Friday, May 13, 2016

Jalan Mundur

Sumber foto: Senyawaterbang.blogspot.com

Aku ingin jalan mundur ke masa lalu tanpa menoleh ke belakang. Aku ingin dada masih berdebar, sembari menunggu kenyataan yang pernah dilewati hadir dari kiri dan kanan.

Kiri bukanlah yang buruk. Dan kanan tidak selalu yang baik. Tidak seperti kisah para penceramah surau yang kerap menuturkan: amal buruk akan datang lewat kitab di telapak tangan kiri, sedangkan amal baik akan datang lewat kitab di telapak tangan kanan. Seolah-olah Tuhan telah salah mencipta yang 'kiri'.

Kenapa aku memilih kembali ke masa lalu, bukan menuju masa depan? Untuk kembali ke masa lalu, bahkan aku enggan menoleh ke belakang. Aku hanya ingin dada ini masih berdebar. Meskipun itu segala apa yang sudah pernah aku lewati. Sedangkan pilihan untuk menuju masa depan, tentunya akan sangat mendebarkan. Biarkan ia hadir nanti dengan hal-hal yang tak terduga. Aku hanya ingin menengok apa saja laku di masa lalu.

Selama berjalan mundur, aku menemui hal-hal yang terlupakan. Pertama yang aku lihat, di kiriku ada kepala bayi yang bersandar diam. Ia hanya sesekali mendengus. Ia sedang tidur. Lalu di kananku, ada seorang perempuan yang tengah memeras susu. Wajahnya penuh amarah.

Aku terus berjalan mundur lagi, dan yang kutemui di sebelah kananku ada dua anak laki-laki berseragam putih abu-abu. Yang satunya menggengam botol, sedangkan yang satunya lagi tengah menjumput ikan goreng di piring. Di kiriku, ada kipas angin sedang berputar kencang.

Mundur lagi ke belakang, aku menemui hutan belantara di samping kiriku. Ada api unggun menyala dan tenda-tenda berdiri. Suara burung malam sayup-sayup sampai di telinga kiri dan kananku. Sementara di samping kananku ada seonggok ransel tersandar di bebatuan.

Aku segera berjalan mundur lagi. Aku menemui angkutan umum di samping kananku. Terparkir sedang menunggu penumpang. Di kiriku ada seorang teman memanggil. Ia berseragam SMA. Aku juga berseragam sama.

Tak sabar, aku terus berjalan mundur lagi. Di kananku ada bocah-bocah berlarian. Di samping kiriku, sebongkah batu melayang dan mengenai pelipisku. Aku tak sempat menghindar.

Aku terus berjalan mundur, bahkan dengan langkah yang lebih cepat. Di kiriku, aku melihat ayahku sedang tersenyum. Di kananku, ibu sedang mengeluarkan payudaranya. Kemudian aku menyusu.

Aku kembali berjalan mundur. Akhirnya, aku sampai di ujung masa lalu, aku coba menoleh ke atas dan ke bawah. Di atasku tak ada langit, sedangkan di bawahku bukanlah bumi. Ternyata aku sedang di dalam perut. Dengan dada yang berdebar-debar. Aku begitu kecil. Dan hidup.