Tuesday, August 18, 2015

Sajak Pasir Merah

Pada parak pagi kusandarkan rangka dan sajak ini
Pada pasir yang cemas dengan jejak-jejak baru
Pun pada pencar darah yang merahi warna langit
Di sini, suluh pernah membakar hening
Lalu teriak kali dua melipat pesisir
Tantang sepasang derita merobek semak
Gelas dan botol diam meringkuk di pasir merah
Jadi saksi babai kala susut ceritakan cucunya diseret renta
Kakai iya iya saja
Kakai dan babai bersila di atas tikar kusut
Kisah melepas cangkang dan tanah hampa diumbar
Rela yang dikhianati debur ombak lebur senyap
Pasrah mencari tanah sorga berpasir merah
Kakai dan babai berharap esok pintu diketuk surya
Bukan tentara dan moncong senjata
Siapa yang tega menghardik sepasang kepiting ini?
Keduanya hanya ingin berpelukan
Tenang di senja yang berkali-kali usai
Tanah, harta, dan tutur leluhur
Tak jamin sebidang sorga ini kakai babai
Tak tahu pun tak menangkan ketuk palu
Sini, mari, kita bernyanyi di pantai
Dendangkan kering ilalang
Lekas!
Sebentar lagi pasir mau amis

Wednesday, August 12, 2015

AKU

Kata penyair John Ashberry: “Ada saatnya kita sadar bahwa tak ada satupun laku manusia yang lebih dramatis dan meyakinkan ketimbang laku kita sendiri.”

Sendiri. Aku. Ketika kecil dan hendak berangkat ke sekolah, rambutku suka disisir ke samping oleh ibu. Diminyakinya pula dengan hijau tancho milik ayah yang, kala itu gemar menyisir rambut ikalnya sebelum berangkat ke kantor.

Langkahku gamang disinari matahari pagi yang hangat, saat berangkat ke sekolah sendiri dengan degup dan gugup. Seratus meter ke kiri dari pekarangan rumah, melewati hijau rerumputan tanah lapang, aku hanya bisa membayangkan seperti apa itu sekolah. Aku tidak merasai bangku taman kanak-kanak, sebab usia lima tahun buku-buku pelajaran kakakku sudah bisa kueja. Kawan-kawan seumurku yang sudah menamatkan pendidikan di taman kanak-kanak, kini sekelas denganku. Di SD Negeri I Passi.

Di sini, hanya kilat bola-bola mata bocah riang kutemui di halaman sekolah. Sebagiannya kukenal, yang lainnya entah siapa mereka. Ibu pernah mengatarkanku ke sekolah hanya saat mendaftar. Selanjutnya ibu melepas putra bungsunya ini dengan bekal, "Belajar yang tekun, dengarkan apa kata guru." Wajah ibu bersinar kala itu.

Lama berdiam diri di sekitar rumah; hanya tanaman pekarangan, kicau burung, dan anak kucing yang pernah kenal denganku. Sesekali berteman pula dengan beberapa lembar buku yang kupangku dengan rapal yang terbata-bata. Aku membaca dan bertutur, sebelum anak seusiaku masih dengan gestur dan ababa-bibu meminta ini-itu.

Setelah merasakan bangku sekolah, aku juara kelas. Setelah naik kelas dua, aku mengeluh pada ayah dan ibu, ingin pindah. Saat ditanyai ibu alasannya, aku hanya bilang tidak suka dengan sekolah itu. Setelah ditanyai terus, alasanku tetap sama aku tidak suka sekolah itu. Padahal alasannya lantaran seorang kakak kelas--anak laki-laki--dari desa tetangga melempariku dengan kerikil. Dia tidak suka sebab aku menjadi idola di sekolah. Aku kerap dikerubuti teman sekelas, bahkan kakak kelas satu tingkat, dua tingkat dan seterusnya. Mereka mungkin suka rambutku yang berbau tancho. Kakak kelasku yang itu mungkin tidak suka. Beruntung akhirnya ayah dan ibu mengerti dan aku pun dipindahkan ke SD Negeri III Passi, yang jaraknya pun persis sama dekatnya. Hanya di sekolah yang ini aku harus berjalan membelakangi matahari. Hangatnya kini di punggungku.

Di sini, aku mulai akrab dengan mereka; guru, murid, dan pemilik kantin. Aku tetap masih menjadi juara kelas dan idola para guru. Waktu bergulir, hingga pupus sudah masa seragam putih-merah. Hingga lulus, aku tetap juara bertahan meninggalkan piala dan piagam pada ajang lomba cerdas-cermat, mengarang, melukis, dan baca puisi.

Sedari kecil, aku kerap bermimpi terbang dengan sekujur tubuh menggigil geli. Mimpi yang bahkan setiap pekan, bulan, hadir begitu saja. Pernah kuceritakan ke ibu lalu katanya itu pertanda sebab aku istimewa. Mungkin ibu benar; rasa senang, geli saat di udara, dan geram sebab mimpi telah usai dengan goncangan lengan ibu, adalah pertanda aku bakal meraih sesuatu yang memang telah aku perjuangkan. Menang dan melayang.

Setelah lulus SD, aku didaftarkannya ke SMP Negeri II Passi yang letaknya di desa tetangga. Kakak kelas yang menjadi alasanku pindah sekolah dulu, tinggal di desa itu. Pikirku, bakalan ketemu dengannya lagi. Benar sudah, dia si remaja laki-laki dengan jabatan ketua OSIS yang penuh kuasa saat itu. Namun ada yang berubah sebab meski dia mengenaliku, perangainya tak seburuk kala di bangku SD. Dia si anak nakal yang pintar dan aku si anak penurut yang pintar.

Di sekolah ini, aku masih juara. Lomba demi lomba serupa kuikuti; cerdas-cermat, mengarang, dan baca puisi. Aku mengenal lebih dekat Chairil Anwar di bangku SMP. Saat di SD, meski perpustakaannya tidak begitu lengkap. Kemudian, aku mewakili sekolah di ajang lomba baca puisi yang seingatku berlangsung di halaman SMA Islam Kotamobagu. Di sana, seragam putih merah, putih biru, putih abu-abu berbaur. Puisi Charil, Aku, kubacai dengan lantang.

Kalau sampai waktuku/ 'Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu.

Aku juara satu untuk tingkat SMP.

Sebulan kemudian di lomba cerdas cermat tingkat SMP se-Bolmong, aku dan dua kakak kelasku sebagai pendamping kanan-kiri turut serta. Aku pembicara dengan materi lomba pelajaran umum. Kami mengalahkan perwakilan SMP Negeri I Kotamobagu di babak final. Sekolah elite kala itu setingkat SMP. Tuan rumah pun mereka. Kami bersorak saat dewan juri memutuskan kamilah pemenangnya. Kami mengalahkan anak si dokter ini, si pejabat itu, dan si polisi ini.

Kemudian kelas dua SMP teman-teman sekelas berubah. Untuk mereka yang tergolong pandai, disatukan ke kelas 2A. Aku menemukan saingan dan perebutan juara kelas menjadi sengit. Aku masih tetap juara kelas namun di caturwulan berikut aku peringkat kedua. Berikutnya aku kembali juara kelas. Hingga aku terpilih sebagai ketua OSIS.

Naik ke kelas tiga formasi kembali berubah. Aku tetap di kelas 3A bersama saingan-saingan semasa kelas satu dan dua. Hingga ujian akhir, NEM kami tertinggi se-Bolmong, aku dan dua teman sekelas. Guru-guru bangga dan melepas kami dengan tangis. Bukan aku lagi yang menjadi idola, tapi kami, angkatan kami, dan itu tercatat sebagai prestasi sepanjang masa. Nilai Ebtanas murni tertinggi se-Bolmong.

Lalu SMA Negeri III Kotamobagu jadi pilihan ibu, bukan pilihanku. Aku yang terlalu lama menghirup bau matahari pagi, pepohonan, dan udara murni, kini harus beradaptasi dengan hiruk pikuk perkotaan, semrawut rumah di lorong-lorong, ramai pasar, dan lalu lalang kendaraan yang kurasai menghimpit dada.

Aku ditempatkan di kelas 1A. Binsus istilahnya untuk kelas bimbingan khusus. Teman sekampungku yang kukenal baik, semuanya kelas tiga. Aku sendiri di bangku kelas paling belakang, sebab minder dengan gaya-gaya borjuis di sekitarku. Cerita mereka tentang musik, merek tas, sepatu, dan bolos.

Aku mulai bosan. Jam istirahat kuluangkan dengan berbaur bersama kakak-kakak kelas yang adalah dua kerabat dan satunya lagi tetangga. Aku berkawan dengan geng sekolah kala itu, sebab kedua kerabatku itu termasuk dalam daftar orang paling disegani di sekolah, bahkan di sekolah lainnya.

Kudapati dunia yang begitu liar, begal, dan penuh begundal. Aku terbawa arus dan juara kelas hanya jadi memori di bangku SD dan SMP. Nilaiku jatuh memacak di rapor yang kerap kusembunyikan dari ibu. Aku memilih pindah baru pada caturwulan II, sebab daftar hadirku pun hampa memutih.

Saat pindah ke SMA 4 Kotamobagu, aku diantarkan ayah dengan wajah muram. Tersisa murka di guratan dahi dan bola matanya. Aku hanya terus menunduk hingga kegagalan serupa mengulang. Sebab musababnya sepele, aku didaulat menjadi ketua kelas mengalahkan pesaing anak 'negeri' (Genggulang). Dia tidak suka, lalu menghasut puluhan temannya untuk mengejarku. Kemejaku dirobek kawat duri pagar sekolah setinggi dua meter. Aku melompat dikejar puluhan orang yang entah oleh sebab apa.

Kemudian, aku menjadi siswa berseragam putih abu-abu penghuni terminal yang pertama datang dan terakhir kali pulang. Ko' Cao', Sipatuo, WC umum pasar, jadi tempat tongkrongan rutin. Uang jajan kuhabiskan di sana. Ayah dan ibu, dari informasi tetangga akhirnya tahu aku bukan lagi si bocah berminyak rambut tancho, yang rambutnya tersisir rapi ke samping. Aku kini remaja berambut urak-urakan, dengan celana dan kemeja bergambar simbol peace, Slank, Sepultura, dan Guns 'n' Roses. Apa yang keren pasti dicoretkan ke seragam, dari bawah lutut hingga ke kerah kemeja.

Aku berubah dari bocah penurut yang selalu tepat waktu berangkat dan pulang sekolah, menjadi remaja yang jarang pulang ke rumah. Seragam sekolahku yang lain dikunci ibu di lemari. Hanya sepasang seragam yang penuh coretan membalut raga. Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang.

Aku pindah sekolah lagi tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, yang memang saat itu tak mau tahu lagi denganku. SMA Muhammadiyah menjadi pilihanku. Gokil, di bangku kelas dua hanya ada kami bertiga. Di ruang kelas ada tenis meja tempat si guru menunggui kami. Jika hanya seorang yang hadir, maka diajaknya untuk berkeringat ria dengan main tenis meja. Sialan.

Waktuku tersita jauh lebih banyak di terminal. Teman-teman seangkatanku telah kelas tiga. Aku yang kala bocah selalu unggul kini ketinggalan kelas. Mimpi melayang pun tak pernah hadir lagi sejak SMA. Aku tercenung, mungkin ibu benar. Aku tidak lagi istimewa.

Tak lama, aku pindah ke SMA Islam yang dijuluki SMA SLANK, akronim dari sekolah lawer asal naik kelas. Aku kelas dua di saat seragam teman seangkatan berwarna-warni. Saat pesta kelulusan mereka, aku berbaur dengan kebahagiaan namun ada sedih di sudut tawaku. Hingga akhirnya, aku putus sekolah. Aku hanya menikmati ijazah ujian persamaan yang dramatis dan penuh rahasia.

Kini, sekolahku alam raya. Aku menemukannya di desaku sendiri. Tak jauh dari tanah lapang yang kerap kulewati saat pertama kali melangkah dengan degup dan gugup. Setidaknya kini aku jauh lebih merdeka tanpa secuilpun rasa sesal, meski pernah sekali mengingat perkataan ayah, yang hendak menitipkanku ke perguruan tinggi di akademi gizi di Manado.

Ayah paham betul pelajaran kesukaanku itu; biologi, fisika, dan bahasa Indonesia. Nilai tertinggi sejak SD ialah pelajaran membelah dirinya amuba. Pada akhirnya ayah benar, aku terus membelah diri dari Kristianto yang dipungutinya dari nama pebulu tangkis legendaris Christian, menjadi Yanto, Anto', Kris, 83, Ya', Yakuza, Atol, lalu menjadi Sigidad.

Aku terus melangkah, menikah, bercerai, berpetualang, lalu kembali pulang. Rumah memang selalu menjadi alasanku untuk bisa mendekam nyaman.

Aku tak berhenti, meski puluhan pekerjaan berganti rupa.

Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri/ Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Sebenarnya aku tidak ingin menjadi dewasa, biar ibu masih menyisiri rambutku dan meminyakinya dengan tancho milik ayah. Aku ingin rasai hangat matahari di punggungku lagi.

Tuesday, August 11, 2015

Selamat Ulang Tahun, Kats!

"Dapa lia pa Uwin (lihat Uwin)?" teriak Kak Tince (Titin Mokodongan, kakak perempuan Uwin).
"Tadi di sini Kak!"
"Burein (sialan), Kak pe kous ketat karamba dia dapake (kaos ketat belang-belang milik kakak dipakainya). Ugat bi' tumon Slank (maunya seperti Slank). Pe mahal tu kous eh! (Mahal kaos itu)."
Ha-ha-ha-ha.
Uwin memang sejak tahun 1998 berambut gondrong. Tubuhnya ceking dibalut celana jeans ketat, robek, belel agak kumal, dan tentu saja, kaos-kaos yang sebagian hasil curian dari lemari kakak perempuannya (fakta di atas). Sepatu converse-nya pun kumal. Di Villa Putih Kleak Generasi 98, oleh kawan-kawan di situ, ia disapa Slank. Meski di tembok kamar, ada Sepultura terlukis di dinding.
Kampus Samratulangi Manado adalah markasnya. Tentu di Mapala Avestaria. Usai turun gunung dan susuri lembah, sepenggal-sepenggal waktunya ia seretkan ke Lorong Hitam (Scene Punk 'n' Skin Manado belakang Gedung Joeang). Puisinya juga menggelegar di Balai Wartawan Indonesia dalam Gigs (music party) Punk 'n' Skinhead, depan Gedung Joeang. Pun di Gedung Pingkan Matindas. Ia adalah Anarko tanpa fashion yang melekat pada Punker; Mohawk, Boots, dan puluhan Emblem. Sebab memang ada pameo yang mengatakan; Setiap Anarko belum tentu Punk, tetapi setiap Punker pastilah Anarko. Pernah sekali dua saya diajaknya ke Lorong Hitam, belakang BRI, SMA Panca' dan Pingkan Matindas. Debat pernah hebat-hebatnya di sana.
Saya sempat bertanya, "Ada apa dengan Slank?" Ia menjawab, "Mereka sudah mengaku khilaf dan taubat." Karena jawabnya begitu, maka debat nan hebat (terkadang melelahkan) cepat tersulut.
Ya. Seperti itulah adanya Kats (Ketua). Kats adalah julukan yang melekat usai gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dihantam pesawat yang katanya dibajak teroris. Sebab pada Selasa 11 September 2001, melalui Musyawarah Anggota, Komunitas Pecinta Alam Bolaang Mongondow Lestari (KPA Bomlest) dibentuk. Dan sesuai kesepakatan bersama, Uwin didaulat sebagai Ketua. Ter-mintahang-lah sapaan Kats padanya.
KPA mulai mati suri beberapa tahun lalu semenjak anggotanya bertambah umur, mulai 'dewasa' dan  sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan.
Ah, seharusnya memang jangan pernah dewasa, lalu hidup seperti Spongebob di dasar laut, yang tak mengenal tua dan tetap bahagia. Biarlah masa lalu dan masa depan, hanya bagian dari petualangan angan. Imaaaajiiiiinaaaasiiii (ucap Spongebob sembari melukis pelangi dengan jemarinya).
Usai menamatkan kuliah ia mengarungi laut menuju Gangga, sebuah pulau nan indah beberapa mil dari Bunaken. Uwin kala itu gemar berbahasa asing; mercy, danke, grazie, va bene, katanya kepada turis-turis bermata kucing. Di sebuah resort milik orang Itali Sisillia, ia bekerja di Diving Center, sebagai guide snorkling and diving. Terkadang disuruh memboyong tamu-tamu mata kucing ke luar pulau menyeberangi lautan menuju pasar dan puncak Mahawu.
Sebagai anak di Diving Center, itulah mungkin salah satu alasannya di kemudian hari memilih lumba-lumba (dolphin) sebagai tato. Tiap pulang cuti, lagi-lagi saya diajaknya ke Lorong Hitam. Lalu kulit coklat kegosong-gosongan karena terbakar matahari, yang pernah ia bangga-banggakan itu, tak bertahan lama. Ia memilih pulang.
Uwin, mungkin baginya, kebersamaan adalah kekekalan abadi meski kita telah menjadi fosil. Untuk itulah di punggung kanannya bertengger tato belulang Garuda yang, tengah mencekeram tulang (seolah pita) bersemboyan 'Bersama Tinggal Iga'.
Kebebasan pun tersirat dari tato dolphin bermata kosong dengan benjolan sastra di kepala, yang menyembul dari kulit lengan atas kirinya. Dolphin yang selalu ingin memenuhi mata kosong dengan segalanya. Garuda dan dolphin, dua tato itu terajah di tubuhnya. Bersama dan bebas merdeka. Slank, telah bertransformasi menjadi Skinhead (Ia mengaku Skinhead Anarko).
Meninggalkan Sepultura ketika Max Cavalera hengkang sejak 98. Ia lalu memakai Boots, celana yang tetap Stapress, memangkas rambutnya hingga plontos, lalu teriak riuh rendah chaosnya Gigs. Oi..Oi..!!
Di lorong-lorong hitam Gedung Joeang, kami pernah berkejar-kejaran dengan polisi dan anjing.
Hingga kemudian hari ia memutuskan untuk menikah dan lahirlah Chaskin. Putri lucunya. Silih berganti hari, bulan, dan kenangan. Ia menjual habis dua gudang berisi kendaraan lalu menolak ke Lombok oleh sebuah promosi atas kinerjanya. Ia memilih masuk arena politik. Satu-dua teman di komunitas menentangnya. Tapi Kats tetap maju. Selanjutnya ia rutin menulis.
Segalanya berubah. Garuda dan Dolphin dijeruji. Tapi apa artinya kebebasan jika tak pernah merasai terkerangkeng? Kemudian ia memutuskan kembali melompati samudera, lalu berkejaran dengan bayang-bayang.
Tahun berjalan membawa kisah kembali ke rumah kopi di sudut jalan dan pelukan siluet pepohonan Kotamobagu. Baginya, di mana ada kopi, alkohol, dan cerita, di situlah persinggahan. Hingga perjalanan membawanya kini menjejak di Pulau Dewata, Bali.
Jika sanak-saudara, handai taulan, berlomba-lomba melirik jarum jam berdentang di angka dua belas (meski yang lainnya lupa karena sibuk dengan 'kedewasaan' masing-masing), saya memilih hari ini untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun, Kats (8 Agustus). Tak banyak yang harus saya tulis.
Sulang!! Untuk kebersamaan dan kebebasan!!

Friday, August 7, 2015

Titah

Aku tak cakap terima titah
Tanah kuangkut tanpa perintah
Bertetes peluh pun tak mengapa
Asal aku bisa bukan untuk siapa
Datang segala gundah
Sekali ini kusembah pasrah
Tapi masih mau berbantah
Surut sudah, demi Bunda terbelit lintah
Kenapa aku terlahir di antah berantah
Padahal dulu hanya sebercak darah
Aku berasal dari sorga, benar ada?
Atau itu hanya kisah mengada-ada
Kucari mana itu sorga dengan pinta
Nyatanya ada di telapak kaki bunda
Kerja memang hanya untuk dia
Tuhanku di dunia
Titahnya adalah rasa
Bantahku adalah dosa
Ini uang untuk derma
Biar ke sorga kita sama-sama
*Boroko 8 Agustus 2015*

Wednesday, August 5, 2015

Menu7u Graha Pena

"Saya hanya lulusan SMA."

Ucap itu yang berdenging di telinga, terus dan menerus. SMA, akronim dari Sekolah Menengah Atas yang, kalau standarisasi menjadi wartawan di Jawa Post Group (JPG), SMA memiliki nilai 7-lah. Lumayan tidak aman. Sebab di sini harus sarjana. Bahkan bukan hanya di sini (JPG), Kompas Group, Tempo, lebih harus begitu. Sarjana.

Ingat saya, saat di-interview Fauzi Permata yang sebagai Pemred Radar Bolmong (RB), setahun lalu.

"Di sini memang harus sarjana."

Saya hanya berusaha tetap tegap, namun datang rasa kecil melahap.

Lalu kenapa saya bisa di RB? Jawabannya karena saya bisa menulis. Itu saja. Semua orang memang bisa menulis (lihat daun jatuh, tulis!), Fauzi lantas bertanya apa nama blog di mana tempat saya mencurahkan tinta pena. Saya mengeja Ge-tah Se-mes-ta kala itu. Dicarinya dan dibacai. Pikir saya dalam hati, "Awas kena getah." He-he-he.

Ah, akhirnya saya diterima. Wapemred Firman Toboleu mengangguk pula. Lega saya. Tanya dari Fauzi yang terakhir terdengar tegas. 

"Anto' (pakai koma) apakah kamu bisa dan siap menerima sistem yang ada di Radar Bolmong?"

Sepuluh jemari saya saling merangkul di atas paha kanan, lalu kugoyang-goyangkan sedikit untuk menghilangkan gugup. Iya, jawaban saya bakal merubah Sigidad dari wartawan media elektronik di www.lintasbmr.com kemudian ber-nomaden ke www.pilarsulut.com, lalu menjadi wartawan koran harian RB. Terbesar di Bolmong Raya loh. Ini pohon besar, sudah banyak diterpa angin kencang pula. Tapi nyatanya tetap kokoh. Tegar! (sembari mengacung).

Lalu, pelan dan pasti saya menjawab dengan segaris tanya, "Bagaimana saya bisa siap dan menerima sistem yang ada, jika saya belum menjalaninya? Maka saya harus menjalaninya terlebih dahulu!"

Ada seru di situ. Seru itu pertanda semangat yang keras dari Sigidad yang dikenal pemalas.

Saya tercacat sebagai wartawan magang, tepat hari ulang tahun ke-6 RB. Wuih, momen tercatat dengan tepat Sigidad.

Sambil menenteng kamera merek Harry Tri Atmojo (Mas, red), saya mulai jepret sana, jepret sini. Foto-foto lepas jelas Mas. Eh, tersaring dan nangkring di halaman. Bangga saya kala itu, apalagi tercatut nama Anto Radar Bolmong di sana. Akhirnya impian bisa di koran besar tercapai. Impian saya untuk melangkah menjadi JURNALIS.

*

Dalam setiap perusahaan media, jelas ada banyak wartawan. Tapi, mungkin hanya RB yang memiliki satu wartawan perempuan yang aneh bin ajaib. (ukuran dalam jangkau pergaulan dan wilayah perjalanan hidup saya). Namanya Roslely Sondakh. Biasa dipanggil Eling. Kalau di Eropassi (Desa Passi tempat asalku), Eling itu seorang laki-laki. Ha-ha-ha-ha! Padahal Eling ini cantik loh, tole' le.

Terus Sondakh-nya dari mana ya? Tanya yang kerap membikin seteru antara Sondakh Vs Mamonto di dapur redaksi. Pasra Hidayat Mamonto atau si gembul Eges pernah digampar hanya gara-gara ejek-ejekkan marga. Saya memilih lari meski pernah satu dua kali terpaksa meladeni mulut bawelnya Eling. Namun Eling meski sendiri, tak mau kalah dikerubuti Mamonto Cs. Ada Pasrah Hidayat Mamonto, Rusmin Mamonto, Gufran Mamonto, sama Radar Mamonto.

Di kantor, jika Anda mendengar cekikikan seperti kuntilanak beranak, maka itu pertanda Eling telah datang dari berburu berita berdarah-darah. Liputan apa coba? Penjahat, rusuh, cabul, tilang, tikam, bunuh. Ha-ha-ha-ha.... Eling tak mau luput atau bobol berita crime. Jika data kurang; kepalanya tegap, cemas, mata liar, lalu mengisap rokok dengan ritme cepat (wuitttss sensor). "Pemar le!" ketusnya.

Eges pun demikian, tak kalah cemas. Pernah kutanyai, "Eges sudah berapa beritamu?"
Kilat kulit wajahnya yang disapa temaram layar laptop, lusuh menjawab, "Sudah sepuluh." Ha-ha-ha-ha-ha.... Halaman dalam, penugasan, dan berita tambahan. Aih, di dapur redaksi itu kejam bro! Jangan berharap tugasmu selesai, lalu menghilang seperti gaya senyap-senyap mafioso-nya si Muri. Setiap mata, telinga, mulut, menjadi awas. Ada informasi apa saja, Ruuuunnnn Craaabbbbb!! Ruuuunnnn!!

Oh, ya, kita tinggalkan dulu hingar di dapur redaksi. Ngomong soal pendidikan saya yang hanya SMA, Eges dan Eling ini anak kuliahan di Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK). Eling sudah diwisuda lalu menyandang sarjana pertanian. Hmmm.... Mau bertani di mana Eling? Bakatmu itu jadi wartawan. Cerewet dan cermat.

Sementara Eges memilih tetap fokus dengan pekerjaan yang, menurutnya bisa mencerahkan masa depannya. Secerah layar ponsel yang kerap digonta-gantinya itu. Android Oppo miliknya malah kini jadi ponsel 'kesombongan' saya saat ini, untuk ber-CoC dengan TH 9 cacat! (nyombong kok pake Oppo, boleh, boleh, Ha-ha-ha-ha). Eges pun akhirnya mengaku ia hanya lulusan SMA, sebab kuliah tak berujung. Sudahlah Eges, terus latih menulis. Pramoedya Ananta Toer saja hanya berakhir di bangku SMP kelas 2 tapi malah dapat gelar doktor.

Terlalu banyak ketawa, sampai lupa saya sudah setahun di RB. 6 Agustus 2008-2015, 7 tahun sudah kiprah RB di bumi Totabuan. Kemudian rindu ini tiba-tiba hadir di kenang dapur redaksi. Rindu kepada mereka yang telah datang dan pergi. Ada Sandi Mokoagow (yang ngajarin Eges menulis berita), Fredi Saripi, Eling dan Ale (cocok disandingkan namanya di undangan nikah), Abdul Melangi Mewangi Sepanjang Hari, Rusmin Mamonto, Aping Manangin. Ada Renal anak iklan yang bercita-cita menjadi wartawan, namun setelah berkesempatan menjadi wartawan, bulat memilih melanjutkan kuliah (sangat konsisten).

Oh, ya, ada Mul Pontororing yang juga suka tertawa bersama di dapur redaksi, rebutan colokan, yang akhirnya ikhlas mengalah karena dia bukan anak negeri, ha-ha-ha, padahal tak perlulah kalimat itu meng-ada, sebab kita semua anak Indonesia (ini cerita fiksi, karangan saya). Jadi ingat lagi Pramoedya Ananta Toer yang paling alergi dengan ego kewilayahan. "Aku bukan Jawa dan ogah berbahasa Jawa. Aku orang Indonesia!"

Jika saya gembungkan ke skala bumi, yah, saya ini anak bumi, jadi tidak ada kata yang mengklaim atau meringkus saya ini sebagai anak pribumi ini dan itu.

Saya (kita) kan, lahir di bumi, bukan? Jadi tidak ada yang namanya penduduk pribumi Aceh atau penduduk pribumi Papua. Kita semua penduduk BUMI MANUSIA.

Oke, terlalu serius, kita teruskan ke CoC, eh, ke Egesnya. Iya, saya dan Mul terkena dampak agitasi propagandanya Eges, yang menyolokkan flash disk ke laptop kami. Akhirnya game CoC menghijau di layar laptop lewat aplikasi android bluestacks. Dengan koneksi internet yang super cepat, saya dan Mul berlomba-lomba siapa yang duluan mentok base, TH, troops, dan lain sebagainya. Kebayang main CoC pakai satu telunjuk atau mouse? Ehu!

Game menjalar ke segala sudut ruang meski hanya di waktu luang. Namanya kerja, harus kerja dulu. Berita selesai, baru bisa main game. Siap Bos! berita usai sudah (tangkis). Kerja keras demi ponsel android, demi main CoC. Ha-ha-ha-ha.

Tak berselang lama, kabar itu datang. Mendebur dada kami saat mendengar, JPG diharuskan memiliki maksimal tiga pewarta yang pure news. Tidak harus ditargetkan ini dan itu. Hanya berita.

Tiga terbaik itu akhirnya diputuskan, Eling, Eges, dan Anto' (Aih, saya euy, saya, Sigidad euy, bangga).

Tes, tes, dan tes, dilakukan Pemred Fauzi dan Wapemred Firman. Pertanyaan demi pertanyaan dilempar. Ha-ha-ha-ha... Sialan! Eling membikin kacau ruang saat 'diinterogasi'. Gelak tawa, muka merah, kepul asap, dan segalanya menebal di ruangan. Tak ada yang tersisa. Hanya kekeluargaan. RB memang telah menjadi keluarga besar kami, seiring dengan tawa-tawa renyah dan geram meledak. Mana berita!! Deadline!! Cepat rapat proyeksi!! Kami sudah terbiasa. 

Setelah itu, kami bertiga menunggu. Menunggu. Cemas. Ingin jadi wartawan liputan khusus. Jadi? saling tanya. Kapan? Hingga....

Seminggu kemudian pagi berkabut. Dengan mata merah saya dan Eges terbangun. Ponsel berdering, kami harus berangkat sekarang juga ke Graha Pena Manado. Seluruh anak media Manado Post Group (MPG) sudah datang dari pelosok. Gorontalo Post, Radar Gorontalo, Luwuk Post, Maluku Utara Post sudah tiba. Radar Bolmong masih tidur. Ha-ha-ha. Cusssss!!! Dimodalin Bos!!!
Terlambat!

Radar Bolmong sudah rapor merah, terlambat pula. Namun langkah kece tegap memasuki Graha Pena. Eling jadi penunjuk jalan, sebab ia pernah "divaksin anti rabies" di tempat ini.
Memasuki ruangan di lantai 5, kami tinggal mendengar lentingan materi penghujung. Hingga esok hari materi lanjutan diajarkan, lalu pada hari ketiga kami ditugaskan ke lapangan. Panjang ceritanya. Bisa sebuku. 
Tapi begitu leganya, saat liputan Radar Bolmong yang akhirnya terpilih terbaik dan dicetak di Manado Post. Halaman satu coy! Itu bukan tulisan saya, tapi tulisan dari hasil kerja team work kami. Saling tanya antara saya, Eges, Eling, dan kawan-kawan lainnya. Hasil liputan dari tim yang kami namai MaLuBoGo (Maluku Utara Post, Posko Manado, Luwuk Post, Radar Bolmong, dan Gorontalo Post), iya Manado Post, Radar Manado, dan Radar Gorontalo tak ada yang mewakili pelatihan. Ada kredo dari MaLuBoGo yang kurangkai sendiri, akronim pula dari MaLuBoGo, yaitu "Malu bertanya jadi bogo-bogo (bodoh)" Ha-ha-ha. 

Usai pelatihan, kami pun dijuluki Kopasus. Pulang dan bertugas sebagai Kopasus memang berat. Liputan kami apa saja asal harus yang meng-etalase.

Setelah itu, bulan, pos liputan, dan tawa silih berganti. Ah, RB. 7 tahun sudah, 1 tahun usai. Kami dibentuk agar bisa saling mengerti, membantu, dan kerjasama. Kini mereka yang datang dan pergi itu meninggalkan kenang. Yang tersisa (capek nyebut satu-satu, banyak nama akun CoC-nya, ha-ha-ha-ha) akan 'Menu7u Graha Pena'.

Happy Anniversary!!

Ah, rindu digebukin Eling dan ditawari ponsel terbaru Eges.

Arah bisa beda, tapi tuju tetap sama. Biarkan pena menuntun kemana tujuan kita. Berbeda ruang, tapi kita masih bisa saling sapa dan ajak, bukan?

"Ayo, kita makan jagung rebus lagi!"

Monday, August 3, 2015

Humanis bukan Komunis

Saya seperti menerima wangsit, saat pesan singkat tiba menumpuk. Kutepuk-tepuk kepala setelah membaca isi pesan, "Kalau memang kaos PKI itu ada, kami pesan satu kontainer!"
Iya, pesan menekan itu datang tak diundang, padahal lebaran belum lama usai. 'Kami' dalam pesan itu mengisyaratkan sekompi, atau mungkin sebatalion, bisa juga seresimen. Lalu wangsit itu lirih berkata, "Menulislah!"
Berawal ketika saya dan seorang sahabat nun jauh di sana, saling berkirim pesan di BBM. "Mau kaos begini?" ejeknya.
Sebelumnya gambar kaos merah menyelinap di chat BBM, dengan palu arit kuning menghujam dada. Oleh-oleh karibnya yang melancong ke Vietnam. Aih, sialan! Keren abis. Itu ucap saya, yang sudah jauh-jauh hari, bulan, tahun, telah sadar dan waras, bahwa hanya orang dungu yang masih memiliki kenang pahit akan sejarah PKI di negeri ini. Cukup sudah saya disumpali film tentang penghianatan G-30S/PKI, Gestapu, atau Gestok. Saya ingat mendiang ayah, ketika saya masih di bangku SD. Malam itu ayah mengajak menonton Tv di rumah tetangga. Sarung ayah selalu menjadi kantung kangguru, tempat saya meringkuk dari dingin uap ubin, sembari dibuai ayunan sarung.
TVRI di zaman Orde Baru memang jadi satu-satunya stasiun Tv yang paling kece kala itu. Setelah beberapa program acara usai, saya tertidur. Desing peluru dari suara Tv membuat saya terkesiap lalu terbangun tanpa disadari ayah. Namanya bocah, tidur bisa sesekali lelap hingga pagi, tapi terkadang setelah terbangun, mata kembali benderang lalu terjaga. Ayah masih tidak sadar saya sedang ikut menonton, mungkin saking tegangnya dengan adegan demi adegan dalam film. Tepat di adegan saat Brigjen DI Pandjaitan diberondong peluru yang tengah bersimpuh berdoa. Putrinya histeris, "Papiiiiiii!!!!!" lalu menuruni anak tangga dengan langkah yang entah. Saya kira ia bakal mengejar para tentara yang menarik tubuh ayahnya.
Perkiraan saya salah, tubuhnya jatuh di genangan darah. Kedua telapak tangannya menyapu bersih genangan merah itu. Kemudian wajah sendunya bergincu darah. Saya hanya bisa memicingkan mata. Ayah masih belum sadar bahwa saya sudah bangun dari alam bawah sadar. Film itu usai, akhirnya saya memilih tidur di kamar ayah dan ibu. Setelah itu bukan rasa takut yang membekas namun penasaran yang terus berkecamuk. Hari di mana film itu bakal diputar lagi, kerap saya tunggui hingga usia dimana akhirnya film tersebut tidak pernah ditayangkan lagi. 30 September jadi hari yang selalu saya tunggui. Dan yang ada, hanya benci kepada PKI. Sebab kemanusiaan (humanisme) yang mana, yang mampu menerima perih. Nyatanya, film itu sukses disutradarai Arifin C Noer.
Sampai akhirnya lembar demi lembar buku saya bacai. Bergaul dengan sahabat-sahabat yang mengetahui jelas apa itu PKI. Kebencian saya berbalik. Pembantaian demi pembantaian di Sumatera, Jawa, dan pulau Bali, mencambuki napas setiap hela. Yang terhirup hanya jutaan bau amis darah dari mereka yang dituduh antek PKI. Genosida di Indonesia yang baru bisa saya sadari. Saya hanya memikirkan ayah, kemudian sebuah dialog pernah tercipta di meja makan.
"Ayah, kenapa film tentang penumpasan penghianatan PKI tidak pernah diputar lagi?" ayah hanya menatap.
Setelah makanan tandas, ayah menjawab seadanya tapi meringkus segalanya.
"Film itu sudah dilarang, di berita diterangkan bahwa film itu pembodohan sejarah."
Lega hati saya. Ayah bukan bagian dari mereka yang terkutuk dan terus memercayai bahwa PKI itu laknat. Bertahun-tahun kemudian, referensi tentang sejarah PKI berhamburan. Di internet, di lirik lagu, di buku-buku yang dijual bebas setelah jatuhnya rezim Soeharto. Saya makin kenyang namun tetap berprinsip. Saya bisa sepakat dengan komunisme, meski sebenarnya Pancasila sudah cukup sebagai ilmu kanuragan bangsa ini.
Tapi saya akhirnya memilih menjadi humanisme, sebab hanya itu satu-satunya yang bisa mengejahwantahkan kengerian dan kepedihan saya, atas genosida yang membikin remuk dada. Hanya humanisme yang mampu menstabilkan goncangan saat nanar mata bocah saya, saat pertama kali tersuguhi tanpa sengaja film yang memang belum pantas ditonton anak seusia saya. Sejarah memang penuh genang darah. Lalu kemanusiaan membersihkan merah darah itu, menjadikannya suci dengan juang tanpa henti. Garis tegas dalam kalimat, "Menolak lupa!" membatik di batin. Masih ada luka kemanusiaan di sini yang tak terobati. Pengakuan akan kesesatan sejarah, masih terbelenggu oleh kekuasaan dan derap senjata. Atau oleh bunyi tanda pesan masuk. Ting! Dor!