Tuesday, December 6, 2016

Kembali...

                : untuk Kats (Uwin Mokodongan)

Telah ia pangkas cerita dari rambutnya yang memanjang. Kini kulit kepalanya selalu licin seperti lumba-lumba. Ada sisa-sisa pasir pantai, embun gunung, dan debu-debu bui di pelipisnya. Itu remah-remah kecil yang tercecer dari peristiwa-peristiwa besar.

Dahulu, tatkala jalanan berubah menjadi punggung ular, meliuk dan licin, ada seutas temali dari langit yang mengikat pundaknya. Menjaganya dari keterasingan akan gulita malam, yang hanya berhias bulan berbentuk taring babi. Kali itu, aku mendengar hela nafasnya selelah pendaki.

Bola bumi di genggamannya berkali-kali lepas. Menggelinding di hamparan langit berbintang gemintang, lalu kembali di antara petak-petak kolam, dan terselip di celah tiang-tiang rumah yang meninggi. Ada sepucuk surat pula di sana. Surat yang tak pernah terbaca oleh siapa pun, selain oleh pagi, petang, dan malam.

Di lengannya ada gelang-gelang yang mengebat, dan bukan datang dari masa lalu. Tapi dari masa yang menyeret langkahnya meliar di antara candi-candi purba, mata-mata biru, dan bayangan seorang perempuan yang di sakunya selalu ada foto ibu.

Ia selalu menyuruh perempuan itu menyimpan foto ibunya dalam laci. Bukan dalam saku. Namun foto itu serupa tato yang menubuh. Serupa kenangan akan rahim ibu. Kemudian mereka berdua sepakat untuk saling mengenang dulu.

Dari jarak yang tak pernah menua, dan dari waktu yang tak pernah memanjang, ia putuskan kembali ke lanskap desa yang selalu akrab dengannya sedari kanak-kanak. Gunung yang meninju langit, udara rimba, dan pagi yang berkabut. Dan tentu saja desa yang meringkas jarak dengan putrinya.

Seperti mengelus kepalanya yang gundul, ia sesekali mengelus buah kelapa yang tergantung mengering, tempat rambut bayinya direndam dalam sunyi. Lalu buah itu bergerak seperti bandul. Coba menemukan arah yang tepat untuk dipilih.

Akhirnya sepasang lengan membuatnya beranjak. Mengajaknya bertamu ke rumah-rumah beratap duka, suka, dan gelak tawa. Mengajaknya duduk berhadap-hadapan dengan para tetua. Mengajaknya menyesap buih-buih embun, dan cangkir kopi yang tak pernah ia sukai karena memupuk insomnianya, yang akhirnya ia cintai sebagai minuman para leluhur.

Di sanalah sebuah jalan memanjang dari masa lalu menuju masa depan. Satu jalan untuk kembali...