Monday, September 26, 2016

Kelahiran

               

                     :untuk Amato

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Ia menyeret gulita pada keheningan yang merinding. Satu demi satu ketuk, mengutuk nasib dengan mantra-mantra hitam. Bersahut-sahutan sebab. Bersahut-sahutan muasal.

Gema suaranya mengusap dinding-dinding tua. Turun menjengkal lantai-lantai retak. Lalu seperti laron-laron yang rela terbunuh terang, puisi-puisi berguguran. Tak ada sayap-sayap patah di sana.

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Anak-anak cahaya mengitarinya. Sembari merapal waktu yang mengajaknya kembali ke tahun 1994. Sebuah kelahiran tanpa nama. Sebuah kelahiran tanpa doa.

Baginya apa yang lebih suci dari doa? Selain puisi yang melahirkan doa-doa itu sendiri. Bukan dari pusaran petuah-petuah langit. Bukan pula dari desah sujud yang ujub.

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Terlalu sulitkah sebuah kelahiran dipuisikan? Sedangkan kematian tak pernah mengusai. Seperti puisi yang terus merantai. Seperti puisi yang tak pernah ada kata selesai.

Terlalu mudahkah sebuah kematian dipuisikan? Sedangkan kelahiran yang memulai. Ia hanya berdecak dan bergumam. Sebab Passi menyeretnya kembali ke rahim.

Bersila seorang lelaki dengan janggut dua warna; perak pagi dan emas senja.

Angka-angka pada jarak diubahnya menjadi sepotong roti. Lambung diusapnya berkali-kali. Tak ada doa menyusul. Tak ada janggut yang bergetar.

Lalu pada altar ada setangkup buah dada kehidupan. Seliang gua garba mengerang dan bercahaya. Lelaki itu tetap bersila. Kemudian ia mendengungkan tangisan.


Passi, 26 September 2016