Thursday, May 12, 2016

IBU

Buku kumpulan esai dan esai tentang ibu
Ibu. Di Betawi dan Bali mereka memanggilnya Enyak. Di Sunda mereka memanggilnya Emak. Di Batak Karo mereka memanggilnya Nande. Di Batak Toba, mereka memanggil Inang. Di Lombok, mereka memanggilnya Inaq. Hampir mirip di tanah lahirku, Bolmong, mereka memanggilnya Ina'.

Di seluruh dunia, ada ribuan bahasa yang menyebutnya berbeda. Tapi bermakna sama: ibu adalah gua garba tempat kita pertama kali keluar lalu menghidu aroma dunia.

Aku punya seorang ibu. Ia tangguh dan jago memasak. Kemarin, ketika aku sedang lahap menyantap masakannya, tiba-tiba ia mengeluhkan penyakit diabetesnya. Matanya telah kabur. Iya, ibu, penyakit itu menggerogoti siapa saja. Bahkan, bassis salah satu band favoritku, Efek Rumah Kaca, direnggut penglihatannya. Untuk rasa keprihatinan itu, mereka menulis sebuah lagu berjudul, Sebelah Mata. Aku selalu sedih mendengar lagu itu.

Aku mencemaskan penyakit ibu, sama besarnya tatkala mengkhawatirkan: siapa yang akan memasak nanti jika ibu terus sakit. Perutku yang suka lapar lima kali sehari ini, hanya mampu dikenyangkan oleh masakan ibu.

Ibu pernah bilang, jika ia sedang memasak yang enak-enak, pasti secara tiba-tiba aku muncul. Sepertinya, aku bisa mengendus dari jauh aroma masakan ibu. Tapi itu benar, selalu seperti ada suara yang berbisik: coba pulang ke rumah. Dan ketika aku pulang, kudapati ibu sedang di sudut dapur yang berjelaga. Memasak lauk yang jadi favoritku dari; ikan teri saus, oci bakar, ayam rica-rica, atau tempe goreng tepung.

Tapi ibu hanya sekadar memasak. Penyakitnya telah membikin ia berpantang makan. Bisa dibayangkan, ketika aku memasak makanan lezat, yang aku sendiri tidak bisa mencicipinya. Ah, kenapa harus ada penyakit untuk manusia. Kenapa tidak tua saja, yang satu-satunya bisa membuat manusia rengsa.

Sebagai anak terbungsu, aku memang lebih dekat dengan ibu. Sedangkan mendiang ayah, hanya ketika aku bocah perhatiannya tercurah begitu banyak. Seiring waktu, anak laki-laki memang semakin berjarak dengan ayah. Itu yang aku rasakan. Seperti ada sekat yang membuat kaku. Mungkin karena ayah berpikir, anak laki-laki itu harus dibiasakan bebas kemana saja tanpa perlu dicari, ditanya, dan diajak bicara setiap hari. Sementara ibu, setua apapun anak-anaknya, akan tetap menganggap anak-anak itu masih seperti bocah. Ibu akan selalu cemas dan bertanya-tanya: apakah anak-anaknya sudah makan atau belum?

Beberapa lalu, Mother's Day, dirayakan di seluruh dunia. Banyak teman-teman yang membuat status di media sosial, mengucapkan Happy Mother's Day. Tapi aku selalu bertanya-tanya: apakah mereka pergi menemui lalu memeluk ibu mereka sambil mengucapkan Selamat Hari Ibu? Atau hanya sekadar di status saja. Bagi teman-teman yang ibu mereka telah berpulang, pertanyaan itu tentunya tidak berlaku.

Aku sendiri, jujur tidak pernah mengucapkan secara langsung Selamat Hari Ibu, kepada ibuku. Sama seperti ketika hari lahirnya tiba. Di rumah kami, tradisi Hari Ulang Tahun tidak pernah dirayakan. Bahkan Hari Ulang Tahun kedua orangtuaku, hingga hari ini tidak pernah aku ketahui kapan tepatnya. Dan aku memilih untuk tetap tidak ingin mengetahui itu.

Ibu juga pasti lebih senang ketika aku mengatakan masakannya sangat lezat, tinimbang aku mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun kepadanya.

Ketika hari lahir aku dan kakak-kakakku tiba, ayah dan ibu juga tidak pernah merayakannya. Atau memberi kejutan berupa kue beserta deretan nyala lilin. Aku juga lebih senang ketika menikmati masakan ibu, daripada memakan kue Ulang Tahun.

Di rumahku, perayaan Hari Ulang Tahun bukanlah sebuah tradisi. Tapi, bukahkah tidak merayakan itu juga bisa disebut sebuah tradisi?

Sama halnya dengan Mother's Day kali ini. Mungkin hanya lewat tulisan ini, yang bisa mengingatkan; bahwa ada hal-hal yang perlu dirayakan, pun ada hal-hal yang tak perlu dirayakan. Dan keduanya adalah sama. Tradisi.