Wednesday, August 31, 2016

Pagi tak Berjudul

Di lantai ada manusia terkapar. Empat manusia. Wajah-wajah mereka berlainan nasib, tapi memilih menjadi sama untuk sesuatu yang disebut takdir. Mabuk itu takdir, bukan?

Di luar sana, sayup-kuyup azan dan lonceng merangkaki embun. Nama-nama Tuhan berlainan wajah disebut. Tapi itu Tuhan yang sama, bukan?

Di langit ada terang yang pelan mengulum gelap. Yang membeda siang dan malam. Tapi bukankah seharusnya tak ada itu siang dan malam? Bumi hanya sedang jalan-jalan, bukan?

Di pagi tak berjudul ini, ada huruf-huruf saling merangkul dan ulangan spasi. Kemudian larik terhenti pada titik. Pada tanda tanya. Pada nasib. Pada takdir, bukan?