Thursday, June 2, 2016

Cinta itu Apa?

www.hipwee.com

Selamat menikah...

Itu ucapanku kepada seorang kawan. Ia menikah dengan seorang perempuan berparas cantik. Jauh di selatan Sulawesi.

Ia bercerita, tentang tugasnya yang memburu bayangan dan tentu saja melelahkan. Kawan-kawannya banyak yang rebah karena itu. Pikirnya, "Sebenarnya apa tugas kita ini?"

Namun ini bukan cerita tentang tugasnya. Ini tentang kisah cintanya.

Dua tahun, ia menjaga hubungan itu. Katanya, perempuan itu begitu ia kasihi. Tapi tugas adalah jarak. Tugas adalah waktu yang seringkali berputar pelan. Bahkan sekalimat sapa, kerap ia lupakan.

Mereka saling melupa. Meski sebenarnya, perempuan itu sedang merelakan. Tapi, harapan ia titipkan dengan tangan yang terbuka. Sebuah harapan yang menyatakan, "Aku tetap menyayangimu."

Perempuan itu menunggu sekaligus pasrah. Jarak adalah hantu. Ia menakuti setiap gerak dan coba merebut setiap kenangan.

Akhirnya, ketakutan itu benar sudah. Seorang perempuan — yang lain — perlahan mendekat dan menawarkan kasih.

Jarak itu, kini bukanlah hantu yang masih bisa mewujud. Tapi ia bersemayam dalam bola mata, lidah, dan hati yang terus mengharap.

Kawan itu heran. Kenapa ada dua cinta yang sekaligus ada. Ia coba melupakan yang 'satu', namun terus saja membayang pada 'yang lain'. Ia akhirnya ingat, harapan itu pernah ia titipkan di antara elus rambut, dan hal-hal tentang tahun yang kemarin.

Lalu tibalah waktu itu. Dimana elus itu tak lagi memanjang. Rambut perempuan itu, setipis harapan di ujung pelupuk matanya. Ia bersedih, kenapa harus ada pertemuan lagi sementara perpisahan sudah seharusnya terucap. Perempuan itu menggunduli nasibnya. Menyarukannya di antara balutan hijab.

Sementara, kawan itu memilih menikah dengan 'yang lain'. Kekasih yang perlahan ada, di masa-masa bau mesiu menebal di udara. Pun ada rahim yang di sana sedang ditiupkan sebuah nyawa. Ia harus memilih.

Ia kembali bertanya-tanya? Apakah cinta sejati itu memang hanya untuk ibu. Ibu yang telah lama berpulang sejak ia kecil. Akhirnya ia menyadari, dua cinta sekaligus itu ternyata ada. Yang tersisa, hanya pilihan kepada siapa bahu ini bersandar penuh.

Tapi ketika pilhan meninggalkan ia pilih, ada sebuah kehilangan di sana. Ada kepala yang terus menunduk dan menggenggam sepotong cermin. Perempuan yang tengah disakiti, namun tak rela mengutuk. Sebab itu adalah kekasihnya yang seluruh.

Kawan itu kembali merobek kenangan. Di antara wajah-wajah yang muram. Ia berontak dengan kata 'salah' yang seharusnya tak perlu ada. Tapi seperti itulah cinta. Dua adalah sebuah kehilangan. Sementara satu, ada dimana rasa memiliki itu utuh.

Ia akhirnya bersepakat, melupakan dan menghapus semua kenangan. Tentang apa saja. Tentang; malam yang pernah dilalui canda di atas motor, warung-warung makanan yang dilabuhi, dan usapan perpisahan di ujung pekarangan rumah.

Kawan itu, akhirnya menikah. Menghempas apa saja yang masih ia baui. Apa saja yang masih berkelebat di matanya. Apa saja yang menderu di dadanya.

Melupakan, adalah tugas terbesarnya saat ini. Dan benar, cinta adalah sebuah pilihan. Cinta adalah sebuah kerelaan.

Selamat menikah kawan, utat, dan adik yang suka berkisah tentang apa saja.

Bahagia selalu dengan cinta.