Wednesday, April 27, 2016

Percakapan Sigi

"Aku bukan ayah. Aku adalah semesta."

Begitu seorang ayah coba membujuk putri semata wayangnya, yang tengah merajuk. Dibelainya pundak putrinya yang ia panggil dengan sangat pelan... Sigi.

Namun baru saja ujung jemari hendak menyentuh, Sigi menghindarinya. 

"Kau tahu, Sigi. Ayah adalah semesta. Silakan kau membenci sedahsyat mungkin. Ayah akan tetap ada. Entah itu di langit atau di bumi. Sekali lagi, ayah adalah semesta."

Sigi menoleh. Rambutnya yang bergulung-gulung bergetar. Ia memandang wajah ayahnya itu. Penuh amarah. Bola matanya hitam namun begitu benderang.

"Aku tidak peduli dengan semesta. Aku hanya ingin ayah."

Langit kembali segelap lelap. Tak ada apa-apa. Bintang-gemintang menyelam kembali ke dasar langit.

"Ayah tahu... Kau marah. Tapi untuk apa marah? Bahkan kau sendiri belum cukup dewasa untuk mengerti."

Wajah Sigi yang jenak pergi itu kembali. Ia kali ini hanya mengintip dari sela bulu-bulu matanya yang lentik. Masih dengan tatapan yang sama.

"Bukankah, kata ayah, aku jangan pernah dewasa?"

Setiap hari ulang tahun Sigi, memang kalimat itu yang kerap terucap dari mulut ayahnya: jangan pernah dewasa.

"Bukankah, kata ayah, aku harus tetap menjadi bocah agar bisa terus bertanya-tanya lalu memahami?"

Ayahnya terdiam. Sigi bersiap dengan tanya yang ketiga. Tanya yang terakhir.

"Bukankah, kata ayah, menjadi dewasa itu membosankan?"

Bidang hitam sejauh mata memandang masih terhampar. Ayahnya coba menyusuri itu lalu perlahan mendekati Sigi lagi. Kali itu Sigi tak bergeming.

"Kau benar, Sigi. Tiga pertanyaanmu itu, adalah apa yang selama ini ayah ajarkan. Kau belajar dengan sangat baik."

Sigi menggerak-gerakkan kedua pipinya secara bergantian. Kiri menggembung. Kanan mengempis. Liang di kedua pipinya pun saling bergantian tergali.

"Ayah hanya ingin mengelak. Sekarang, apa yang belum aku pahami?"

Dari dalam sorot mata ayahnya tiba-tiba merangkak seekor bintang. Mengerlap-kerlip lalu terbang. Seluruh bintang dari dasar langit ikut menyembul. Langit seketika bukan bidang hitam lagi. Sangat ramai.

"Kau tahu, Sigi. Kau sebenarnya telah memahami."

Ah, jangan terlalu serius, mari dengarkan ini, Sigi...

28 April, penulis novel To Kill Mockingbird, Harper Lee, lahir. Juga penyair Chairil Anwar, berpulang. Di tahun-tahun yang berbeda tentunya, namun di tanggal dan bulan yang sama dengan hari lahirmu. 28 April, juga pertemuan Rangga dan Cinta, setelah 14 tahun lamanya terpisah. Iya, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) dirilis di tanggal lahirmu yang memang istimewa.

Sigi, ini tulisan keempat setiap tahunnya. Untuk tahun pertama ayah luput. Tentu saja tahun berikutnya, ayah tidak akan pernah lupa menulis untukmu. Sebab ruh dalam setiap tulisan ayah, adalah Sigi.

Oh, ya... Di tahun ini, kenapa ibumu jarang sekali mengunggah foto-foto terbarumu di media sosial? Juga video-video kenakalanmu. Mungkin kini, jempol ibumu sedang lelah, sebab katanya ibumu sedang mengandung adikmu. Wah, Sigi bakal punya adik. Meski dari ayah yang berbeda, curahkan kasih kakak dan sayang seorang saudara kepada adikmu. Sebesar-besarnya.

Sekarang, kau sudah tahu menghitung? Sudah tahu membaca?

Ah, lupakan itu semua. Bermainlah sesuka hatimu. Susupi setiap kolong meja, kursi, lalu menyelinaplah ke dalam lemari. Atau coreti tembok-tembok dengan lipstik ibumu. Buatlah negerimu sendiri. Sebab bala tentara Endonesa tak berhak melarang laku bocah sepertimu. Bahkan ketika kamu dengan tidak sengaja memurali tembok dengan simbol palu-arit. Mereka memang tak berhak melarang sebab sejarah telah retak. 

Kau tahu, Sigi. Jika kau sudah bisa membaca, bacalah buku sejarah tempat lahirmu, sejarah negaramu, juga sejarah dunia. Kau tentu bisa. Bahkan, segala semesta tak sebanding dengan akalmu. Akal mampu menyimpan apa saja. Begitu kata Imam Ali.

Belajarlah tajamkan pendengaranmu. Agar bisikan angin bisa kau dengar. Buka matamu yang indah itu besar-besar, agar kau bisa melihat keragaman mahluk hidup di muka bumi. Sayangi mereka seperti kau menyayangi adikmu. Kata Pramoedya Ananta Toer yang juga berpulang 30 April itu: berterimakasihlah kepada segala yang memberi kehidupan, meski itu hanya seekor kuda.

Iya, Sigi. Kasihi pula binatang, sebab dengan mengasihi semua mahluk, kau akan belajar untuk tidak sombong menjadi manusia. Dewi Lestari pernah berpesan seperti itu pula di Supernova: Partikel.

Sila cerewet dengan mulutmu. Tapi hendaklah kau pikir dulu apa yang ingin kau katakan. Sukar meralat sepatah kata yang telah terucap, tinimbang ratusan kalimat yang masih dalam pikiran. Sekali lagi, ayah pernah membaca pesan Imam Ali itu. Kau tentu akan mengenal Imam Ali. Iya, Ali bin Thalib.

Kau sudah memberi nama boneka-bonekamu?

Jika belum, berilah mereka nama. Meski tak bernyawa, mereka bisa mendengarkan suara hatimu, ketika tak seorang pun yang mampu mendengar. Meski cara boneka-boneka itu mendengar tentu berbeda dengan manusia. Mereka memberi tanda, bahwa mereka bisa mendengarmu, dengan cara mereka diam.

Sigi, sewaktu ayah pulang kali ini, nenekmu bercerita. Kau pernah ke rumah nenek untuk memanen buah di kebun belakang. Baru beberapa pekan yang lalu. Itu memang sudah jadi kebiasaanmu. Setiap musim buah, maka itu menjadi musim kedatanganmu di rumah nenek.

Kau memang jarang sekali ke rumah. Beruntung ada buah-buahan. Kakekmu yang terbaring di kebun belakang yang menanamnya. Mungkin kakek membaca tanda-tanda itu. Cucu-cucu akan berkumpul di rumah jika sedang musim buah-buahan.

Eh, sudah seberapa tinggimu? Kau sudah bisa bercermin di meja rias ibumu? Sesekali, saat bercermin, kagumilah rambut keritingmu sedari kecil. Tak usah hiraukan iklan-iklan sampo di TV nanti, bahwa wanita cantik itu rambutnya lurus. Pikiranmu saja yang diluruskan.

Sigi, jika kau sebuah perumpamaan, maka kau adalah sebuah rumah. Tempat di mana ingin untuk pulang kerap mengulang. Namun sebuah rumah pun bisa kehilangan kunci. Ayah kehilangan kunci itu, lalu dibiarkan tetap asing di luar rumah sembari berharap pintu itu terbuka.

Rumah tak selalu seperti dalam pikiran kita. Rumah bisa berubah menjadi sebuah kecemasan seketika. Seperti yang sedang ayah rasakan sekarang. Ayah masih tetap asing di matamu. Ayah belum menemukan kunci itu. Sigi, bisa membantu ayah menemukannya?

Hingga hari ini, kita berdua belum terlalu akrab. Kau tahu, Sigi. Meski begitu, ayah tetap menulis di blog ini setiap saat. Agar semakin banyak yang bisa kau baca nanti. Anggap saja ayah sedang mendongeng untukmu. Sebab ayah memang sedang membayangkan itu ketika sedang menulis.

Mungkin sampai kau mampu memahami nanti, sudah akan ada ribuan catatan di sini. Semuanya ayah tulis; tentang pekerjaan ayah, ketika kakek sakit, saat kakek berpulang, nenek sedang menyapu, puisi, cerpen, dongeng, bahkan kisah tentang tikus terperangkap dan kucing mati pun ada di sini. Semoga kau tak bosan membaca.

Jika kau tumbuh besar kelak, mungkin zamanmu akan sangat berbeda dari sekarang. Mobil-mobil sudah berterbangan, kalian berkomunikasi secara hologram, robot-robot suruhan seliweran, dan pelbagai kecanggihan lainnya. 

Manusia akan semakin malas untuk beraktivitas. Sama seperti di film animasi Wall-E. Di zamanmu yang serba canggih, kau harus men-download dan menonton film itu. Nonton film lawas itu asyik. Kau bisa dibawa terlempar jauh ke yang purba. Kau bisa mengerti asal dan mengenal itu sesal.

Maka ketika masa-masa itu tiba, tetap rajinlah membaca. Semoga blog ini pun awet seiring waktu. Jika minatmu untuk menulis muncul kelak, maka mulailah menulis. Berimajinasilah sebanyak-banyaknya. Peradaban dimulai dari imajinasi.

Selamat hari ulang tahun, Sigi. Sudah yang kelima? Ups! Kau tumbuh begitu cepat!

Jangan pernah dewasa...
Sistha Ghasyafani (Sigi)

Friday, April 22, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (6)


... "Apa?" (Baca sebelumnya: Bagian 5)

"Sigid."

Jeritan Lina mengagetkan seisi mikrolet. Cubitan Gladys tepat mendarat di pipi tembemnya. Kemudian, mikrolet itu disesaki nama Sigid. Sepanjang perjalanan.

***

Pertama kali memberitakan soal kasus korupsi yang, ternyata melibatkan beberapa pejabat penting di Kotamobagu, termasuk pamannya Indra. Media online kami dibanjiri ribuan pembaca. Sedangkan pertemanan di antara kami dan Indra, kini semakin kemarau. Retakan pertama, Indra menghapus aku, Umar, dan Deni dari pertemanan di semua media sosial.

Umar juga telah meniadakan nama paman Indra dari daftar donatur. Atau lebih tepat, nama samaran pamannya. Mereka memang terkecoh, sebab Indra berbohong bahwa donatur itu adalah kerabatnya di Bali. Jika saja Indra jujur bahwa pamannya yang menjadi donatur selama ini, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak. Hanya saja, jabatan pamannya itu memang cukup rentan. Apalagi beberapa orang teman pamannya, pernah terjerat kasus korupsi. Umar sendiri pernah mengutarakan kecurigaannya kepadaku. Bahwa paman Indra berada dalam lingkaran itu. Pada akhirnya, lingkaran itu mencipta liang yang cukup besar pada persahabatan kami.

Lamunanku buyar karena ponsel yang bergetar. Deni menelepon.

"Di mana?" tanya Deni.

"Kos. Kenapa?"

"Aku ke situ!" Deni menyudahi panggilan.

Aku penasaran, sebab belum mendapati penjelasan apa maksud Deni. Aku menyalakan laptop. Nyala layar membuat mataku memicing. Sedari pagi, tirai jendela kubiarkan tertutup. Dan ini sudah pukul 11 siang.

Hanya sela beberapa menit, pintu digedor. Aku bergegas membuka pintu.

"Gladys!" aku salah menduga.

"Maaf, aku terlalu keras mengetuk pintu," kata Gladys disusul senyuman.

"Tidak apa-apa. Kapan kembali?"

"Baru dua jam yang lalu."

"Masuk. Maaf  berantakan."

Aku segera menyibak tirai lalu membuka jendela. Buku-buku yang berserakan di atas kasur kurapikan. Gladys mengelilingi seisi kamar dengan pandangan. Dia tampak memindai poster-poster yang menempel tak beraturan di tiga sisi dinding. Ada enam poster yang terbagi di tiap sisi dinding berbeda. Dicetak besar seukuran kulkas dua pintu.

Poster hitam-putih penyair Chairil Anwar, tepat berada di atas TV dengan posisi miring. Di sekelilingnya lembaran kertas buku menempel, juga tak beraturan. Gladys mendekat. Bait-bait puisi tampak tertera di tiap lembaran. Dengan tulisan tangan.

"Ini puisi-puisimu?" tanya Gladys.

"Ah, cuma coretan-coretan. Sebagian puisi-puisi Chairil."

Aku kembali sibuk merapikan kamar. Empat kaleng bir di lantai, segera meluncur ke keranjang sampah. Tentu saja, kaleng-kaleng itu kosong. Siapa yang tega menyisakan bir, yang bahkan buihnya mampu mendidihkan imajinasi.

Pandangan Gladys kembali merangkaki dinding. Poster kedua dicetak berwarna. Senyuman Mohammad Hatta mengukir di wajah teduhnya. Lembaran kertas di sekeliling poster, berisi kutipan-kutipan. Masih dengan tulisan tangan. Poster ketiga, karikatur hitam-putih Gus Dur. Tawa yang khas. Lembaran kertas yang sama berisi kutipan-kutipan mengelilingnya.

"Mau minum apa?" tanyaku.

"Ada bir?"

"Bir dingin?"

"Ah, aku bercanda. Ini masih terlalu siang untuk sekaleng bir. Kopi saja," kata Gladys.

"Barista beraksi! Aku menjerang air dulu." Aku berlari secepat Naruto dengan membungkuk dan kedua lengan lurus ke belakang, menuju dapur mini.

Yang tampak di depan Gladys kali ini, poster Munir. Posisinya tepat di atas poster Gus Dur, di satu sisi dinding yang sama. Warnanya didominasi merah. Di sisi dinding yang ketiga, senyum Joker memanjang hingga ke cuping telinga. Sedangkan poster terakhir, tampak Pramoedya Ananta Toer duduk menyamping. Jemarinya menari di atas mesin ketik antik.

"Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak..."

"... Di hadapan orang lain." Aku melanjutkan ucapan Gladys, yang tengah membaca kutipan dari Pramoedya Ananta Toer.

"Bagiku, kutipan itu sarat makna bagi seorang jurnalis. Oh, ya, ini kopinya." Aku menyodorkan secangkir kopi yang di atasnya masih berarak-arak sekumpulan awan.

"Kita melantai saja," ajakku.

Gladys segera menyambut cangkir kemudian selonjoran di lantai. Dia lantas mengejar perkataanku. "Kalimat itu, untuk seorang jurnalis hubungannya apa?"

"Aku pernah bercerita kepadamu, soal media yang sudah aku tinggalkan."

"Iya. Aku ingat,” kata Gladys. Dia lalu menyeruput kopi.

"Aku ingin bertanya sekali lagi. Sebenarnya alasanmu ingin menjadi seorang jurnalis itu apa? Alasan terbesarmu."

Terdengar hela napas Gladys. Dia hanya diam memelototi cangkir kopi.

Melihat Gladys hanya diam, aku melanjutkan, “Gladys, jika alasanmu balas dendam, maka yang ada dalam pikiranmu hanyalah kebencian.”

“Apakah, ketika aku ingin menjadi jurnalis, itu terlalu sulit bagimu?”

“Bukan begitu. Sebenarnya menjadi seorang jurnalis itu sederhana. Miliki nurani. Itu saja.”

Gladys memandangi aku begitu lama. Kedua bola matanya seakan meloncat masuk ke dalam mataku.

“Jika aku beralasan… Karena seseorang?”

“Maka ketika seseorang itu hilang, keinginanmu pun akan ikut pudar perlahan.”

“Dia tidak mungkin hilang. Aku baru saja menemukannya. Orang itu sekarang ada di depanku,” kata Gladys.

Kali ini, aku yang dibuatnya terdiam. Seperti ada bongkahan es yang tiba-tiba mengurut ulu hatiku.

Gladys lantas menggeser posisi duduknya. Kami seperti sebungkus rokok dan korek api. Begitu dekat. Pelan diraihnya kedua tanganku. Lalu dia menuntun dan melabuhkan tepat di pundaknya. Wajahnya semakin mendekat.

(Bersambung)

Thursday, April 21, 2016

Surat Kangen untuk Bang Katamsi Ginano

Sumber foto: kikibhonk-q.blogspot.com
Tadinya sih, saya berencana memberi judul 'surat terbuka'. Tapi setelah mikir lumayan singkat, akhirnya saya memutuskan sebaiknya mengganti judulnya dengan 'surat kangen'.

Kenapa 'kangen'? Karena jelas sekali, saya ingin menyampaikan rasa kangen yang tiba-tiba ini, kepada Bang Katamsi Ginano (selanjutnya ditulis Bang KG) melalui surat ini.

Kenapa bukan 'rindu'? Karena saya cenderung sepakat dengan Pidi Baiq vokalis The Panas Dalam yang juga penulis novel Dilan, soal perbedaan antara 'rindu' dan 'kangen'. Menurut Pidi Baiq: rindu itu mendalam, sedangkan kangen itu spontan.

Iya, seperti yang saya katakan di atas sebelumnya, kalau saya hanya tiba-tiba ingat. Spontan berarti kangen. Bukan sebuah kerinduan yang mendalam. Kalau sudah bertahun-tahun tidak menulis di blog Kronik Mongondow (selanjutnya disingkat KM), baru itu saya menyatakan rindu.

Apalagi Bang KG mungkin hanya sedang sibuk dengan pekerjaan. Jadi belum sempat-sempatnya membalas chating atau berkesempatan menulis lagi di blog.

Tulisan Bang KG yang terakhir lumayan lama. Setahun yang lalu. Tepatnya sih, hanya beberapa bulan yang lalu. Tapi tahunnya saja yang berganti dari 2015 menjadi 2016. Artikel Bang KG berjudul 'Amabom dan Digdaya Dusta yang Konsisten', tercatat terakhir diunggah pada 1 Desember 2015. Sekitar empat bulan yang lalu.

Sejak saya mengenali KM di tahun 2011. Sependek ingatan saya, ini mungkin yang terlama Bang KG vakum menulis di KM. Kalau tidak salah sih. Saya juga secara aktif mengikuti KM baru pada tahun 2013. Bisa jadi ada rentang yang lebih lama dan saya luput mengamati.

Kemana saja selama ini, Bang KG?

Sibuk perjalanan ke luar negeri?

Atau, karena kemarin sempat menjadi cenayang politik sewaktu Pilkada Boltim, namun mendapati hal yang berbeda di ending cerita, lalu Bang KG tiba-tiba kehilangan ruh menulis?

Menulis lagilah, Bang KG. Sejauh ini, hanya Bang KG yang paling produktif menulis isu-isu seputar Bolmong. Dan paling ditunggu ribuan pembaca.

Hanya pesan saya, jangan terlalu banyak menerima laporan-laporan dari peluncur-peluncur yang datanya kurang valid. Saya bukan mengatakan apa yang Bang KG tulis semua datanya tidak valid. Tapi hanya beberapa sih, dari tulisan di KM, yang datanya memang terkesan berasal dari peluncur-peluncur amatiran.

Saya juga pernah heran ketika Bang KG menghujat beberapa media, dengan mengatakan mereka penghasil berita-berita sampah. Namun Bang KG kerap kali menulis di KM dengan menggunakan bahan dari media-media penghasil sampah itu.

Saya cuma heran sih. Analogi untuk sikap Bang KG itu, mungkin seperti ini: Bang KG tidak suka dengan kue onde-onde buatan si A. Bang KG menceritakan 'kesulemekkan' si A membuat kue onde-onde itu. Meski sebenarnya si A tidak hanya membuat kue onde-onde. Sebab ada kue-kue lain yang dibuat si A di antaranya: lalampa, binolos, taripang, dan lain sebagainya.

Nah, Bang KG mengatakan bahwa kue onde-onde itu menjijikkan, sebab si A yang membuat. Karena tentu saja onde-onde itu ada karena si A. Lalu kenapa Bang KG sesekali membeli kue lalampa, binolos, atau taripang, yang kemudian Bang KG makan dan juga berikan kepada orang-orang? Padahal pembuatnya sama?

Meski untuk semaqom Bang KG, analogi seperti itu tak perlu saya bentangkan, tapi setidaknya agar semua pembaca bisa paham dengan maksud saya. Atau malah tambah bingung?

Yah, catatan-catatan di atas sekadar kegundahan saya. Bentuk rasa kangen saya untuk bisa membaca tulisan-tulisan Bang KG lagi di KM. Selama empat bulan terlewati, saya rasa ada banyak tingkah pejabat di Bolmong Raya, yang menggelitik jemari Bang KG. Pembaca setia KM juga pasti berdebar menunggu.

Karena ketika Bang KG memutuskan membuat blog, menulis, dan itu menciptakan pembaca setia. Maka Bang KG harus bertanggung-jawab dengan para pembaca.

Tuh, ada sebotol Jack Daniels yang menunggu dibuka dan diletakkan di samping laptop.

Dan ada beberapa pejabat yang menunggu untuk dijewer.

Saturday, April 16, 2016

Surat Kegelisahan untuk Kompasdotkom

Sumber gambar: Iklan Aqua www.youtube.com
Niat saya untuk menulis surat ini, sebenarnya hanya ingin menyampaikan kegelisahan saya, atas pemberitaan kompasdotcom. Iya, cumak gelisah. Dikit juga gelisahnya. Seupil.

To the point saja! (Aih, jadi ingat masa-masa SMA) Kegelisahan saya ini soal berita kompasdotkom, Sabtu 16 April. Judulnya saya nukil, Terkait Aksi "Kartini Kendeng", Ini Kata Dian Sastro. 

Yaa... Dewa Mabuk. Seguci sudah nama Dian Sastro habis saya teguk dari pelbagai media. Kompasdotkom ngasih seguci lagi. Berita yang di judulnya tertera nama Mbak Dian itu di-tag Mbak Debby Mano. Dia Ketua AJI Kota Gorontalo yang lucu dan buncit. Dan ketika berita itu di-tag, dia nyinyir pula.

Begini katanya, "Petani modalnya air. Selebriti modalnya air mata. Pantas aja gak nyambung mbak ini. Bagi para pemuja dian sastro monggo dibaca, apa mo lanjut fans atau balik kanan hahahahahha."  

Ketika saya iqro' beritanya...

Sungguh tega kalian kompasdotkom! Kenapa kalian tega mewawancarai Mbak Dian dan minta tanggapan atas aksi Mamak-mamak SuperSamin yang ngecor kaki mereka tempo hari?

Saat wartawan kalian mewawancarai, Mbak Dian ngomong (atau malah ngelantur), bahwa ada tanda tanya besar menyoal peran Papak-papak Samin. Dengan sangat dewasanya, Mbak Dian mempertanyakan apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa menurutnya yang harus bicara malah perempuan?

Dan sekali lagi dengan sangat dewasanya Mbak Dian kasih komentar lagi. Bahwa Mamak-mamak Samin harus terlepas dari politik lalu kembali ke urusan domestik.

Huft! Debur di dada meretak karang. Tega sekali kompasdotkom mewawancarai Mbak Dian. Puas, kan? Baca tuh! Semakin ngelantur, kan?

Ehu! Tidak salah lagi! 

Kompasdotkom, kalian sudah mewawancarai artis yang memiliki jadwal padat syuting iklan, film, pemotretan, dan lain sebagainya. Yang jarang nonton berita di TV. Yang jarang baca berita di koran atau media online. Yang nggak nonton dokumenter Samin Vs Semen padahal gratis di youtube. Yang luput membaca mojok.co.

Dan... Artis yang sudah beranjak dewasa.

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mbak Dian. Cukup nonton Samin Vs Semen. Mbak Dian pasti melongo seperti di ending iklan Aqua.

Lalu biarkan saja para pembaca yang menakar, seberapa dewasanya Mbak Dian itu tumbuh. Seberapa tebal alis Mbak Dian. Dan seberapa kencang jogingnya. Puas, kompasdotkom? Itu, kan, yang kalian mau?

Kenapa juga, kalian kompasdotkom memilih mewawancarai Mbak Dian dari sekian banyak artis perempuan lainnya? Saya yakin alasannya bukan karena Mbak Dian bakal meranin Kartini. Dalam tubuh berita, juga tidak disinggung soal film Kartini.

Ini tentu ada kaitannya dengan demam Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang tengah mewabah. Terus biar ngejar rating, tiba-tiba kepikiran mewawancarai Mbak Dian. Meski film AADC 2 juga tidak disebut dalam berita. Saya yakin dengan semua dugaan ini. Pasti soal rating. Sebab wabah AADC 2 telah dihirup lebih dahulu se-Endonesia. Lihat kan, beritanya sudah ribuan pembaca. Hiks. Sebagian besar pembaca pasti para penggemar AADC. Luluh-lantak sudah.

Kompasdotkom, yang kamu lakukan ke para penggemar itu, jahat!

Tapi, saya sebagai remaja yang unyu di tahun 80an, meski kesal dengan kompasdotkom, akhirnya bisa sedikit lega. Sebab saya sebenarnya bukan menggemari Mbak Dian dalam realita. Tapi menggemarinya dalam dunia fiksi. Jika AADC 2 nanti jelek, saya tetap masih punya Cinta yang belum dewasa di AADC 1. Yang alisnya masih sejumput.

Kompasdotkom, meski kalian jahat, tapi kalian telah membuka mata batin saya untuk bisa memilah. Yang mana Mbak Dian dan yang mana Cinta.

Jangan pernah dewasa, Cinta.

Jangan pernah joging di hutan karena ada pabrik semen.

Jangan pernah belok ke pantai karena ada reklamasi.

Thursday, April 14, 2016

Penambang dan Pohon-pohon Tumbang

Perjalanan pulang dari Kota Gorontalo menuju Kota Kotamobagu tempo hari, terasa begitu panjang. Penumpang lainnya yang terdiri dari para penambang tradisional, yang mengadu palu mereka di Desa Dongi-dongi, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, mengisi ruang-waktu dengan perbincangan mengenai 'seteru' yang terjadi di sana. Antara penambang dan aparat keamanan.

Ada sekira 8 mobil beserta kami, yang digunakan para penambang untuk pulang. Mereka semua berasal dari berbagai desa di Bolaang Mongondow. Keluh-kesah tumpah-ruah. Mereka mengaku kesal, sebab keputusan pemerintah dan aparat keamanan untuk menutup areal tambang itu, membuat sebagian dari mereka pulang dengan tangan hampa.

"Jika sampai di Kotamobagu, terus dikabarkan tambang itu kembali dibuka, maka kami akan segera kembali ke sana," celetuk salah satu penambang, di tengah perjalanan yang belum seperempat tempuh.

Saya yang sedari tadi penasaran coba melempar pertanyaan-pertanyaan. Sebab dari desa asal saya, Desa Passi Bersatu, hampir sebagian pemuda dan orang-orang tua, juga pergi mengadu nasib di sana. Termasuk kakak saya.

"Yang kemarin beredar videonya, itu peluru karet?"

"Iya, peluru karet. Tapi banyak yang luka-luka. Coba inga jo, waktu kacili torang baramain prang-prang pake pluru dari tali kursi, saki to? (Coba diingat saja, sewaktu kecil kita bermain perang-perangan menggunakan peluru dari tali kursi, sakit kan?)" kata penambang yang satunya lagi.

Mengenai pungli yang dilakukan aparat pun mereka benarkan. Bahwa ketika hendak mengangkut material menuju tempat pengolahan, mereka kerap dimintai uang.

"Pokoknya lumayan kalau ditabung. Bisa beli motor jika puluhan penambang yang dimintai," kata seorang penambang yang duduk di kursi paling belakang.

"Yang 'dua bunga' saja suka mangkal di sana," terangnya lagi. Tanda pangkat seorang aparat pun diutarakannya.

Areal tambang di Desa Dongi-dongi yang tengah ramai itu, memang terletak di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Hal itu yang menjadi alasan pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk menutup pertambangan. Namun yang sangat disayangkan, jika niat untuk menutup areal pertambangan baru mencuat, ketika mereka sebagai penegak hukum telah puas menikmati hasilnya.

Para penambang yang terdiri dari masyarakat lokal dan pendatang, merasa diperas. Mereka yang menggaruk tanah, memalu, mengangkut, dan mengolah. Dan ketika mereka ingin menikmat, ternyata hasilnya harus dibagi lagi dengan aparat. Lalu tiba-tiba tambang ditutup.

Beberapa lembaga pemerhati lingkungan di Sulawesi Tengah, menyatakan pertambangan di Dongi-dongi bisa meningkat dengan cepat, sebab adanya sokongan aparat, baik TNI maupun POLRI. Tapi saya sendiri juga sedikit menyangsikan, sebab lembaga-lembaga pemerhati lingkungan seperti itu pun, terkadang lengan mereka juga ikut berlumpur.

Namun tidak bisa pula dipungkiri, bahwa jika aparat benar-benar turut mengamankan, maka keberadaan tambang ilegal di Dongi-dongi sejatinya tidak akan semenjamur itu. Dampak bagi rusaknya lingkungan, apalagi wilayah pertambangan yang terletak di TNLL, memang sangat mengancam.

Selain bencana banjir dan longsor sebab adanya pembukaan lahan dan penebangan pohon, potensi tercemarnya aliran sungai pun sangat mungkin. Apalagi di Dongi-dongi, terdapat sungai Sopu.

"Memang di areal tambang telah banyak pohon tumbang," kata sopir yang ternyata, sudah beberapa kali ke Dongi-dongi, untuk menjemput para penambang. Ia mengaku pernah menuju lokasi pertambangan di wilayah TNLL.

"Itu juga yang sebenarnya salah, tapi mau apalagi, kita-kita juga butuh makan," kata seorang penambang lagi.

Sudah hampir setengah perjalanan, seiring waktu ke enam orang penambang itu akhirnya diam. Mungkin mereka lelah. Saya pun akhirnya tertidur pulas. Saya dibangunkan sopir, yang memberitahu bahwa kami sedang mampir di sebuah rumah makan. Tepat di Desa Bintauna, Bolaang Mongondow Utara.

Hampir seisi rumah makan dipenuhi para penambang. Mobil-mobil yang mereka pakai beriringan tadi, juga memilih singgah di rumah makan yang sama.

Usai menandaskan makanan, kami melanjutkan perjalanan. Karena kekenyangan, saya kembali tertidur. Saya terbangun ketika kami sudah berada di Desa Lolak. Sepanjang perjalanan, pepohonan rindang saling merangkul, menjadi peneduh jalan. Sepanjang Lolak hingga beberapa desa berikutnya, hampir setiap jalan dipenuhi pohon. Saya mengabadikan momen itu, lewat foto dan video dari ponsel.

Beberapa puluh menit kemudian, Kota Kotamobagu telah di depan mata. Sopir menanyakan di mana saja para penumpang hendak turun. Saya memilih turun di terminal tempat bentor-bentor Passi berkumpul.

Sopir mengambil jalur kiri, saat berpas-pasan dengan simpang empat di Kelurahan Mogolaing. Mobil yang kami tumpangi menuju ke arah kantor Dinas Pendidikan Kota Kotamobagu.

Kemudian... Pemandangan di depan kami sangat miris. Pohon-pohon yang sengaja ditanam di sepanjang jalan, tak lagi saling merangkul, seperti saat menemu Desa Lolak. Di samping kanan, pohon-pohon bertumbangan. Tepat di depan kantor Dinas Pendidikan.

"Nah, di sana (Dongi-dongi), pemerintah dan aparat melarang menebang pohon. Ini, malah pemerintah yang menebang pohon," kata seorang penambang.

Saya segera menyalakan perekam video di ponsel. Sepanjang jalan, pohon-pohon rebah. Gerimis yang sedari tadi menyambut kami ketika sampai di gerbang Kotamobagu, mendramatisir keadaan yang kami temui.

Ucapan penambang tadi, meski jauh di lubuk hatinya, saya bisa memahami bahwa ia seakan ingin mencari pembelaan, atas apa yang telah mereka lakukan di areal pertambangan. Ketika pemerintah menyalahkan mereka, ternyata pemerintah sendiri pun kerap berbuat hal yang sama.

"Bodok! (Bodoh)" umpat sopir.

Pepohonan yang ditebang di depan Kantor Dinas Pendidikan Kota Kotamobagu

Tuesday, April 12, 2016

Ulang Tahun



Riuh-rendah ucapan selamat hari lahir di media sosial. Wah, saya cemas seketika. Sebab kenapa? Soal hari ulang tahun pasti soal traktiran. Duit di kantong hanya untuk Sigi. 28 April, bukan 12 April.

Iya, entah Raja atau Pangeran, bisa juga Ratu dan Putri siapa, yang pertama kali merayakan Hari Ulang Tahun terus mentraktir penduduk se-negeri.

Kemudian bermulalah, tradisi siapa yang sedang merayakan Ultah, maka harus mentraktir. Tradisi itu, mau tidak mau, mengharuskan. Siapa sih, yang layak dibuat bahagia?

Kami pernah pada suatu masa, ketika sedang bermocik-mocik ria (masa puber), saat itu kami tengah berasyik-masyuk beranjak dewasa, dan tradisi itu kami balik. Siapa yang Ultah, maka kami kengkawan yang urunan. Lalu uangnya dipakai untuk pesta semalam suntuk. Yang ber-ultah, tinggal mabuk dan sila muntah-muntah dari segala lubang.

Hingga, tiba pada masa ketika kami dewasa, sudah bekerja dan berpenghasilan tetap. Lalu tradisi traktir-traktiran kembali mencuat. Seperti ingin membuktikan bahwa seginilah penghasilan kami. Maka kami saling mentraktir setiap momen itu tiba.

Di usia yang sudah kepala tiga ini. Bahkan ketika hendak menyisir rambut ke belakang agar tampak kekinian, jidat sudah seperti jidatnya si Bezita di Dragon Ball. Tradisi itu kembali menuntut.

Saya akhirnya mikir, ketika orang tumbuh dewasa itu, memang sangat membosankan.

Hanya beberapa saat, usai catatan di atas itu terpapar di laman facebook. Berdatangan pesan singkat yang mengajak saya untuk merayakan hari kelahiran.

Dari berbagai macam ajakan, saya harus memilih untuk sepakat dengan tawaran yang datang dari desa kelahiran. Saya tersinggung, sebab yang datang mereka yang mengaku mengenal kata 'kenakalan remaja' karena saya. Aih, bangsat! Dan mereka ingat hari kelahiran saya, karena celetuk Sigi. "Aba' pe ultah ini kang?"

Mereka telah menyediakan apa saja yang membikin mabuk. Di pondok yang kami sebut dengan hormat 'Pondok Marhaen', botol-botol bergelimpangan. Bungkus rokok tersusun-susun. Dan, tola-tola yang kriuk-kriuk ketika digigit berserakan.

Kami ingin mendustai pagi lagi.

Kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang mabuk.

"Apa sih, yang bisa membuat pemuda-pemudi itu tidak kepikiran untuk mabuk?"

Seorang kawan menjawab, bahwa kegiatan olahraga di kampung sangat minim. "Kalian tahu kan, sehabis mandi, muda-mudi mikir, mau kemana? Apelin pacar jika punya, dan nongkrong di persimpangan jika tidak punya."

"Terus apa yang bisa membuat muda-mudi itu giat?" tanya kawan yang satu lagi.

"Kita semarakkan lagi badminton-nya, ping-pong, dan olahraga lainnya." timpal kawan yang satu lagi.

"Itu tidak cukup. Tambah lagi dengan sanggar puisi, teater, dan rumah baca. Siapa saja yang berminat bisa nongkorng di situ. Teater pernah sukses di pesta tahun-tahun baru sebelumnya."

"Bagus! Untuk mengurangi niat pemuda-pemudi miras, pasti bisa. Setidaknya ada beberapa kegiatan yang menjadi pilihan mereka."

"Desa ini hanya kurang pilihan-pilihan. Ketika hendak keluar rumah, yang ada hanya pikiran bagaimana mengisi malam ini. Dan selalu hanya dua, apelin pacar atau mabuk."

"Dan, ketika kegiatan-kegiatan marak. Mabuk-mabukan juga bisa hilang. Bukan hilang sih, tapi setidaknya akan berkurang,"

Saya mencermati gagasan-gagasan mereka, yang lahir dari berbotol-botol miras berkesudahan. Ternyata, di saat mabuk ide-ide cemerlang bisa hadir. Untuk desa ini, yang kepala desanya adalah kawan pula, maka ide-ide ini menyambung lidah segera.

Pelbagai macam giat untuk pemuda memang telah dipikir. Bahkan desa kami yang terkenal dengan kerajinan pandai besinya, yang juga telah ditetapkan sebagai kerajinan tangan khas. Siapa saja yang berbakat untuk itu, usahanya akan ditopang dan dibesarkan.

Maka peradaban negeri mana, yang tidak pernah dijasai besar para pandai besi?

Di hari ulang tahun ini, sederet kalimat kepala desa (Sangadi) meringkus saya.

"Sangadi nda kuatir jika yang satu ini yang ultah, karena setiap hari adalah ultahnya. Terus melihat dia saja ada di kampung, merupakan suatu anugerah terindah yang Passi miliki."

Ah, lebay sekali Sangadi kami ini. Dan saya akhirnya memutuskan harus ada di desa ini. Passi memang butuh kami!

Thursday, April 7, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (5)


... Tak seperti hati kami yang seketika mendung. (Baca sebelumnya: Bagian 4)

***

Sore mulai menguning. Tapi suasana desa masih begitu ramai. Rumah-rumah warga penganut Hindu bising oleh tawa. Beberapa Ogoh-ogoh telah berbentuk raksasa. Mereka tinggal mewarnai dan memberi atribut-atribut pelengkap.

Gladys dan Lina tampak sibuk membantu merapikan gelas-gelas dan piring-piring yang bertebaran.

"Ayo, kita pamit pulang," ajak ibu Gladys. "Ayahmu nanti menyusul."

Perempuan-perempuan selalu lebih dulu pulang. Tugas mereka akan berlanjut di rumah. Tepat di persimpangan jalan, Lina pamit kepada Gladys dan ibunya.

"Aku ke rumah dulu," kata Lina. Dia sudah seharian bersama Gladys dan belum mengabari orangtuanya.

"Sampaikan maaf kepada orangtuamu, Lin. Seharian aku memaksamu menjadi pengawal," kelakar Gladys itu, mengundang tinju pelan dari Lina.

Di perjalanan pulang, ibunya menemukan kegelisahan di mata Gladys. Ibunya coba menggali dengan basa-basi.

"Bagaimana kuliahmu?"

"Berharap cepat selesai."

"Selama ini, kau belum pernah menyatakan pilihan pekerjaan jika nanti tamat kuliah."

Kegelisahan Gladys, seperti terbaca dan diberi retakan oleh ibunya. Dari retakan itu, ibunya berharap kegelisahan Gladys bisa mengalir keluar. Perempuan memang lihai dalam soal kepekaan. Terlebih itu adalah anaknya sendiri.

"Aku ingin jadi wartawan," ucapannya begitu pelan namun tegas. Langkah ibunya tertahan.

"Alasanmu?" Dari sorot mata ibunya, Gladys menemu sorot yang sama di mata Lina, ketika mereka membicarakan soal keputusannya untuk menjadi wartawan.

"Aku suka menulis. Lagipula fakultas yang aku ambil tidak bakal menyulitkan nanti." Gladys coba meyakinkan ibunya.

"Kau kan, kuliahnya di fakultas hukum?" tanya ibunya.

"Wartawan dengan basis ilmu hukum, malah lebih paham dengan aturan-aturan," jawab Gladys.

"Ibu tidak mempermasalahkan pilihanmu. Tapi bagaimana caramu meyakinkan ayahmu?" Langkah ibunya kembali menjejaki jalan. Gladys mengikutinya.

"Ibu mungkin bisa membantu Gladys."

Ucapan Gladys, ditanggapi ibunya dengan diam. Selama perjalanan menuju rumah, hanya terdengar suara kerikil yang tergilas sendal. Ibunya memang berharap lebih dari sekadar menjadi seorang wartawan. Impian setiap orangtua pasti selalu yang terbaik untuk anaknya. Dengan berharap agar Gladys kelak bisa menjadi jaksa, pengacara, atau hakim. Gladys adalah putri satu-satunya. Dan untuk melanjutkan pendidikan, bukanlah suatu kesulitan bagi orangtuanya.

***

Berbotol-botol bir yang telah kosong menghuni kardus. Masih ada tiga botol yang tertutup rapat, dan satu botol setengah isi di atas meja. Sementara gelas penuh di genggaman Indra, buihnya meluncur di dinding gelas. Mata Indra merah. Ada amarah di sana.

"Jadi, kalian tetap ingin memuat beritanya?" suara Indra meninggi.

Rumah Deni kebetulan sepi. Orangtuanya sedang ke rumah kakaknya di luar kota. Rumah-rumah tetangga juga jaraknya berpuluh-puluh meter. Kediaman Deni memang serupa vila yang menyendiri.

"Indra, kami menemanimu minum, karena ingin membicarakan persoalan ini dengan lebih jujur," kata Umar coba menenangkan.

"Kalian tahu! Media kita ini... Pamanku juga donaturnya!"

Ucapan Indra kali ini membikin hening. Langit yang mulai gelap, mengubah deretan botol di atas meja menjadi siluet. Mereka masih terdiam dipayungi rindang dedaunan yang berdesir tertiup angin.

"Aku menyalakan lampu di rumah dulu. Hari mulai gelap," sela Deni.

Hanya sekejap, Deni kembali sambil membawa laptop. Aku memandangnya heran. Entah apa maksudnya membawa laptop kemari. Deni meletakkan laptop di atas meja lalu menyalakannya. Botol-botol bir tampak berkilauan disinari nyala layar. Sebatang modem dicolok. Seketika, tubuh www.koyow.com berdiri di sana. Tepat ke arah Indra.

"Indra. Ketika kita rembuk mendirikan media ini, satu hal yang pernah kita sepakati dulu masih berlaku. Untuk membenci pertengkaran karena uang," ucap Deni pelan.

"Dan kali ini... Meski masalah yang menjadi tengkar kita berbeda. Tapi ini juga soal uang." Deni semakin serius dengan perkataannya.

"Den, aku hanya coba..." Indra menyela.

Belum usai Indra dengan kalimatnya, Deni menyela, "Kenapa kau tidak jujur?"

"Aku hanya ingin agar media kita bisa menjadi besar. Kantor saja kita belum punya. Aku berharap uang dari donatur-donatur kita, bisa dipakai menyewa tempat untuk dijadikan kantor," jelas Indra.

"Aku menerima maksud baikmu. Tapi ketidakjujuranmu itu!"

"Den, berapa orang sih, yang mau mendanai media kita ini? Dan pamanku satu dari lima orang yang dengan sukarela melakukan itu!"

"Sebenarnya masalahnya sederhana. Kita hanya mencoret nama pamanmu dari daftar donatur. Itu saja," Umar tiba-tiba menyela.

"Lalu tetap memberitakan kasusnya?" ucapan Indra kembali meninggi.

"Kesepakatan kita membuat media ini, adalah memberitakan tanpa memandang siapapun. Tagline itu terpampang jelas!" Deni kali ini menunjuk sebaris slogan di layar laptop.

Saya yang sedari tadi diam, akhirnya memilih mencebur ke dalam arus yang semakin deras itu.

"Indra, kasus pamanmu itu adalah soal uang rakyat. Dan satu-satunya bos kita adalah warga. Jalan pesan yang independen," saya menukil slogan media kami di akhir kalimat. Slogan yang bermakna bahwa jurnalis adalah tempat warga menitip pesan untuk mengawasi penguasa. Koyow yang kami pilih menjadi nama media, sesuai dengan bahasa daerah kami yang artinya... Pesan.

Indra menutup matanya. Kemudian, sekali teguk, gelas yang sedari tadi di genggamannya menyisa buih. Dia beranjak dari duduk.

"Aku mundur dari media ini!"

Langkahnya begitu cepat. Meninggalkan kami yang saling bertukar pandang. Lama baru terdengar suara mobil dihidupkan. Selang beberapa menit, lampu mobil menyala. Sorot lampunya tepat mengarah pada kami. Indra seperti ingin memastikan, adakah sesal di wajah kami. Mobil memutar, lalu pergi menembus malam.

***

Seminggu sudah Gladys menghabiskan waktu di desanya. Ogoh-ogoh telah diarak keliling. Sepi juga telah membungkam seisi desa. Sekaligus melarung gelisah di hatinya.

Di punggung Gladys telah menggantung ransel. Lina yang lebih dahulu menunggu di dalam mikrolet, menyambut Gladys dengan senyuman.

"Tumben, wajahmu kelihatan bahagia meninggalkan desa ini?" tanya Lina.

"Ah, desa ini hanya sejengkal saja dari kota. Kenapa harus sedih?"

"Iya, tapi biasanya kau sedih."

"Ada hal yang membuatku bahagia," kata Gladys. Senyum melengkung di wajahnya.

"Memangnya kenapa?"

"Ayah, akhirnya mengalah. Dia tidak mempermasalahkan impianku untuk menjadi... Seorang jurnalis!"

"Kau sudah bilang ke ayah dan ibumu?"

"Selain teror di Kota... Razia... Mobagu... Dan juga Ogoh-ogoh. Niat aku pulang, ingin menyampaikan hal itu pada ayah dan ibu." Senyum Gladys bertambah lebar. Menjadi seorang jurnalis, sepertinya dia sudah tidak sabar.

"Aku sepertinya menjaring alasan yang satunya lagi, kenapa kau kelihatan begitu bahagia," perkataan Lina, seketika merubah senyum Gladys menjadi jungur.

"Apa?"
Sore mulai menguning. Tapi suasana desa masih begitu ramai. Rumah-rumah warga penganut Hindu bising oleh tawa. Beberapa Ogoh-ogoh telah berbentuk raksasa. Mereka tinggal mewarnai dan memberi atribut-atribut pelengkap. 

Gladys dan Lina tampak sibuk membantu merapikan gelas-gelas dan piring-piring yang bertebaran. 

"Ayo, kita pamit pulang," ajak ibu Gladys. "Ayahmu nanti menyusul." 

Perempuan-perempuan selalu lebih dulu pulang. Tugas mereka akan berlanjut di rumah. Tepat di persimpangan jalan, Lina pamit kepada Gladys dan ibunya. 

"Aku ke rumah dulu," kata Lina. Dia sudah seharian bersama Gladys dan belum mengabari orangtuanya. 

"Sampaikan maaf kepada orangtuamu, Lin. Seharian aku memaksamu menjadi pengawal," kelakar Gladys itu, mengundang tinju pelan dari Lina. 

Di perjalanan pulang, ibunya menemukan kegelisahan di mata Gladys. Ibunya coba menggali dengan basa-basi. 

"Bagaimana kuliahmu?" 

"Berharap cepat selesai." 

"Selama ini, kau belum pernah menyatakan pilihan pekerjaan jika nanti tamat kuliah." 

Kegelisahan Gladys, seperti terbaca dan diberi retakan oleh ibunya. Dari retakan itu, ibunya berharap kegelisahan Gladys bisa mengalir keluar. Perempuan memang lihai dalam soal kepekaan. Terlebih itu adalah anaknya sendiri. 

"Aku ingin jadi wartawan," ucapannya begitu pelan namun tegas. Langkah ibunya tertahan. 

"Alasanmu?" Dari sorot mata ibunya, Gladys menemu sorot yang sama di mata Lina, ketika mereka membicarakan soal keputusannya untuk menjadi wartawan. 

"Aku suka menulis. Lagipula fakultas yang aku ambil tidak bakal menyulitkan nanti." Gladys coba meyakinkan ibunya. 

"Kau kan, kuliahnya di fakultas hukum?" tanya ibunya. 

"Wartawan dengan basis ilmu hukum, malah lebih paham dengan aturan-aturan," jawab Gladys. 

"Ibu tidak mempermasalahkan pilihanmu. Tapi bagaimana caramu meyakinkan ayahmu?" Langkah ibunya kembali menjejaki jalan. Gladys mengikutinya.

"Ibu mungkin bisa membantu Gladys." 

Ucapan Gladys, ditanggapi ibunya dengan diam. Selama perjalanan menuju rumah, hanya terdengar suara kerikil yang tergilas sendal. Ibunya memang berharap lebih dari sekadar menjadi seorang wartawan. Impian setiap orangtua pasti selalu yang terbaik untuk anaknya. Dengan berharap agar Gladys kelak bisa menjadi jaksa, pengacara, atau hakim. Gladys adalah putri satu-satunya. Dan untuk melanjutkan pendidikan, bukanlah suatu kesulitan bagi orangtuanya. 

*** 

Berbotol-botol bir yang telah kosong menghuni kardus. Masih ada tiga botol yang tertutup rapat, dan satu botol setengah isi di atas meja. Sementara gelas penuh di genggaman Indra, buihnya meluncur di dinding gelas. Mata Indra merah. Ada amarah di sana. 

"Jadi, kalian tetap ingin memuat beritanya?" suara Indra meninggi. 

Rumah Deni kebetulan sepi. Orangtuanya sedang ke rumah kakaknya di luar kota. Rumah-rumah tetangga juga jaraknya berpuluh-puluh meter. Kediaman Deni memang serupa vila yang menyendiri. 

"Indra, kami menemanimu minum, karena ingin membicarakan persoalan ini dengan lebih jujur," kata Umar coba menenangkan. 

"Kalian tahu! Media kita ini... Pamanku juga donaturnya!" 

Ucapan Indra kali ini membikin hening. Langit yang mulai gelap, mengubah deretan botol di atas meja menjadi siluet. Mereka masih terdiam dipayungi rindang dedaunan yang berdesir tertiup angin.  

"Aku menyalakan lampu di rumah dulu. Hari mulai gelap," sela Deni.

Hanya sekejap, Deni kembali sambil membawa laptop. Aku memandangnya heran. Entah apa maksudnya membawa laptop kemari. Deni meletakkan laptop di atas meja lalu menyalakannya. Botol-botol bir tampak berkilauan disinari nyala layar. Sebatang modem dicolok. Seketika, tubuh www.koyow.com berdiri di sana. Tepat ke arah Indra. 

"Indra. Ketika kita rembuk mendirikan media ini, satu hal yang pernah kita sepakati dulu masih berlaku. Untuk membenci pertengkaran karena uang," ucap Deni pelan. 

"Dan kali ini... Meski masalah yang menjadi tengkar kita berbeda. Tapi ini juga soal uang." Deni semakin serius dengan perkataannya.

"Den, aku hanya coba..." Indra menyela.

Belum usai Indra dengan kalimatnya, Deni menyela, "Kenapa kau tidak jujur?"

"Aku hanya ingin agar media kita bisa menjadi besar. Kantor saja kita belum punya. Aku berharap uang dari donatur-donatur kita, bisa dipakai menyewa tempat untuk dijadikan kantor," jelas Indra. 

"Aku menerima maksud baikmu. Tapi ketidakjujuranmu itu!" 

"Den, berapa orang sih, yang mau mendanai media kita ini? Dan pamanku satu dari lima orang yang dengan sukarela melakukan itu!" 

"Sebenarnya masalahnya sederhana. Kita hanya mencoret nama pamanmu dari daftar donatur. Itu saja," Umar tiba-tiba menyela. 

"Lalu tetap memberitakan kasusnya?" ucapan Indra kembali meninggi. 

"Kesepakatan kita membuat media ini, adalah memberitakan tanpa memandang siapapun. Tagline itu terpampang jelas!" Deni kali ini menunjuk sebaris slogan di layar laptop.

Saya yang sedari tadi diam, akhirnya memilih mencebur ke dalam arus yang semakin deras itu. 

"Indra, kasus pamanmu itu adalah soal uang rakyat. Dan satu-satunya bos kita adalah warga. Jalan pesan yang independen," saya menukil slogan media kami di akhir kalimat. Slogan yang bermakna bahwa jurnalis adalah tempat warga menitip pesan untuk mengawasi penguasa. Koyow yang kami pilih menjadi nama media, sesuai dengan bahasa daerah kami yang artinya... Pesan. 

Indra menutup matanya. Kemudian, sekali teguk, gelas yang sedari tadi di genggamannya menyisa buih. Dia beranjak dari duduk. 

"Aku mundur dari media ini!" 

Langkahnya begitu cepat. Meninggalkan kami yang saling bertukar pandang. Lama baru terdengar suara mobil dihidupkan. Selang beberapa menit, lampu mobil menyala. Sorot lampunya tepat mengarah pada kami. Indra seperti ingin memastikan, adakah sesal di wajah kami. Mobil memutar, lalu pergi menembus malam. 

*** 

Seminggu sudah Gladys menghabiskan waktu di desanya. Ogoh-ogoh telah diarak keliling. Sepi juga telah membungkam seisi desa. Sekaligus melarung gelisah di hatinya. 

Di punggung Gladys telah menggantung ransel. Lina yang lebih dahulu menunggu di dalam mikrolet, menyambut Gladys dengan senyuman. 

"Tumben, wajahmu kelihatan bahagia meninggalkan desa ini?" tanya Lina. 

"Ah, desa ini hanya sejengkal saja dari kota. Kenapa harus sedih?" 

"Iya, tapi biasanya kau sedih." 

"Ada hal yang membuatku bahagia," kata Gladys. Senyum melengkung di wajahnya. 

"Memangnya kenapa?" 

"Ayah, akhirnya mengalah. Dia tidak mempermasalahkan impianku untuk menjadi... Seorang jurnalis!" 

"Kau sudah bilang ke ayah dan ibumu?" 

"Selain teror di Kota... Razia... Mobagu... Dan juga Ogoh-ogoh. Niat aku pulang, ingin menyampaikan hal itu pada ayah dan ibu." Senyum Gladys bertambah lebar. Menjadi seorang jurnalis, sepertinya dia sudah tidak sabar. 

"Aku sepertinya menjaring alasan yang satunya lagi, kenapa kau kelihatan begitu bahagia," perkataan Lina, seketika merubah senyum Gladys menjadi jungur. 

"Apa?" 

(Bersambung)

Wednesday, April 6, 2016

Suara dari Dalam

Ilustrasi pernikahan (www.shutterstock.com)
LGBT di Lengan Pulau Sulawesi
MEREKA terpaksa sembunyikan jati diri. Bahkan ada yang terpaksa menikah secara “hetero”. Tak sedikit LGBT di Gorontalo dan Manado takut menunjukkan identitas seksual mereka karena penolakan masyarakat. Pilihannya, berpura-pura menjadi hetero dan menikahi lawan jenis.
Adalah Dody (nama samaran), pemilik salon di salah satu titik keramaian Kota Gorontalo. Dody adalah gay yang sukses membangun bisnis kecantikan. Ia kini mempekerjakan tiga karyawan, semuanya waria. Kendati sudah menjadi bos, ia sesekali tetap melayani pelanggan.
Dody tetap ingin disebut gay meski agak gemulai, bukan waria. Ia mengaku tidak pernah berpakaian layaknya perempuan (cross dresser), sejak ia mulai terbuka dengan orientasi seksualnya, sampai ia berusia 40 tahun kini. Penampilannya sehari-hari berkaos oblong dipadukan dengan celana jeans pendek. Rambutnya pun dipotong pendek. Tak banyak basa-basi, Dody segera bercerita tentang kehidupannya menjadi seorang gay.
“Saya tahu orientasi seksual saya berbeda saat kelas tiga SMP. Perasaan suka saya muncul pada laki-laki, tapi sebatas mencoba untuk memahami apa benar saya ini suka laki-laki. Setelah kelas satu SMA, baru saya merasakan puber. Saya mulai jatuh cinta pada laki-laki,” kisahnya.
Laki-laki yang humoris itu lahir dan tumbuh besar di salah satu desa di perbatasan Provinsi Gorontalo. Ia memilih hijrah ke kota, karena kerap kali merasa terdiskriminasi di desanya.
“Saya tertekan di desa, makanya datang ke kota. Saya juga ingin merasakan perbedaan antara desa dan kota. Di kota lebih terbuka dan pergaulannya juga menambah wawasan kita. Di desa saya merasa sangat terdiskriminasi. Selain itu, tidak bebas juga sebab saya masih tinggal dengan orang tua,” katanya.
Setelah menetap di Kota Gorontalo dan bekerja di salon, Dody belajar untuk bisa hidup mandiri. Dari hasil tabungannya selama bekerja dan juga merasa bahwa keahlian dalam bidang salon telah mumpuni, ia memutuskan untuk membuka salon sendiri tahun 1999. Kemudian ia terpikirkan untuk menikah. Tentu saja, dengan perempuan.
“Saya memutuskan menikah pada November 2013. Saya berpikir mungkin sudah sepantasnya saya menikah. Apakah hidup saya hanya terus seperti ini?” lanjutnya.
Meski berat, ia coba menjalani kehidupan itu. Menikah secara heteronormatif dengan perempuan, tentu saja melawan arus hasrat seksualnya yang notabene cenderung menyukai laki-laki.
“Saya pikir setelah membangun rumah tangga, saya bisa berubah. Tapi ternyata ada pertentangan dalam batin.”
Dody mengaku saat menikah, istrinya tahu bahwa  ia seorang penyuka sesama jenis. Tapi istrinya ikhlas menerima ia apa adanya.
“Saya sudah jujur kepadanya. Saya juga menjelaskan tentang kehidupan saya yang menyenangi dunia malam. Dan saya memiliki pacar laki-laki,” aku Dody.
Mendengar pengakuan Dody, istrinya tetap memilih mengarungi bahtera hidup dengannya dan tinggal bersamanya di salon. Dari pernikahan itu istrinya pun mengandung. Dody mengaku, sebelum menikah, istrinya pernah hamil tapi mengalami keguguran. Namun pernikahan itu hanya berusia tiga bulan. Saat istrinya masih dalam keadaan mengandung, biduk rumah tangga mereka goyah.
“Saya merasa tidak ada kecocokan. Mungkin karena saya sudah terbiasa hidup dengan laki-laki. Saya tidak bisa berbohong pada diri saya sendiri. Saya hanya mencintai laki-laki bukan perempuan. Itu tidak bisa saya pungkiri,” katanya.
Di Kota Gorontalo sendiri, tidak ada tempat konseling untuk masalah-masalah rumah tangga seperti yang Dody alami. Akhirnya ia memutuskan untuk bercerai. Namun meski telah bercerai, ia tetap memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Hubungan mereka pun tetap seperti biasa, selayaknya teman. Bahkan di antara keluarga mereka pun tetap terjalin hubungan yang baik.
Meskipun memiliki anak, tapi itu tidak menjadi pertimbangan Dody untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Pertentangan batinnya selalu lebih besar, bahwa ia tidak mungkin bisa menjalani pernikahan tersebut, sebab hasrat seksualnya bukan kepada perempuan.
“Pertentangannya terlalu besar. Jadi selama berhubungan seksual dengan istri, saya tidak memiliki rasa suka atau mencintainya. Hanya rasa kasih-sayang yang ada, karena sebagai suami, saya harus memenuhi pula nafkah batinnya,” katanya.
Setelah bercerai, istrinya memilih tinggal di luar Kota Gorontalo. Dody pun kembali berhubungan dengan laki-laki. Meski ia mengaku belum memiliki pasangan hidup atau tinggal serumah dengan laki-laki. Namun tetap saja ada beberapa laki-laki yang terlibat hubungan seksual dengannya. Dan mereka adalah laki-laki heteroseksual.
“Mereka suka, mungkin karena pergaulan. Biasanya saat mereka melihat yang seperti kami ini, pasti pikirannya ingin duduk minum alkohol sama-sama. Ya, kebanyakan dari sisi finansial sih, kami belikan minuman akhirnya mereka menuruti apa saja yang kami minta. Pendekatannya seperti itu,” ungkapnya.
Hidup seorang diri, Dody mengaku lebih jujur kepada dirinya sendiri. Ia semakin nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Sebab untuk urusan seksual, ia tidak lagi memiliki beban batin kepada istrinya. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana untuk tetap fokus dengan usahanya. Sebab ada tiga karyawan yang harus ia gaji.
***
Berbeda dengan Dody, Riko di Manado memilih mempertahankan perkawinannya yang sudah berjalan dua puluh tahun lebih dengan istrinya, seorang perempuan. Ditemui di rumah kawan baiknya, pria gay yang sejak 1988 berkarier sebagai publik figur itu akhirnya berkenan diwawancarai. Untuk menjaga identitas istri dan keluarganya, ia minta namanya disamarkan.
“Saya menikah sejak masih menetap di kota kelahiran (salah satu kota di Sulawesi), tahun 1992. Menikahnya karena MBA (married by accident – istilah untuk menggambarkan perkawinan karena mempelai perempuan sudah mengandung lebih dulu). Biasalah, pergaulan di high school (SMA),” kenangnya.
Setelah puas melanglang buana ke Jakarta, Surabaya, Samarinda dan Batam, ia memutuskan pulang ke Manado. Kariernya lumayan gemilang. Ia berpenghasilan bagus dan hidup serba berkecukupan. Dari situ pula, ia sanggup menafkahi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.
Riko seorang perokok berat meski profesinya menuntutnya bergaya hidup sehat. Sepanjang perbincangan, ia berkali-kali menyulut rokok. “Sudah sejak SMP, saya merasakan orientasi seksual saya berbeda,” akunya.
Demi menghindari ejekan teman-teman, Riko memilih merahasiakan. Ia mencoba bergaya hidup layaknya remaja laki-laki pada umumnya di sekolah. Pria setengah baya itu melanjutkan, dulu ia biseksual, menyukai laki-laki dan perempuan. “Tapi cenderung ke laki-laki,” tegasnya.
Ada banyak alasan mengapa kalangan LGBT, termasuk dirinya, enggan membuka diri. Menurutnya, lantaran mereka khawatir akan mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam pekerjaan atau kehidupan sosial. Riko berpendapat, orientasi seksual tidak perlu diumbar pada banyak orang. Setelah menikah dan punya anak, ia lebih memilih menyibukkan diri pada karir.
“Saya selalu berpikir apa yang terbaik yang bisa saya buat.”
Riko menuturkan, dalam keluarga besarnya, hanya ia yang memiliki kecenderungan orientasi  seksual berbeda. Orang tua dan saudara kandungnya mungkin tahu tetapi sampai saat ini ia memilih tidak berterus terang. “Kecuali jika saya tertekan atau punya masalah, mungkin saya akan mengaku. Tapi selama ini, saya merasa baik-baik saja,” katanya.
Hubungan dengan istrinya baik-baik saja. Meski demikian, saat perkawinannya diguncang pertengkaran hebat lima tahun lalu, ia sempat curiga sang istri mengetahui orientasi seksualnya. Penyebabnya, Riko pernah mengalami kesulitan berhubungan intim cukup lama dengan istrinya. “Biasanya perempuan lebih peka, mungkin dia merasakan ada sesuatu yang berbeda,” tuturnya.
Riko mengatakan pada istrinya, bahwa dirinya juga manusia biasa yang punya kekurangan dan kelebihan. “Ya, kekurangan saya seperti ini. Jadi ia boleh memilih meninggalkan saya atau bertahan,” lanjutnya sembari melonggarkan kerah kemejanya. Suaranya tambah berat. Ia kembali menyulut sebatang rokok. Dari nyala pemantik api, tampak matanya berair.
“Saya mengatakan padanya, kalau ia meninggalkan saya karena sebuah kekurangan, ia akan tetap menemui persoalan-persoalan baru saat menikah lagi dengan lelaki lain. Jadi apakah ia akan memulai hidup yang baru atau mencari solusi atas persoalan ini? Saya memberinya pilihan. Dan pertimbangan lainnya, kami sudah memiliki tiga anak dan semuanya sudah dewasa,” terangnya. Riko menunduk cukup lama.
Usai menghela napas panjang, Riko melanjutkan, “Saya juga harus berjuang mempertahankan bahtera rumah tangga ini, demi anak-anak. Walaupun pada akhirnya kadang-kadang tersiksa juga ketika hasrat seksual ini harus dilampiaskan, tapi kita tidak bisa. Akhirnya kita terpaksa memilih lagi, dalam tanda kutip, apa yang ada saja.”
Kehidupan rumah tangga sebelum dan sesudah istrinya tahu tentang orientasi seksualnya tetap berjalan seperti biasa. Menurut Riko, semua itu bergantung bagaimana cara mereka menyikapi persoalan yang muncul. Topik yang menjadi konflik bukan lagi topik yang harus dibahas setiap hari.
Bila kadang-kadang hasrat seksualnya pada laki-laki lain muncul dan ingin disalurkan, ia tidak pernah menyampaikan pada istrinya. Istrinya pun tidak pernah bertanya tentang itu. Hal itu tetap menjadi wilayah privasi masing-masing.
“Saya tetap menjaga, artinya kalaupun saya akan berhubungan seks dengan laki-laki, saya akan berusaha agar istri tidak mengetahui. Saya bukan takut, tapi lebih kepada saling menjaga perasaan, juga menjaga martabatnya di mata teman-temannya.”
Asbak di atas meja sudah penuh. Namun ia membakar sebatang rokok lagi. “Jika saya dilahirkan kembali, bukan saya tidak atau mau memilih untuk tetap begini. Tapi karena saya sudah dilahirkan seperti ini, jadi ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, maka tugas saya adalah bagaimana agar bubur ini layak dimakan.”
Menjadi LGBT menurutnya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Ia mengaku sulit untuk membedakan apakah ia normal atau tidak. Sebab sebutan normal dan tidak normal itu bagi Riko hanya berlaku pada masyarakat umum. Riko menambahkan, di Manado, tidak ada lembaga konseling yang khusus menangani masalah perkawinan semacam yang ia jalani. Ia juga tidak pernah mencoba untuk bertemu psikolog lalu menceritakan kehidupan rumah tangganya. Baginya, hidup seperti apapun, harus diterima dengan lapang dada.
“Saya dilahirkan seperti ini, saya harus menerima. Bukan pasrah ya, kalau pasrah, pasti mengurung diri dalam kamar lalu menyesalinya.”
Sejauh perjalanan hidup yang ditempuhnya, tidak pernah sedikitpun terbersit untuk membangun rumah tangga dengan pasangan laki-laki. Ia mengaku lebih senang menjalani hidup seperti yang dijalaninya sekarang. Bahkan ia merasa, hidup yang dijalaninya sekarang adalah sebuah dunia petualangan.
Untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, Riko mengaku tetap sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki, biasanya ia memilih laki-laki hetero, bukan gay.
Perbincangan panjang itu, akhirnya ditutup dengan cerita ringan akan hobinya menonton film bertemakan kehidupan gay. Ia kerap menonton film-film itu untuk mengetahui bagaimana seseorang bisa tumbuh menjadi seorang gay dan cara mereka menjalani hidup.
Ilustrasi (DeGorontalo)
Kenapa LGBT Berkomunitas
Ketika kalangan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) berkumpul dan membuat komunitas, banyak yang marah dan  menuding jika mereka akan menghomokan semua orang. Padahal komunitas-komunitas itu didirikan sebagai wadah bersama, untuk saling menghibur dan menguatkan antar sesama mereka di tengah maraknya diskriminasi. Komunitas-komunitas LGBT juga menginisiasi konseling, menjadi tempat berdiskusi, dan mempelajari hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai warga negara. Selain itu mereka juga aktif mendata dan saling mengampanyekan antar satu sama lain, mengenai  bahaya HIV/AIDS.
Ada satu komunitas LGBT bernama Sanubari Sulawesi Utara (Salut) di Manado, Sulawesi Utara. Rajawali Coco (31) yang menjadi ketuanya. Ia seorang gay.
Saat ditemui di Rumah Kopi Sario, Manado, Coco bercerita mengenai kapan komunitas itu berdiri. Dari penuturannya, Salut berdiri sejak 7 Juli 2012. Ketika pertama kali dibentuk, Salut beranggotakan 200 sampai 300 orang se-Sulawesi Utara. Namun seiring waktu berjalan, makin banyak komunitas-komunitas LGBT lain yang terbentuk, khususnya di tiga Kabupaten dan Kota, yakni Bitung, Tomohon, dan Manado.
Kini anggota Salut hanya tinggal 40-an orang. Yang masih aktif pun hanya 10 orang. Itu terdiri dari 4 gender lengkap: lesbian, biseksual, gay, dan transgender. Meski demikian, upaya mereka untuk memperjuangkan hak-hak LGBT terus berjalan. Khususnya advokasi pada teman-teman mereka yang terdiskriminasi. Juga kampanye tentang bahaya HIV/AIDS.
“Sebenarnya kami bukan pecah komunitasnya. Tapi dengan dibentuknya beberapa komunitas baru, itu adalah jaringan-jaringan baru yang tetap melakukan pendataan seperti biasa,” cerita Coco, yang saat itu ditemani beberapa teman,transman dan waria.
Pada 2012, lanjut Coco, salah satu faktor penyebab berkurangnya LGBT yang terdata karena ada beberapa di antara mereka yang memilih menikah secara heteronormatif. Dan mereka terdiri dari berbagai kelas sosial dan ekonomi.
“Banyak gay dan lesbian yang memilih menikah. Mereka dari berbagai macam profesi. Mereka pun sangat menutup diri, bahkan pasangan mereka tidak mengetahui orientasi seksual mereka. Tapi untuk konsultasi tentang orientasi seksual, mereka tetap datang kepada kami,” terangnya. Coco juga menyatakan, sebagai teman, ia tidak pernah memberi masukan kepada mereka yang memilih menikah agar menjalani kehidupan mereka yang dulu.
“Itu adalah pilihan hidup mereka. Kami malah memberi support. Yang kami coba lakukan pula, agar bagaimana teman kami itu benar-benar yakin ingin menikah secara heteronormatif. Sebab akan banyak risiko yang harus dihadapi. Selain itu kami coba mengingatkan jika menikah nanti jangan sampai berbuat kekerasan. Kekerasan itu dalam arti, jangan sampai ada perselingkuhan dengan sesama jenis lagi. Setia dengan pasangannya, dengan pernikahannya, dan juga harus bertanggung-jawab,” sampainya.
Banyak di antara mereka yang menikah disebabkan pula oleh tekanan sosial, budaya, dan agama. Coco mengaku sangat prihatin, sebab tekanan orangtua pun menjadi faktor penyebab kenapa teman-temannya itu memilih menikah.
“Tekanan orangtua kami kategorikan dalam tekanan sosial. Teman-teman saya memilih jalur pernikahan itu karena merasa tertekan.” Namun menurut Coco, tidak sedikit pula dari mereka yang telah menikah yang tetap berhubungan seksual dengan sesama jenis lagi.
“Di belakang mereka tetap berhubungan dengan sesama jenis. Karena bagaimana pun, hasrat seksual mereka tetap kepada sesama jenis,” tutup Coco.
Jika di Manado keempat gender homoseksual terakomodir dalam satu komunitas, lain pula yang terjadi dengan provinsi tetangganya yakni Gorontalo. Satu-satunya komunitas waria dan gay di Kota Gorontalo yang diketuai Melky Hardy (35) diberi nama Binthe Pelangi Gorontalo (BPG). Ada satu alasan yang dikemukakannya bahwa kenapa ia dan teman-temannya memilih agar penyebutan gender kepada BPG diharuskan menyebut komunitas waria dan gay, bukan LGBT.
“Di sini stereotip masyarakat berbeda antara waria dan gay dengan LGBT. Jika disebut LGBT, pandangan masyarakat selalu negatif. Selain itu memang anggota kami juga baru terdiri dari dua kelompok ini,” jelasnya, saat ditemui di sekretariat BPG, di Kota Gorontalo.
Belum adanya gender biseksual dan lesbian yang bergabung di BPG disebabkan karena mereka belum mau terbuka. Awalnya pembentukan BPG dimaksudkan agar di antara mereka bisa tercipta keakraban. “Untuk lesbian dan biseksual mereka masih menutup diri. Dulu gay juga masih risih berkawan dengan waria. Begitupun sebaliknya,” terangnya.
Ketika direncanakan pada September 2013, lalu diresmikan bulan berikutnya Oktober, satu per satu wajah baru mulai bermunculan di BPG. Antara dua komunitas itupun, keakraban semakin terjalin.
“Setelah diadakan event Ratu Spesial 2013, akhirnya dua komunitas ini semakin akrab. Di awal pembentukan BPG anggotanya berkisar 50 orang. Anggota yang aktif  sekarang tinggal 8 orang karena banyak yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing,” terangnya.
Di samping kegiatan-kegiatan internal komunitas, gerakan BPG sama seperti Salut. Mereka berusaha untuk mengampanyekan tentang bahayanya penyakit HIV/AIDS. Mereka juga fokus mengadvokasi anggota yang terdiskriminasi oleh lingkungan masyarakat dan orangtua.
Dituturkan Melky, di Kota Gorontalo yang dijuluki Kota Serambi Madinah, diskriminasi atas dasar norma agama kerap menimpa mereka. Meski begitu, waria jauh lebih bisa diterima masyarakat ketimbang gay.
“Mungkin waria lebih aktif dan turut berbaur menjalankan beberapa program kerja pemerintah seperti penanggulangan HIV/AIDS. Sebaliknya, kalau mendengar kata gay atau lesbian, orang-orang sepertinya merasa risih,” jelasnya.
Dari teman-teman dekatnya sendiri, Melky mengaku pernah beberapa kali merasakan kehilangan. Sudah beberapa temannya sesama komunitas yang meninggal karena positif  HIV/AIDS.
“Sudah tiga orang teman saya yang meninggal,” ungkapnya. Untuk itulah komunitas BPG semakin difokuskan pada kesehatan. Mereka banyak terlibat dengan kampanye penggunaan alat kontrasepsi.
Ditanya mengenai kaum homoseksual yang memilih menjalani pernikahan secara heteronormatif, Melky mengaku ada beberapa temannya yang memilih kehidupan seperti itu. Namun sukar sekali mengajak mereka yang telah menikah untuk bisa berbagi cerita. Bahkan dengan komunitas, mereka pun sangat menutup diri. Selain itu beberapa di antaranya dari kalangan menengah ke atas.
“Tapi mereka curhatnya secara personal. Bukan dalam kapasitas lembaga,” katanya.
Beberapa teman-temannya yang gay dan memilih menikah secara heteronormatif, mengaku kerap kali merasa kurang percaya diri saat menjalaninya. Terlebih saat berhubungan intim.
“Yang menjadi masalah utama saat malam pertama. Mereka suka bertanya, apakah mereka bisa atau tidak.”
Sejauh ini, Melky hanya berusaha untuk mendorong semangat mereka, juga untuk meningkatkan kepercayaan diri.
“Di tahun ini, ada juga teman gay yang akan menikah. Teman saya itu suka curhat tentang kehidupannya. Pilihannya untuk menikah sebab tekanan yang datang dari orangtuanya,” terang Melky.
Amato Assagaf (koleksi pribadi)
LGBT, Moral, Agama dan Negara
Menanggapi isu tentang lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang semakin ramai di Indonesia, salah satu tokoh intelektual asal Manado, Amato Assagaf, mencoba menyampaikan sudut pandangnya mengenai kaum LGBT. Amato adalah penulis buku Merenungkan Libertarianisme dan sekarang aktif sebagai Direktur AMAGI Indonesia. AMAGI adalah sebuah lembaga riset dan advokasi kebijakan publik berdasarkan prinsip kebebasan individu, pasar bebas, dan pemerintahan terbatas. AMAGI berasal dari bahasa Sumeria yang berarti kebebasan; sebuah prinsip yang mendasari peradaban umat manusia, yang diyakini dapat menjadi landasan konseptual dalam membangun bangsa Indonesia. 
Jurnalis DeGorontalo, Kristianto Galuwo berkesempatan mewancarai Amato  pada akhir Februari 2016 di kediamannya, Manado, Sulawesi Utara :
Apa pandangan Anda dalam menyikapi fenomena LGBT di Indonesia yang akhir-akhir ini cukup kontroversial?
Saya pikir permasalahan dengan LGBT akan tetap kontroversial selama masyarakat kita belum berada pada situasi berpikir dewasa, yaitu pikiran di mana kita bisa menerima otonomi moral di tingkat yang lebih individual. Persoalannya, perjuangan untuk menegakkan otonomi moral semacam ini tampaknya masih akan panjang sementara persoalan itu akan tetap muncul dengan “memakan korban”, terutama di kalangan LGBT. Dan jika tanggapan masyarakat belum bisa diharapkan sepenuhnya positif, maka harus ada upaya dari kaum LGBT sendiri untuk bersikap kreatif dengan keadaan masyarakatnya. Kenapa? Karena tidak ada pihak yang paling bisa mendidik masyarakat untuk menerima keberadaan kaum LGBT, selain kelompok mereka sendiri.
Akan tetapi, pada tingkat tertentu, keadaan saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang sudah ada kesadaran di beberapa tingkatan masyarakat yang bisa menerima keberadaan mereka, minimal di kalangan intelektual dan kelompok-kelompok terpelajar.
Apakah masyarakat yang menolak keterbukaan kaum LGBT yang menuntut persamaan hak, salah menurut Anda?
Tentu saja salah untuk menolak realitas keragaman orientasi seksual dan pilihan-pilihan gaya hidup yang keluar dari “normalitas” umum. Tapi, persoalan kita sekarang bukan semata mengambil posisi salah-benar, karena pihak yang menolak LGBT itu masih akan dengan aman merasa bahwa mereka benar. Persoalan kita, setidaknya untuk saat ini, adalah memperjuangkan agar penolakan itu tidak berubah menjadi persekusi sosial bagi kaum LGBT, apalagi sampai melibatkan negara.
Kenapa ada masyarakat yang menolak dan ada juga yang mendukung?
Saya kira ada banyak jawaban yang bisa diberikan untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi inti dari semua jawaban itu akan mengungkapkan satu fakta menarik, keragaman. Dan akan selalu begitu. Makanya saya katakan lagi, persoalannya bukan menolak atau menerima tapi bagaimana penolakan dan, sekarang bisa saya tambahkan, penerimaan itu, tidak mendukung sikap mereka dengan kekerasan dalam bentuk apapun, termasuk tidak mengundang campur tangan negara (sebagai pemegang hak atas kekerasan) lebih dari yang diperlukan. Saya tambahkan, mengharapkan penerimaan dari seluruh pihak dalam masyarakat adalah utopia yang berbahaya. Tapi bukan utopia untuk berharap bahwa mereka yang menolak eksistensi kaum LGBT, bisa merasa nyaman dengan sikap mereka tanpa harus menghalangi hak kaum LGBT untuk juga merasa aman dengan pilihan mereka.
Kenapa masyarakat sulit menerima kaum LGBT?
Dalam konteks masyarakat kita, ada berbagai faktor yang menjadi dasar penolakan mereka. Tapi jika harus fokus pada satu jawaban tertentu, saya lebih suka menunjuk pada kaitan antara dua hal. Pertama, ketidakmampuan kita untuk menerima yang lain “yang menyimpang” dari tatanan “normal.” Dalam kerangka ini, LGBT adalah yang lain “yang menyimpang” dari pengetahuan kita akan tatanan “normal” relasi seksual. Kedua, moralisasi atas seks dan seksualitas. Bagaimanapun juga, kita tahu persoalan LGBT akan selalu – meski tidak semata – menjadi persoalan seks dan seksualitas.
Dengan melihat persoalan seks dan seksualitas sebagai persoalan moral maka persoalan LGBT akan dilihat sebagai persoalan moral. Artinya, “penyimpangan” kaum LGBT dari pakem “normal” itu adalah sebentuk penyimpangan moral. Maka, jika ditanya kenapa masyarakat sulit menerima kaum LGBT, itu karena kaum LGBT, dalam pandangan ini, adalah para pelaku penyimpangan moral. Yakni, orang-orang yang berbahaya bagi kelangsungan tatanan hidup masyarakat.
Seperti kita ketahui, ada sebagian kaum LGBT yang mengalami tekanan sosial, yang akhirnya mereka memilih untuk menjalani kehidupan berumah-tangga secara heteronormatif, apa pendapat Anda?
Harus dipahami bahwa di negeri kita tekanan itu sangat keras. Mereka terdesak dan pada akhirnya harus memilih untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan masyarakat. Setidaknya di tingkat individu kita tidak bisa terlalu banyak bicara soal itu. Meskipun di tingkat sosial, ini jelas penyakit yang berbahaya. Karena efeknya bisa sangat jauh. Yakni, terjadinya perceraian, kehidupan rumah tangga yang kacau-balau, apalagi jika ada anak-anak yang lahir dari perkawinan itu. Semua itu bisa terjadi. Ini adalah persoalan normalisasi lagi yang berlangsung lewat pengetahuan kita mengenai “yang lain dan menyimpang” dan kebutuhan untuk melakukan normalisasi yang, dalam kasus pertanyaan ini, dieksekusi sendiri oleh si korban; tak peduli apakah itu hanya sebagai cara untuk tampak “normal” maupun benar-benar sebagai upaya untuk menjadi “normal.” Dengan demikian, tampak jelas bahwa fenomena LGBT kawin secara heteronormatif  hanya merupakan salah satu akibat dari sebab yang lebih mendasar, yaitu penolakan masyarakat terhadap eksistensi utuh kaum LGBT. Artinya jika persoalan ini hendak ditangani maka kita harus melakukannya pada tingkat yang jauh lebih mendasar itu.
Apakah menurut Anda itu tergolong “nikah paksa” karena budaya kita melarang?
Secara tidak langsung, iya. Tapi saya pikir, dengan risiko apapun, sebenarnya kaum LGBT harus terus memperjuangkan penerimaan masyarakat atas eksistensi mereka dengan strategi yang tepat. Mungkin salah satunya adalah, pada tingkat individu, menolak “nikah paksa” itu.
Apakah layak atau tidak, pernikahan semacam itu dipertahankan?
Sudah saya katakan bahwa, di negeri ini, tekanan itu sangat kuat dan datang dari berbagai arah. Jadi tidak ada jawaban sederhana yang bisa saya berikan. Tidak ada polarisasi jawaban “layak”  atau “tidak layak” begitu saja. Sekali lagi, masalah kaum LGBT adalah masalah yang sangat kompleks, manakala itu menyangkut akibat-akibat yang harus mereka terima saat berada di lingkungan masyarakat secara umum. Tapi saya optimis bahwa kita sedang menuju keadaan yang terus membaik bagi kaum LGBT, sepanjang mereka sendiri memperjuangkan hak dan eksistensi mereka. Ingat, perjuangan mereka dalam dua wilayah ini akan menjadi pelajaran yang berharga bagi masyarakat secara keseluruhan. 
Bagaimana nasib-nasib anak mereka menurut Anda, sebab tumbuh besar dari rumah tangga yang bisa dibilang dibangun tidak atas dasar suka dari satu pihak. Dan apa yang semestinya dilakukan?
Jika saya harus memberi jawaban mudah untuk pertanyaan ini, seperti dengan pertanyaan sebelumnya, maka perkawinan seperti itu mestinya tidak boleh terjadi karena akan mendatangkan lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. Tapi, sekali lagi, mengingat kerasnya tekanan kepada mereka, kita tidak bisa begitu saja menghapus kemungkinan bahwa “perkawinan pura-pura” seperti itu adalah bagian dari “taktik” mereka untuk melindungi diri dari persekusi. Diperlukan adanya perlindungan bagi kaum LGBT di Indonesia yang lebih terorganisir dalam suatu jaringan kerja, yang bersifat meluas di seluruh wilayah negeri ini jika kita ingin menghindari problem tekanan dan persekusi sosial atas mereka.
Anda memiliki anak, seperti apa pemahaman yang nantinya Anda sampaikan kepada anak-anak, mengenai keberadaan kaum LGBT?
Jika pertanyaan ini bersifat pribadi pada saya, maka jawabannya bukan lagi “nantinya” tapi saya kira “sudah” tersampaikan sejak awal. Saya mendidik anak-anak dengan pandangan, dan dalam satu cara hidup, yang saya kira, secara sosio-kultural, cukup liberal. Jadi penyampaian verbal berlangsung seiring dengan praktek. Sejauh yang saya ingat, saya lebih banyak mengajarkan anak-anak tentang penghormatan atas otonomi moral setiap individu daripada, misalnya, mengajarkan mereka mengenai moralitas normatif yang bersifat spesifik. Dan dalam setiap pandangan itu selalu ada praktek yang berjalan seiring. Dan itu tidak spesifik hanya berlaku dalam kasus LGBT tapi juga dalam berbagai hal menyangkut eksistensi orang-orang yang berbeda.
Dalam kasus LGBT, saya dan istri punya beberapa teman yang diketahui anak-anak adalah orang-orang LGBT dan mereka bisa dekat dengan teman-teman kami itu, sebagaimana mereka dekat dengan teman-teman kami yang “normal.” Tentu saja saya harus mengantisipasi kemungkinan sampainya gagasan anti LGBT kepada mereka dari orang lain – sebagaimana gagasan-gagasan anti perbedaan lainnya – karena itulah saya menganggap penting untuk menekankan pada mereka penghargaan atas pilihan individual masing-masing orang, terutama soal otonomi moral setiap individu.
Isu LGBT ini, kerap mendapat pertentangan dari agama. Menurut Anda apakah pantas isu LGBT, dibedah dari kacamata norma agama atau dari sudut pandang moral?
Sejauh menyangkut seks dan seksualitas, saya pikir tidak ada pandangan, keyakinan, agama, ideologi, dan ilmu pengetahuan, bahkan ilmu pengetahuan tentang seks itu sendiri, yang bisa dianggap pantas untuk membedah isu LGBT (juga isu-isu seksualitas lain, seperti open marriage life style atau prostitusi, misalnya) selama masih ada bias moralisme di dalamnya. Agama, dengan segala hormat kita pada institusi ini, dalam banyak hal justru sering menjadi sumber dari bias moralisme ini. Diperlukan kemauan dan kemampuan orang-orang terpelajar dari dalam lingkungan masing-masing agama, untuk bisa melahirkan penafsiran yang tidak bias dalam mengkaji masalah LGBT. Meskipun, secara pribadi, saya sangat meragukan kemungkinan itu.
Apa pendapat Anda, ketika pemerintah sendiri, seperti pemberitaan yang ramai kemarin, secara jelas menolak keberadaan kaum LGBT?
Inilah yang paling saya takutkan dalam isu LGBT, campur tangan pemerintah. Tapi, sejauh yang saya tahu, tidak ada penolakan pemerintah atas keberadaan LGBT. Yang ada juga hanya gagasan lucu-lucu dungu dari menristek dikti kemarin. Dan itupun telah memancing kritik dari banyak kalangan intelektual dan berbagai elemen masyarakat sadar, yang menunjukkan pada kita bahwa isu LGBT dan berbagai isu sejenis tidak boleh dimasuki oleh negara/pemerintah. Sebagaimana kita tidak ingin para penentang eksistensi menggunakan negara untuk memaksakan kehendak mereka, kita juga tidak boleh meminta negara terlibat dalam pengakuan atas eksistensi kaum LGBT. Apa yang harus dilakukan negara hanyalah melindungi hak setiap warga negara. Soal, seks, moral, keyakinan, dan lain-lain, adalah soal privat yang tidak boleh dicampuri negara, baik untuk afirmasi maupun sebagai negasi.
Catatan: ‘istilah lucu-lucu dungu’ dipinjam dari Rocky Gerung (filsuf politik Indonesia).
Banyak elemen masyarakat yang dengan jelas menolak kaum LGBT dan sering berstigma bahwa kaum ini pasti selalu urusan seksual. Apakah menurut Anda wilayah seksual seseorang pantas dicampuri orang lain?
Mereka tidak mengatakan bahwa ini urusan seksual tapi mereka selalu berasumsi bahwa setiap urusan seksual pasti melibatkan moral. Inilah yang saya sebut moralisme. Urusan LGBT, banyak sedikitnya, memang urusan seks dan seksualitas. Tapi itu mestinya tidak masalah sejauh seks dan seksualitas tidak dipandang dengan moralisme. Memandang seks dan seksualitas dengan moralisme itu ibarat memandang suatu obyek lewat cermin; segala yang di kanan akan tampak di kiri. Dan ini bukan hanya tidak tepat tapi juga berbahaya. Cermin moralisme adalah cermin yang tidak bening dan distortif.
Menurut Anda, sudah layakkah masyarakat Indonesia untuk menerima kehadiran kaum LGBT?
Saya termasuk orang yang sangat optimis dengan bangsa saya ini. Berbagai kritik yang harus saya lancarkan terhadap berbagai hal yang tengah kita hadapi, tidak mengurangi pandangan optimistis saya terhadap Indonesia dan masyarakatnya. Apalagi dalam masalah LGBT. Penerimaan terhadap hak dan eksistensi kaum LGBT di Indonesia hanyalah soal waktu dan, jika ingin mempercepat laju waktu, kreatifitas dari kaum LGBT sendiri untuk memperjuangkan penerimaan itu. (*)
Oleh: Kristianto Galuwo

BEASISWA WORKSHOP JURNALISTIK
Better Journalism for LGBT
AJI Indonesia dan UNDP
Jakarta, 23 – 24 Januari 2016 
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
Laporan ini dimuat di DeGorontalo.co