Thursday, April 21, 2016

Surat Kangen untuk Bang Katamsi Ginano

Sumber foto: kikibhonk-q.blogspot.com
Tadinya sih, saya berencana memberi judul 'surat terbuka'. Tapi setelah mikir lumayan singkat, akhirnya saya memutuskan sebaiknya mengganti judulnya dengan 'surat kangen'.

Kenapa 'kangen'? Karena jelas sekali, saya ingin menyampaikan rasa kangen yang tiba-tiba ini, kepada Bang Katamsi Ginano (selanjutnya ditulis Bang KG) melalui surat ini.

Kenapa bukan 'rindu'? Karena saya cenderung sepakat dengan Pidi Baiq vokalis The Panas Dalam yang juga penulis novel Dilan, soal perbedaan antara 'rindu' dan 'kangen'. Menurut Pidi Baiq: rindu itu mendalam, sedangkan kangen itu spontan.

Iya, seperti yang saya katakan di atas sebelumnya, kalau saya hanya tiba-tiba ingat. Spontan berarti kangen. Bukan sebuah kerinduan yang mendalam. Kalau sudah bertahun-tahun tidak menulis di blog Kronik Mongondow (selanjutnya disingkat KM), baru itu saya menyatakan rindu.

Apalagi Bang KG mungkin hanya sedang sibuk dengan pekerjaan. Jadi belum sempat-sempatnya membalas chating atau berkesempatan menulis lagi di blog.

Tulisan Bang KG yang terakhir lumayan lama. Setahun yang lalu. Tepatnya sih, hanya beberapa bulan yang lalu. Tapi tahunnya saja yang berganti dari 2015 menjadi 2016. Artikel Bang KG berjudul 'Amabom dan Digdaya Dusta yang Konsisten', tercatat terakhir diunggah pada 1 Desember 2015. Sekitar empat bulan yang lalu.

Sejak saya mengenali KM di tahun 2011. Sependek ingatan saya, ini mungkin yang terlama Bang KG vakum menulis di KM. Kalau tidak salah sih. Saya juga secara aktif mengikuti KM baru pada tahun 2013. Bisa jadi ada rentang yang lebih lama dan saya luput mengamati.

Kemana saja selama ini, Bang KG?

Sibuk perjalanan ke luar negeri?

Atau, karena kemarin sempat menjadi cenayang politik sewaktu Pilkada Boltim, namun mendapati hal yang berbeda di ending cerita, lalu Bang KG tiba-tiba kehilangan ruh menulis?

Menulis lagilah, Bang KG. Sejauh ini, hanya Bang KG yang paling produktif menulis isu-isu seputar Bolmong. Dan paling ditunggu ribuan pembaca.

Hanya pesan saya, jangan terlalu banyak menerima laporan-laporan dari peluncur-peluncur yang datanya kurang valid. Saya bukan mengatakan apa yang Bang KG tulis semua datanya tidak valid. Tapi hanya beberapa sih, dari tulisan di KM, yang datanya memang terkesan berasal dari peluncur-peluncur amatiran.

Saya juga pernah heran ketika Bang KG menghujat beberapa media, dengan mengatakan mereka penghasil berita-berita sampah. Namun Bang KG kerap kali menulis di KM dengan menggunakan bahan dari media-media penghasil sampah itu.

Saya cuma heran sih. Analogi untuk sikap Bang KG itu, mungkin seperti ini: Bang KG tidak suka dengan kue onde-onde buatan si A. Bang KG menceritakan 'kesulemekkan' si A membuat kue onde-onde itu. Meski sebenarnya si A tidak hanya membuat kue onde-onde. Sebab ada kue-kue lain yang dibuat si A di antaranya: lalampa, binolos, taripang, dan lain sebagainya.

Nah, Bang KG mengatakan bahwa kue onde-onde itu menjijikkan, sebab si A yang membuat. Karena tentu saja onde-onde itu ada karena si A. Lalu kenapa Bang KG sesekali membeli kue lalampa, binolos, atau taripang, yang kemudian Bang KG makan dan juga berikan kepada orang-orang? Padahal pembuatnya sama?

Meski untuk semaqom Bang KG, analogi seperti itu tak perlu saya bentangkan, tapi setidaknya agar semua pembaca bisa paham dengan maksud saya. Atau malah tambah bingung?

Yah, catatan-catatan di atas sekadar kegundahan saya. Bentuk rasa kangen saya untuk bisa membaca tulisan-tulisan Bang KG lagi di KM. Selama empat bulan terlewati, saya rasa ada banyak tingkah pejabat di Bolmong Raya, yang menggelitik jemari Bang KG. Pembaca setia KM juga pasti berdebar menunggu.

Karena ketika Bang KG memutuskan membuat blog, menulis, dan itu menciptakan pembaca setia. Maka Bang KG harus bertanggung-jawab dengan para pembaca.

Tuh, ada sebotol Jack Daniels yang menunggu dibuka dan diletakkan di samping laptop.

Dan ada beberapa pejabat yang menunggu untuk dijewer.