Sunday, May 29, 2016

Fajar Passi adalah Sebuah Pesan Leluhur


Saya masih ingusan, ketika turnamen sepak bola di Desa Passi, tak boleh lagi melibatkan banyak kampung. Sebab laga yang terakhir, kita pernah dimurungkan oleh hal-hal yang tentu saja, semua itu adalah bagian dari sebuah ajang. Selalu saja ada kericuhan. Tapi seperti itulah sebuah lomba. Tuan rumah adalah penjaga. Pendatang adalah tamu yang dijaga dan seharusnya saling menjaga.

Dulu, sejak mendiang ayah saya tergabung dalam tim Fajar Passi. Di mana kami masih serupa bayi-bayi yang lucu. Mereka yang pernah berjuang di Fajar Passi, di antaranya adalah sanak saudara, coba mempertahankan nama besar Fajar Passi.

Juang itu kerap berbuah manis, sebab setiap melaga pasti selalu mencapai final dalam ajang turnamen sepak bola yang berlangsung. Fajar Passi adalah sebuah legenda.

Seiring tahun bergulir, lapangan Elang Taruna selalu sepi. Hanya satu-dua remaja yang ingin bercucur keringat di sore hari. Sekadar menyalurkan kegemaran mereka bermain bola.

Ajang perlombaan digelar namun hanya sebatas desa. Pernah melibatkan beberapa desa. Namun, itu tidak diseriusi lagi. Dan mereka memilih berkarya di sekolah masing-masing atau di lapangan futsal yang mahal itu. Padahal, tanah lapang masih terbentang luas.

Mendiang Bagus salah satunya. Ia adalah satu bukti dari bakat yang, menjadi mutiara bahwa Passi bisa berlaga di luar sana. Bahwa Passi bisa melahirkan pemuda yang begitu serius dengan jalan hidupnya sebagai atlit sepak bola.

Saya jujur saja tertunduk menangis, tatkala dikabari bahwa Bagus berpulang. Hanya sebuah tulisan yang bisa saya rangkai sebagai ucap duka kepada ibundanya kala itu. Setelah tahu putra kesayangannya itu telah berpulang. Tulisan kala itu, berjudul:

Titip Duka Kami untuk Bagus

Ibunya perempuan tangguh. Kami akrab menyapanya Lince. Putranya adalah
bocah hitam legam. Usianya masih lima tahun saat kutemui lincah berlari di tanah lapang Elang Taruna Passi.

Matahari mengguyur tubuh mungilnya hingga keringat mengucur. Bagus namanya. Kemudian, rumah tangga Lince di ambang perceraian, yang membikin Bagus bimbang. Mau ikut ayah atau ibu.

Namun kasih ibu menerangi jalan yang
ia tapaki. Lince membesarkannya penuh cinta setelah perceraian. Meski kami tengah berserak tawa dan mengunyah embun malam di bawah pohon tome-tome. Lince pasti melesat cepat menuju rumah saat Bagus menangis dan mencarinya.

Kemudian Bagus besar di Passi dengan gigi putih bersih.

"Biar saki, tetap musti gosok gigi," tutur Lince, saat aku berkesempatan mengunjungi Bagus yang tengah dirawat di rumah sakit, beberapa bulan yang lalu sebelum ia berpulang.

HB-nya sangat rendah. Wajah hitamnya
memucat. Tapi senyum dan deretan gigi putih masih di sana.

Kabar meninggalnya Bagus, kubacai di status BBM yang menumpuk. Inalillahi, dada kutepuk-tepuk. Jauh di Bolmut, tak sempat bersua-tangis dengan ibundanya. Tak disangka, Bagus yang tumbuh besar dengan fisik yang tampak setangguh ibunya, begitu cepat berpulang.

Tubuhnya yang atletis sebab Bagus gemar berolahraga, kini terbujur kaku. Sepak bola adalah masa depannya. Ia begitu gesit berlari menjemput bola, tatkala laga tarung antar desa atau sekolah yang ia ikuti. Bagus kerap menjuarai beberapa lomba.

"Pokoknya main bola sampe di Jakarta sana ne," kata Lince dengan kilatan mata penuh harap kala itu.

Harap itu karam di hari Kamis yang penuh tangis. Foto-foto hanya bisa
kupandangi di facebook dan BBM. Lince yang tangguh kini luluh lantak. Matanya bengkak di setiap foto yang kusaksikan, dan.... Ah, aku tahu seperti apa Lince meluapkan sedihnya.

Kendati Lince masih memiliki putra kedua, di pernikahannya yang kedua. Duta masih begitu belia. Sedangkan Bagus adalah guardian-nya. Penjaganya.

Masih menunggu lama, untuk Duta tumbuh remaja. Kedua putranya ini berdarah Jawa, dari dua bapak yang berbeda. Tapi lahir dari satu perempuan yang telah mencecap ribuan luka, suka, dan duka.

Lalu Lince menikah lagi dengan kerabat dekat saya. Mereka dikarunia putra lagi yang diberi nama Ca'. Seperti Tuhan ingin menebus sebuah kehilangan.

Turut berduka cita dari kami Eropassi. Kami tahu sebesar apa sedihmu Lince. Namun kami pun tahu, setangguh apa dirimu. Bagus hanya sedang ingin berkunjung atas undangan Tuhan, yang ingin menyaksikan kelihaiannya memainkan bola. Tuhan sedang ingin dihibur permainan sepak bola, Bagus.

Kelak, saat Tuhan memanggil kita yang semoga saja di usia senja, piala-piala Bagus sedang berderet serapi giginya, menunggu kamu — Lince — si perempuan tangguh.

Lalu silakan berpelukan menebus rindu.
Sebab kita pun akan begitu, menuju ke sana. Titip duka kami, yang tak sempat hadir pada pemakaman.

Dan setelah itu, Fajar Passi kembali bersinar setelah sekian tahun. Terang hingga penghujung final di laga kali ini. Turnamen terakbar dan menjadi pijak, bahwa nama besar Fajar Passi memang adalah sebuah legenda.

Kaka Oxa dan Bedewin adalah sahabat yang kembali menumbuhkan semangat anak-anak, agar Fajar Passi menjadi sebuah tim yang bangkit lagi di generasi kini. Tim itu, seiring perjalanan selama laga berlangsung, akhirnya memiliki ikatan emosional secara perlahan.

Mereka menjadi solid. Itu dibuktikan ketika wajah mereka menunduk di laga final. Sebab salah satu tim mereka, Anding, tidak hadir di sana. Sebuah tunduk yang tentu saja semua berdamai dan bersepakat bahwa, putramulah, Anding, yang harus dijadikan pilihan utama. Apalagi itu adalah putra pertama Anding dan istrinya setelah mereka menikah hampir 8 tahun lamanya. Putra yang akan dinamainya, Ibra.

Perjalanan mencapai final bagi Fajar Passi adalah tekad yang sebenarnya sebuah keniscayaan. Tapi semua itu bisa diterabas oleh satu juang; bahwa Fajar Passi bisa bersinar!

Dan buktinya... Final adalah jalan yang terbuka lapang di lapangan Elang Taruna yang melegenda.

Hal yang tersulit dalam sebuah tim, adalah ketika bagaimana sebuah ikatan emosional itu terbentuk. Bagaimana ketika rasa harus menyatu itu adalah mutlak. Dan Fajar Passi telah membuktikan itu, ketika mereka merasa sebuah kehilangan yang sangat berarti, saat salah satu dari bagian timnya tidak hadir.

Sebuah tim, adalah bagaimana ketika rasa senang terasa hilang, sebab salah satu pemain tidak datang. Sebuah tim, adalah bagaimana ketika rasa kebersamaan itu telah mampu terbentuk dengan sendirinya. Dan sebuah tim, adalah bagaimana ketika tekad itu, bisa terwujud hingga penghujung laga. Yang terpenting adalah hasil akhir, kata Mourinho.

Fajar Passi 'Road to Final', adalah sebuah tekad yang patut dikenang. Sebuah tekad atau pesan dari para leluhur yang kekal! Dan pelatih Kaka Oxa telah membutikan itu. Ia mampu membimbing sebuah tim yang terdiri dari beragam warna. Tapi, seluruh tim telah membuktikan itu. Fajar Passi, bukan lagi sebuah tim tapi sebuah keluarga besar.

Malam ini, silakan menikmati rasa kekeluargaan itu, seperti pesan leluhur, "Selalu berbagi kasih. Selalu bersama-sama. Dan selalu saling mengingat."

Itulah TIM FAJAR PASSI.

Tulisan ini, dibaca saat perayaan kemenangan Fajar Passi, Sabtu 28 Mei. Tim ini berhasil masuk ke babak final dan merebut tempat ke dua. Salah satu pemainnya Isa', ditetapkan sebagai pemain terbaik selama turnamen dan penyumbang gol terbanyak, 7 gol.