Tuesday, May 31, 2016

Selamat Jalan Yayang


TAHUN 2007 adalah tahun pertemuan saya dengan Eza Yayang Lobud (Yayang). Kala itu, festival band sedang puber-pubernya digelar para kawula muda Kotamobagu. Setiap bulan, bisa ada 2 sampai 3 festival dihelat. Para musisi lokal dengan gitarnya yang masih bau toko, hingga yang sudah berlumut, semuanya urun manggung.

Yayang, bertemu saya di halaman parkir gedung Bobakidan, tempat festival digelar. Hari sudah malam. Band mereka baru selesai manggung. Punya kami sudah dapat jatah sejak sore.

Ketika itu ia nampak sibuk dan terus menggerutu.

“Mana ni helm!” semburnya, sembari pandangannya memindai sekeliling parkiran.

“Kita punya le ilang! Soe!” umpat saya, setelah sadar helm saya ikutan raib. Merasa senasib-sepenanggungan, sama-sama kami mencerca kesialan malam itu.

Selanjutnya adalah pertemuan-pertemuan. Kotamobagu memang kota sekecil upil. Dan pertemuan yang kerap berulang itu terjadi di Bobakidan jika ada festival band,  juga di studio musik, Kawasan Katipol, atau di tongkrongan sepanjang jalan Kotamobagu. Pun di leput-leput kampung pinggiran kota. Yayang selalu hadir di mana saja.

Kami kemudian akrab. Saya sempat bertanya, band musik apa yang jadi favoritnya. Ia mengaku menyukai Nirvana, Ska, dan Punk. Sepintas, Yayang yang bertubuh ceking, berkulit putih, dan modis, nampak sepadan dengan musisi kelas ibukota.

Lewat musik Punk, saya merasa sehati dengan dia. Membuat saya teringat pada Katz (sapa kami di Passi kepada Uwin Mokodongan) yang mengenalkan saya pada Komunitas Punk and Skinhead di Manado, sejak 2001.

Saya mulai akrab dengan Yayang. Keakraban kami lalu mengental ketika bersama Katz, saat sepakat mendirikan Scene di Taman Kota Kotamobagu. Tapi Scene Taman Kota cuma bertahan dalam hitungan hari. Kami lalu pindah ke Roberta. Itupun tak bertahan lama, sampai akhirnya kami bergabung dengan Scene Sakura yang, ternyata sudah pernah terbentuk oleh kawan-kawan Kotamobagu, Bolmong, Manado, bahkan luar Manado.

Sekilas mengenang Scene Taman Kota, yang kala itu masih dirangkul gerobak-gerobak penjual makanan dan kudapan. Payung berwarna-warni masih berjejer di ketiak simpang empat lampu merah UDK dan Masjid Raya. Kami saling mengajak dan menggasak tali gitar kopong. Berkumpulan para pengusung rambut Mohawk dan kepala botak (Skinhead) di Kotamobagu.

Kami memainkan lagu-lagu Marjinal, Begundal Lowokwaru, Bunga Hitam, The End, Rentenir, Anti Squad, Cock Sparrer, terkadang Misfits. Tak jarang juga lagu pesanan — lagu macam-macam — keliling kami bawakan.

Iya, kami mengamen. Setelah di Taman Kota, kami merapat ke Roberta lalu menetap di Scene Sakura dekat Bundaran Paris. Jika kawan-kawan sesama Scene lagi padat-padatnya, reriungan sampai di Toko Harmonis.

Lapangan kota kala itu masih riuh. Kami mengamen juga di sana. Lalu kembali di antara jejeran payung-payung Saraba’. Usai dari situ, kembali ke Scene. Uang hasil ngamen kami belikan nasi dan gorengan. Disajikan secara prasmanan ala jalanan untuk dilahap secara komunal. Nasi yang meruah kami punguti dengan tawa dan puas. Dan sudah barang tentu, selalu ada yang disisakan untuk Tjap Tikoes dan rokok murah biar banyak dan cukup dibagi. Ah, kami serupa binatang jalang! dari kumpulannya terbuang!

Yayang akhirnya mencintai Passi. Desa yang akhirnya menjadi takdir bahwa tubuhnya harus dirajah. Bermodal mesin tato ‘katinting’ (dinamo) yang dibawa Ko’ (panggilan lain dari Firman Monoarfa). Keinginan Yayang untuk menato tubuhnya, sudah membuncah. Tapi siapa seniman tato kala itu? Tak ada. Ia lalu meminta agar Katz menyanggupi permintaannya.

“Mo tato apa?” tanya Katz.

“Terserah!” jawabnya mantap.

“Jangan terserah.”

“Pokoknya terserah.”

Berbantahan Katz dan Yayang, hingga akhirnya Katz bertanya serius seolah ia seniman tato benaran.

“Ngana pe mau tema apa?”

“Tentang... Mamak.”

Iya, Yayang memang dikenal anak mami dan sangat dimanjakan orangtuanya. Terang, sebab ia adalah anak pertama.

“Oke. Love Mother berarti,” Katz menawarkan kata yang akan dirajahkan ke tubuhnya.

“Mantappp... Silakan. So butul itu!”

Kaos dilepas. Mesin dinyalakan. Katz mulai merajah. Jadilah itu tulisan: Mother yang dipupusi simbol cinta.

‘Cinta Ibu’ akhirnya menubuh di punggung kirinya. Katz, kendati baru pertama kali menato, saya kira cukup indah—untuk pemula—menorehkan ‘Mother’ sebagai kata yang alangkah unyu di punggung Yayang.


Seiring waktu berjalan, Gig akhirnya digelar di Kotamobagu. Komunitas kolektif Taring Babi lewat Band Marjinal diundang main. Kawan Rio Manoppo dibantu beberapa punggawa Skinhead aliran SHARP dan Punk dari Manado, berandil besar atas suksesnya Gig yang dihelat di Bobakidan, kemudian kampus UDK untuk Gig kedua kalinya.

Selanjutnya Gig ketiga berlangsung di Manggala. Kali ini lebih besar dengan kehadiran Steven Vibration, Marjinal, dan The End, yang menggetarkan Manggala malam itu.

Hampir setiap Gig, Yayang selalu ada. Tak hanya Gig-gig di Manado, di Gorontalo-pun Yayang hadir bersama Katz yang membentuk Manifesto Marhaen. Sebuah band kolaborasi antara kawan Punk Street dan Skinhead Anarko. Mereka memainkan Punk Rock dan sesekali Reggae Ska.

Setelah itu, saya dan Katz sempat berlama-lama lagi di Manado. Seiring Yayang memutuskan kuliah di sana. Kita bersua lagi di Scene Manado dan Gig yang biasa digelar di Gedung Pingkan Matindas. Dari style Punk, Yayang bertransformasi menjadi Skinhead Anarko. Entah, mungkin karena kawan seperjalanannya; Katz, Rio, Tanjung, Koko, Sofyan, Amat, dan Yudi, memang sudah memilih subkultur itu sebagai 'the way of life'. Entahlah…

Pernah sekali saya bertemu dengannya di Manado. Sewaktu ponsel pintar Blackberry mulai riuh di dunia gadget Indonesia, sekitar tahun 2009-2010. Yayang menemui saya, dengan kunci motor yang digantungi ponsel Blackberry bercangkang retak hampir di semua sisi.

“Bangsat! HP kong bekeng gantongan kunci!” kata saya. Tapi begitulah Yayang, ia selalu saja berbeda.

Seminggu kemudian, saya dikiriminya pesan singkat. Ia menanyakan apakah saya masih di Manado. Saya membalasnya, lalu menyarankan ia segera ke rumah kontrakannya Eding di jalan Kembang.

“Adoh, datang ambe dang!” katanya.

Saya akhirnya memutuskan menjemput di rumah kosnya di Malalayang. Di atas motor, saya mengiriminya pesan singkat lagi. Tiba-tiba seekor kucing melintas. Saya hilang kendali lalu menabrak pembatas jalan. Terpental.

Beruntung, hanya dengkul dan dagu saya yang lecet. Ponsel saya masih utuh. Saya segera mengabari Yayang. Ternyata, rumah kosnya tak jauh dari tempat saya terjungkal. Ia lalu mengendarai motor. Kami menuju rumah kontrakan.

“Singgah bli bir dulu!” katanya. Lalu menepi di sebuah warung.

Di tengah perjalanan, tepat di depan Polda Sulut, kami dihadang dua polisi bersenjata laras panjang. Ternyata, mereka sedang berjaga-jaga karena motor-motor berknalpot bising kerap membuat onar di jalanan.

“Turung ngoni dua!” teriak salah satu polisi.

Setelah melihat bir di dalam kantong plastik hitam di pangkuan saya, salah satu polisi segera menggaruk kepala. Sekantong bir itu disuruhnya diletakkan di samping pohon.

“Sobawa minuman, baru kiapa itu ngana pe lutut deng dagu so punung darah, sobalaju-laju di jalang kong cilaka?” tanya polisi.

“Iyo, tadi kita cilaka kong tamang pi ambe,” kata saya mengiba. Biar lolos sudah.

“Baru cilaka, bawa bir le!”

Ah, saya dan Yayang tak bisa berbuat apa-apa. SIM ditanya. Yayang segera memberikan SIM-nya. Saya juga segera menyodorkan STNK setelah disusul tanya polisi yang satunya lagi. Lucu memang, sebab motor milik saya, SIM milik Yayang, dan STNK milik saya. Saya tak mengantongi SIM.

“Adoh, tola tu motor maso ka dalam!” polisi itu membentak.

Yayang dengan lusuh mendorong motor saya ke halaman Polda Sulut. Saya segera mengeluarkan ponsel, lalu pura-pura menelepon.

“Sapa tu ngana motelpon?” tanya polisi.

“Sudara, dia di Polda sini lagi… (kemudian saya menyebut nama perwira yang ternyata cukup mereka kenal).”

“Baku kanal bagimana?”

“Sudara itu, ada tinggal sama-sama di Kleak,” kata saya dengan nada tenang.

Sejurus kemudian, salah satu polisi meneriaki Yayang yang sudah sejauh seratus meter mendorong motor saya ke dalam. Yayang segera berbalik arah. Lalu kami dibiarkan pergi. Empat botol bir dingin di kantong plastik hitam mereka kembalikan.

Di tengah perjalanan, Yayang bertanya siapa yang saya hubungi. Saya menjawab; “Cuma ta pe dusta, mar tu orang yang kita cumu memang baku kanal, de pe nomor ada le no ini, (saya menyebut nama perwira itu).”

Tawa kami lepas di antara lampu-lampu kota. Lalu kami segera menuju rumah Eding di jalan Kembang. Tempatnya tak seberapa jauh dari belakang Polda Sulut.

Seiring tahun, karena kesibukan masing-masing, Yayang tak pernah lagi bertemu dengan saya. Beruntung, saya masih berteman dengannya di BBM. Beberapa pekan lalu, sepulangnya saya dari Gorontalo, entah kenang apa yang sedang bertengger di kepala botaknya, ia tiba-tiba mengirimi saya foto.

“Masih yang jadul lebe gaul kang, Ya'?” isi pesannya. (Saya biasa disapa Ya').

Satu-satu saya pelototi lagi foto di kolom chat yang ia kirim. Foto saat kami di Scene Sakura. Saya mengiriminya emoticon tertawa terbahak-bahak. Kemudian kami saling mengenang.

Sepekan kemudian, ia menuliskan status di BBM.

“Geli ja lia cowok kong ja ba selfie-selfie munafik kong nimau lia kamera,” tulisnya. Yayang memang terkenal dengan ceplas-ceplos dan mulut embernya.

Setelah membaca pesan status di RU itu, segera saya memindai foto-fotonya di facebook; mencari pose dirinya yang tak menatap kamera kala di-shoot.

Setelah dapat, saya lalu memajang foto itu di profil BBM. Yayang mengumpat di statusnya, lalu chat dan PING!!! seperti buah duku berguguran di kolom chat saya.

“Sigidad, pembunuhan karakter,” tulisnya lagi di status. Ia menyuruh saya agar segera mengganti foto profil. Ah, itu kali terakhir saya dan dia saling bertukar canda.

Lalu kabar itu datang pukul 6 pagi. Saya terbangun dan mendapati ponsel yang dipenuhi panggilan tak terjawab. Bahkan dari nomor-nomor asing. Juga pesan singkat dan chat di BBM. Pesan yang mengabarkan Yayang berpulang. Ko' yang mengirim chat di BBM. Sialan! Cepat sekali kau berpulang!

“Cilaka? Di oto ato motor?” tanya saya sembari coba mengira, kalau Yayang kecelakaan. Sebab saya tahu itu satu-satunya sebab kematian merenggutnya. Yayang sehat-sehat saja setahu saya. Lalu Ko’ bertutur. Yayang kecelakaan mobil bersama seorang temannya. Ia meninggal di lokasi kejadian, sedangkan temannya yang mengendarai mobil, kritis di rumah sakit.

Katz segera saya kabari tapi tidak merespon. Mungkin masih terbaring karena demamnya belum reda. Saya meraih handuk; mandi, mengganti pakaian, lalu bergegas menuju RPM (Rumah Pemuda Merdeka) tempat Yayang juga sempat berbagi kisah.

Di RPM, pintu kamar Katz saya gedor keras.

“Katz! Katz! Katz! Bangon. Yayang so meninggal, ada cilaka!”

Suara parau Katz dari dalam kamar, serupa kaget seorang kakak yang mendengar adik satu-satunya meninggal. Ya, benarlah jika Yayang adalah saudara kandung kami. Kandung di jalanan, kandung di panggung-panggung Gig.

Saya, Oxa, DeBe, dan Cribs, yang telah saling mengabari, berkumpul di RPM lalu pagi tadi segera menuju rumah duka di Kopandakan. Kemudian kronologis tragis dari kecelakaanmu, tertutur dari orang-orang sekitar dan sahabat karib.

Ah, Yayang! Begitu cepat kau berpaling-pulang! Sulang, tunduk, dan tangis untukmu, UTAT!

NISAN

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

-Chairil Anwar

Jalan hidupmu seperti selengkung tato di dadamu, kata Yani istrinya Cribs. Sebaris tato dari judul lagunya The Used. Buried Myself Alive. Kubur Diriku Hidup-hidup.

Iya, Yayang. Kau memang terkubur hidup-hidup di dalam hati kami. Di tawamu yang renyah terbahak, di dalam hati terkasihmu Indri, putri mungilmu Darina, Ayahmu, dan Ibumu yang ternyata berulang-tahun di hari tepatmu berpulang.

Selamat ulang tahun Mamak Yayang. Mamak kami semua.

Selamat Jalan Yayang...
(2 Februari 1990-31 Mei 2016)

Sunday, May 29, 2016

Fajar Passi adalah Sebuah Pesan Leluhur


Saya masih ingusan, ketika turnamen sepak bola di Desa Passi, tak boleh lagi melibatkan banyak kampung. Sebab laga yang terakhir, kita pernah dimurungkan oleh hal-hal yang tentu saja, semua itu adalah bagian dari sebuah ajang. Selalu saja ada kericuhan. Tapi seperti itulah sebuah lomba. Tuan rumah adalah penjaga. Pendatang adalah tamu yang dijaga dan seharusnya saling menjaga.

Dulu, sejak mendiang ayah saya tergabung dalam tim Fajar Passi. Di mana kami masih serupa bayi-bayi yang lucu. Mereka yang pernah berjuang di Fajar Passi, di antaranya adalah sanak saudara, coba mempertahankan nama besar Fajar Passi.

Juang itu kerap berbuah manis, sebab setiap melaga pasti selalu mencapai final dalam ajang turnamen sepak bola yang berlangsung. Fajar Passi adalah sebuah legenda.

Seiring tahun bergulir, lapangan Elang Taruna selalu sepi. Hanya satu-dua remaja yang ingin bercucur keringat di sore hari. Sekadar menyalurkan kegemaran mereka bermain bola.

Ajang perlombaan digelar namun hanya sebatas desa. Pernah melibatkan beberapa desa. Namun, itu tidak diseriusi lagi. Dan mereka memilih berkarya di sekolah masing-masing atau di lapangan futsal yang mahal itu. Padahal, tanah lapang masih terbentang luas.

Mendiang Bagus salah satunya. Ia adalah satu bukti dari bakat yang, menjadi mutiara bahwa Passi bisa berlaga di luar sana. Bahwa Passi bisa melahirkan pemuda yang begitu serius dengan jalan hidupnya sebagai atlit sepak bola.

Saya jujur saja tertunduk menangis, tatkala dikabari bahwa Bagus berpulang. Hanya sebuah tulisan yang bisa saya rangkai sebagai ucap duka kepada ibundanya kala itu. Setelah tahu putra kesayangannya itu telah berpulang. Tulisan kala itu, berjudul:

Titip Duka Kami untuk Bagus

Ibunya perempuan tangguh. Kami akrab menyapanya Lince. Putranya adalah
bocah hitam legam. Usianya masih lima tahun saat kutemui lincah berlari di tanah lapang Elang Taruna Passi.

Matahari mengguyur tubuh mungilnya hingga keringat mengucur. Bagus namanya. Kemudian, rumah tangga Lince di ambang perceraian, yang membikin Bagus bimbang. Mau ikut ayah atau ibu.

Namun kasih ibu menerangi jalan yang
ia tapaki. Lince membesarkannya penuh cinta setelah perceraian. Meski kami tengah berserak tawa dan mengunyah embun malam di bawah pohon tome-tome. Lince pasti melesat cepat menuju rumah saat Bagus menangis dan mencarinya.

Kemudian Bagus besar di Passi dengan gigi putih bersih.

"Biar saki, tetap musti gosok gigi," tutur Lince, saat aku berkesempatan mengunjungi Bagus yang tengah dirawat di rumah sakit, beberapa bulan yang lalu sebelum ia berpulang.

HB-nya sangat rendah. Wajah hitamnya
memucat. Tapi senyum dan deretan gigi putih masih di sana.

Kabar meninggalnya Bagus, kubacai di status BBM yang menumpuk. Inalillahi, dada kutepuk-tepuk. Jauh di Bolmut, tak sempat bersua-tangis dengan ibundanya. Tak disangka, Bagus yang tumbuh besar dengan fisik yang tampak setangguh ibunya, begitu cepat berpulang.

Tubuhnya yang atletis sebab Bagus gemar berolahraga, kini terbujur kaku. Sepak bola adalah masa depannya. Ia begitu gesit berlari menjemput bola, tatkala laga tarung antar desa atau sekolah yang ia ikuti. Bagus kerap menjuarai beberapa lomba.

"Pokoknya main bola sampe di Jakarta sana ne," kata Lince dengan kilatan mata penuh harap kala itu.

Harap itu karam di hari Kamis yang penuh tangis. Foto-foto hanya bisa
kupandangi di facebook dan BBM. Lince yang tangguh kini luluh lantak. Matanya bengkak di setiap foto yang kusaksikan, dan.... Ah, aku tahu seperti apa Lince meluapkan sedihnya.

Kendati Lince masih memiliki putra kedua, di pernikahannya yang kedua. Duta masih begitu belia. Sedangkan Bagus adalah guardian-nya. Penjaganya.

Masih menunggu lama, untuk Duta tumbuh remaja. Kedua putranya ini berdarah Jawa, dari dua bapak yang berbeda. Tapi lahir dari satu perempuan yang telah mencecap ribuan luka, suka, dan duka.

Lalu Lince menikah lagi dengan kerabat dekat saya. Mereka dikarunia putra lagi yang diberi nama Ca'. Seperti Tuhan ingin menebus sebuah kehilangan.

Turut berduka cita dari kami Eropassi. Kami tahu sebesar apa sedihmu Lince. Namun kami pun tahu, setangguh apa dirimu. Bagus hanya sedang ingin berkunjung atas undangan Tuhan, yang ingin menyaksikan kelihaiannya memainkan bola. Tuhan sedang ingin dihibur permainan sepak bola, Bagus.

Kelak, saat Tuhan memanggil kita yang semoga saja di usia senja, piala-piala Bagus sedang berderet serapi giginya, menunggu kamu — Lince — si perempuan tangguh.

Lalu silakan berpelukan menebus rindu.
Sebab kita pun akan begitu, menuju ke sana. Titip duka kami, yang tak sempat hadir pada pemakaman.

Dan setelah itu, Fajar Passi kembali bersinar setelah sekian tahun. Terang hingga penghujung final di laga kali ini. Turnamen terakbar dan menjadi pijak, bahwa nama besar Fajar Passi memang adalah sebuah legenda.

Kaka Oxa dan Bedewin adalah sahabat yang kembali menumbuhkan semangat anak-anak, agar Fajar Passi menjadi sebuah tim yang bangkit lagi di generasi kini. Tim itu, seiring perjalanan selama laga berlangsung, akhirnya memiliki ikatan emosional secara perlahan.

Mereka menjadi solid. Itu dibuktikan ketika wajah mereka menunduk di laga final. Sebab salah satu tim mereka, Anding, tidak hadir di sana. Sebuah tunduk yang tentu saja semua berdamai dan bersepakat bahwa, putramulah, Anding, yang harus dijadikan pilihan utama. Apalagi itu adalah putra pertama Anding dan istrinya setelah mereka menikah hampir 8 tahun lamanya. Putra yang akan dinamainya, Ibra.

Perjalanan mencapai final bagi Fajar Passi adalah tekad yang sebenarnya sebuah keniscayaan. Tapi semua itu bisa diterabas oleh satu juang; bahwa Fajar Passi bisa bersinar!

Dan buktinya... Final adalah jalan yang terbuka lapang di lapangan Elang Taruna yang melegenda.

Hal yang tersulit dalam sebuah tim, adalah ketika bagaimana sebuah ikatan emosional itu terbentuk. Bagaimana ketika rasa harus menyatu itu adalah mutlak. Dan Fajar Passi telah membuktikan itu, ketika mereka merasa sebuah kehilangan yang sangat berarti, saat salah satu dari bagian timnya tidak hadir.

Sebuah tim, adalah bagaimana ketika rasa senang terasa hilang, sebab salah satu pemain tidak datang. Sebuah tim, adalah bagaimana ketika rasa kebersamaan itu telah mampu terbentuk dengan sendirinya. Dan sebuah tim, adalah bagaimana ketika tekad itu, bisa terwujud hingga penghujung laga. Yang terpenting adalah hasil akhir, kata Mourinho.

Fajar Passi 'Road to Final', adalah sebuah tekad yang patut dikenang. Sebuah tekad atau pesan dari para leluhur yang kekal! Dan pelatih Kaka Oxa telah membutikan itu. Ia mampu membimbing sebuah tim yang terdiri dari beragam warna. Tapi, seluruh tim telah membuktikan itu. Fajar Passi, bukan lagi sebuah tim tapi sebuah keluarga besar.

Malam ini, silakan menikmati rasa kekeluargaan itu, seperti pesan leluhur, "Selalu berbagi kasih. Selalu bersama-sama. Dan selalu saling mengingat."

Itulah TIM FAJAR PASSI.

Tulisan ini, dibaca saat perayaan kemenangan Fajar Passi, Sabtu 28 Mei. Tim ini berhasil masuk ke babak final dan merebut tempat ke dua. Salah satu pemainnya Isa', ditetapkan sebagai pemain terbaik selama turnamen dan penyumbang gol terbanyak, 7 gol.

Thursday, May 26, 2016

Kejahatan Bukan Pengalaman

kompas.com

"Sah!"

Jokowi telah mengesahkan Perppu yang memberatkan hukuman bagi pelaku tindak kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Selain hukuman ditambah menjadi maksimal 20 tahun, pun seumur hidup, hukuman kebiri juga akan diberlakukan. Mendengar kata 'kebiri', saya seketika terbayang seekor anjing di kampung, yang tubuhnya tiba-tiba membesar usai dikebiri.

Siapa saja tentu sangat mengecam segala bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Meski kita tahu sendiri, laki-laki pun sebenarnya bisa menjadi korban. Namun pro-kontra tentang hukuman kebiri, saya sepertinya harus berdiri di posisi menolak. Perilaku kejahatan seksual yang menyimpang adalah sebuah proses akal yang keliru.

Sama seperti pengesahan Perppu kebiri, pemerintah sepertinya sedang keliru menanggapinya. Tidak akan pernah ada efek jera bagi pelaku tindak kejahatan. Jika ada efek jera, maka setiap tahun pelaku kejahatan pasti akan terus berkurang. Sebab pangkal kejahatan, bukan melulu soal niat. Tapi pemahaman akan aturan dan hukum juga memiliki peran penting.

Di negara-negara lain, semisal Belanda, bahkan banyak penjara-penjara ditutup. Sipir-sipir menganggur sebab setiap bulan, tahun, pelaku kejahatan terus berkurang. Itu bukan soal efek jera, tapi bagaimana masyarakat di sana telah belajar memahami, sebelum melakukan tindak kejahatan.

Saya sebagai seorang jurnalis, pernah sesekali meliput sidang tindak kekerasan seksual. Ketika para pelaku usai disidang, saya coba mewawancarai mereka di balik jeruji tahanan pengadilan. Baik para pelaku yang berasal dari perkotaan, mereka yang berasal dari pedesaan pun coba saya tanyai.

Dan pengakuan yang kerap kali saya dapatkan memiliki pola yang sama. Mereka memang tidak tahu menahu tentang hukuman apa yang akan mereka hadapi. Dari pelaku yang masih remaja hingga orang dewasa, mereka mengaku bahwa menyentuh bagian sensitif tubuh perempuan di bawah umur, bukanlah sebuah kejahatan yang akan diganjar hukuman berat.

Begitu juga dengan pemerkosaan. Para pelaku mengaku bahwa apa yang mereka perbuat, tidak lebih keji dari membunuh. Bahkan ada yang berdalih karena mereka saling mencintai. Tapi hukum tidak mengenal kata cinta. Selama itu anak di bawah umur, hukuman yang berat siap menanti usai hakim mengetuk palu.

Jika hukuman kebiri dianggap satu solusi, maka pemerintah terjebak dengan suatu proses penyadaran yang 'after'. Melakukan dulu, baru ditindak, kemudian sadar. Padahal tujuan sebenarnya untuk meminimalisir tindak kejahatan adalah bagaimana masyarakat itu sadar hukum. Sudah sejak dalam pikiran.

Pencegahan lebih penting. Bukan melulu tentang apa yang telah terjadi. 'Before' bukan 'after'. Bahkan soal penyakit pun, dokter menyarankan sebaiknya kita mencegah daripada mengobati. Apakah kita harus demam dulu, baru sadar itu akibat kita mandi hujan? Jika tidak ingin demam, maka jangan mandi hujan. Ini soal pemahaman.

Sejauh ini, seberapa gencar pemerintah melakukan kampanye baik itu di masyarakat kota atau desa? Mungkin pernah sosialisasi dilakukan, tapi yang diundang hanya lurah-lurah dan digelar di gedung-gedung mewah. Sepulangnya dari sana, lurah-lurah bahkan sudah lupa apa saja yang hendak ia sampaikan kepada masyarakat. Kerap kali informasi tidak menukik ke bawah. Tapi hanya mengendap.

Sosialisasi selama ini hanyalah seremonial-seremonial berspanduk. Niat untuk memberi pengetahuan dan kesadaran, tertutup oleh tema yang ditulis dengan huruf-huruf besar. Bahkan, kata 'sosialisasi' menjadi serupa sesuatu yang formalitas saja. Sejauh sudah dilakukan, ya, sudah.

Hukuman kebiri akan menjadi sama tidak efektifnya, meski media massa menggaungkan secara terus menerus soal hukuman itu. Apakah berita-berita bisa mendidik pembaca agar takut untuk melakukan tindak kekerasan seksual? Saya kira tidak. Sebab tidak semua orang itu suka membaca koran, atau merogoh kantongnya untuk sekadar membeli selembar. Pun tidak semua orang memiliki ponsel yang bisa mengakses informasi terkini.

Menghukum pelaku tindak kekerasan seksual dengan dikebiri kimia, tidak serta merta menghilangkan perilaku menyimpangnya. Jika kita mencuri, maka tangan kita dipotong. Bukan seperti itu. Saya mencontohkan, jika saya hendak mencuri ponsel tanpa menggunakan tangan, saya bisa melakukannya dengan mulut. Apalagi, orang-orang yang ketika tangannya dipotong, maka kaki dan mulutnya bisa menjadi terlatih dengan sendirinya. Siapa yang pernah melihat orang melukis dengan mulut atau kaki?

Sama seperti pelaku tindak kekerasan seksual. Penis bukan satu-satunya alat. Kekerasan seksual bisa dilakukan oleh mulut, tangan, bahkan jempol kaki sekalipun. Jika hukuman kebiri melalui suntik kimia diterapkan, di sini, kita bicara tentang libido. Bicara soal syaraf. Bahkan dokter Ryu Hassan yang ahli di bidang neurologi mengatakan, secara teoritis tidak ada hubungannya. Orang jahat, jahat saja.

"Tidak ada orang jahat, (kalau) libidonyo turun, kejahatannnya hilang. Tidak ada, tetap jahat."

Maka pemerintah sebaiknya gencar memberi pemahaman. Studi banding sana ke Belanda, dan tanya apa saja yang membuat tindak kejahatan di negeri itu terus menyusut. Setelah kembali, turun ke lapisan masyarakat terbawah di manapun mereka berada. Di pelosok-pelosok desa yang bahkan mereka tidak pernah mendengar tentang siapa itu Sum Kuning, siapa itu Yuyun.

Selain itu, pendidikan seks kepada anak di usia dini itu penting. Anak-anak harus diberi arahan, bagaimana mereka harus bertindak ketika ada orang asing atau bahkan orang yang ia kenal, memperlakukannya dengan tidak senonoh. Apa saja bagian tubuh anak-anak yang sensitif dan tidak boleh disentuh orang lain. Sekalipun itu orangtua sendiri.

Baik dari calon pelaku dan calon korban, keduanya diberi pemahaman. Saya pikir, saat ini kita sendiri bisa memahami persoalan kekerasan seksual, sebab kita memang tahu langkah-langkah apa saja untuk bisa terhindar dari berpikir keliru. Sebab ketidaktahuan itu lebih kejam dari niat. Niat itu bisa hadir karena ketidaktahuan. Dan ketidaktahuan adalah kebodohan.

Cara membudayakan kebodohan secara terus menerus itulah, lalu hasilnya yang menjadi objek untuk sebagian orang menilai bahwa; seperti inilah yang harus, seperti itulah yang baik, dan seperti beginilah yang pantas untuk hukuman kepada pelaku tindak kekerasan seksual. Lalu pertanyaannya, apakah layak mereka dijadikan dasar untuk menetukan sikap atau penilaian karena kebodohan mereka?

Kita tahu sendiri, tak hanya dalam kasus kekerasan seksual. Bahkan menyoal penebangan hutan, kebanyakan masyarakat akan belajar dulu bagaimana dampak negatifnya, setelah itu terjadi. Banjir datang baru sadar. Selanjutnya, setelah merasakan dampak itu, masyarakat lalu paham. Itu kebodohan yang dibudayakan namanya. Kita harus merasakannya dulu agar tobat. Kita tidak harus celaka dulu untuk selanjutnya berhati-hati, bukan?

Dan... Kejahatan itu bukanlah pengalaman yang harus disadari setelah terjadi. Sudah bukan abadnya untuk kita berpikir; jangan jatuh di lubang yang sama. Namun, bagaimana agar kita bisa menghindar sebelum kita jatuh.

Monday, May 23, 2016

Bali Puputan Tolak Reklamasi!

Fanpage Bali Tolak Reklamasi

Pukul 6 pagi, saya merinding. Bukan karena dinginnya udara pagi, tapi karena melihat postingan foto dan kalimat-kalimat perlawanan di sebuah fanpage facebook, Bali Tolak Reklamasi.

Saya menukil kalimat-kalimat yang membuat saya merinding itu di bawah ini:

Beberapa hari lalu, saat Jokowi datang ke Bali, aparat bersenjata menakut-nakuti rakyat memaksa menurunkan baliho-baliho Bali Tolak Reklamasi, mengintimidasi bilang bahwa yang melawan akan ditangkap. Tapi rakyat bersikeras melawan, menolak menurunkan baliho.

Hari ini di Denpasar, rakyat Bali, ribuan orang turun ke jalan, menunjukkan lagi bahwa mereka tidak takut dan menolak tunduk.

Rakyat bersatu, berani, dan berlipat ganda. Rakyat telah memutusan puputan. Tolong minggir jika tidak mau digilas!

#‎TolakReklamasiBerkedokRevitalisasiTelukBenoa‬
#‎BatalkanPerpresNo51Th2014‬
#‎PuputanTelukBenoa

Semangat itu, serupa dengan semangat 9 perempuan Samin yang tempo hari, mengecor kaki mereka dengan semen di depan Istana Presiden, karena ingin menolak pabrik semen. Semangat yang sama dengan ibu-ibu Samin yang mendirikan tenda-tenda, juga untuk menolak semen di tanah Samin.

Saya kira, rakyat sudah lelah dengan mereka yang di Jakarta sana. Mereka yang menganggap Indonesia hanyalah Jakarta. Mereka yang suka mengambil keputusan seenaknya dari Jakarta. Bahkan, nasib rakyat Papua pun mereka yang memutuskan, dengan mengirim bala tentara ke sana. Memerangi rakyat, bukan mendengarkan keluh kesah, dan mengobati derita rakyat.

Di sini, saya bukan menyalahkan warga Jakarta tentunya. Tapi mereka yang berkantor di Jakarta. Mereka itulah apa yang dengan begitu hormatnya kita sebut 'pemerintah'. Sebutan yang bahkan menurut saya, memiliki arti yang cukup arogan sesuai etimologisnya yang berasal dari kata 'perintah'. Pusat orang-orang yang memerintah ada di Jakarta.

Hingga kini, perjuangan rakyat Bali, Samin, dan Papua, adalah juang yang melekat karena adat istiadatnya terus terjaga. Perjuangan itu lahir dari pesan-pesan leluhur bahwa alam harus dijunjung tinggi. Hutan adalah ibu. Gunung adalah kepala. Sungai adalah nadi. Dan lautan adalah darah. Dan amanat itu kerap mereka jaga, bahkan meski darah harus tertumpah.

Bali sendiri, memiliki adat dan budaya yang begitu erat. Saya pernah tinggal di Bali hampir setahun. Di sana, pada suatu sore secara tidak sengaja di pantai Seminyak, seorang turis Jerman yang sudah fasih berbahasa Indonesia sebab telah dua tahun tinggal di Bali (saya tahu setelah perkenalan). Ia menyapa saya lalu mengatakan pendapatnya tentang Pantai Seminyak.

"Pantai ini sangat indah," katanya. Turis laki-laki itu berusia sekitar 40an. Ia lalu menawarkan sebotol bir dingin.

Ia lantas bercerita, tentang pertama kalinya berkunjung ke Bali. Sekitar tahun 2000. Di Bali, ia bertemu seorang perempuan Jerman juga di sebuah kafe di Seminyak. Kafe yang sederhana dan tentu saja bergaya khas Bali. Hubungan mereka terus berlanjut, sampai akhirnya menikah setelah mereka kembali ke Jerman. Mereka dikarunia seorang putri.

Untuk kedua kalinya mereka berkunjung ke Bali setelah sekian tahun. Sambil mengajak putri mereka satu-satunya. Mereka ingin mengenang kembali perjumpaan itu. Juga untuk menceritakan kisah cinta mereka kepada putri satu-satunya. Tapi, kafe yang menjadi awal perjumpaan itu telah berubah sesampainya mereka di Bali. Kafe itu berubah menjadi megah. Hilang sudah kenangan itu. Ia sangat menyesalinya.

Kemudian ia menunjuk perempuan berambut matahari di bibir pantai, yang sedang bermain buih ombak dengan seorang remaja perempuan. "Itu istri dan anak saya."

Sebelumnya, saya pernah menulis tentang Bali yang tak lagi purba di blog ini. Saat menulis itu, saya juga masih berada di Bali. Hanya ketika berada di Bali, saya pernah menulis di blog ini, setiap hari satu tulisan. Sebab apa yang tidak bisa dituliskan di Bali, dengan panorama alamnya yang begitu indah. Orang-orang yang lalu lalang dan kerap kali tersenyum. Dan negeri yang membuat saya seperti sedang berada di masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu.

Di Bali sendiri, sangat jarang ditemukan gedung-gedung jangkung. Hampir semua gedung hanya terdiri dari tiga lantai. Beruntung ada aturan adat dan istiadat di Bali, yang melarang bangunan tidak boleh lebih tinggi dari Pura. Atau lebih dari tiga lantai. Meskipun ada sebuah hotel yang bangunannya melebihi tiga lantai, seingat saya, mungkin sampai sepuluh lantai. Namanya Sanur Beach Hotel.

Sejauh yang saya tahu hotel itu dibangun atas permintaan Bung Karno kala itu. Hotel itu pernah terbakar di tahun 90an kalau saya tidak salah mengira. Tapi kembali dibangun karena menjadi tempat bersejarah. Saya pernah ke hotel itu sekali. Sewaktu diundang oleh Tisnaya Kartakusuma dan mendiang istrinya Henny Hakim (kakaknya Christine Hakim).

Ketika hendak masuk ke halaman parkir, pepohonan raksasa merangkul hotel itu. Di lobi, ada aroma dupa yang khas. Eskalator dan liftnya berderak seperti batuk orang tua ketika saya naiki. Dari balkon kamar hotel, kami bisa menikmati pantai yang begitu indah di bawah sana. Meski saat itu malam hari, namun bibir pantai begitu terang oleh lampu-lampu yang, menerangi sepanjang pantai. Pepohonan kelapa berderet rapi. Kolam biru seperti langit di bawah sana.

Saya dihadiahi buku yang menuliskan tentang ayahnya, Letjen TNI MMR. Kartakusuma, Sosok Prajurit & Pemikir, yang ditulis Hikmat Israr. Buku itu diberikannya, tepat sejam lagi saya ulang tahun, 12 April 2013. Saya juga memberinya buku, Soegija karya Ayu Utami. Buku bergambar yang ringan dibaca di pesawat nanti, jika ia dan istrinya pulang ke Jakarta. Cincin hiris berpola bintang juga saya berikan kepadanya, yang hingga hari ini masih ia kenakan.

Tak hanya hotel bersejarah itu yang menjadi pilihan para wisatawan. Bahkan di Ubud, salah satu wilayah perbukitan di Bali yang bangunannya masih begitu purba, menjadi destinasi pariwisata favorit. Banyak artis-artis dunia yang memiliki vila di sana. Mereka memilih Ubud, karena alamnya yang asri dan kotanya yang serupa kerajaan Hindu. Kita seperti kembali ke masa lalu.

Jika Teluk Benoa hendak dibikin semegah-megahnya. Saya kira untuk menarik turis mancanegara menyukai Bali, tidak perlu membangun gedung-gedung megah. Turis-turis itu sudah puas bermegah-megahan di negeri asal mereka. Apalagi yang tak megah di negeri mereka, bahkan kakus pun begitu megah. Itulah mengapa mereka berdatangan ke Bali. Ingin merasakan panorama alam yang tidak mereka dapati di negeri mereka. Bangunan-bangunan yang berornamen khas.

Kepada rakyat Bali yang terus berjuang menolak reklamasi di Teluk Benoa. Saya pasti akan kem-Bali ke Bali untuk melihat hasil perjuangan kalian terwujud. Melihat Teluk Benoa yang tetap menjadi tempat penghidupan bagi para nelayan di sana. Pun tetap menjadi habitat ikan-ikan sebagai penopang kehidupan mereka.

Teruslah berjuang rakyat Bali! Sebab bukan hanya turis-turis mancanegara yang ingin mengenang Bali. Saya dan siapa saja di pelosok negeri ini yang pernah ke Bali, pun ingin mengenang.

Mengenang Bali dengan aroma bunga kemboja dan dupanya. Dan siapa saja yang hendak mencuri kenangan itu, maka layak untuk mereka sebuah "PERANG PUPUTAN!".

Gladys di Kota(razia)mobagu (7)


... Wajahnya semakin mendekat. (Baca sebelumnya: Bagian 6Sekejap, aku dan dia telah menjadi sebatang rokok dan korek api yang menyatu. Terbakar.

Deru motor terdengar berhenti di depan kamar kos. Pintu diketuk. Bara di dada kami segera padam. Gladys lekas menyeka bibirnya.

"Siapa? Bukan razia, kan?" bisik Gladys kepadaku.

"Aku baru ingat. Deni. Tadi dia katanya mau ke sini. Lagian, sepagi ini mana ada razia?" saya coba menenangkannya.

"Gid, kau di dalam?" suara panggilan itu cukup akrab.

"Iya, itu Deni. Saya juga tahu perasaanmu. Tidak apa-apa, Deni teman baikku." Aku coba menghibur Gladys, yang sepertinya tidak enakan jika aku dan dia dipergoki sedang bersama di dalam kamar.

Aku beranjak menuju pintu yang sebenarnya tidak dikunci. Pintu kamar menutup begitu saja tertiup angin, ketika aku dan Gladys tengah asyik mengobrol. Sepertinya hembus angin sengaja memberi kesempatan. Sedangkan letak jendela meski terbuka lebar, orang harus menyeret kursi untuk tempat berpijak, jika niatnya mengintip ke dalam kamar.

"Den, maaf  kelamaan. Tadi aku di dapur lagi bikin kopi. Ayo, masuk! Kau seperti orang asing saja," ajakku.

Deni terkejut ketika tahu, ada perempuan yang tengah bersama saya. "Maaf, aku menganggu ya? Nanti aku kemari lagi." Dia tiba-tiba ingin pamit.

"Eh! Tidak apa-apa, Den. Malah sikapmu, membuat kami lebih tidak nyaman." Meski di dalam hatiku, kedatangan Deni kali ini, seperti serombongan pemadam kebakaran.

"Kenalkan, ini pacarku, Gladys," kataku. Raut wajah Gladys terlihat berubah mendengar ucapanku. Seperti ada yang meloncat-loncat di dalam matanya.

Usai bertukar nama, Deni bergabung selonjor di lantai. Di wajahnya ada berdiam sebuah kecemasan. Dia tampak kaku pula duduk berhadap-hadapan dengan Gladys. Aku coba mencairkan suasana yang kaku dengan menawari Deni secangkir kopi.

"Kebetulan, masih ada sisa kopi. Aku ambilkan dulu. Kau pasti akan bersujud membelakangi kiblat, ketika merasakan racikan kopi Kotamobaguku." Aku segera membikinkannya kopi. Tawa Deni terdengar menyusulku sampai ke dapur.

"Masih kuliah?" tanya Deni kepada Gladys.

"Iya. Mudah-mudahan tahun depan selesai."

"Wah, baguslah. Aku turut mendoakan."

Dari dapur mini yang hanya berjarak lima meter dari posisi Deni dan Gladys, aku bisa mencuri dengar percakapan mereka. Deni memang selalu tahu cara melonggarkan kerah.

"Kopinya siap. Secangkir, ditukar dengan lima kaleng bir sama seamplop uang," candaku.

"Taeek! Barista mata amplopan! Aku kira cuma wartawan yang mata amplopan!" Tawa seketika mengisi seisi kamar.

"Den, tadi kau menelepon sepertinya penting sekali. Ada apa?" tanyaku yang sedari tadi masih penasaran.

Deni melirik cepat ke arah Gladys. Seakan pertanda bahwa dia kurang yakin mengutarakan hal itu di depan Gladys.

"Aku mau bertemu Lina dulu," kata Gladys. Lirikan mata Deni meski secepat peluru berlalu, tampaknya berhasil ditangkap Gladys.

"Tidak apa-apa kok. Aku dan Deni percaya kau." aku berusaha membujuknya.

Gladys beranjak. Dia menunduk sebentar. Cangkir kopi yang masih berisi diraihnya. Lalu diseruputnya menyisa lumpur kopi di dasar cangkir.

"Idih... Lagian ini juga urusan kalian. Eh, kopimu enak," kata Gladys. Lalu dia pamit seiring senyum dengan ukiran lesung pipit.

Melihat senyuman Gladys dan lesung pipit di kedua pipinya. Rasanya aku ingin menceburkan diri di kedua lesung pipit itu. Setelah puas terbakar dengan, ah, sialan. Jadi kesal aku mengingat kejadian tadi. Deni memang brengsek.

"Melamun saja seperti belum gajian!" Tepukan Deni di kaki mengagetkanku.

"Pobure!" saya mengumpati Deni dengan bahasa daerah. Dan Deni membalasnya dengan umpatan berbahasa daerah pula, yang artinya terlampau kasar. Kami saling bertukar lempar dengan umpatan.

"Den, ada apa sih?"

"Masih soal Indra."

"Kenapa dia?"

"Indra semalam mendatangi Umar di kedai kopi. Setelah kita pulang."

"Lalu?"

"Dia meninju Umar."

"Apa? Dasar bajingan! Lalu Umar membalas?"

"Mereka terlibat perkelahian. Indra babak belur. Lalu Umar dilapor orangtua Indra ke Polres." Wajah Deni terlihat sedih. Dari sorot matanya, menyiratkan bahwa Umar saat ini sedang dalam masalah besar.

"Kenapa Umar tidak melapor lebih dulu? Atau jika memang Indra yang duluan melapor, pasti ada saksi yang melihat Umar ditonjok duluan," kataku geram.

"Umar melapor balik. Dan usai melapor, dia dijebloskan ke dalam sel."

"Kejadiannya semalam? Kenapa kau baru mengabari sekarang?"

"Gid, mereka saling lapor tadi pagi. Ponsel Umar juga hilang saat perkelahian terjadi. Itulah kenapa dia tidak menghubungi kita."

"Lalu siapa yang mengabarimu?"

"Istrinya."

"Sialan! Indra tega melakukan itu, padahal dia tahu, Umar itu ada anak-istri untuk dinafkahi." Aku bergegas mengganti pakaian. "Ayo! Kita ke Polres!"

"Aku agak lama tadi ke sini, karena aku masih mampir di Polres. Umar titip pesan, urusi dulu media kita. Katanya, dia bisa mengurusi dirinya sendiri." Deni coba menenangkanku.

"Terus kau tega membiarkan Umar melewati ini semua sendirian? Den, aku juga harus bicara dengan Indra sekarang!"

"Indra juga satu jeruji dengan Umar," jelas Deni. "Biarkan Umar mengatasi ini. Aku yakin dia bisa."

Tubuhku seketika membenam di kasur. Aku tidak habis pikir, pertemanan kami akan seperti ini. Umar dan Indra adalah teman sekelas sejak SD. Sedangkan aku dan Deni, setahun lebih adik dari mereka berdua. Kami berempat baru akrab setelah kelas tiga SMP.

(Bersambung)

Sunday, May 22, 2016

Sebuah Percakapan


www.sufisme.com

Di bawah ini, saya akan coba merangkum sebuah percakapan apik antara penulis dan juga penyair asal Manado, Haz Algebra dan penyair asal Gorontalo, Jamil Massa.

Percakapan ini menubuh di jejaring sosial facebook, usai saya mengunggah sebuah tanggapan tentang cerpen karya Haz. Saya sengaja merangkumnya, karena percakapan setelahnya, menurut saya cukup memberi arti dan pengetahuan kepada saya.

Awalnya saya menautkan tulisan dan menandai Haz di facebook. Saya hanya mengedit percakapan ini dari typo (sebatas kemampuan saya), agar pembaca sedikit terbantukan. Simak di bawah ini:

Kristianto Galuwo (Saya): http://sigidad.blogspot.co.id/2016/01/segulung-kalimat-usang-dalam-kepala.html

Haz Algebra (Haz): Wah, ada fragmen memori yang menunggu meledak. Izin saya baca tuntas dulu saudaraku. Aromanya terasa kalau pedas. Heuheu.

Saya: :)

Haz: Maaf atas keterlambatan merespon tulisanmu. Saya baru bisa publish hari ini. Semoga berkenan. Heuheu http://hazbook.blogspot.co.id/2016/01/homo-mimesis-dan-seorang-pembaca-yang.html?m=1

Saya: Iya terima kasih

Muzakir Rahalus: Mantab (yang dimaksud, mantap). Menyimak dulu.

Saya: http://sigidad.blogspot.co.id/2016/01/haz-itu-tulisan-atau-tisu.html

Jamil Massa (Jamil): Ini polemik penting, bagi kesusastraan Sulut-Gorontalo. Selamat untuk kawan berdua. Saya cukup menyimak saja.

Haz: Selamat pagi, bung Jamil Massa. Salam hangat dari saya. Hamdalah, semakin hari semakin terapresiasi, meski setiap pembaca saya punya caranya masing-masing.

Mengenai respon saya terhadap respon seorang pembaca terhadap tulisan yang saya tulis 5 tahun lalu itu. Saya tidak pernah menganggapnya sebagai polemik, meski yang hendak menganggapnya sebagai polemik, kini atau kelak, itu sah-sah saja. Dan saya akan selalu mengafirmasinya.

Tentang respon balik dari Kristianto Galuwo atas respon saya atas respon dia terhadap cerpen saya, saya anggap saja sebagai tornado hasil dari kepakan sayap kupu-kupu saya di tulisan sebelumnya. Dan saya berkenan, juga tidak akan meredakannya.

Saya, selaku pengarang cerita itu, merasa tidak berpolemik dengan siapa-siapa. Apa saya berpolemik dengan Krist? Tunggu dulu. Sebagai apa saya harus memandangnya dari posisi saya? Sebagai kritikus? Kompetensinya dari mana? Buku-buku (kritik sastra) apa saja yang ia sudah tulis? Tentunya saya akan belajar banyak dari cara kepenulisannya. Tapi tak ada. Lalu? untuk semua ini, orang Gorontalo bilang: "maksud le hasan?"

Atau sebagai pembaca? Jika sebagai pembaca saya sudah meresponnya dengan surat kepada pembaca di blog saya. Semua terafirmasi tanpa beban. Dan posisi saya sebagai pengarang terhadap pembaca harus luluh, tak bisa berbuat apa-apa. Sebab pembacalah yang punya otoritas penuh ketika teks telah selesai ditulis.

Jadi, jika hal lumrah ini hendak diangkat sebagai polemik, harus fair donk. Mosok saya harus berpolemik dengan orang yang menyinyiri karya orang lain sementara dia sendiri tak punya karya. Kan, jadi gosip ibu-ibu. Orang Manado bilang, "siapa ngana?". Itu barangkali intinya. Salam hangat.

Seorang pembaca lain juga 'tega' menulis ini terhadap tulisan saya. dia kirim via email. Seorang teman jurnalis meng-upload-nya di sini http://www.suluttoday.com/2016/01/14/kau-tidak-menulis-haz-kau-berak/

Saya salin juga ke sini: “Kau Tidak Menulis, Haz, Kau Berak!” http://hazbook.blogspot.co.id/2016/01/kau-tidak-menulis-haz-kau-berak.html
Dan, saya hanya bisa bungkam atas kuasa para pembaca. Thanks.

Jamil: Po·le·mik n perdebatan mengenai suatu masalah yang dikemukakan secara terbuka dl media massa; -- sastra tukar pikiran antara dua pihak yang berbeda paham tentang masalah sastra, jika berbentuk tulisan disebut (perang pena); ber·po·le·mik v berdebat (berbantah, berbahasa) melalui media massa (dalam surat kabar, majalah, dan sebagainya.

Salam, saya pikir penjelasan yang saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline versi 1.5.1 di atas, sudah cukup menjawab keberatan Haz soal istilah polemik yang saya tuliskan pada komentar sebelumnya. Selama ada dua pemahaman yang berbeda tentang suatu hal dan itu dikemukakan di media massa, maka itu adalah polemik bagi saya. Blog--meski kemudian disebut media online--dan facebook--media sosial--telah memenuhi sejumlah kriteria "media massa", salah satunya dibaca oleh orang-orang dari beragam lapisan. Maka lagi-lagi menjadi sah andai perang tulisan kawan berdua saya kategorikan sebagai polemik, yang dapat saja memberi manfaat kepada segenap pembaca selama polemik dilaksanakan secara sehat dan mendidik.

Persoalan latar belakang Kristianto yang dianggap tidak pernah kedengaran kiprahnya dalam dunia kritik sastra, saya rasa itu tidak perlu jadi soal. Persoalkan saja metodenya, tanpa perlu menyerang pribadi. Metode kritiklah yang seharusnya disanggah, bukan rekam jejak orang yang melontarkan kritik. Dengan demikian kita dapat menyaksikan sebuah adu gagasan yang sehat.

Sejauh ini saya sungguh tak dapat melihat hubungan analogis antara 'tanggapan pembaca' Kristianto dengan nyinyiran ibu-ibu penggosip. Bukankah Kristianto mempersoalkan sesuatu yang sifatnya publik, yaitu sebuah karya sastra yang sudah dipublikasi? Tidak seperti ibu-ibu penggosip yang menggunjingkan masalah pribadi tetangga atau publik figur. Kristianto juga menyuarakan keresahannya secara terang-terangan, tidak seperti penggosip yang galibnya menggunjing di belakang punggung orang yang dibicarakan. Sebuah karya sastra merupakan teks yang bebas dibicarakan oleh siapa pun dia, apa pun latar belakangnya, dari mana pun dia berasal.

Sedikit saja dulu untuk saat ini. Salam.

Haz: Saya bersepakat tidak fair jika ada argumentum ad hominem (menyerang orang bukan argumennya). Tapi saya tidak bersepakat tentang otoritas pelaku polemik tidak dipertanyakan secara genealogis. Sebab bagaimana argumen itu bisa dipertanggungjawabkan, diuji, diverifikasi, jika tak ada kompetensi terhadap otoritasnya sebagai pembuat argumen? Demikian halnya perlakuan Kristianto Galuwo terhadap karya saya, mempertanyakan, menggugat, mendakwa otoritas saya sebagai produsen teks.

Haz: Artinya, dalam kasus ini, saya mengikuti alur pikir pembaca, yang menganggap masih ada integrasi antara pengarang dan karangannya. Sehingga, jelas pembacaan secara genealogis juga diperlukan. Salam hangat.

Haz: Dan saya masih terus bertanya. Sebagai apakah saya harus meresponnya? Jika sebagai pembaca, sekiranya surat saya di blog sudah melakukannya. Apapun kekurangannya, demikianlah batasan pengetahuan saya terkait teknik kepenulisan. Dan itu adalah pikiran saya 5 tahun yang lalu. Tapi jika sebagai kritikus, maka pembicaraan dibawa ke ranah agak 'ilmiah', term 'kritikus' harus diuji dulu.

Haz: Dan, membaca kembali tulisan Kristianto Galuwo terhadap tulisan saya, saya belum bahkan tidak melihat metode di sana; tentang bagaimana seharusnya sebuah tulisan disebut tulisan. Entah.

Jamil: Salam, Haz dan Kristianto. Saya sudah membaca bolak-balik tulisan pertama Kristianto tentang "Serat Dapala", dan sungguh saya tidak menemukan upaya mendaku sebagai kritikus sebagaimana yang kawan Haz dakwakan. Jadi sebijaknya kawan Haz kembali memosisikan Kristianto sebagai pembaca kritis saja. Pembaca yang merasa ada bau plagiasi dalam "Serat Dapala".

Saya pikir tidak butuh metode muluk-muluk untuk menuding satu karya sebagai hasil plagiasi dari karya sebelumnya. Modalnya cukup kepekaan dan pembacaan yang intens. Dengan demikian perdebatan tidak perlu melebar, apalagi sampai mempertanyakan genealogi bacaan dan pengetahuan si pembaca segala. Masing-masing kita punya tafsir tertentu terhadap suatu teks, itu saja yang perlu diperbandingkan, tanpa perlu beradu panjang daftar bacaan--sebuah gaya berdebat yang saya pikir agak kekanak-kanakan.

Kalau saya jadi Haz, saya akan berterimakasih, karena setidaknya tulisan saya sudah dibaca dan dikuliti. Lagipula Haz sendiri sudah menyatakan, tak ada upaya metodologis yang berarti dalam tulisan tersebut, jadi malah lebih baik tulisan itu tidak usah ditanggapi sama sekali. Kalaupun pun pembuat teks merasa perlu memberi satu dua tanggapan, tanggapi pakai senyum saja. Hehehe.

Kalau mau tanya ke saya, sebenarnya yang kawan berdua perdebatkan ini adalah masalah teknis dan etika belaka, namun karena Haz sudah menyinggung perihal intertekstualitas dan kecenderungan manusia sebagai homo mimetis maka hal ini menjadi melebar, agak jauh melampaui soal teknis dan etika semata. Berat karena sudah menyinggung filsafat kesenian secara holistik. Dan karena itu menjadi penting untuk dijabarkan lagi sejauh apa batasan antara "terilhami" dan "meniru habis-habisan". Repotnya, dalam seni sastra, tak ada konvensi semacam itu, setidaknya tidak seperti seni musik yang sudah menetapkan batas delapan bar sebagai standar indikator orisinalitas sebuah karya. Dalam dunia sastra, menyatakan sebuah karya plagiat atau tidak terpaksa harus dilakukan dengan cara meraba-raba sembari membongkar-bongkar lemari ingatan. Inilah yang kemudian diadu, dikonfrontasikan, ingatan Kristianto sebagai pembaca dengan ingatan Haz sebagai.... pembaca yang lain (sebab kata Barthes, pengarang sudah mati manakala teks telah dilepaskan ke haribaan majlis pembaca).

Persoalan kedua, yaitu persoalan etik, sesungguhnya adalah sejauh mana penulis berterimakasih kepada penulis-penulis atau produsen teks di masa lalu yang telah memberikan ilham kepadanya. Rasa terima kasih itu secara kasatmata dapat ditunjukkan dengan menuliskan sumber di catatan kaki atau kredit pada halaman belakang jika sebuah karya sudah dibukukan. Seno Gumira Ajidarma misalnya, masih merasa perlu menuliskan catatan di akhir cerpen "Dodolitdodolitdodolibret" (Kompas, 26 September 2010), padahal yang ia jelaskan adalah bahwa cerita tersebut terilhami dari kisah-kisah dalam kitab suci. Sementara kita tahu, kitab suci adalah sebuah teks yang sangat umum, sangat sering dikutip, namun Seno sebagai penulis yang amat bertanggungjawab dan sangat mempertimbangkan etika tetap saja meletakkan penjelasan itu di akhir karyanya.

Eko Triono dalam catatan akhir cerpennya yang berjudul "Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon?" menjelaskan dengan terang-terangan bahwa ia mengutip dua kalimat dari puisi "Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam" karya Goenawan Mohamad. Hanya dua kalimat! Dan itu menurut hemat saya sama sekali tidak memalukan, malah mengagumkan karena Eko secara kreatif telah melakukan dekonstruksi maknawi atas teks sebelumnya, seraya melakukan alih wahana di waktu yang bersamaan. Ada begitu banyak contoh lain yang pernah ditunjukkan para penulis besar dalam bagaimana menghargai sebuah parafrase. Barangkali, hal etik ini saja yang dituntut seorang Kristianto Galuwo. Barangkali saja.

Ah, perbincangan semacam ini rasanya akan lebih enak kalau diiringi seruputan kopi, ya? hehehe. Salam hangat dari Gorontalo.

Haz: Terimakasih bang Jamil Massa atas koreksi terhadap kenaifan kami. Saya pun sudah dan selalu berterimakasih dan mengucap syukur 'hamdalah' setiap kali ada pembaca yang menginterpretasi tulisan saya.

Mungkin saya hanya agak terganggu dengan argumentum ad hominem dari pembaca. Harap maklum, saya masih dalam proses berkembang biak. Hehe.

Pada laman status yang lain, saya juga sebenarnya sudah memberikan catatan kaki untuk 'kutipan sajak Gandari' sebagai revisi dari Serat Dapala yang sudah penuh sarang laba-laba di pojokan Kompas itu. Dan, dalam buku yang memuat cerita Serat Dapala saya juga mengucap terimakasih kepada para 'penghuni asli planet sastrawi' (dengan menyebut nama satu persatu) yang dalam proses produksi teks mau tidak mau saya mengakui adanya 'andil' mereka. Inilah yang saya pertanyakan kepada saudaraku Kristianto Galuwo, apakah sudah membaca buku saya itu sebelum membuat interpretasi (maaf dengan nada emosi) "jahat" atas karya saya. Hehe.

Insyaallah bang, saya juga sering ke Gorontalo tapi mungkin belum sempat jumpa jiwa dengan pegiat sastra di sana. Insyaallah kita bisa bersua di sisi meja yang sama.

Selanjutnya, percakapan tinggal tegur sapa, dan saling ajak untuk ngopi bersama. Dari hasil rangkuman di atas, terus terang saya banyak menimba pengetahuan tentang sastra. Sengaja saya memutuskan untuk diposting di blog, jauh setelah percakapan ini di awal tahun baru 2016, agar menjadi referensi saya kelak. Terima kasih untuk kalian.

Sialan dengan Gorontalo!

Simpang lima di Kota Gorontalo

Menyeret ingat ke masa lalu itu tidak mudah. Selain bola mata menggelinding ke penjuru segala, maka kenyataan bahwa usia kita sudah semakin tua, akan lebih terasa. Iya, saya coba untuk mengingat kapan kali pertama berkunjung ke Kota Gorontalo.

Menyerah dengan ingatan yang mulai tumpul ini, akhirnya saya hanya coba mengira saja. Barangkali itu di tahun 2001-2002. Saya memancang kira saya di tahun itu, berdasarkan tahun di mana tragedi serangan di World Trade Center (WTC), Amerika Serikat, 11 September 2001. Tanggal, bulan, dan tahun yang sama ketika kami pemuda dan pemudi Desa Passi, mengaku mencintai alam dan berbahasa satu bahasa binatang, membentuk Kelompok Pecinta Alam (KPA) Bogani Mongondow Lestari (Bomlest).

Sekitar beberapa bulan terbentuknya KPA Bomlest, saya yang paling belia di organisasi itu, diutus bersama dua anggota KPA lainnya menuju Kota Gorontalo. Satu orang perempuan bernama Widi dan satu orang laki-laki bernama Debe. Rekan saya Debe, sekarang ini adalah Sangadi (kepala desa) Passi. Debe adalah akronim dari Delianto Bengga. Karir hidupnya terus tumbuh besar selaras dengan tubuh raksasanya.

Kami bertiga menuju Gorontalo dengan bis antar kota. Dan di situlah, awal kebencian saya akan Gorontalo. Sialan! Jauh sekali. Lima kali saya tertidur di bis. Tiap kali terbangun, saya coba bertanya ke penumpang lainnya, apakah Gorontalo masih jauh? Saya mendapati jawaban: jauhnya seperti jarak dari sini kembali ke Kotamobagu. Saya kembali tidur usai mengumpat. Umpatan yang kesekian kalinya dalam hati.

Seingat saya, Widi dan Debe, tidak satu bis dengan saya kala itu. Alasan kenapa, saya pun sudah lupa. Itu sekitar 14 tahun yang lalu. Beratus purnama serupa rentang waktu yang dilalui Rangga dan Cinta.

Belum sampai di Gorontalo, dalam hati saya berjanji tidak akan pernah menginjak kota itu lagi. Tapi pikiran untuk jarak yang akan ditempuh jika kembali nanti, mulai membikin perut saya mual. Sialan! Ini baru perjalanan menuju Gorontalo.

Di dalam bis, saya coba menepis pikiran soal jarak, dengan memikirkan materi yang akan kami pelajari di Gorontalo. Kami bertiga akan mengikuti pelatihan Global Positioning System (GPS), di kantor Jaringan Pengelolaan Sumberdaya Alam (Japesda). Saya baru ingat kalau tempat pelaksanaan kegiatan itu di kantor Japesda, setelah diberitahu Debe beberapa bulan yang lalu (di tahun ini).

Di sana kami akan diberi materi dan cara melihat peta di komputer. Tiba-tiba rasa cemas datang. Saya tidak bisa mengoperasikan komputer. Sialan! Saya bakal dirisaki.

Akhirnya, setelah perjalanan yang memualkan, sampai juga di negeri serumpun itu. Kami segera menuju kantor Japesda yang terletak di depan SMK Negeri (lupa, 1, 2, atau 3) Kota Gorontalo. Teman sekampung saya, Yunus, bersekolah di situ.

Sebelum bertemu Yunus, kami bertiga yang akhirnya bertemu di terminal Andalas, diantar menuju ke penginapan. Saya lupa lagi nama hotelnya, tapi karena hotel itu di atas air, mungkin... Hmm... Namanya Hotel Teratai. Ah, sudahlah, saya tidak ingin membuat dahi saya semakin mengerut karena memikirkan nama hotel yang, penuh dengan nyamuk itu.

Saya segera mengabari Yunus. Lalu dijemputnya untuk bersilaturasa ke kamar kosnya yang, baru itu kali saya menyaksikan seekor kucing dicakar tikus. Pertarungan antara kucing dan tikus itu berlangsung streaming di atap rumah tetangga. Kamar kos yang berada di lantai dua, membuat saya seolah-olah di zaman Romawi Kuno dan sedang berada di Colosseum, menyaksikan pertarungan antara Gladiator dan binatang buas. Tapi kali itu, yang buas adalah tikusnya.

Keesokan harinya, saya mulai mengikuti materi di kantor Japesda. Semua peserta saling berhadapan mengelilingi meja persegi panjang. Di depan kami masing-masing ada komputer. Sialan! Setetes keringat menggantung di ujung kening saya. Saya pasti akan menjadi bulan-bulanan karena ketahuan tidak bisa mengoperasikan komputer. Dan... Panggilan 'Pentium 1' mulai melekat kepada saya sejak hari itu.

Usai materi, kami praktek di lapangan. Kami sempat diajak ke salah satu air terjun di Suwawa. Juga mengunjungi kantor gubernur yang baru saja akan dibangun di puncak. Seingat saya, banyak warga yang mengeluhkan pembangunan jalan menuju kantor gubernur kala itu. Sebab selalu ada longsoran yang menimpa lahan kebun mereka.

Mungkin hampir seminggu kami di Gorontalo. Selama menerima materi, hanya beberapa item yang bisa saya pahami. Yang lainnya... Pentiuummm saaatuuuuu.

Akhirnya tiba waktu kami untuk kembali ke Kotamobagu. Kemudian ingatan tentang jarak yang akan kami tempuh kembali menghantui. Yunus menyarankan, agar saya pulang bersama dia sebulan lagi. Saya yang kerap merasa mual mengingat perjalanan kembali, akhirnya sepakat untuk tinggal sebulan di Gorontalo.

Setelah menghabiskan waktu yang panjang di Gorontalo, saya dan Yunus kembali ke Kotamobagu. Bis yang kami tumpangi sempat bertabrakan dengan truk. Beruntung bis tidak oleng dan hanya mengalami kerusakan ringan di bagian depan. Kaca depan hancur dan rontok - ringan jatuh - ke aspal jalan maksudnya. Tapi semua penumpang selamat dan tidak mengalami luka serius. Hanya, ada kejadian lucu di dalam bis ketika saya tertidur. Ah, pokoknya itu tentang air liur. Tamat!

Sewaktu kembali ke Kotamobagu, tentu saja itu masih di sekitar tahun 2001-2002. Saya terlanjur berjanji untuk tidak akan pernah lagi menginjak Gorontalo yang sialan jauhnya itu. Tapi beberapa tahun kemudian, dengan rentang waktu yang cukup lama, sebuah perjalanan terpaksa menyeret saya ke kota itu lagi. Masih coba mengingat tahun, mungkin sekitar 2011-2012. Saya bersama Uwin.

Satu kali lagi perjalanan bersama kru Lintas BMR mungkin di tahun yang sama. Berarti itu sudah yang ketiga kalinya. Lalu, saya lupa tahun tepatnya, mungkin sekitar awal 2014, satu ajakan lagi dari teman fotografer, Wanto, yang akhirnya memaki di dalam mobil, karena sebelumnya mengira saya dan Gun bisa menyetir mobil.

"Jadi ada muat dua ekor babi kita ini dang!" umpatnya, setelah tahu saya dan Gun memang dua ekor babi yang ingin tiduran saja di dalam mobil. Pergi-pulang, dia yang akan menyetir.

Kami bertiga (hanya saya bukan fotografer) menghadiri acara ulang tahun komunitas fotografer, Spoters. Lalu perjalanan yang kelima kalinya bersama Uwin. Setelah itu, perjalanan keenam, saat lebaran Ketupat bersama Kabag Humas Bolmut, Khris Nani, beserta kru.

Tahun 2015 adalah yang ketujuh, angka yang sama dengan waktu tempuh Kotamobagu-Gorontalo. Teman saya Nev, berkenan untuk mengantar saya menuju Gorontalo. Saya sudah bertekad untuk bergabung bersama Aliansi Jurnalis Indonesia, eh, Independen (AJI) Kota Gorontalo.

Barangkali ada satu-dua perjalanan yang terlewati. Tapi hanya sekuat itu ingatan saya. Di tahun 2016, setelah sebuah perjalanan singkat ke luar kota, saya sempat pulang ke Kotamobagu. Lalu kembali lagi ke Gorontalo, untuk yang kedelapan kalinya. Masih terhitung dengan jari. Dan, tetap saja jarak ke Gorontalo itu memang sialan jauhnya.

Tapi, Kota Gorontalo akan selalu saya rindukan. Di sana, bermacam-macam komunitas membuat setiap akhir pekan, begitu ramai dengan segala. Saya setelah kembali ke Kotamobagu, kerap kali kecewa sebab ada saja kegiatan-kegiatan menarik yang terlewati. Dari pentas teater saat peringatan Hari Bumi. Nonton bareng dan diskusi film dokumenter terbaru. Membincangkan banyak hal yang menambah ilmu gratisan. Meliput bersama beberapa jurnalis di hutan. Malam musikalisasi puisi. Membikin mural di tembok-tembok kota. Dan hal-hal yang tak pernah akan saya dapati di Kotamobagu.

Di sini, di Kotamobagu, memang mulai satu per satu corak kegiatan yang beda coba dibangkitkan. Selebihnya yang itu-itu saja. Tapi, saya selalu lemas saat melihat kenyataan bahwa generasi muda di sini, ah, lesu. Bahkan sebagai seorang jurnalis, tak ada secuil cakap yang bisa diajak bertukar-tangkap, kendati itu hanya lewat film-film bertema jurnalistik di layar tancap. Ajakan beberapa kali terujar, tapi begitulah... Nihil! Mokotompok! (bekeng pastiu).

Untuk sekian banyak alasan itu, saya akhirnya kembali memilih untuk meninggalkan Kotamobagu. Melompat ke ibukota Sang Utara. Benar sudah kata Ayah Amato (panggilan saya kepada Amato Assagaf) tentang saya: di mana ada pesta, di situ ada saya.

Meski rumah belajar Saung Layung Arus Balik merantai kaki ini. Dan itu adalah hal yang terberat (mar cuma di Manado kwa, Shandry). Tapi seperti inilah jalan ninja seorang jurnalis. Melompat, terbang, melubangi tanah, berjalan di atas air, menunggangi awan, dan memanjat pohon tinggi.

Kami akan selalu merentang perjalanan sembari menabung rindu.

Thursday, May 19, 2016

Happy Beerday, Saung Layung Arus Balik



20 Mei 2014

Saung Layung Arus Balik lahir dari rahim semesta. Sebuah rumah belajar yang berawal dari kelakar, Saung akhirnya mengakar. Kami seperti direkatkan pada sebuah sumpah. Setiap kali mengeja Saung Layung Arus Balik, ada sebuah dosa yang harus ditebus. Dosa yang kerap membikin kami menunduk ketika ada yang bertanya, "Di mana semangat kalian yang dulu itu?"

Dengan sisa-sisa semangat, kami coba menepis segala sangka dalam tanya-tanya itu. Kami yakin, Saung masih ada di lubuk. Ia terus terpupuk oleh bubuk-bubuk kopi yang menyiraminya, tatkala di kedai kisah-kisah itu mengulang. Bahkan, bagi kami, ruh Saung terlampau menjadi penyemangat pada setiap gerak. Iya, gerak yang seluruh dari kami yang masih hidup, muda, dan penuh mimpi ini.

Hari... Dan bulan terus menggelinding. Bulan yang terus menagih janji. Seiring perjalanan, kami mencoba menyegarkan kembali ide-ide yang telah lama beku. Percakapan pun terulang dengan mereka yang, hatinya bakal luruh mendengar kisah Saung. Namun, Saung masih tetap memilih menjadi dosa.

20 Mei 2015

Setahun, Saung masih menjadi mimpi yang mengeras dalam kepala. Ia bahkan pernah terlupakan. Saung begitu sunyi tanpa suara. Masih menjadi sebait: nyanyi bisu. Ia begitu sendiri di tengah pematang sawah yang mengering. Beruntung matahari enggan membakarnya. Saung, tetap mencoba bertahan. Sebab mati sebagai dosa, adalah kematian yang terlalu biadab.

Di langit sore itu, senja masih seperti warna-warna kemarin. Me-Layung. Mungkin itu pertanda, Saung yang sudah terlahir, akan mau disenjai hari. Tapi itu hanya sebatas prasangka, sampai akhirnya Saung tiba-tiba menjadi Arus Balik pada suatu malam. Ia kembali. Ada sebuah arus semangat di bawah kaki gunung yang, ingin segera menebus dosa. Dosa bagi kemanusiaan.

Penghujung tahun, semangat itu terus bersinar. Saung Layung Arus Balik tinggal menunggu hari. Apalagi, kami yang terpencar telah kembali. Kami tak lagi disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan yang, mengebat leher dan mencocok hidung.

20 Mei 2016

Semangat Saung, Layung, dan Arus Balik akhirnya menyatu. Itu melahirkan kekuatan yang gembira. Saung Layung Arus Balik mulai tumbuh menjadi anak-anak yang lucu. Kini, satu per satu mereka yang tergerak hatinya, urun rembuk mengasuh anak-anak. Setiap pekannya, kerap ada wajah-wajah baru yang hadir mengikuti kelas. Anak-anak belajar dan bermain dengan riang.

Wajah dosa itu, seketika menjadi urai airmata. Sebagaimana sebuah takdir, Saung Layung Arus Balik telah menandai kami. Kami tidak pernah memilihnya, tapi ia yang sebenarnya memilih kami.

Ah, Happy Beerday, Saung Layung Arus Balik. Jangan pernah dewasa. Tetaplah menjadi bocah yang penuh dengan keajaiban-keajaiban. Tak ada hadiah yang lebih berkesan, ketika dosa itu ditebus oleh tawa anak-anak.

Friday, May 13, 2016

Jalan Mundur

Sumber foto: Senyawaterbang.blogspot.com

Aku ingin jalan mundur ke masa lalu tanpa menoleh ke belakang. Aku ingin dada masih berdebar, sembari menunggu kenyataan yang pernah dilewati hadir dari kiri dan kanan.

Kiri bukanlah yang buruk. Dan kanan tidak selalu yang baik. Tidak seperti kisah para penceramah surau yang kerap menuturkan: amal buruk akan datang lewat kitab di telapak tangan kiri, sedangkan amal baik akan datang lewat kitab di telapak tangan kanan. Seolah-olah Tuhan telah salah mencipta yang 'kiri'.

Kenapa aku memilih kembali ke masa lalu, bukan menuju masa depan? Untuk kembali ke masa lalu, bahkan aku enggan menoleh ke belakang. Aku hanya ingin dada ini masih berdebar. Meskipun itu segala apa yang sudah pernah aku lewati. Sedangkan pilihan untuk menuju masa depan, tentunya akan sangat mendebarkan. Biarkan ia hadir nanti dengan hal-hal yang tak terduga. Aku hanya ingin menengok apa saja laku di masa lalu.

Selama berjalan mundur, aku menemui hal-hal yang terlupakan. Pertama yang aku lihat, di kiriku ada kepala bayi yang bersandar diam. Ia hanya sesekali mendengus. Ia sedang tidur. Lalu di kananku, ada seorang perempuan yang tengah memeras susu. Wajahnya penuh amarah.

Aku terus berjalan mundur lagi, dan yang kutemui di sebelah kananku ada dua anak laki-laki berseragam putih abu-abu. Yang satunya menggengam botol, sedangkan yang satunya lagi tengah menjumput ikan goreng di piring. Di kiriku, ada kipas angin sedang berputar kencang.

Mundur lagi ke belakang, aku menemui hutan belantara di samping kiriku. Ada api unggun menyala dan tenda-tenda berdiri. Suara burung malam sayup-sayup sampai di telinga kiri dan kananku. Sementara di samping kananku ada seonggok ransel tersandar di bebatuan.

Aku segera berjalan mundur lagi. Aku menemui angkutan umum di samping kananku. Terparkir sedang menunggu penumpang. Di kiriku ada seorang teman memanggil. Ia berseragam SMA. Aku juga berseragam sama.

Tak sabar, aku terus berjalan mundur lagi. Di kananku ada bocah-bocah berlarian. Di samping kiriku, sebongkah batu melayang dan mengenai pelipisku. Aku tak sempat menghindar.

Aku terus berjalan mundur, bahkan dengan langkah yang lebih cepat. Di kiriku, aku melihat ayahku sedang tersenyum. Di kananku, ibu sedang mengeluarkan payudaranya. Kemudian aku menyusu.

Aku kembali berjalan mundur. Akhirnya, aku sampai di ujung masa lalu, aku coba menoleh ke atas dan ke bawah. Di atasku tak ada langit, sedangkan di bawahku bukanlah bumi. Ternyata aku sedang di dalam perut. Dengan dada yang berdebar-debar. Aku begitu kecil. Dan hidup.

Selamat Menjadi Jurnalis


Pada suatu kali, aku mulai coba menulis. Di tengah erang sakit akibat tulang pinggul yang retak setelah jatuh dari lantai dua, aku coba menulis sebuah novel. Judulnya Simpul-simpul Kertas. Novel yang kutulis tangan pada sebuah buku, yang akhirnya aku sendiri sukar membaca tulisanku.

Kemudian, sebuah perjalanan setelah aku sembuh dari sakit. Aku menuju Makassar untuk belajar. Di sana, aku coba memahami siapa sebenarnya kita-manusia-lewat filsafat. Aku belajar sembari coba mencari kebijaksanaanku sendiri.

Setelah itu, aku terbang ke Bali di akhir tahun. Coba merasai seperti apa malam pisah-sambut tahun. Di sana, aku memutuskan membuat blog. Kunamai Getah Semesta. Satu per satu tulisan aku cicil. Satu per satu pembaca beranjangsana ke Getah Semesta.

Setahun di Bali, aku memutuskan kembali ke Kotamobagu. Di kota ini, aku bertemu kawan-kawan baru yang sepakat membikin sebuah media online. Namanya Lintas BMR. Kami cukup solid awalnya. Namun seiring waktu, masalah-masalah bermunculan. Kami bubar. Situs www.lintasbmr.com juga telah mati.

Hanya beberapa pekan kemudian, aku ditawari di media online Pilar Sulut. Media kawanku pula. Tapi hanya beberapa bulan saja, aku memutuskan berhenti. Media itu hingga sekarang masih eksis. Bisa diakses di www.pilarsulut.com.

Tak berselang lama, aku ditawari masuk di Radar Bolmong. Kali ini surat kabar harian. Aku bertemu kawan-kawan baru di sana. Minggu, bulan, berlalu. Satu per satu kawan-kawan itu pergi. Aku pun akhirnya memutuskan pergi. Tak nyaman lagi.

Sebulan berlalu, aku menuju Gorontalo. Aku berencana masuk anggota AJI di sana. Setelah diterima, aku ikut berjibaku di media online bentukan anggota AJI Gorontalo. Nama medianya De Gorontalo. Selama di sana, aku coba mengirim surat lamaran ke media-media. Sebab De Gorontalo hanya sambilan bagi para anggota AJI. Mereka semua bekerja di media masing-masing.

Aku diterima di Viva.co.id. Tapi kata redaktur di Jakarta, aku akan ditugaskan di Makassar. Aku menolak dengan sedih. Namun perjalanan ini sepertinya belum mau berhenti. Aku memutuskan kembali ke Kotamobagu. Di www.degorontalo.co aku tetap menyisihkan waktu untuk mengisi tulisan-tulisan dari para blogger.

Di Kotamobagu, aku diajak seorang kawan untuk membantunya di surat kabar mingguan. Namanya Koran Bolmong. Baru mau launching. Pekan ini sudah mau edisi ketiga, Koran Bolmong lumayan diterima oleh pembaca. Aku di situ, sembari menunggu portal desa dibuat. Portal yang khusus memberitakan tentang desaku. Desa Passi.

Tiba-tiba datang kabar, bahwa Rappler sedang mencari kontributor untuk wilayah Manado dan Gorontalo. Aku mengontak redaksi Rappler. Setelah diwawancarai singkat, aku diterima. Tapi aku harus menetap di kota Manado, kata orang yang merekrutku.

Sekarang, tinggal menunggu kabar dari redaktur, kapan mulai siap meliput. Media www.rappler.com memang salah satu incaranku. Pastinya aku bahagia bisa diterima. Meski dilema sebab harus meninggalkan desa dan kota ini lagi. Apalagi rumah belajar kami, Saung Layung Arus Balik, telah jalan.

Aku tengah menimbang sekarang...

Itu perjalanan singkatku di dunia jurnalistik. Dan setelah perjalanan selama hampir empat tahun di dunia itu, sepertinya langkah ini belum mau terhenti. Pada jeda ini, aku sadar, bahwa menjadi awak media itu bukan diukur dari seberapa lama kita terjun ke dunia itu. Atau seberapa banyak media yang pernah mengasuh kita. Namun yang aku pelajari dari jurnalisme, jauh yang lebih besar maknanya adalah: masih banyak manusia yang butuh bantuan di luar sana.

Ah, setiap media yang pernah mengasuhku memberi kisah masing-masing. Setiap media juga memberi pelajaran penting.

Pada akhirnya, aku menemukan kebijaksanaanku. Selamat menjadi jurnalis.

Palu Arit


Palu ialah buruh berpeluh
Arit ialah petani menjerit
Itu bukan sekadar simbol
Tapi itu adalah kerja keras

Palu bukan untuk memalu kepala
Arit bukan untuk mengarit nadi
Sejarah telah didustai
Para pemenang yang keji

Palu dipakai membangun
Arit dipakai memanen
Tak ada darah di sana
Hanya tetes peluh beribu

Negeri ini biadabi kisah
Kata mereka...
Palu adalah darah
Arit ialah benci
Palu adalah siksa
Arit ialah caci

Tak tahu mereka
Ada juta korban...
Dilempar ke sungai
Diuruk di tanah lembab
Disembelih di pantai
Dikurung di Buru

Negeri ini berdosa!
Sangat berdosa!

Bukan maaf yang pantas
Tapi hormat atas segala dusta
Sebab tak ada yang bisa menebus luka
Sekalipun itu doa

Thursday, May 12, 2016

IBU

Buku kumpulan esai dan esai tentang ibu
Ibu. Di Betawi dan Bali mereka memanggilnya Enyak. Di Sunda mereka memanggilnya Emak. Di Batak Karo mereka memanggilnya Nande. Di Batak Toba, mereka memanggil Inang. Di Lombok, mereka memanggilnya Inaq. Hampir mirip di tanah lahirku, Bolmong, mereka memanggilnya Ina'.

Di seluruh dunia, ada ribuan bahasa yang menyebutnya berbeda. Tapi bermakna sama: ibu adalah gua garba tempat kita pertama kali keluar lalu menghidu aroma dunia.

Aku punya seorang ibu. Ia tangguh dan jago memasak. Kemarin, ketika aku sedang lahap menyantap masakannya, tiba-tiba ia mengeluhkan penyakit diabetesnya. Matanya telah kabur. Iya, ibu, penyakit itu menggerogoti siapa saja. Bahkan, bassis salah satu band favoritku, Efek Rumah Kaca, direnggut penglihatannya. Untuk rasa keprihatinan itu, mereka menulis sebuah lagu berjudul, Sebelah Mata. Aku selalu sedih mendengar lagu itu.

Aku mencemaskan penyakit ibu, sama besarnya tatkala mengkhawatirkan: siapa yang akan memasak nanti jika ibu terus sakit. Perutku yang suka lapar lima kali sehari ini, hanya mampu dikenyangkan oleh masakan ibu.

Ibu pernah bilang, jika ia sedang memasak yang enak-enak, pasti secara tiba-tiba aku muncul. Sepertinya, aku bisa mengendus dari jauh aroma masakan ibu. Tapi itu benar, selalu seperti ada suara yang berbisik: coba pulang ke rumah. Dan ketika aku pulang, kudapati ibu sedang di sudut dapur yang berjelaga. Memasak lauk yang jadi favoritku dari; ikan teri saus, oci bakar, ayam rica-rica, atau tempe goreng tepung.

Tapi ibu hanya sekadar memasak. Penyakitnya telah membikin ia berpantang makan. Bisa dibayangkan, ketika aku memasak makanan lezat, yang aku sendiri tidak bisa mencicipinya. Ah, kenapa harus ada penyakit untuk manusia. Kenapa tidak tua saja, yang satu-satunya bisa membuat manusia rengsa.

Sebagai anak terbungsu, aku memang lebih dekat dengan ibu. Sedangkan mendiang ayah, hanya ketika aku bocah perhatiannya tercurah begitu banyak. Seiring waktu, anak laki-laki memang semakin berjarak dengan ayah. Itu yang aku rasakan. Seperti ada sekat yang membuat kaku. Mungkin karena ayah berpikir, anak laki-laki itu harus dibiasakan bebas kemana saja tanpa perlu dicari, ditanya, dan diajak bicara setiap hari. Sementara ibu, setua apapun anak-anaknya, akan tetap menganggap anak-anak itu masih seperti bocah. Ibu akan selalu cemas dan bertanya-tanya: apakah anak-anaknya sudah makan atau belum?

Beberapa lalu, Mother's Day, dirayakan di seluruh dunia. Banyak teman-teman yang membuat status di media sosial, mengucapkan Happy Mother's Day. Tapi aku selalu bertanya-tanya: apakah mereka pergi menemui lalu memeluk ibu mereka sambil mengucapkan Selamat Hari Ibu? Atau hanya sekadar di status saja. Bagi teman-teman yang ibu mereka telah berpulang, pertanyaan itu tentunya tidak berlaku.

Aku sendiri, jujur tidak pernah mengucapkan secara langsung Selamat Hari Ibu, kepada ibuku. Sama seperti ketika hari lahirnya tiba. Di rumah kami, tradisi Hari Ulang Tahun tidak pernah dirayakan. Bahkan Hari Ulang Tahun kedua orangtuaku, hingga hari ini tidak pernah aku ketahui kapan tepatnya. Dan aku memilih untuk tetap tidak ingin mengetahui itu.

Ibu juga pasti lebih senang ketika aku mengatakan masakannya sangat lezat, tinimbang aku mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun kepadanya.

Ketika hari lahir aku dan kakak-kakakku tiba, ayah dan ibu juga tidak pernah merayakannya. Atau memberi kejutan berupa kue beserta deretan nyala lilin. Aku juga lebih senang ketika menikmati masakan ibu, daripada memakan kue Ulang Tahun.

Di rumahku, perayaan Hari Ulang Tahun bukanlah sebuah tradisi. Tapi, bukahkah tidak merayakan itu juga bisa disebut sebuah tradisi?

Sama halnya dengan Mother's Day kali ini. Mungkin hanya lewat tulisan ini, yang bisa mengingatkan; bahwa ada hal-hal yang perlu dirayakan, pun ada hal-hal yang tak perlu dirayakan. Dan keduanya adalah sama. Tradisi.

Saturday, May 7, 2016

Seandainya Yuyun Tidak Dibunuh

Sumber foto: kemanusiaan.id
Seandainya Yuyun tidak dibunuh. Ia selamat, setelah 14 pemuda melampiaskan napsu mereka. Usia para remaja itu rata-rata terpaut tidak jauh dari korban. Bahkan korban mengenal baik satu di antara mereka.

Yuyun kemudian bercerita kepadaku…

Setelah kejadian itu, aku lebih suka di kamar. Dari lantai atas kamarku, di rumah dari susunan papan, aku suka duduk di tepi ranjang lalu menatap ke luar jendela. Aku seperti boneka kayu.

Aku belum bisa bersekolah. Masih sangat trauma dengan kejadian itu. Juga malu kepada teman-temanku. Tapi, kenapa aku harus malu? Aku korban di sini.

Kemarin, ketika aku sedang melamun, ibuku datang. Dia mengelus pundakku kemudian menawari aku makan. Lama baru aku menggelengkan kepalaku. Aku hanya ingin rebah. Aku berpinta lewat gerak bola mata. Ibu memapahku berbaring di ranjang berkasur tipis. Setipis harapanku.

Ibu pamit kembali ke dapur, menemui ayah yang baru pulang nguli. Kemudian bayang-bayang di karet, di karet, di karet itu aku diseret, kembali hadir. Aku menutup mataku rapat. Tapi peristiwa itu terlanjur penuh di seisi kepalaku.

Segala macam kemungkinan aku bayangkan. Andai saja aku menunggu teman-teman untuk pulang bersama. Atau aku naik mobil angkutan umum, yang biasa lewat di perkebunan karet itu. Tapi saat itu aku tak punya uang. Bahkan untuk jajan di sekolah, aku pun tak punya. Aku memilih mengenyangkan perut dengan ubi rebus setiap pagi hari, sebagai pengganjal perut sampai waktu pulang sekolah tiba.

Tapi semua bayangan kemungkinan itu percuma. Aku sudah melewati jalan itu dengan ikhtiar yang satunya lagi, yang membawaku pada takdir yang saat ini aku alami.

Kemarin, ibu bilang para pelaku sudah ditemukan. Dari 14 remaja, sudah 12 yang ditangkap. Mereka mencoba lari ke luar kota. Tapi polisi-polisi berhasil mengendus keberadaan mereka satu per satu. Ibu mengatakan itu dengan mata berair. Kali itu aku melihat ibu begitu sedih.

Ayah dan ibu pernah bilang, kalau mereka ingin semua pelaku dihukum mati. Tapi aku coba berkata-kata meski terbata-bata. Bahkan seandainya jika saat itu aku terbunuh, apakah pantas nyawa harus dibalas nyawa? Memang para pelaku hanya dituntut 10 tahun. Sidang sedang berjalan.

Ayah dan ibu tetap bersikukuh. Apa yang setimpal dengan perbuatan para pelaku, memang hanyalah kematian. Sama seperti kebanyakan orang yang menilai balasan apa yang pantas, untuk kebiadaban yang para remaja itu lakukan kepadaku.

Di persidangan, aku sebenarnya masih muak dijejali pertanyaan-pertanyaan. Sama seperti ketika polisi dan wartawan menanyaiku. Aku masih sangat trauma. Aku hanya ingin di kamar saja.

Aku belum mau memikirkan hukuman apa yang pantas kepada para pelaku. Tapi semua orang sudah mulai melontarkan kebencian mereka. Ada yang bilang dihukum mati. Ada yang menyalahkan cara orangtua para pelaku mengasuh anak mereka. Ada pula yang bilang karena minuman keras yang mereka tenggak. Karena film porno. Karena pemerintah yang membiarkan kemiskinan. Dan… semua tuduhan-tuduhan yang bahkan belum berada dalam pikiranku.

Aku korban. Usiaku 14 tahun. Dan aku belum menuduh apa-apa dan memutuskan hukuman apa yang layak bagi mereka. Apakah semua hukuman itu memang layak?

Orangtua para pelaku, pasti saat ini mencemaskan anak-anak mereka yang akan dihukum. Juga malu atas perbuatan anak-anak mereka. Tetangga-tetangga pasti mencibir.

Orangtua para pelaku pasti sama seperti orangtuaku yang juga mencemaskan aku. Meski berbeda kecemasan, tapi posisi orangtua memang kali ini setara. Sama-sama terpukul. Bahkan, sebenarnya aku sendiri tidak bisa menakar kecemasan mereka.

Orangtua mana yang ingin anak-anak mereka berperilaku tidak senonoh?

Orangtua mana yang ingin anaknya diperlakukan tidak senonoh?

Kemarin, orangtua para pelaku menyampaikan permintaan maaf. Pelaku-pelaku juga menitipkan maaf. Orangtuaku enggan memberi maaf.

Apa jadinya, jika aku memaafkan mereka?

Ah, pohon-pohon karet yang menjadi saksi bisu itu, mungkin bisa aku tanyai. Hukuman apa yang pantas untuk anak-anak manusia itu.