Tuesday, April 12, 2016

Ulang Tahun



Riuh-rendah ucapan selamat hari lahir di media sosial. Wah, saya cemas seketika. Sebab kenapa? Soal hari ulang tahun pasti soal traktiran. Duit di kantong hanya untuk Sigi. 28 April, bukan 12 April.

Iya, entah Raja atau Pangeran, bisa juga Ratu dan Putri siapa, yang pertama kali merayakan Hari Ulang Tahun terus mentraktir penduduk se-negeri.

Kemudian bermulalah, tradisi siapa yang sedang merayakan Ultah, maka harus mentraktir. Tradisi itu, mau tidak mau, mengharuskan. Siapa sih, yang layak dibuat bahagia?

Kami pernah pada suatu masa, ketika sedang bermocik-mocik ria (masa puber), saat itu kami tengah berasyik-masyuk beranjak dewasa, dan tradisi itu kami balik. Siapa yang Ultah, maka kami kengkawan yang urunan. Lalu uangnya dipakai untuk pesta semalam suntuk. Yang ber-ultah, tinggal mabuk dan sila muntah-muntah dari segala lubang.

Hingga, tiba pada masa ketika kami dewasa, sudah bekerja dan berpenghasilan tetap. Lalu tradisi traktir-traktiran kembali mencuat. Seperti ingin membuktikan bahwa seginilah penghasilan kami. Maka kami saling mentraktir setiap momen itu tiba.

Di usia yang sudah kepala tiga ini. Bahkan ketika hendak menyisir rambut ke belakang agar tampak kekinian, jidat sudah seperti jidatnya si Bezita di Dragon Ball. Tradisi itu kembali menuntut.

Saya akhirnya mikir, ketika orang tumbuh dewasa itu, memang sangat membosankan.

Hanya beberapa saat, usai catatan di atas itu terpapar di laman facebook. Berdatangan pesan singkat yang mengajak saya untuk merayakan hari kelahiran.

Dari berbagai macam ajakan, saya harus memilih untuk sepakat dengan tawaran yang datang dari desa kelahiran. Saya tersinggung, sebab yang datang mereka yang mengaku mengenal kata 'kenakalan remaja' karena saya. Aih, bangsat! Dan mereka ingat hari kelahiran saya, karena celetuk Sigi. "Aba' pe ultah ini kang?"

Mereka telah menyediakan apa saja yang membikin mabuk. Di pondok yang kami sebut dengan hormat 'Pondok Marhaen', botol-botol bergelimpangan. Bungkus rokok tersusun-susun. Dan, tola-tola yang kriuk-kriuk ketika digigit berserakan.

Kami ingin mendustai pagi lagi.

Kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang mabuk.

"Apa sih, yang bisa membuat pemuda-pemudi itu tidak kepikiran untuk mabuk?"

Seorang kawan menjawab, bahwa kegiatan olahraga di kampung sangat minim. "Kalian tahu kan, sehabis mandi, muda-mudi mikir, mau kemana? Apelin pacar jika punya, dan nongkrong di persimpangan jika tidak punya."

"Terus apa yang bisa membuat muda-mudi itu giat?" tanya kawan yang satu lagi.

"Kita semarakkan lagi badminton-nya, ping-pong, dan olahraga lainnya." timpal kawan yang satu lagi.

"Itu tidak cukup. Tambah lagi dengan sanggar puisi, teater, dan rumah baca. Siapa saja yang berminat bisa nongkorng di situ. Teater pernah sukses di pesta tahun-tahun baru sebelumnya."

"Bagus! Untuk mengurangi niat pemuda-pemudi miras, pasti bisa. Setidaknya ada beberapa kegiatan yang menjadi pilihan mereka."

"Desa ini hanya kurang pilihan-pilihan. Ketika hendak keluar rumah, yang ada hanya pikiran bagaimana mengisi malam ini. Dan selalu hanya dua, apelin pacar atau mabuk."

"Dan, ketika kegiatan-kegiatan marak. Mabuk-mabukan juga bisa hilang. Bukan hilang sih, tapi setidaknya akan berkurang,"

Saya mencermati gagasan-gagasan mereka, yang lahir dari berbotol-botol miras berkesudahan. Ternyata, di saat mabuk ide-ide cemerlang bisa hadir. Untuk desa ini, yang kepala desanya adalah kawan pula, maka ide-ide ini menyambung lidah segera.

Pelbagai macam giat untuk pemuda memang telah dipikir. Bahkan desa kami yang terkenal dengan kerajinan pandai besinya, yang juga telah ditetapkan sebagai kerajinan tangan khas. Siapa saja yang berbakat untuk itu, usahanya akan ditopang dan dibesarkan.

Maka peradaban negeri mana, yang tidak pernah dijasai besar para pandai besi?

Di hari ulang tahun ini, sederet kalimat kepala desa (Sangadi) meringkus saya.

"Sangadi nda kuatir jika yang satu ini yang ultah, karena setiap hari adalah ultahnya. Terus melihat dia saja ada di kampung, merupakan suatu anugerah terindah yang Passi miliki."

Ah, lebay sekali Sangadi kami ini. Dan saya akhirnya memutuskan harus ada di desa ini. Passi memang butuh kami!