Wednesday, September 7, 2016

Pertemuan Bedew dan Onang

No comments
Ilustrasi by Putraholic.blogspot.com

Bedew baru saja dari pondok di belakang rumahnya. Mengenakan jersey putih andalannya, tentu saja jersey klub raksasa asal Spanyol, Real Madrid bertuliskan bwin, ia pelan melangkah menuju tanah lapang yang hijau membentang di depan rumahnya.

Sore itu, ada yang tampak berbeda. Di sudut tanah lapang, berkerumun orang-orang yang hampir semuanya ia kenal. Bedew penasaran. Ia menuju kerumunan itu.

Sesampainya di sana, pandangan Bedew memindai sekitar. Ia melihat Andol (Ardi) di teras rumah istri tercintanya Lara. Bedew berusaha mendekati Andol. Orang-orang yang ia lewati, tak sedikitpun merasa terusik. Mereka tetap sibuk bercakap-cakap dengan wajah sendu.

Bedew menembus kerumunan itu. Bahkan, ia sendiri sedang tidak sadar dengan hal itu. Yang ada dalam benaknya, segera menemui Andol, lalu bertanya. Andol kini berjarak sejengkal dengannya.

"Andol, ada kiapa ini?" bisik pelannya.

Namun Andol bergeming. Sekali lagi, Bedew bertanya dengan suara yang tak lagi berbisik.

"Woi! Ada kiapa ini?"

Tak ada respon. Bedew menyentuh pundak Andol. Telapak tangannya tak berasa apa-apa dan hanya menembus pundak kawannya itu. Ia kini sadar penuh, bahwa dunianya telah berbeda.

"Burein, salalu dapa lupa," gerutunya.

Ia kemudian melangkah masuk ke rumah Onang, yang ditebali raung tangis. Bedew terus melangkah masuk, menembus dinding, lalu menuju kamar di mana sumber tangis terdengar paling menyayat.

Di sana, Bedew melihat Endang (adik laki-laki Onang) dan Ida (kakak perempuan). Mata mereka seperti bendungan pecah. Ucil (adik laki-laki), Pei dan Mei (keponakan), juga begitu. Ayahnya Onang, bersandar di dinding kamar, berusaha tegar meski airmata menderas. Sedangkan Onang, terbaring dengan kain penutup sebatas hidung. Matanya cekung. Rambutnya yang kerap kali dipotong pendek, terlihat memanjang dan menyentuh cuping telinga.

"Bah!"

Suara dan hentakan di pundak, membikin kaget Bedew. Ia menengok ke belakang sampai-sampai kepalanya seakan terpuntir.

"Woi! Boneng! (Onang)"

"Ha-ha-ha. Baku dapa to torang dua?" kata Onang yang dari sorot matanya memancar girang.

"Hai, kiapa ngana? Tu hari ngana masih bajaga pa kita di rumah sakit Malalayang e," tanya Bedew heran.

"Sobagitu, sama deng ngana, dongka sababu in takit. Tetap samua mo kasitu. Eh, mo kasini," canda Onang yang kemudian disusul tawa renyahnya Bedew.

"Mar gode' ngana e," kata Bedew.

Onang memang terlihat berbeda dari kondisi jazadnya. Rambutnya juga dipotong pendek. Matanya berbinar. Bagian lengan kausnya digulung sampai ke bahu. Itu sudah kebiasaannya jauh-jauh hari sebelum ia memutuskan merajah tubuhnya dengan beberapa buah tato. Kaus merah berlengan pendek dipadupadankannya dengan celana putih selutut.

"Ah, ngana le gode', ndak sama deng tu dasaki tu hari," kata Onang coba menyelaraskan suasana.

Bedew meninju pelan perut Onang. "Pobure!"

Kedua kawan segendang-sepenarian ini akhirnya memutuskan, jenak keluar dari riuh-rendah tangisan.

"Manjo nongkrong di atas sana," telunjuk Bedew mengarah pada menara salah satu provider telepon genggam, yang terpancang kokoh tepat di belakang rumahnya.

"Hai, boleh so?" tanya Onang heran.

"Ngana lia jo pa kita, baru bapegang di tangan ne," kata Bedew.

Kemudian Bedew terbang menembus atap rumah, mengajak Onang menuju puncak menara. Onang masih terheran-heran. Saat terbang, ia sempat sekali menoleh ke arah rumahnya. Ratusan pelayat di sana.

Sampai di puncak menara, mereka berdua duduk sembari mengagumi pemandangan indah di sore hari yang memupus mata.

"Ngana so pernah nae sini?" tanya Bedew.

"Nanti skarang."

"Iyo, kita le waktu masih hidop ndak pernah nae sini. Dulu yang pernah cuma Bulog (Yunus), Atol (Sigidad), Riki, deng Darwa (Dani). Kong Om Uleng dapa marah kong dusu pa dorang," cerita Bedew.

"Ha-ha-ha. Oh, iyo, malam-malam itu, abis Magrib. Kita pernah dengar dari pa Bulog."

Usai tawa, Onang tiba-tiba terdiam. Matanya kosong. Arah pandangannya bukan pada tanah lapang yang luas membentang di bawah sana. Atau pada rumah-rumah, bukit-bukit, dan Kota Kotamobagu yang serupa remah-remah roti dari kejauhan. Ia memandang langit biru dan sekumpulan halimun diarak angin. Tapi tetap saja, matanya kosong.

"Woi! Paling bapikir masih suka hidop kang?" kata Bedew sambil menepuk pahanya Onang.

"Ngoooollllll!" Onang malah bersuara mirip kucing liar. Itu juga kebiasaannya. Gigi tongosnya menyembul. Gigi yang membuat kawan-kawan memanggilnya Boneng.

"Sebenarnya torang dua ini so sanang. Co ngana lia, so boleh terbang le," Bedew coba menghibur.

"Bukang itu kita mopikir. Selama ini, kalu bukang kita deng Endang, sapa yang mourus patape ade' deng keponakan?"

"So bagitu, sedang kita, kadang-kadang jaga tapikir kiapa torang musti mati muda bagini. Padahal masih banya yang torang bole bekeng pa keluarga," kata Bedew.

Berjam-jam mereka berdua menghabiskan waktu di atas menara. Lalu layung senja, menggoda dengan keindahannya.

"Hidop deng momati kurang sama jo kang? Mati ini, hidop kadua kali deng selamanya," kata Onang.

"Eh, bagimana ngana pe siksa kubur? Dari pe banyak tato bagini kita," tiba-tiba Onang penasaran. Sebab ia akan dimakamkan besok.

"Ah, nanti ngana rasa sandiri. Akhirnya kita sadar di situ, ini hidop ternyata berbuat baik saja. Cuma itu," kata Bedew.

Onang tersenyum. Bedew pun ikut tersenyum. Malam akan tiba. Di bawah sana, beberapa orang terlihat berjalan menuju masjid dengan sajadah terkulai di bahu mereka. Onang pun berpamitan kepada Bedew.

"So tau terbang sandiri to?" tanya Bedew.

"So boleh, kan, torang ini somati. Dari dulu kita suka skali jadi rupa burung. Akhirnya tercapai juga," kata Onang disusul tawa.

"Da' baya' don. Kita cuma moturung ka bawah situ. Nanti ulang baku dapa sini," kata Bedew.

Onang melompat dari puncak menara. Ia lebih dulu meliuk-liuk di udara, melambaikan tangannya, lalu menukik ke sudut tanah lapang di bawah sana. Menuju rumahnya yang, ternyata rumah bukanlah satu-satunya tempat untuk pulang.

No comments :

Post a Comment