Monday, August 22, 2016

OXA

OXA. Ketika menyebut nama itu, apa yang ada dalam benak kalian? Mungkin akan muncul gambaran bahwa pemilik nama itu; orangnya pasti necis, klimis, dan pegawai kantoran.

Tapi, gambaran di atas akan segera terbilas ketika kalian menemui si pemilik nama itu. Kenapa? Sebab dari ketiga kriteria yang saya gambarkan di atas, tak ada satu pun yang tepat.

Oxa adalah salah satu pemuda di Rumah Pemuda Merdeka (RPM) Desa Passi, Bolmong. Jika ingin menemuinya, maka temuilah ia di rumah, sebab ia tidak pernah kemana-mana. Satu kebiasaannya yang mirip dengan saya yakni sukar sekali beranjak dari dipan. Tidur, memang adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada setiap makhluk hidup. Apalagi bagi ular.

Oxa, meski terpaut beberapa tahun dari usia saya (lebih tua Oxa), ia masih terlihat seusia saya. Tapi ini kali saya sedang tidak ingin panjang lebar membincangkan soal usia di sini. Seperti iklan rokok Clas Mild beberapa tahun lalu, yang memiliki tagline: ini bukan soal usia, tapi ini masalah jiwa. Iya, tubuh boleh renta, tapi jiwa jangan rengsa.

Mengenai jiwa Oxa... Jika kebanyakan orang itu lurus vertikal, maka jiwa lelaki berperut buncit dan berkulit putih ini, boleh dibilang miring. Tapi jiwa dengan jenis ini cukup langka. Dan kalau bicara soal jalan hidup, orang-orang berjiwa seperti Oxa ini masih lebih lega menjalani hidup, ketimbang orang-orang yang memiliki jalan hidup vertikal. Bukankah yang 'vertikal' itu lebih sulit memanjat ketimbang yang 'miring'?

Itulah kenapa ia selalu ceria setiap hari. Sebab baginya, hidup itu sangat panjang. Maka penuhi dengan keceriaan biar jiwa tetap awet.

Baginya pula, dipan adalah dunianya. Ia juga tidak pernah mengurusi ranjang orang-orang 'vertikal' itu. Kecuali mereka mengusik dipannya. Mengusik altar percintaanya. Ia akan mendoakan para pengusik itu.

Kong bilang, "Kita ndak gaga', mar kita yakin kita sadap." :p