajah.

Jika kita melihat adanya sikap yang bermata dua dalam kasus resep,
dalam hal interaksi sosial juga ada ambivalensi. Terhadap Stella, yang
ia hormati dan sayangi, dia ingin berlaku sama. Dengan Rosa
Abendanon-Mandri, istri Direktur Pendidikan Hindia Belanda baru yang
beraliran reformis sikapnya berbeda. Perempuan ini jadi panutan dan
pujaan bagi Kartini dan adik-adiknya.

Begitu rupa kekaguman dan rasa takjub Kartini terhadap Rosa
Abendanon-Mandri hingga surat-suratnya sering "histeris" dan terbuai
dalam romantismenya sendiri, atas kondisinya dan adik-adiknya sebagai
makhluk jajahan yang "telah terluka berat dan hancur oleh kejamnya
Hidup." Ia lukiskan kebahagiaannya yang meluap-luap ketika pertama
kali bertemu dengan Rosa dan suaminya sebagai "cinta yang menderu
merasuki dirinya dan mengambil alih seluruh jiwa dan raganya tanpa ia
sadari".

Juvenilia semacam ini tak jarang ditemukan dalam orang sebaya Kartini,
yang berbakat, menonjol dan ingin diperhatikan, dan juga yang pada
usia itu punya kehendak untuk merasakan dan menuliskan keadaan jatuh
cinta. Tetapi sikap ini mungkin juga mengandung sedikit pragmatisme.
Rosa dan suaminya kuat secara politis, dan berkuasa atas nasib
pendidikannya.

Amat mungkin juga karena Rosa berbeda. Latar belakang Rosa sebagai
orang Spanyol yang lahir di Puerto Rico, sesuatu yang Kartini
asosiasikan sebagai kedekatan intrinsik dengan Jawa. Ini praktis
membuat Rosa juga sesama orang asing di tengah komunitas orang Eropa
yang diwakili Belanda. Seperti yang Kartini kemukakan dalam suratnya:
"Dia, Rosa, adalah orang asing, seorang dari Spanyol yang penuh
kehangatan, yang memukau, indah, romantis."

Pada akhirnya, Rosa tampil sebagai pribadi, bukan wakil sebuah ras
yang superior, seperti paradigma yang ditekankan orang Belanda di
zaman kolonial itu.

Pada titik ini, yang bisa disimpulkan Eropa atau Belanda bagi Kartini
tidak tunggal, tidak mempunyai hakikat atau esensi yang kekal. Kita
bisa mencatat kebencian Kartini terhadap wajah Belanda yang zalim,
yang sombong, congkak, rakus dan semena-mena, hal yang sering ia
temukan dalam perjalanannya menemani bapaknya sang bupati Jepara yang
peduli pada nasib rakyat kecil. Tak ada lagi Kartini si anak kecil
haus perhatian, Kartini yang sentimental. Surat-suratnya yang
menjelaskan hubungan kolonial yang eksploitatif itu, sungguh luas dan
dalam mengupas anatomi penjajahan yang berujung pada kemiskinan,
keterpurukan dan keterbelakangan.

" … dan masih juga, sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai
'ladang kera yang mengerikan.' Aku naik pitam jika mendengar orang
mengatakan "Hindia yang miskin." Orang mudah sekali lupa kalau "negeri
kera yang miskin ini" telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan
emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal
di sini."

Nasionalisme yang universalis
Sebagai penutup, tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa
Kartini telah mempelopori sebuah kesadaran identitas diri yang
merupakan dasar nasionalisme Indonesia kelak, yang tidak berdasarkan
identitas etnik atau budaya yang permanen. Bisa jadi Kartini
mendahului pemikiran kaum nasionalis di Indonesia yang kemudian
datang: nasionalisme yang berdasarkan kepada sifat universal yang ada
pada sesama.

Ia mengatakan pada Stella bahwa ia ingin "bekerja tidak hanya untuk
kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas,
bekerja untuk kebaikan sesamanya" dan "aku tak ingin apapun kecuali
mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang
telah dilakukan kaum perempuan di Eropa".

Sekaligus ia menjelaskan bahwa "Bisikan itu tak hanya datang dari
luar, dari mereka yang sudah beradab, dari Benua Eropa …", tapi bahwa
ada sesuatu dalam dirinya yang membisikkan keinginan itu jauh sebelum
ia bisa mendapat akses kepada buku dan artikel Eropa tentang
modernitas.

Artinya, ia melihat bahwa tuntutan untuk merdeka juga bisa datang dari
seorang perempuan Jawa, ketika perempuan itu tertindas. Tuntutan itu
universal, bisa datang dari semua bangsa di muka bumi.

Dan ini semua hanya bisa dikemukakan oleh orang di tepian, yang
identitasnya tidak dikurung dalam sesuatu yang partikular.

20 April 2008

Habis Sesat Terbitlah Gelap

Tulisan tanggapan singkat saya, untuk sebuah artikel di www.arusutara.com, yang mengisahkan tentang tokoh Kartini, berkesempatan dibalas oleh Uwin Mokodongan. Namun kali ini, tanggapan itu diunggahnya lewat blog pribadi Leput Institute http://leputinstitut.blogspot.com/2015/04/untuk-sigidad-tanggapan-atas-tanggapan.html?m=1.
Uwin menanggapi soal kesalahan saya, mengenai kalimat yang berasumsi bahwa artikel Dengan Segala Hormat Ibu Kartini, yang ditulisnya, tidak sama sekali menegaskan ketidakpantasan Kartini menjadi tokoh emansipasi.
Saya sendiri pun heran, sebab pada artikel tersebut, asumsi yang berkeluk-keluk mempertanyakan dengan kata tanya yang begitu skeptis; kenapa? mengapa? di manakah? apakah? dan sejumlah deretan tanya yang tentu saja substansi tulisan tersebut, jika dibacai anak SMP pun jelas, bahwa Kartini tidak cocok jadi tokoh emansipasi.
Mengenai tuduhan Uwin memplagiat artikel tersebut pun, coba kais kembali tulisan saya, apakah tuduhan tersebut menunjuk tepat di ujung cuping hidung Uwin. Saya hanya menyampaikan, artikel itu mirip substansi, bahkan jika Anda-anda sekalian berselancar di dunia maya, bejibun artikel bertengger mempertanyakan kepatutan Kartini sebagai tokoh emansipasi. Jelas saya tidak menuduh Uwin plagiat, sama belum tentu plagiat, bukan? bisa saja ide, sebab kita sesama manusia, memiliki konsep yang sama, sekali-kali.
Mengenai tokoh Cut Nyak Dhien, sekali lagi, tidak ada tuduhan mengenai plagiat atas tulisan yang pernah dikirimi kawan saya. Bahkan, beberapa artikel yang akan kalian temui di internet, kerap menyandingkan Cut Nyak Dhien dengan Kartini. Saya malah merasa heran, Kartini yang diidentikkan dengan tokoh emansipasi dan Cut Nyak Dhien sebagai tokoh pahlawan perjuangan, jelas berbeda. Sama halnya dengan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Masing-masing pahlawan memiliki spesifikasinya sendiri-sendiri. Lalu kenapa harus Cut Nyak Dien yang sudah bergelar tokoh perjuangan, yang sepantasnya menjadi tokoh emansipasi. Kalau mendebat soal tokoh perempuan di zaman baheula, tentu tak habis tokoh-tokoh hero dengan masing-masing ilmu "kanuragannya", lalu marilah saling mengklaim merekalah yang pantas atau lebih cocok.
Saya pun menyentil mengenai kultur islami dan kondisi sosial di Aceh, yang tentu saja berbeda dengan Jawa. Kondisi perang di Aceh pun berbeda dengan Jawa. Di lingkungan pada saat Kartini besar, kolonialisme tak segaduh Aceh. Kartini pun tak seleluasa Cut, yang adat istiadat bangsawan Aceh dan Jawa kala itu, cukup berbeda, meski pengaruh budaya islam telah sama-sama dicecap. Bahkan kekesalan Kartini terhadap islam, tak semulus pemahaman Cut.
Sekarang, yang ingin saya tanyakan, kenapa Kartini yang spesifikasinya keemansipasian, malah harus dipaksa diseret ke medan tempur? Lucu. Saya tidak akan membentangkan lebih banyak mengenai perbedaan kondisi Aceh dan Jawa, pada yang lampau itu.
Mengenai Kartini yang gemar membaca, Uwin lupa bahwa banyak perjuangan yang lahir dari sekadar membaca buku. Konsep-konsep feminisme barat yang dipelajari Kartini pun, ia tularkan ke lingkungan sekitar. Jika Kartini tidak pernah mempraktekkan ide-ide dalam teks yang ia bacai, kenapa ia digelari pahlawan emansipasi? Tidak mungkin akibat ada tanpa sebab, meski sebenarnya tidak pernah ada yang detail dengan sejarah. Bahkan menceritakan kembali pun bisa dianggap fiksi. Tak ada yang mampu merekonstruksi kejadian sedemikian sama dengan yang lampau. Sama halnya dengan keraguan-keraguan yang sedang Uwin bentangkan, yang berasal dari referensi sejarah pula, yang penuh dengan praduga. Sama halnya dengan yang Abendanon tuturkan lewat surat-surat Kartini. Asumsi saya, bisa jadi sejarah Kartini malah kurang diceritakan oleh Abendanon dalam surat-suratnya.
Saya juga semakin merasa geli, kepada barat yang selalu dianggap buruk. Bahkan entah kepada siapa Tjokroaminoto dan Bung Karno belajar. Habis sesat terbitlah gelap.

Wednesday, April 22, 2015

Para Sisifus Pendorong Jerigen Air


Jejeran jerigen air di beberapa desa yang dilalui, seperti sebuah penanda krisis air yang melanda Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara.

Laporan: Kristianto Galuwo (Radar Bolmong)

MENDUNG seakan berkejaran dengan laju mobil yang kami tumpangi. Setelah menempuh perjalanan sekira 80 menit dari Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (11/11/2014), akhirnya saya reporter-dari Radar Bolmong dan tim Manado Post Group (MPG) yang terdiri dari reporter asal Posko Manado, Maluku Utara Post, Luwuk Post dan Gorontalo Post, tiba di bibir Kecamatan Likupang Barat.

Desa Munte mengecup dingin dan menyambut kami dengan rimbun hijau pepohonan. Di pinggir jalan, tampak satu-dua jerigen air ukuran 25 liter terparkir, sedang ditunggui empunya. Air mengalir dari pipa berdiameter 3 centimeter (cm), lalu terhubung ke sebuah bak penampungan hasil Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

Meski alir air tak terlalu deras, desa ini terbilang pasokan airnya cukup lumayan. Kami terus menembus ke desa selanjutnya, Desa Mubune dan Desa Maliambao. Aktifitas warganya biasa saja. Meski sesekali seliweran sepeda motor yang mengangkut satu jerigen air dan gerobak-gerobak pengangkut.

Terus ke dalam, kami jumpai lagi sebuah desa. Namanya Desa Bulutui, kemudian Desa Bahoi dan Tambun. Kondisinya sama. Warganya masih segar barusan diguyur air hujan. Suplai air pun memadai. Desa yang kami lalui, jika jerigen air berderet penuh, pun gerobak yang dijejali jerigen air. Maka desa tersebut belum pada taraf memprihatinkan. Begitu pun sebaliknya, semakin sedikit jerigen air di pinggir jalan, maka desa tersebut sedang tidak baik-baik saja.

Saat menanjak memasuki desa selanjutnya, Desa Serei, seorang perempuan muda berdaster cokelat, basah kuyup. Warna kulitnya tampak telah menyatu dengan warna dasternya. Ia seperti Sisifus-tokoh mitologi Yunani, yang dikutuk mendorong batu karang ke puncak gunung, selama-lamanya. Tapi perempuan ini bukan mendorong, ia tengah susah-payah menarik gerobak mini 30x30 cm, bermuatan dua buah jerigen ukuran 10 liter. Saat melihat lebih dekat, tak bisa lagi membeda, mana keringat dan yang mana air hujan di wajahnya.

Mobil kami berhenti. Saat dipotret, ia enggan dan coba menghindar. Seperti menyangkal sangka, bahwa bukan kondratnya untuk menarik beban seperti itu. Saat ditanyai, dengan malu-malu ia menjawab.

"Ada mata air di bawah, coba ke sana saja. Lagi banyak orang sedang menimba air," jawabnya sambil terus berlalu.

Setelah itu, tampak seorang ibu menyusulnya. Masih dengan beban yang sama. Tak lama kemudian, bocah-bocah kembali saling menyusul, berkejar-kejaran saling mendahului menuju puncak desa. Setiap menit, bertambah satu per satu Sisifus di desa ini. Tapi, saksama kami bisa menilai, pasokan air di desa ini masih memadai. Ada tiga sumber mata air melimpah di desa ini.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Menuju desa selanjutnya, Desa Tarabitan. Hewan piaran seperti anjing, babi, dan ayam, lalu lalang di jalan. Tampak seperti sedang mengendus tanaman kering. Setelah bertanya, kami dituntun menuju rumah Hukum Tua.

Sedang asyik berbincang dengan ibu-ibu yang menongkrong di warung. Seorang pria tak bersendal, bercelana abu-abu sebatas paha, dengan kaus berkerah lusuh menyapa kami. Ia memperkenalkan diri, namanya Mahones Ibrahim.

Kami baru sadar, dia adalah Hukum Tua Desa Tarabitan. Rambutnya gondrong sebahu. Entah kapan ia terakhir kali keramas. Desa yang dipimpinnya selama selusin tahun di dua periode, yang paling mencecap kekeringan dan kekurangan air bersih.

"Tanah di bawah desa kami ini batu cadas dan berada di tanjung, sangat sulit mencari mata air di sini," tuturnya dengan suara agak berat.

Selang beberapa menit kemudian, ia mengajak kami menuju bak penampungan air yang diprakarsai pembangunannya oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Propinsi Sulawesi Utara di tahun 2008.

"Kami bergantung dari bak penampungan ini. Airnya bisa disedot dengan pompa bertenaga diesel, tiga hari sekali. Untuk memenuhi kebutuhan 882 penduduk Tarabitan. Bulan Juni kemarin hingga Oktober, kami sangat kesulitan air karena musim kemarau. Penduduk bahkan rela mandi memakai air laut," ceritanya, sambil sesekali menggaruk pahanya. Mengisyaratkan kondisi mereka dan penyakit yang dominan di desanya. Pastilah, selain diare, penyakit kulit menggerogoti masyarakat di desa itu.

Di bak penampungan berukuran 10X2 meter. Di samping kirinya ada mata air khusus untuk dikonsumsi sebagai air minum. Samping kanannya, ada lagi sumur khusus digunakan untuk mandi. Satu lagi sumur di bagian depan, bisa dikonsumsi sebagai air minum. Ketiga sumur itu berukuran 2 x 2 meter.

Usai itu ia mengajak lagi ke satu bak penampungan berjarak sekira 100 meter. Kali ini ada sebuah gedung, tempat mesin bertenaga surya yang berfungsi memompa air.

"Ini meski memakai tenaga surya, tapi tidak bisa menyedot air, sebab debit air turun. Rencananya saya mau meminta pemerintah untuk memindahkannya di bak yang satunya lagi, biar tidak boros solar. Ini kan, memakai tenaga surya. Yang di bak sebelumnya, 20 liter solar, hanya untuk tiga kali memompa air," keluhnya.

Besar harapan Mahones yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), demi kebutuhan air warganya, upaya untuk menggali mata air terus dilakukannya secara gotong royong dengan masyarakat. Mahones ingin desanya mandiri.

Setelah sebelumnya berpamitan dengan Hukum Tua, untuk melanjutkan perjalanan ke desa berikutnya, Desa Sunsilo, Mahones menawarkan rumahnya menjadi persinggahan, jika kami tak sempat kembali ke Manado.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju desa berikutnya. Desa Sunsilo tak kekurangan air. Sama halnya dengan desa Paputungan, Tanah Putih, Jaya Karsa, Termal, dan Palaes. Desa lainnya di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, berada di pulau.

Ada lima desa di pulau tersebut. Desa Gangga Satu, Gangga Dua, Kinabuhutan, Talise, dan Air Benua. Sesuai data Dinas Catatan Sipil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Utara. 17741 jiwa penduduk mendiami Kecamatan Likupang Barat. Mayoritas penduduknya berasal dari suku Siau, Kabupaten Sanger.

Bupati Minut, Sompie Singal, saat berkesempatan ditemui di Kantor Bupati, meski dengan keterbatasan waktu, Sompie sempat menjawab beberapa pertanyaan yang kami lemparkan.

"Nanti 2015 akan dianggarkan untuk pembangunan pipa air di sana," sampainya, dengan pengawalan yang ketat saat menuruni tangga.

Pihak Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM), melalui Kepala Bagian Umum, Welly Daniel, mengutarakan, pihaknya tinggal menunggu anggaran dari pemerintah tersebut.

"Kalau sudah ada anggaran, tentunya kami tinggal membangun pipa-pipa," kata Welly. Ditanyai upaya pihak PDAM untuk menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang dilanda krisis air.

Sejauh ini kata Welly, pihaknya belum bisa berbuat apa-apa.

"Untuk pipa PDAM di sebagian desa di kecamatan tersebut sudah ada. Sementara desa yang kekurangan air, pihak kami belum bisa berbuat apa-apa, secara teknis kami bisa membantu, tapi secara finansial, tentunya menunggu kebijakan pemerintah daerah," katanya, di hari kedua penugasan kami, Rabu (12/11).

Kecamatan Likupang Barat, terkhusus Desa Tarabitan yang berdiri sejak tahun 1954, di sana desanya landai. Akses jalan pun masih bisa dibaui aspalnya yang terpanggang terik matahari.

Di sana tak ada Sisifus yang dikutuk mendorong jerigen air berulang-ulang. Hanya ada seorang Hukum Tua dengan usia separuh abad, berjuang demi 882 jiwa masyarakatnya. Agar tak menjadi Sisifus yang terkutuk, mengulangi perbuatan sia-sia mendorong batu karang ke puncak bukit. Lalu batu tersebut kembali bergulir jatuh. Sisifus mengulangi perbuatan itu selama-lamanya. Tapi Mahones Ibrahim, tak ingin menjadi Sisifus.

Tulisan feature ini saat pelatihan wartawan liputan khusus di Manado Post. Tulisan mentah ini, terpilih meski masih melewati proses editing, selanjutnya dimuat di halaman pertama koran Manado Post.

Terima kasih mentor Idham Malewa.


Sistha Ghasyafani

Nama depannya kupikir dan yang belakang kuselancari internet. Sistha (kutambah H)
bagiku kata yang berkawan dan penuh persaudaraan, serupa lawan katanya
Brada. Kuanggap itu keren saat itu. Lalu kucari Ghasyafani di
internet, dari bahasa Arab yang seharusnya Kasyafani. Artinya murni
suci kebahagiaan. Sedikit lebay dan kelaki-lakian. Kuganti saja huruf
depannya. Kasyafani kedengarannya seperti kain kafan. Seram. Jika
kuganti, mungkin artinya pun berubah. Masa bodoh.
Berderetlah kata Sistha Ghasyafani, lalu kusingkat Sigi. Nama ini
satu-satunya di Desa Passi. Sigi yang berlesung pipit, jika besar
nanti lalu memperkenalkan diri, pastilah sumur mungil di pipinya itu
tergali. Coba kau menyebut Sigi, maka gigimu akan berderet rapi, dan
senyummu melebar mirip Joker.
28 April 2011, Sigi lahir di kamar hitamku di Passi. Saat itu aku
berada di Manado, tak sempat kudengar tangis pertamanya. Setelah
dikabari, aku begegas pulang, dengan uang gaji di kantong, untuk
membayar bidan yang membantu persalinan. Ibunya tak mau melahirkan di
klinik. Kamarku dipilihnya, tempat diciptakannya Sigi. Mungkin begitu
pikir ibunya.
Setiap hari lahir Sigi berikutnya, aku sering menulis. Saat di Bali
pun aku menulis. Juga di hari ulang tahunnya yang kemarin. Turut
merayakannya meski dengan enggan saat diberikan kue dan boneka, di
tengah tidur yang terganggu, Sigi sempat-sempatnya menendang kue.
Hampir saja.
Kali ini, Sigi empat tahun sudah. Namun nama depannya yang berkawan
dan penuh persaudaraan, tidak berlaku untukku. Tapi kali ini ada yang
baru darinya. Sejak ayahku berpulang Maret lalu, Sigi menjadi akrab
dengan neneknya. Anak yang dimanja memang selalu rindu. Di tanah
belakang rumah tempat ayah dimakamkan, buah-buahan sedang musim. Sigi
selalu minta diantar hanya untuk pergi memanen buah duku dan manggis.
Jika tas kreseknya kurang, ia menangis. Ayah berpulang, tapi Sigi
kembali. Pikirku.
Pernah sekali kudapati Sigi sedang mengunyah permen karet. Kuwanti
meski dengan nada tak keras, agar permennya dibuang. Sigi berlari ke
pelukan neneknya, dengan tangis yang meledak.
"Waktu kamu pergi ke kos, Sigi diberi permen, tapi malah menolak. Sigi
bilang nanti papa marah, gigi Sigi bisa rusak," terang ibuku keesokkan
harinya. Sialan, anak ini mulai bisa mengenali sosok ayah yang
pelarang.
Jika Sigi di rumah, rasa takutnya masih tersisa. Dengan segera Sigi
berlindung ke pelukan neneknya. Meski dengan senyum dan juluran lidah
mengarah padaku.
Sejenak, Sigi. Rambutmu serupa Medusa menggelung nasib ular berbisa.
Di kelopak mata bundarmu, ada kisah yang begitu hitam serupa warna bidang di angkasa. Penuh misteri yang dalam dan
jauh. Begitu rumit bukan? Namun sebenarnya Sigi selalu sederhana.
Bocah ini tak mau rumit dengan sekelumit gundah. Ia tertawa dan
berbicara dengan dialek kental, lalu berdengung dengan lagu yang entah
apa. Kau panggil Sigi, lalu ia menyahut.
Jika arti Kasyafani adalah murni suci kebahagiaan, mungkin setelah
kuganti huruf depannya menjadi Ghasyafani, artinya berubah. Tapi
pikirku, hitam kelopak matanya adalah warna suci. Kenapa harus putih?
atau cokelat seperti warna mata ibunya? Ah, masa bodoh.
Bagiku Sigi adalah hitamku yang dicipta dan dilahirkan di kamar
hitamku. Coba sekali lagi kau panggil, Sigi. Hitam bola matanya akan
berbinar.
Sigi hanya bisa kudekati kala tidur. Kuciumi lalu kubelai. Sayang
sekali, tentu saja kedua matanya terkatup. Pipinya datar tak
berlesung. Kala terlelap, aku menjaganya dari serbuan nyamuk.
Mengawasinya agar jangan terganggu lalu terbangun. Sebab, Sigi akan
mendapatiku di sampingnya. Lagi-lagi tangisnya akan menggelegar.
Matanya nanar seperti mata ibunya waktu bertengkar. Akhirnya, pelukan
nenek, di mana lari kecil berlabuh.
Hai Sigi. Tak banyak lagi yang bisa kutuliskan. Di masa remaja meski
seharusnya teruslah menjadi kanak-kanak, kelak tulisan-tulisan ini
bisa kau baca. Kuharap blog ini abadi hingga nanti. Mungkin ada yang
canggih kelak, tapi di sini Sigi bisa membuka tabung memori. Ada yang
perih dan sedih di sini, tapi suka pun jelas ada. Keduanya sering
bersanding.
Selamat ulang tahun yang ke empat Sigi. Tentu saja, jangan pernah
dewasa. Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keajaiban. Dewasa itu seperti permen karet.

Sinindian. Kos Kolam.
(23/4/2015)
5:06 am

Kartini, saja.

Artikel ini mengintip di kolom chat BBM, Dengan Segala Hormat, Ibu Kartini http://arusutara.com/. Uwin Mokodongan dengan begitu hormat membentangkan tentang ketidakpantasan Kartini menjadi tokoh emansipasi.
Yang lampau, artikel yang mirip substansinya, mengenai keraguan ketokohan Kartini, pernah kubacai melalui sebuah link yang dikirimkan kawan saya. Serupa, Kartini disandingkan dengan pahlawan perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dien yang, berdarah-darah di medan tempur. Seperti kita tahu, Aceh adalah wilayah dengan kultur islami yang begitu erat. Bahkan kedudukan perempuan pun, disamakan pula dengan negeri Sahara di zaman para Nabi. Kaum perempuan begitu dihormati di kalangan Islam. Singkatnya, Cut Nyak Dien berjuang dan mendapat tempat. Tak begitu dengan Jawa. Tak begitu pula dengan Kartini.
Jepara, 21 April 1879, lahirlah Raden Adjeng Kartini. Beruntung atau kesialan, ia lahir dari kalangan priyayi. Dibebat dengan adat yang begitu lekat, Kartini besar dengan sempurna. Sebab kenapa? Di usianya yang begitu muda, Kartini yang gadis sudah membaui begitu banyak buku. Iya, membaca kerap diidentikan dengan anak rumahan, bukan?
Karya Multatuli nama pena dari penulis asal Belanda Eduard Douwes Dekker pun, membuatnya tak tuli dengan peradaban di luar sana. Novel-novel berisi kritik perlakuan buruk penjajah, terbenam di kasur tepat di samping lelapnya. Kartini membaca, sastra di genggamannya. Itu saja.
Agamais dan plural. Tak perlu menunggu Gus Dur. Kartini yang berkakek Kyai Haji Madirono,  guru agama di Telukawur, Jepara, telaten mempelajari Islam. Ia mengkritik kitab Al-quran yang tak diterjemahkan. Apa yang bisa dipahami bahkan dari ayat-ayat api, jika kita tak tahu maknanya? Kartini pun mengkritik kondisi sosial mengenai perbedaan agama yang selalu menjadi seteru. Bahkan baginya poligami pun tak masalah meski terpaksa. Nabi juga begitu kepada perempuan, katanya. Lalu Kartini menulis. Itu saja.
Pramoedya Ananta Toer hanya bisa memanggil ruh Kartini, dari buku karyanya Panggil Aku Kartini Saja, yang sisanya dilalap si jago Orde Baru.
"Aku yang tiada mempelajari sesuatupun, tak tahu sesuatupun, berani-beraninya hendak ceburkan diri ke gelanggang sastra! Tapi bagaimanapun, biar kau tertawakan aku, dan aku tahu kau tak berbuat begitu, gagasan ini tak akan kulepas dari genggamanku. Memang ini pekerjaan rumit; tapi barang siapa tidak berani, dia tidak bakal menang: itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!" geletar Pram. Kartini mengarang. Itu saja.
Ia memberontak lewat tulisan yang, katanya surat-surat itu hilang. Sungguh hebat Abendanon, ketika berhasil menyerupai Kartini sebegitu dalamnya. Sungguh hebat pula, saat ia bisa mendalami karakter Kartini yang mungkin ia reka, atau yang mereka reka. Abendanon berhasil menjadi Kartini, kata mereka. Bahkan Abendanon yang seorang Yahudi itu disebut-sebut Freemason. Iya, Kartini memang doyan berkawan dengan Yahudi. Padahal, barat tak selalu buruk. Itu saja.
Kartini yang terkungkung seorang pahlawan. Pahlawan tak harus berdarah-darah dan terkaing-kaing di medan perang. Bahkan dari balik tembok keraton atau jeruji, sastra bisa berperang. Itu saja

Friday, April 17, 2015

Sial

Aku hanya bisa mengoceh, saat dua bulir keringat jatuh pelan menuruni kulit pipi yang, sedikit kusam berminyak.
Di bawah terik, motor butut berusia dua puluh tahun kudorong dengan payah dan susah. Iya, aku kepayahan dan tengah kesusahan. Aku capek mendorong sejauh lima ratus meter. Ponselku mati, tak ada manusia atau pun jin yang bisa kukabari. Desa berikutnya, bisa kutemui dua puluh kilo meter jauhnya. Sialan. Aku mengumpat tidak dalam hati.
Pohon rindang di tepi jalan, nun jauh digerak-gerakan fatamorgana. Jalan aspal memang tengah mendenguskan bayang. Aku memacu energi yang tersisa, menguras habis agar bisa berteduh. Tak begitu lama, lingkaran hitam nan teduh di bawah pohon sorga, semakin dekat. Sampai sudah. Sejuk menghalau terik lalu mendekap pelan.
Ransel di punggung kubenamkan di rerumputan yang mengitari pohon. Kubuka lalu kurogoh botol air mineral. Sial. Aku baru ingat, air itu kuletakkan di samping helm, di warung saat beli rokok. Kuraba batok kepalaku yang seukuran kelapa muda. Sial lagi. Helm itu pun ketinggalan.
Aku bersandar pada tanah, sambil memandangi motor Honda GL 125 warisan ayah. Ban roda belakang kempis. Bensin pun habis.
"Kubakar saja kau!"
Sepintas, kata bakar itu membuatku teringat rokok yang kubeli di warung, tempat helm dan botol air mineral diam menunggu penemu. Botol mungkin dibuang, tapi helm? Itu helm serdadu di jaman gulden. Barang antik, pasti laku mahal. Sialan. Aku mengumpat lagi. Masih bukan dalam hati. Lima jemariku meraba-raba isi ransel. Sebungkus rokok Djarum kutemukan di dasar.
"Koreknya mana ya?" tanyaku bermonolog, kali ini dalam hati. Aku enggan semut, rumput liar, hembus angin, dan matahari mengetahui kesialan yang bakal menimpaku lagi. Iya, rokok kubeli, korek tidak.
"SIALAN!!!" (dengan huruf besar dan tiga tanda seru).
Jam tangan kutengok. Sudah pukul tiga sore. Tiga jam lagi hari gelap, namun setitik zarah kendaraanmu tak nampak. Bahkan berharap gerobak lewat atau manusia pejalan pun, tiada. Aku menginap saja di sini. Pikirku tidak dalam hati.
Aku berhalusinasi sebab dehidrasi. Belai angin pun makin mempertegas sisi dramatis. Andai saja.
Aku terhenyak. Sayup deru kendaraan terdengar. Kucubit ujung cuping hidung, ternyata ini bukan mimpi. Aku bergegas bangkit menuju tepi jalan, dengan telapak tangan menempel di kening. Sebuah tingkah yang sebenarnya tidak ada gunanya. Tidak menambah besar ukuran benda di kejauhan. Sialan, tak ada satu pun kendaraan. Aku baru ingat, mungkin suara tadi berasal dari perut. Lapar.
Pagi tadi sebelum berangkat, tenggorokanku hanya dilintasi segelas kopi dan sebungkus roti. Padahal jarak tempuhku cukup jauh. Ada dua ratusan kilo meter. Berangkat dari kos, tuk pulang ke rumah. Uangku menipis, sementara kiriman dari ayah dan ibu tak kunjung tiba. Usiaku sekarang enam belas tahun. Sedang sekolah di kota. Memilih pulang dan berharap kedua orang tua baik-baik saja, itu lebih dari cukup daripada segelas air saat ini. Tak ada yang bisa aku lakukan, hanya bisa menunggu bantuan. Atau mati.
Aku kembali berteduh. Berharap. Hingga tertidur dalam tidur. Lalu sayup suara ibu menyeru, "Bangun Badil!"
Sial.

Thursday, April 9, 2015

Pengendali yang Terlupakan

Selamat untuk sahabat segelas dan sebuku, yang telah mendirikan media elektronik, yang dengan begitu merdeka dinamai Arus Utara. Media yang dikendalikan sahabat sekaligus kerabat. Saya tak akan lagi merentang tentang media ini, cukup akses www.arusutara.com maka lengkap sudah informasi yang Anda cari.
Tertarik menyimak artikel yang diunggah Pemimpin Redaksi Uwin Mokodongan di tautan facebook, juga lewat pesan di BBM. Sederet link ( http://arusutara.com/2015/04/pdam-dan-cita-cita-menjadi-the-last-airbender/ ) tergolek ingin dijamah. Enter.
Artikel berisi celotehan tentang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bolmong yang, kali ini para petingginya harus bersusah-payah bolak-balik Polres Bolmong. Artikel yang digerbangi dengan sedikit kisah mengenai film animasi Avatar The Last Airbender. Film ber-genre petualangan dan fantasi. Dari kebanyakan film animasi atau kartun bertema asia, mungkin pikir kita tertuju pada kata Manga. Namun Avatar bukanlah Manga atau film yang diangkat dari komik jepang. Film ini ditayangkan di saluran Nickelodeon televisi di Amerika. Lalu di Indonesia stasiun Global Tv berkesempatan menghibur kita, lengkap dengan paket film kartun Spongebob.
Lanjut dengan tulisan si botak (Uwin), yang juga tak lupa merentang fungsi dan pentingnya air bagi kemashalatan rakyat banyak. Pun satire yang kerap melafadzkan nama saya.
Teringat saat masih menjadi liliput (sebutan saya untuk para peliput) di media online www.lintasbmr.com. Kala itu kami (saya, Uwin, Buyung, Zakir, dan si kocak Hamka) penuh semangat dan begitu solid, meski akhirnya tersengat arus ego dan terbujur koid. Kasus laporan beberapa pensiunan karyawan PDAM ini, sudah berlarut-larut. Terkait gaji pensiunan yang sudah bertahun-tahun tak dibayarkan perusahaan. Seingat saya, 2014 silam pernah dilakukan hearing di kantor DPRD Bolmong. Namun hearing berubah fungsi, menjadi labirin yang semakin membuat bingung para pensiunan.  Akhirnya, melapor ke Polres Bolmong, adalah satu-satunya harapan yang tersisa di saku para pensiunan ini.
Saat di Lintas BMR. Saya dengan merdekanya bercita-cita mengungkap borok PDAM Bolmong. Mengesampingkan ikatan emosional saya dengan bunda saat rumah singgahnya di Sinindian, menjadi barak para petualang malam, yang lupa jalan pulang. Pun bukan atas laporan salah satu pensiunan yang adalah ayah dari sahabat saya. Dilema seperti ini sulit disanggah di dunia jurnalistik. Namun dilema yang kita sendiri—wartawan—pun tahu 9 elemen apa yang seharusnya ada di genggaman.
Saya jadi ingat perkataan Avatar Aang, "Ketika kita menyentuh titik terendah, maka kita sedang membuka gerbang perubahan besar dalam diri kita." Entah di episode ke berapa. Mungkin Aang benar. Saat kita terpuruk, salah satu gerbang ketulusan akan menganga lebar, lalu ada perubahan besar dalam diri. Di sini, kita menempatkan titik emosional pada dua kutub yang sama, lalu terombang-ambing. Hingga akhirnya sebenarnya kita sadar, bahwa kita tidak terlalu merdeka untuk bangkit lalu memilih. Dan.... Tak ada yang berubah. Siapa yang salah, siapa yang benar, hanya berakhir pada satu kata. Deal.
Ah, bicara tentang Avatar. Kita terlena pada kehebatan pengendali air, tanah, udara, dan api, yang saling unjuk gigi, sehingga melupakan si nenek Hama, sang Pengendali Darah. Saya pun nyaris lupa pada Hama. Entah di episode ke berapa, Katara tiba-tiba dikendalikan si nenek. Pengendali darah terdengar begitu mengerikan. Anda bisa menjadi boneka yang bisa dikendalikan semaunya. Kemampuan ini hanya bisa dikuasai segelintir orang. Yang pasti, yang berkuasa adalah dia.
Pada akhirnya, kita tersudut di sofa, lalu memainkan jemari di atas layar bidang. Tau-tau mo ba train goblin jo kong mancari di CoC. Sebab hanya di CoC, kita bisa begitu merdeka.