Monday, February 29, 2016

Secangkir Puisi

ada garis kenangan di tiap tetes
ada rindu yang kental menunggu
pada setiap cangkir kopi
yang buihnya adalah bait-bait puisi

hingga puisi-puisi usai
kopi masih jadi penawar mimpi
cerita dan ampas terus berjelaga
jadi satu pada warna-warna yang berbeda

satu gelas
dua gelas
kopi kerap berbatas

satu bait
dua bait
puisi terus berkait

secangkir kopi itu puisi
ada jeda yang rapat
ada yang tersisa pada aroma
ada yang kekal pada irama

Wednesday, February 24, 2016

Misteri Trailer AADC2

Cinta dan Rangga di AADC2 (sumber www.mampoo.com)
resah di dadamu
dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini
dipisah kata-kata
begitu pula rindu

lihat tanda tanya itu
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi

Rengsa suara Rangga tatkala membacai bait-bait puisi itu. Ada sebuah rindu yang ia pendam dan terus mengait di dadanya. Ada sebuah resah yang harus ia tebus. M Aan Mansyur, sukses merekatkan puisi itu dengan rahasia-rahasia yang berdiam jauh di dalam sepasang mata Rangga. Mata yang selalu siap memendam apa saja. Bahkan rindu yang telah beratus-ratus purnama.

7 Februari 2002, film Ada Apa Dengan Cinta 1 (AADC1) menggetarkan dada para pujangga. Puisi-puisi menjadi kalung mutiara di setiap helai surat cinta. Muda-mudi membacai Chairil Anwar, melafadzkan bait-bait Aku, dan coba menjadi semirip Rangga ataupun Cinta. Rako Prijanto jadi bintang baru di daftar para penyair. Film itu, menggali kembali masa-masa keemasan para penyair.

Dalam mini drama yang diproduksi Line 2014, setelah 12 tahun menanti, para penyanjung AADC seperti menemui cenayang, yang meramalkan seperti apa kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Di New York, Rangga digambarkan seperti seorang jurnalis mapan. Ia melintas dengan visual sedang mewawancara, mencatat, dan memotret. Tinggal di apartemen berkelas, ia terlihat segar dan kekar. Jauh dari sosoknya di AADC1.

Entah kenapa, Rangga yang individualis, sosok penyendiri, dan pendiam, tiba-tiba menjadi jurnalis, yang jelas saja sangat bertolak belakang dari sifat-sifatnya saat di AADC1. Sukar menemu seorang jurnalis yang pendiam, penyendiri, dan suka memandang sinis. Tapi bisa jadi, New York telah menempa Rangga menjadi seperti itu.

Adegan Cinta sendiri, tampak  sibuk dengan komputer di meja kerja, kertas-kertas bertumpukan, dan helai demi helai gambar bertebaran. Mengisyaratkan, ia seperti sedang menjadi redaktur di salah satu majalah ternama. Tapi, perannya sangat tampak, bahwa ia seorang perempuan yang terlalu fokus dengan karir. Meski memang pekerjaannya tak jauh beda saat mengurusi mading di sekolah. Teman-temannya pun tampak seperti wanita-wanita karir. Saat mereka reriungan, terlihat seperti ibu-ibu muda metropolitan yang sedang arisan. Mereka anggun dengan riasan tebal dan kening yang kekinian. Juga dengan kalung-kalung berjuntai mengkilat.

Sebagian penggemar ada yang lebih sepakat bahwa AADC2 nanti, harusnya seperti visualisasi di mini drama itu. Rangga harus keliatan mapan dengan penampilan rapi. Ada pula yang bilang, di trailer singkat AADC2 yang ditayangkan Miles Films di youtube, Rangga terlihat lusuh. Meskipun mini drama Line menjadi trigger, tapi saya pikir Riri Reza cukup tahu, seperti apa imajinasi para penyajung AADC.

Saya cenderung lebih suka melihat Rangga yang lusuh. Meski sebenarnya, saya yang seorang jurnalis, juga agak setuju ketika Rangga menjadi jurnalis. Tapi, kemisteriusan dalam trailer singkat itu, menggelitik tanya; apakah Rangga menjadi seorang penulis atau penyair? Dan bisa pula, Rangga memang tidak menjadi apa apa. Ia hanya seorang pengangguran lulusan salah satu universitas di Brooklyn, New York.

Pada Video Diary yang dirilis Miles Films pun, Rangga hanya tampak berjalan di antara salju yang tak disangka-sangka turun saat syuting. Sebuah anugerah kata Mira Lesmana. Salju yang menambah ruh dalam potongan demi potongan adegan. Butiran-butiran salju seakan merangkul kesendirian Rangga. Rambutnya yang menggulung, menangkapi satu per satu butir salju, membawanya pulang untuk dijadikan sebait puisi. Bukan kah puisi, kerap kali hadir pada sosok-sosok seperti Rangga?

Cinta pun saat syuting di Yogyakarta, dengan rambut panjang berponi, juga dengan gaya berjalan yang kerap bergegas, sangat membaui karakter Cinta saat masih di AADC1. Sekali lagi, Riri Reza cukup kenal dengan mereka berdua. Ia tahu apa yang diinginkan para penonton setia AADC. Trailer Miles Films dan Video Diary, meski misterius, tapi ada jejak-jejak yang lampau di sana.

Dan jika benar Rangga akan menjadi penulis, mungkin saja kepulangannya ke Indonesia, karena ingin riset untuk penulisan sebuah novel. Kalau pun jadi penyair, bisa juga ia hendak ke Yogyakarta, karena ingin bertemu teman-teman penyair, yang kebetulan berkenalan dengannya lewat jejaring sosial. Namun di balik itu, tetap saja alasan terbesarnya, Cinta.

Cinta, jangan-jangan menjadi jurnalis? Seperti ramalan Puthut EA. Saya pun setuju jika cinta yang jadi jurnalis, biar rasa bangga menjadi seorang jurnalis, lebih terasa. Setidaknya, passion kita sama Cinta.

Tapi, untuk AADC2 kali ini, mau jadi apapun Rangga sama Cinta, mengutip perkataan teman saya, asalkan Dian Sastro masih tetap ada. Dan itu adalah kerinduan terbesar, jauh melebihi rasa rindu Rangga di antara ratusan purnama yang telah ia lewati.

Semoga, KPI tidak menyensor adegan yang telah "membandarakan" hati para penyanjung AADC.

Monday, February 22, 2016

Catatan Terakhir dari Ekspedisi Gembira ke Batui

Kusali, tempat prosesi adat digelar
"Mari makan," ajak seorang ibu di salah satu pondok bambu yang saya lewati.

"Terima kasih, masih kenyang ibu," saya tersenyum, sembari melanjutkan memotret aktifitas di tempat yang mereka namai dapur umum.

Puluhan ibu itu, seperti hasil kloningan dari ibu saya sendiri. Mereka sangat ramah, penuh tawa, dan suka mengajak makan. Etos gotong royong yang mereka miliki cukup purba dan terus bertahan.

Di Kusali, tempat berlangsungnya ritual Monsawe yakni ritual puncak usai Tumpe (prosesi pengantaran telur Maleo), pondok-pondok melingkar-rangkul bangunan yang serupa masjid. Bangunan itu tempat digelarnya ritual. Ada sekitar belasan pondok yang dibangun dari papan kayu, namun bagi yang tidak mendapat bagian di pondok kayu, mereka mendirikan pondok-pondok bambu dan tenda.

Kawan saya, Christopel Paino, yang juga turut bersama dengan kami ke Batui pada awal tahun, menuliskan soal asal usul ritual itu, dengan sangat jelas di artikel ini. Saya tinggal menceritakan pengalaman ketika melihat jalannya ritual.

Setelah lelah berkeliling Kusali, saya rebah sejenak, di pondok keluarga kawan saya Rahmad Samadi. Ia warga Batui, yang menjadi karib saat reriungan di Kedai Kopi Maksoed. Ia pula yang mengajak kami melihat berlangsungnya prosesi adat yang digelar sekali dalam setahun ini.

Dan... kemudian saya pun terlelap.

Duuuunnnnggg. Duuuunnnngggg. Suara mendengung terdengar sayup-sayup. Riuh orang lalu-lalang pun berdengung serupa sekumpulan lebah. Saya sedang bermimpi. Sampai ketika mata saya terbuka, ternyata suara yang masuk ke alam bawah sadar saya, berasal dari dalam bangunan yang serupa masjid itu. Ini nyata.

"Sudah dimulai?" tanya saya kepada kakak perempuan Rahmad.

"Iya, baru dimulai," jawabnya.

Pondok yang ditempati keluarga kawan saya, Rahmad Samadi
Saya melirik jam di ponsel. Sudah pukul 11 malam. Saya bergegas menuju tempat ritual, yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 7 meter dari pondok. Saat masuk ke dalam, bunyi gong yang ditabuh, memenuhi seisi ruangan. Gemuruh dua kalimat syahadat selaras dengan ketukan-ketukan gong. Meski memakai jaket, dingin tetap merangkul.

Di ritual ini, kabarnya nanti ada beberapa orang dari berbagai usia, yang akan dibuai oleh roh leluhur, yang mereka sebut tontembang, bukan kemasukan yang lebih berkonotasi pada roh jahat. Saya menunggu dengan degup jantung yang ritmenya tak lagi beraturan. Sepuluh menit kemudian, dua orang nenek di samping sebuah altar, tubuhnya mulai bergetar. Dalam posisi bersila, keduanya seperti sedang dibuai. Tubuh mereka bergoncang mengikuti irama gong dan syahadat.

"Itu sudah tontembang?" tanya saya penasaran, pada seorang perempuan di samping saya.

"Iya, sudah."

"Apakah pernah ada anak-anak yang tontembang?"

"Iya, ada. Biasanya yang anak-anak hanya bermain."

"Terus, hanya orang asli Batui yang bisa tontembang?" saya jadi seperti seorang reporter, yang terus mengejar dengan pentanyaan-pertanyaan. Saya ingin memastikan, apakah pengunjung seperti saya, bisa juga kemasukan.

"Tidak juga, pernah ada pendatang," jawabnya.

Jawabannya itu, membikin saya merinding. Tapi karena gemuruh syahadat, rinding perlahan berubah menjadi haru. Nuansa islami sangat terasa. Satu per satu, dari yang muda hingga renta, mulai tertarik masuk ke dalam pusaran syahadat. Tubuh mereka satu per satu dirasuki roh-roh leluhur. Kain berwarna merah menutupi pundak, sebagai penanda bahwa lima pancaindra mereka telah dikendalikan roh. Beberapa orang ibu yang tontembang, sembari gemulai menari, berjalan keluar beriringan untuk mengambil air wudhu.

"Itu, yang keluar ambil wudhu, masih tontembang?"

"Iya, nanti mereka masuk kembali," jawabnya. Tak tergurat sedikit pun kesal di wajahnya, saat meladeni setiap pertanyaan-pertanyaan saya.

"Terus, bagaimana jika yang masuk nanti roh jahat?"

"Ada yang bisa mengusir, nanti ditanyai, kalau memang bukan roh leluhur, pasti diusir," jelasnya. Ia melanjutkan beberapa bagian yang lupa saya tanyai. Saya mengangguk mendengar penjelasannya.

Tiba-tiba.... Di seberang, tempat para kaum laki-laki berjejer, ada seseorang yang dengan posisi bersila lantas tubuhnya terangkat ke udara. Seperti sebuah loncatan. Semua orang kaget. Meski hanya sekitar 5 detik di udara, dengan tinggi loncatan 1 meter, saya coba menalar, bagaimana bisa orang dalam posisi bersila, bisa meloncat setinggi itu?

Sebagian orang mulai dirasuki roh leluhur. Kain merah sebagai tanda bahwa orang-orang ini sudah dirasuki
Lewat tengah malam, semakin banyak yang tontembang. Dari ratusan orang, sudah berkisar 40an orang telah dibuai roh leluhur. Yang unik, roh leluhur menguasai tubuh tidak harus sesuai gender. Ada roh leluhur perempuan, yang masuk ke dalam tubuh laki-laki. Ada pula sebaliknya, roh leluhur laki-laki, yang masuk ke perempuan. Seorang perempuan, tampak memakai kopiah, merokok, dan duduk bersila dengan tegap layaknya laki-laki. Perangainya berubah total menjadi laki-laki.

Pukul 4 pagi, kantuk kembali menyergap. Saya memilih kembali ke pondok. Dari dalam pondok, hampir setiap saat, saya melihat oranng-orang tampak berlari mengerumuni tempat ritual. Mereka yang hanya di luar bergelantungan di jendela. Kemudian terdengar kabar dari yang sempat menyaksikan, bahwa ada seekor burung Maleo yang terbang masuk ke dalam. Padahal di sekitar situ, tidak bisa ditemui lagi burung-burung Maleo. Bahkan untuk keperluan ritual, telur Maleo terpaksa harus dibeli dari wilayah lain. Perusahaan gas bumi dan sawit yang melingkari wilayah Batui, membuat burung-burung Maleo itu takut, sebab habitatnya dirusak.

Lantunan syahadat, tabuhan gong dan gendang, membikin mata saya cepat meredup. Pukul 7 pagi, mata saya menyala terang. Saya kembali masuk ke dalam tempat ritual. Lebih ramai saat subuh. Semakin bertambah banyak orang yang mengenakan kain merah. Mereka berdiri berpasang-pasangan menari-nari. Saya hanya tidak habis pikir, sebab beberapa di antaranya usianya sudah renta. Tapi mereka bertahan menari. Ada yang tubuhnya terus bergetar karena tontembang hingga berjam-jam. Bayangkan saja, dari semalam mereka tanpa henti melafadzkan syahadat dan menari hingga pagi hari.

Sampai pagi, ritual masih berlangsung
Dan, kawan saya, Rahmad, yang sedari malam ikut dalam pusaran ritual, tubuhnya tiba-tiba bergetar. Saya segera merogoh ponsel di kantong. Saya coba merekam momen itu. Ia tiba-tiba masuk ke dalam arena ritual, yang berada di tengah-tengah. Setiap yang tontembang, pasti akan menuju atau dibimbing ke tengah arena. Hamparan karpet merah dibuat kusut oleh liuk tubuhnya. Gesturnya seperti orang bersilat, kemudian berganti menyerupai seorang panglima, sembari kedua tangannya terbentang — mengisyaratkan ajakan — agar lafadz syahadat dikeraskan.

Tak lama, tubuhnya lunglai bersujud. Ia dituntun untuk keluar arena. Ia lantas memilih keluar dari tempat ritual. Saya yang saat itu, sudah kembali menuju pondok, diajaknya untuk menjauh dari tempat ritual.

"Ayo, ikut saya,"

"Mau kemana?"

"Agak sedikit menjauh dari sini. Jika mendengar lantunan syahadat itu, saya seperti ditarik kembali ke alam lain," ceritanya, sembari terus melangkah menuju sebuah pondok berlantai dua, di dekat gerbang masuk Kusali.

Di belakang pondok, ia terus mengusap wajahnya yang masih pucat pasi. Dua orang laki-laki turut serta bersama kami saat itu. Salah satunya, ternyata adalah kerabat dekat Rahmad.

"Bagaimana perasaanmu tadi? tanyaku.

"Aduh, saya tidak tahu lagi. Saya tidak dalam keadaan sadar," ia coba mengingat.

Melihat raut wajahnya, saya coba mengalihkan pembicaraan. Saya bertanya kepada kerabatnya itu, apakah di wilayah sekitar Kusali ini, sudah ada perkebunan sawit. Saya mendapati jawaban yang membuat selengkung senyuman di wajah saya.

"Jaraknya tidak jauh dari sini, tapi saya sudah memagari batasnya. Saya mengingatkan kepada mereka, kalau sampai lewat batas tanah adat ini, maka nyawa saya jadi taruhan!"

Bangga saya dibuatnya. Di tengah gempuran perusahaan, masih ada semangat-semangat melawan seperti ini, meski yang lainnya lebih memilih jatuh dalam pelukan korporasi. Nasib ritual ini ada di tangan orang-orang seperti mereka.

Rahmad memilih kembali ke pondok, setelah ritual selesai, pukul 9 pagi. Saat melangkah menuju pondok, lantunan kidung Tumpe terdengar menyayat.

"Itu yang menyanyi laki-laki, tapi roh perempuan yang masuk," jelasnya.

Saya berlari menuju pengeras suara, untuk merekam kidung itu. Nyanyian yang melurut hati saya. Bait-bait sabda dari alam yang transendental, bahwa kebersamaan harus dijaga, sebab prosesi adat ini hanya digelar sekali dalam setahun. Maka tradisi Tumpe diharapkan menjadi momen untuk tetap menjaga sikap gotong-royong, saling membantu, dan tetap mempererat persaudaraan. Sebuah pesan moral yang datang menembus jauh dari kegaiban.

Jalan menuju Kusali, tempat ritual berlangsung. Ini foto saat kami kembali usai prosesi adat
Batui, tahun depan kami akan berkunjung lagi. Rindu akan semangat kalian, rasa persaudaraan yang erat, dan tentu saja; masakan-masakan yang enak dari ibu-ibu yang dengan lapang dada kerap kali menawari kami makan. Energi dari makanan itu, yang menebalkan dan menjaga semangat kami, juga kalian, untuk tetap MELAWAN!

Monday, February 15, 2016

Kotamobagu, Sebuah Kerinduan akan yang Lampau

sumber foto: beritatotabuan.com

Kotamobagu, adalah kota kecil yang selalu saya rindukan. Pusat keramaian yang hanya berada di satu titik, dengan jalan kaki saja, kita bisa menikmati seisi kota. Dimulai dari berjalan kaki mengitari Lapangan Hotinimbang yang dirangkul pepohonan rindang, yang suasana asrinya membikin damai di hati. Lapangan ini, dulunya begitu ramai di malam hari.

Pada suatu ketika, di bawah tahun 2010, hampir di setiap tepi lapangan, berjejer komunitas mobil, motor, sampai bentor. Lagu-lagu hip-hop, punk, dan lagu-lagu melow disetel riuh-rendah, pada masing-masing pemutar musik di tiap kendaraan.

Jika malam Minggu tiba, kita akan banyak menemu orang-orang berkaos merah. Entah kenapa, dulu sempat tren, jika malam Minggu, kostum resminya adalah berwarna merah. Keren, sebab saya pun jatuh cinta dengan warna ini. Bukan karena warna ini dijadikan dasar bendera Partai Komunis Indonesia (PKI). Tapi karena warna ini, adalah simbol perjuangan dan pengorbanan. Darah.

Di lapangan kota, meski di kala itu, miras merajalela seperti tak mengindahkan wanti-wanti si Raja Dangdut, Rhoma Irama. Tapi kita tak bakal menemui botol-botol berserakan di sekitar lapangan. Sebab ada beberapa bocah yang kerap keliling memunguti botol-botol untuk dijual. Lumayan kata mereka, untuk jajan di sekolah.

Beberapa kali pula bentor-bentor taruhan, siapa yang paling jawara menggetarkan musik hingga ke ulu hati. Bentor dari Eropassi, pernah menjadi juara bertahan dan tak terkalahkan saat kontes. Nama jokinya, Buyung Ismu. Selain jadi ajang promosi, para pengendara bentor pun ingin melepas penat, dari seharian berjemur dan berkeringat di jalanan.

Tak jauh dari lapangan, ada pula Taman Kota. Jika ingin cari makan, sila ke taman. Gerobak-gerobak jajanan mengelilingi taman itu. Sila pilih, ada nasi goreng, bakso, mie ayam, gorengan, kacang rebus, jagung bakar, pokoknya komplit. Beberapa kali pula acara-acara musik digelar. Lampu-lampu taman kota juga kala itu masih terang benderang. Bahkan jika koin jatuh pun, dengan lekas bisa ditemukan.

Sesekali, pengamen-pengamen yang terdiri dari komunitas anak punk, seliweran sana-sini. Lirik-lirik lagu Marjinal, tegas terlafadz dari mulut-mulut mereka yang ditindik. Bukan hanya ngamen, jika ada bencana alam, bahkan sedahsyat gempa Jogja 26 Mei 2006 silam, mereka mengumpulkan dana untuk disumbangkan. Uang dari hasil garukan senar gitar dan lantang suara.

Tak jauh dari taman, ada pula simpang empat yang dinamai Bundaran Paris. Penamaan itu melekat begitu saja, sebab supermarket Paris, tepat berada di ketiak simpang. Kotamobagu tampak lebih kota jika kita sedang berada di Bundaran Paris. Anak-anak punk pun menjadikan scan di sekitar bundaran, sebelum akhirnya menerima nasib yang sama. Digeruduk.

Seiring tahun tergelincir dari kalender ke kalender, Kotamobagu jadi kota geger. Di lapangan kota, tak ada lagi kerumunan orang-orang berkaos merah. Pun mobil-mobil, motor, dan bentor. Orang-orang jadi takut dengan tempat-tempat umum semacam itu. Geger razia di sana sini, dari hotel, kos-kosan, dan semua titik-titik keramaian. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu, di genggaman Walikota Tatong Bara, menancapkan visi misi Kota Model Jasa. Namun dengan sendirinya, visi misi itu terbunuhi oleh tindak-tanduk pemerintah itu sendiri.

Di Polres Bolmong, ada tim yang mendaku bernama Maleo. Keliling-keliling kota dan menjadi "hantu" bagi muda-mudi di jalanan. Bahkan di ruang seprivasi kamar kos pun digeruduk. Urusan seksual seseorang pun dijadikan santapan media, dikunyah, lalu dimuntahkan ke para pembaca. Kemudian menyusul tim Kura-kura Ninja, yang terdiri dari para baret cokelat. Tim Satpol PP Pemkot yang dikepalai Sahaya Mokoginta ini, menambah daftar "hantu-hantu" di Kotamobagu. Menyusul lagi, tim lain yang digagas pula oleh Sahaya, bernama Power Rangers. Sangat miskin ide tapi kaya lelucon dan kekonyolan.

Hotel-hotel kelas melati, kos-kosan, kini harus lebih waspada. Karena jelas saja hotel sekelas Sutan Raja, yang dengan megah memancang di antara persawahan, tidak nangkring di daftar target. Orang-orang pun akan lebih memilih menginap di hotel semacam itu, ketimbang digedor saat tengah berasyik-masyuk di hotel bercat buram. Kos-kosan tempat para pekerja dan pelajar melepas lelah, tak luput dari razia. Mereka yang beralasan, karena miras di tempat umum dilarang, lalu memilih mengurung dan meriuh di kamar kos, terpaksa harus pasrah diinterogasi. Bahkan yang hanya bermaksud berkasih-sayang dengan pacar, wajib cemas dengan degup jantung, na' limbukon inalowan katopol.

Maka, apalagi yang bisa dirindukan dari Kotamobagu, yang tingkat kegegerannya melebihi Gotham? Kota yang berisi segala macam superhumor dan "teror"!

Kini yang hanya bisa ditemui di Kotamobagu, lapangan kota yang sepi. Rumah-rumah kopi serupa jamur, tempat para generasi merunduk kopdar. Taman kota yang gelap-gulita lalu kerap kali menjadi ring kelahi. Tak ada lagi sekumpulan anak-anak mohawk yang ngamen di jalanan. Yang ada hanya sebuah kerinduan. Kerinduan akan yang lampau. Kotamobagu yang bebas dan merdeka.

Monday, February 8, 2016

Inalillahi, Kucing

Menggali ingatan itu sulit. Tapi mengira-ngira mungkin bisa mempermudah. Kucing betina yang tak pernah kunamai itu, sekitar 5 tahun lalu mulai memilih menetap di rumah. Entah apa alasannya. Kucing itu milik tetangga. Di wilayah saya, kucing masih berkembang biak sewajarnya. Bahkan banyak ditemui anak-anak kucing di tanah lapang, saluran air, atau di dalam karung. Untuk itulah, ketika kucing itu memilih menetap di rumahku, tetangga tidak begitu mempermasalahkannya. Hal seperti itu sudah lumrah.

Setiap beberapa tahun, kucing kerap berganti corak, rupa, dan kelamin, di rumahku. Mereka datang begitu saja. Meski ada beberapa di antaranya yang kupunguti di jalanan. Kebanyakan betina, yang suka mengundang kucing-kucing liar, jantan, dan perayu ulung, tuk datang bertandang. Kucing tatkala bercinta, memang cukup ricuh. Hanya berselang beberapa pekan kucing di rumahku melahirkan, rumah bakal kembali ramai lagi di tengah malam. Rayuan-rayuan gombal mengeong, terdengar hampir setiap malam. Lalu tak lama lagi, perut buncit.

Sekembali ke rumah 5 hari lalu, aku mendapati kucing di rumah tubuhnya kurus. Bulu-bulunya banyak yang rontok. Mungkin karena sudah renta, pikirku. Aku pernah sekali membelainya, lalu membersihkan kotoran di matanya. Ia masih seperti biasanya. Di mana tempat aku duduk, makan atau tidur, pasti ia datang menghampiri. Bukan itu saja, jika aku kembali ke rumah, kata ibuku, kucing itu bakal lari menuju pintu. Hal yang sama kerap dilakoni kucing-kucing sebelumnya.

Dan entah seperti tongkat estafet. Seekor anak kucing yang coraknya mirip dengan kucingku, datang begitu saja di rumah. Warnanya didominasi abu-abu. Hanya beberapa garis putih dan kuning tergores di tubuhnya. Aku pikir, anak kucing itu, mungkin saja satu-satunya anaknya yang tersisa. Tapi sebelumnya kucing itu tidak ada. Aku pernah memberi makan dua kucing itu. Kucing rentaku membiarkan jatahnya diambil si anak kucing.

Kemudian, kabar itu datang dari ucap ibuku, di pagi ketika aku sedang sarapan.

"Kucingmu sudah mati."

Aku kaget sebab semalam masih sempat memberi jatah ikan kepadanya.

"Di mana?"

"Ia mati tepat di samping jendela kamarmu. Sudah ibu kubur tadi."

Usai makan, aku menuju jendela kamar yang masih tertutup. Pukul 7 pagi. Aku membuka jendela itu lebar-lebar. Pandanganku hanya menemui gundukan tanah.

"Ibu menguburnya di sini?"

"Iya!"

Aku tersenyum namun sedih ketika melihat gundukan tanah baru. Letak kucing itu mati dan jarak ibu memakamkannya hanya semeter. Tepat di bawah jendela.

Aku rebah sejenak, kemudian memutuskan menulis catatan ini. Sampai akhirnya aku ingat. Sesudah aku tiba di rumah, 5 hari yang lalu, aku sempat memotret kucingku.

Tanggal 6 Februari kemarin, aku sempat pula membuat status di BBM. Status yang kunukil dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Tepat di hari kelahiran sastrawan ini.
"Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan. Meski itu hanya seekor kucing (yang 'kucing' sebagai pengganti hewan 'kuda' pada nukilan sebenarnya di novel Bumi Manusia)."

Aku tersenyum, sebab Tuhan masih memberi pertanda itu padaku. Semoga damai di sana kucing tak bernama.

Friday, February 5, 2016

Tak Ada Lagi

Nyaris tak ada, di segala sudut rumah ini yang tak mengingatkanku pada ayah; remote Tv yang lama terdiam di atas meja, asbak kosong, juga sendal yang terparkir tanpa derak langkah terseret. Nyaris tak ada. Di kamar, di bawah bantal coba kupastikan bungkusan rokok dan pemantik api di sana. Tak ada lagi. Kamar mandi tepat di samping kamar ayah, gerung dan seru pun hilang, bersama batuk ayah.

Tv coba kunyalakan, lalu menyetel siaran sinetron yang dengan terpaksa ayah gemari. Itu pilihan saat siaran sepak bola atau tinju sedang tak tayang. Tadinya, sinetron ini seru per episodenya, sebab selalu ada yang menunggu. Namun kali ini tak ada lagi teriak minta siaran diganti saat jeda iklan usai, karena ternyata remote dirampok cucu.

Tatkala hujan deras tiba-tiba mengguyur, tak ada lagi wajah cemas setiap kali menatap plafon dapur. Satu tetesan air selalu membuatnya gusar. Kursi pun ditariknya lalu dengan seketika plafon dilepas menganga. Deretan pipa dicopot lalu dipasang lagi. Cemasnya akan hilang jika tak ada lagi tetesan air hujan. Sisa genang air di lantai dengan segera ibu mengepelnya. Ayah pun tersenyum lalu kembali bersandar di sofa. Tetes hujan telah reda bersama gelisah.

Cangkir kopi kosong. Pun tak ada lagi asap membumbung. Kudapan apa lagi yang ingin ibu sajikan di meja? Kali ini ibu memilih menyapu pekarangan, setelah seisi rumah telah bersih dari debu dan kenangan.

Kemarin ibu tertunduk lama. Ia menemukan koleksi kacamata hitam milik ayah. Dan beberapa arloji antik yang seakan memutar kembali waktu. Ibu tersedu tapi ada senyum terselip di raut rentanya.

Pernah sehari, aku mengurung diri dalam rumah. Memerhatikan secara detail apa yang berubah. Hanya hening. Pinta dan suruh dari ibu pun luruh. Tak ada lagi kalimat; "Kalau ke kamar mandi jangan pergi sendiri." Meski jarak antara kasur dan kamar mandi hanya dua meter, ibu akan selalu cemas, sebab telah berkali-kali menemukan ayah terkapar di ubin dingin.

Ah, tak ada lagi suara berderak di pintu kamarku. Yang sesekali ayah coba melirik memastikan, apakah jendela-jendela kamarku terkunci rapat. Kini, biar pintu kenangan kubuka lebar-lebar. Agar rindu ini tak tertutup rapat.

Tuesday, February 2, 2016

Januari

sumber gambar ramalanku.weebly.com

Januari dalam jemari
menghitung setiap sihir yang tak pernah ada
nujum hanyalah perkataan leluhur
yang jauh-jauh hari telah dimakamkan oleh kata-kata
namun percaya adalah satu-satunya kesucian manusia

hari meloncat-loncat girang menuju sepekan
lalu bulan menggelinding menemu tahun
berganti-ganti pula rupa dalam cerita beribu
tapi Januari selalu istimewa
sebab ada awal yang terkutuk berkali-kali
terkutuk untuk harus percaya

kata orang tua dan orangtua
siklus manusia seperti Januari
menjadi mula yang bakal dituju lagi
mengulang tanpa disadari sebab hari terlalu girang
digaduhi mimpi-mimpi yang dijampi-jampi

kemudian datang lagi
sekali
dua kali
tiga kali
hingga usia terkali-kali
jemari kita terlipat-lipat keriput
terlalu banyak menghitung

Januari tak menunggu
tapi manusialah yang mencari
meski ia tak pernah sembunyi

Januari selalu istimewa
ia selalu tersenyum di awal hari
meski itu bukan senyum bidadari


*Catatan: Puisi ini kutulis di malam tahun baru. Rencana diposting 1
Januari. Tapi karena tahun baru mabuk, eh, kelupaan. Apes!